Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Sebuah Penawaran


__ADS_3

Tiara segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah setelah ia menampar Rafa. Degup jantungnya berdetak kencang, luka dalam hatinya seolah semakin menganga lebar karena pertemuannya dengan Rafa.


"Tiara dengarkan aku," ucap Rafa berusaha menahan tangan Tiara.


"Aku sungguh mencintaimu Tiara, aku....."


"Jika kakak memang benar benar mencintai Tiara, kakak tidak akan berbohong pada Tiara, termasuk tentang rumah ini, kakak berbohong tentang siapa pemilik rumah ini bukan?" tanya Tiara sambil menarik tangannya dengan kasar dari Rafa.


"Dari mana kau tahu?" balas Rafa bertanya.


"Tidak penting dari mana Tiara tau, Tiara akan segera pergi dari sini, terima kasih atas semua perhatian dan sikap baik kak Rafa selama ini, tapi itu semua tidak akan merubah fakta bahwa kak Rafa adalah laki laki yang sudah beristri yang tidak seharusnya mencintai perempuan lain," ucap Tiara.


"Tiara, aku....."


"Lihatlah kak Maya kak, dia adalah istri kakak, bagaimanapun pernikahan kalian dia tetap istri kakak, cinta atau tidak bukan alasan untuk kak Rafa berselingkuh dari istri kakak," ucap Tiara memotong ucapan Rafa lalu segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya begitu saja.


"Aku hanya mencintaimu Tiara, hanya kau perempuan pertama selain mama yang aku cintai, aku hanya bahagia saat bersamamu Tiara, apa kau tidak merasakan hal itu juga?" tanya Rafa dari depan pintu rumah Tiara.


Di balik pintu, Tiara hanya duduk terdiam dengan berusaha untuk menahan isak tangisnya. Ia tidak ingin Rafa mendengarnya terisak saat itu.


"Aku yakin kau juga merasakan hal yang sama sepertiku Tiara, tolong jangan pergi meskipun kita tidak bisa bersama untuk saat ini, aku yakin cinta yang akan membuat kita bersama suatu hari nanti," ucap Rafa.


"Kak Rafa benar, Tiara juga merasakan hal yang sama, Tiara bahagia bersama kak Rafa, tapi kebahagiaan yang Tiara rasakan adalah sebuah kesalahan dan Tiara tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya," batin Tiara dalam hati.


"Kita masih bisa tetap berhubungan sebagai teman baik Tiara, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Maya dan setelah semuanya selesai kita bisa memulai hubungan baru kita, kita....."


"Berhenti berbicara omong kosong kak, lupakan Tiara dan lupakan semua yang sudah terjadi antara kita, kembalilah pada kak Maya yang sudah menunggu kak Rafa, dia adalah istri kakak!"


"Tapi Ra...."


"Pergilah kak atau Tiara akan memanggil satpam untuk mengusir kakak!" ancam Tiara.


Rafa menghela nafasnya, ia tidak punya pilihan lain selain harus pergi dari rumah Tiara sebelum ia mendapat teguran untuk kedua kalinya dari satpam.


"Aku sungguh mencintaimu Tiara, terserah apa yang akan kau lakukan tapi aku akan tetap menceraikan Maya suatu hari nanti dan setelah aku melakukanya, aku akan kembali mendekatimu dan memastikan kau menjadi milikku," ucap Rafa lalu berjalan meninggalkan rumah Tiara.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa berhenti memikirkan Tiara, ia juga terkejut saat Tiara tau kebohongannya tentang rumah tempat Tiara tinggal saat itu.


"Dari mana dia mengetahuinya? apa ada yang memberi tahunya? tapi siapa? tidak ada yang tau aku membeli rumah itu selain temanku dan temanku tidak mungkin mengatakan hal itu pada Tiara!"


Rafa menghela nafasnya panjang. Ia sudah tidak tau apa yang akan ia lakukan saat itu. Dalam hatinya ada sebuah rasa takut, takut jika tiba tiba Tiara benar benar pergi darinya.


**


Hari telah berganti. Setelah mempersiapkan dirinya dengan baik, Tiara membawa langkanya keluar dari rumah untuk pergi ke kantor.


Ia sudah mempersiapkan surat pengunduran dirinya untuk ia berikan pada manajernya untuk mendapatkan persetujuan.


Sesampainya di kantor, Tiara segera membawa langkahnya ke arah meja kerjanya.


"Bagaimana keadaanmu Tiara? apa kau sudah baik baik saja?" tanya salah teman Tiara yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Wajahmu terlihat masih muram, jika kau masih sakit sebaiknya tidak perlu datang ke kantor," ucap teman Tiara yang lain.


"Sakit? apa maksudnya? kenapa mereka berkata seperti itu?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Kau beruntung bisa berhubungan dekat dengan pak Putra, bahkan pak Putra sendiri yang mengatakan pada manajer bahwa kau libur untuk beberapa hari karena sedang sakit, pak Putra terlihat sangat mengkhawatirkanmu Tiara," ucap teman Tiara.

__ADS_1


"Aaahh jadi pak Putra mengatakan pada mereka bahwa aku sakit!" ucap Tiara dalam hati yang mulai memahami apa yang teman temannya bicarakan.


"Tapi aku tidak ada hubungan apapun dengan pak Putra," ucap Tiara.


"Sebagai teman, kita akan mendukung apapun yang membuatmu bahagia Tiara, entah kau memang berhubungan dengan pak Putra atau tidak, tapi... melihat perhatian pak Putra padamu, sepertinya pak Putra memang menyukaimu," ucap teman Tiara.


"Jangan berpikir terlalu jauh, tidak ada hal seperti itu antara aku dan Pak Putra," balas Tiara.


Saat Tiara melihat manajernya masuk ke dalam ruangannya, Tiara kemudian segera beranjak dari duduknya sambil membawa sebuah surat pengunduran diri yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Tiarapun masuk, menghadap manajernya.


"Tiara, apa kau sudah sehat?" tanya manajer yang melihat Tiara masuk ke ruangannya.


"Sudah pak, Tiara kesini untuk memberikan ini, semoga bapak bisa menyetujuinya," ucap Tiara sambil memberikan surat pengunduran dirinya.


Sang manajer pun begitu terkejut setelah membaca surat pengunduran diri Tiara. Ia tau bagaimana selama ini Tiara bekerja dengan sangat baik, ia juga tau jika Tiara selalu penuh semangat dalam mengerjakan pekerjaannya.


Bahkan Tiara mampu dengan cepat mempelajari hal hal baru di sekitarnya, tidak hanya tentang pekerjaannya, tapi juga hal lain di luar pekerjaannya.


Dari semua itu bisa terlihat jika Tiara sangat menyukai pekerjaannya, jadi sang manajer begitu terkejut saat Tiara memberikan surat pengunduran diri padanya.


"Kenapa kau mau mengundurkan diri Tiara? apa ada masalah? atau kau sedang bertengkar dengan rekan kerjamu?" tanya manajer pada Tiara.


"Tidak ada masalah apapun pak, ini murni keinginan Tiara sendiri," jawab Tiara.


"Tapi kenapa Tiara? kau tahu bukan jika tidak mudah untuk menjadi bagian dari perusahaan ini, kau bahkan sudah melewati banyak hal untuk bisa bekerja disini, lalu apa yang membuatmu menyerah?"


"Maaf pak, tidak bisakah bapak menyetujuinya saja? Tiara harus mendapatkan persetujuan dari bapak sebelum menyerahkannya pada HRD," ucap Tiara tanpa menjawab pertanyaan sang manajer.


Tiara terdiam untuk beberapa saat, ia tidak menyangka jika tidak mudah untuk mendapatkan persetujuan dari manajernya.


"Keluarlah dan lupakan surat pengunduran diri ini, aku tidak akan menyetujuinya sebelum kau menjelaskan padaku apa alasanmu yang sebenarnya," ucap manajer sambil beranjak dari duduknya.


"Tapi pak....."


"Lanjutkan pekerjaanmu, aku akan keluar karena ada meeting penting," ucap manajer memotong ucapan Tiara lalu berjalan keluar meninggalkan Tiara begitu saja.


Tiara hanya menghela nafasnya kasar lalu kembali ke meja kerjanya. Tiarapun mulai mengerjakan pekerjaannya.


Karena tidak sepenuhnya bisa berkonsentrasi dengan baik, Tiarapun cukup kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Hingga akhirnya jam makan siangpun tiba. Tiara membaringkan kepalanya di meja kerjanya, ia merasa enggan untuk pergi ke kantin bersama teman temannya.


Tak lama kemudian seseorang datang lalu menaruh sebuah tas bekal di depan Tiara. Tiarapun segera mengangkat kepalanya dan mendapati Putra yang berdiri di dekatnya.


"Pak Putra....."


"Sejak kemarin Tante Rossa selalu membuatkan bekal makan siang untukmu, aku sengaja tidak memberi tahu Tante Rossa jika kau tidak bekerja karena tidak ingin Tante Rossa khawatir," ucap Putra menjelaskan.


"Terima kasih pak, tapi bisakah Tiara meminta tolong pada pak Putra?" tanya Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Putra.


"Saat mengembalikan tas bekal ini pada Tante Rossa, tolong pak Putra katakan pada Tante Rossa agar berhenti membuat bekal untuk Tiara, bukan karena Tiara tidak menyukainya, hanya saja Tiara tidak ingin ada desas desus antara Tiara dan pak Putra di kantor," ucap Tiara.


"Baiklah, aku akan menyampaikannya pada Tante Rossa," balas Putra.


"Terima kasih pak, setelah Tiara membersihkannya, Tiara akan menitipkannya pada resepsionis," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Putra.

__ADS_1


Putra kemudian berjalan pergi meninggalkan Tiara. Ingin rasanya ia menanyakan tentang keadaan Tiara, namun ia sadar jika Tiara selalu menjaga jarak dengannya saat di kantor, membuatnya urung untuk menanyakan hal pribadi pada Tiara.


Setelah Tiara menghabiskan makan siang buatan mama Rafa, Tiarapun membersihkan kotak makannya lalu membawanya ke resepsionis.


"Anggap ini makan siang terakhir dari Tante Rossa untukku, karena aku tidak hanya pergi dari kak Rafa, tapi juga dari semua yang berhubungan dengan kak Rafa," ucap Tiara dalam hati.


Saat tengah menunggu lift yang akan membawanya kembali naik ke tempat kerjanya, seseorang datang dan berdiri di samping Tiara lalu masuk ke dalam lift bersama Tiara.


"Wajahmu murung sekali, apa memang sebenarnya wajah ceriamu itu hanya palsu?"


Tiara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Dita. Ia merasa malas untuk menanggapi ucapan Dita yang dirasa tidak penting untuk ditanggapi.


"Kau percaya karma Tiara? asal kau tau, sampai detik ini aku masih membencimu dan aku yakin karma akan membawamu menyesali apa yang sudah kau lakukan padaku!" ucap Dita.


"Tidak ada kesalahan yang aku lakukan padamu, aku hanya lebih pintar dan cerdas daripada kau, itu kenapa aku bisa menggeser posisimu di divisi pemasaran!" balas Tiara dengan tenang.


"Jadi sekarang kau mengakuinya? kau mengaku jika kau memang berniat menggeser posisiku di divisi pemasaran?" tanya Dita yang semakin berapi api.


"Aku tidak berbicara seperti itu, kau tidak perlu khawatir, tidak lama lagi kau pasti akan bahagia karena tidak melihatku disini, akan aku pastikan kau tidak akan bertemu lagi denganku, jadi jalani saja hidupmu tanpa dendam dan fokus saja pada pekerjaanmu!" ucap Tiara lalu keluar dari lift setelah pintu lift terbuka.


Dita hanya terdiam, tidak mengerti maksud dari apa yang baru saja Tiara katakan.


Saat Tiara baru saja duduk di tempat kerjanya, tiba tiba manajer memanggil Tiara untuk masuk ke ruangannya. Tiarapun segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ruangan sang manajer.


"Kenapa pak manajer memanggilku? apa dia sudah berubah pikiran dan akan menyetujui surat pengunduran diriku?" batin Tiara bertanya dalam hati sebelum ia masuk ke ruangan sang manajer


"Duduklah!" ucap manajer pada Tiara yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Aku tidak tau apa yang sebenarnya membuatmu ingin pergi dari perusahaan ini, padahal aku tau kau memiliki kemampuan yang sangat bagus yang bisa kau kembangkan disini!" ucap manajer pada Tiara.


"Apa kau sungguh ingin keluar dari perusahaan ini?" lanjut manajer bertanya.


"Iya pak, Tiara ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini, maaf jika keputusan Tiara mengecewakan bapak, tapi Tiara sudah memikirkan hal ini dengan matang pak," jawab Tiara.


"Sebelum kau benar benar keluar dari perusahaan ini, aku ingin menawarkan sesuatu padamu!" ucap manajer.


"Menawarkan apa pak?" tanya Tiara.


"Kau mungkin belum tau, setiap dua tahun sekali perusahaan ini memberikan kesempatan bagi satu pegawainya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri, entah itu S2 ataupun S3, semua biaya kuliah dan biaya hidup akan ditanggung oleh perusahaan sampai wisuda, setiap divisi akan memberikan kesempatan pada satu stafnya untuk mengikuti tes dan dari semua divisi yang ada hanya akan ada satu pegawai yang beruntung untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri," ucap manajer menjelaskan.


"Kenapa bapak memberi tahu Tiara hal itu?" tanya Tiara.


"Aku melihat kau memiliki potensi yang cukup besar untuk bisa mencoba peruntunganmu Tiara, jadi aku memilih kau untuk mengikuti tes itu, jika kau lolos kau akan bisa melanjutkan S2 di Harvard dengan semua biaya yang ditanggung oleh perusahaan," jawab manajer yang membuat Tiara begitu terkejut.


"Melanjutkan kuliah di Harvard? apa aku tidak salah dengar? apa aku bisa melanjutkan kuliahku disana?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Satu satunya syarat agar kau bisa mengikuti tes ini adalah menjadi pegawai di perusahaan ini, selebihnya hanya kemampuanmu sendirilah yang akan menentukan keberhasilanmu, jadi aku harap kau simpan saja surat pengunduran diri ini," ucap manajer sambil mengembalikan surat pengunduran diri Tiara.


"Ini adalah kesempatan emas untukmu Tiara, kau bisa meninggalkan semua masalahmu disini dan melanjutkan mimpimu di luar negeri," lanjut manajer yang berusaha untuk menyakinkan Tiara.


"Tapi setelah Tiara wisuda nanti, apa Tiara harus kembali ke perusahaan ini?" tanya Tiara sebelum ia mengambil keputusan.


"Setelah wisuda S2 di luar negeri, kau harus kembali ke perusahaan, tapi tidak harus disini, kau bisa memilih dimana kau ingin bekerja, kau tau bukan perusahaan ini memiliki beberapa cabang di berbagai negara, termasuk di Amerika, jika kau memang tidak ingin kembali kesini, kau bisa melanjutkan karirmu di Amerika dengan posisi yang lebih baik tentunya," jawab manajer menjelaskan.


Tiara terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja sang manajer jelaskan padanya.


"Aku percaya padamu Tiara, kau memiliki potensi yang besar untuk bisa lolos dalam program ini, ini adalah kesempatan emas yang tidak datang dua kali Tiara, karena program ini hanya diperuntukkan untuk mereka yang baru bergabung di perusahaan seperti kau sekarang," ucap manajer.

__ADS_1


__ADS_2