
Tiara terdiam tanpa mampu mengatakan apapun saat sang mama mengatakan hal itu pada Gita, sedangkan Gita segera membawa pandangannya pada Tiara dengan penuh tanda tanya.
"Apa benar yang mama bilang Ra?" tanya Gita pada Tiara.
"Tidak kak, Tiara....."
"Jangan menyembunyikan apapun dari kakak Ra, kau bisa menceritakan semuanya pada kakak, jadi sekarang katakan pada kakak siapa laki-laki yang sudah merebut hatimu itu?" tanya Gita memotong ucapan Tiara.
"Dia pasti tidak akan mengatakannya padamu karena dia memiliki hubungan dengan......"
"Kevin," sahut Tiara memotong ucapan mama tirinya.
"Kevin? ternyata kalian berdua sudah berpacaran? kakak pikir kalian masih berteman, karena dari dulu kalian memang selalu dekat jadi kakak tidak bisa membedakan apakah kalian masih berteman atau sudah berpacaran," ucap Gita terkejut.
Tiara hanya tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun, sedangkan mama Laras segera pergi begitu saja.
"Kenapa kau harus menyembunyikannya dari kakak Ra? kakak akan sangat senang jika memang orang yang kau cintai itu Kevin karena menurut kakak dia memang laki-laki yang baik untukmu!"
"Tiara malu kak," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Sejak kapan kau menjadi pemalu Tiara hahaha...." balas Gita setengah berteriak karena ia sangat tahu bahwa Tiara bukanlah gadis yang pemalu.
Si dalam kamarnya, Tiara menjatuhkan dirinya di ranjang. Ia khawatir jika mama tirinya akan memberitahu Gita tentang fotonya bersama Bima
"tidak..... foto itu tidak membuktikan apapun tentang hubunganku dengan kak Bima, aku dan kak Bima memang sudah dekat dari dulu jadi wajar jika aku berada di taman bersama kak Bima, lagi pula Kevin sudah memberikan alasan yang tepat tentang foto itu," ucap Tiara dalam hati berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Waktu berlalu, mentari pagi sudah menjemput pagi di hari Minggu. Seperti biasa Tiara keluar dari rumah pagi-pagi sekali untuk berolahraga di taman dekat rumahnya.
Meskipun tanpa membuat janji, Kevinpun sudah siap di depan rumahnya untuk menunggu Tiara berolahraga seperti yang biasa mereka lakukan setiap hari Minggu.
Mereka berduapun berlari kecil ke arah taman.
"Kenapa mukamu muram begitu? kau terlihat sangat jelek jika seperti itu!" tanya Kevin sambil memegang kedua pipi Tiara dengan satu tangannya.
__ADS_1
Tiarapun segera melepaskan tangan Kevin dari pipinya lalu memukul lengan Kevin dengan cukup keras.
"Aaahhh...... sepertinya pagi ini tenagamu sudah terisi dengan penuh, berapa banyak nasi yang sudah kau makan pagi ini?"
"Ada masalah serius," ucap Tiara tanpa menjawab candaan Kevin.
"Masalah apa?" tanya Kevin yang berlari dengan mundur di hadapan Tiara.
"Aku mengatakan pada kak Gita bahwa kita berpacaran," jawab Tiara yang membuat Kevin seketika menghentikan langkahnya, membuat Tiara yang saat itu berlari menabrak Kevin yang tiba-tiba berhenti.
Tiara dan Kevin hampir saja terjatuh namun Kevin bisa menahan Tiara dengan memeluknya erat untuk menjaga keseimbangannya, membuat mereka berdua berhasil bertahan dengan berpelukan.
"Apa yang kau lakukan? apa kau sedang mencari kesempatan?" ucap Tiara sambil memukul lengan Kevin berkali-kali setelah berhasil berdiri tegak.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu? kenapa kau mengatakan pada kaki Gita bahwa kita berpacaran?" balas Kevin.
"Aku tidak punya pilihan lain Kevin," ucap Tiara lalu menjelaskan apa yang terjadi, tentang ucapan mama Laras yang membuatnya pada akhirnya mengakui bahwa ia tengah berpacaran dengan Kevin.
"Apa itu artinya aku bisa menciummu sekarang?" tanya Kevin yang membuat Tiara menggelengkan kepalanya pelan lalu berlari dengan cepat meninggalkan Kevin.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat Bima menjemput Tiara untuk melakukan bimbingan skripsi.
Bimapun mengantar Tiara ke rumah dosen pembimbingnya, namun sesampainya disana dosen pemimpin yang memiliki janji dengan Tiara sedang tidak ada di rumah dan tidak diketahui dimana keberadaannya.
"Apa dosen pembimbing memang selalu menyebalkan seperti ini kak?" tanya Tiara kesal saat ia sudah masuk ke dalam mobil Bima, bersiap untuk meninggalkan rumah dosen pembimbingnya.
Bima hanya diam tanpa mengatakan apapun, raut wajahnya terlihat dingin seperti sedang memendam emosi.
"Ada apa kak? apa terjadi sesuatu?" tanya Tiara pada Bima.
"Apa tidak bisa kau menjaga jarak dengan kevin Ra? kau sudah menjadi milikku sekarang dan seharusnya kau tidak terlalu dekat dengan Kevin," balas Bima dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Apa maksud kak Bima? Tiara tidak mengerti, bukankah kakak tahu bahwa Tiara dan Kevin hanya berteman?"
"Teman tidak ada yang berpelukan Tiara, dia bahkan memanggilmu sayang, huh romantis sekali," ucap Bima yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.
"Apa kakak melihat kejadian tadi pagi?" tanya Tiara memastikan, namun Bima hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Tiarapun menjelaskan pada Bima tentang apa yang sebenarnya terjadi saat itu, Tiara juga memberitahu Bima bahwa mama Laras memiliki fotonya bersama Bima.
"Dari mana tante Laras memiliki foto itu? apa ada seseorang yang mengikuti kita?" tanya Bima terkejut.
"Tiara juga tidak tahu kak, tapi sepertinya kita harus menjaga jarak untuk beberapa hari ini agar Mama Laras berhenti mencurigai Tiara dan kakak," ucap Tiara.
"Aku setuju, apa itu artinya kita harus pulang sekarang?"
"Iya, kakak harus lebih sering bersama kak Gita daripada bersama Tiara, sembari kakak berusaha keluar dari rencana pernikahan kakak," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, kakak akan mengantarmu pulang sekarang," balas Bima lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Tiara.
Sesampainya di rumah Tiara, Bima begitu terkejut karena melihat mobil orang tuanya yang terparkir di halaman rumah Tiara.
Dengan langkah ragu Tiara dan Bima masuk ke dalam rumah dan mendapati kedua orang tua Bima yang tengah mengobrol bersama mama Laras dan Gita di ruang tamu.
Mama Bima yang melihat Bima datang segera memanggil Bima agar bergabung bersama mereka, begitu juga Tiara yang ikut berjalan ke arah Gita dan duduk di samping Gita.
"Kita semua sudah bersepakat untuk mempercepat pernikahan kalian," ucap papa Bima yang membuat Bima dan Tiara begitu terkejut.
"Tidak bisa pa, Bima sudah mengambil cuti untuk......"
"Kau tidak perlu khawatir dengan cutimu, kalian hanya perlu melangsungkan akad satu minggu lagi, sedangkan pesta pernikahan kalian akan dilaksanakan 1 bulan dari sekarang," ucap mama Bima memotong ucapan Bima.
"Tapi kenapa harus dipercepat tiba-tiba ma pa? kenapa kalian tidak membicarakannya dulu dengan Bima?" protes Bima.
"Jika mama dan papa membicarakannya padamu apa kau akan menolaknya?" tanya mama Bima yang membuat Bima terdiam.
__ADS_1
"Kau boleh menolaknya jika kau memang sudah tidak ingin menjadi pimpinan di perusahaan cabang," ucap papa Bima.
Tiara terdiam seribu bahasa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh keluarga Bima. Hatinya terasa begitu sakit karena ia merasa sudah tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan hubungannya dengan Bima, terlebih saat ia tahu bahwa Bima menyetujui perjodohannya dengan Tiara karena iming-iming papanya yang akan menjadikan Bima pimpinan di perusahaan cabang.