Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Rencana Maya


__ADS_3

Maya terdiam mendengarkan ucapan sang mama. Ia seolah sudah kehilangan kata-kata untuk bisa membuat mama dan papanya meninggalkan rumahnya.


Maya juga tidak ingin mama dan papanya mencurigai hubungannya dengan Rafa, karena jika orang tuanya tahu tentang pernikahannya yang sebenarnya maka sang Mama akan memaksanya untuk bercerai dengan Rafa.


Maya tidak ingin bercerai dari Rafa bukan karena ia mencintai Rafa, ia hanya tidak ingin dipaksa menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua darinya, terlebih jika dia harus kehilangan firma hukum yang sudah ada di tangannya.


Mayapun hanya bisa mengalah pada mamanya dan berusaha untuk meyakinkan sang mama jika keadaan rumah tangganya bersama Rafa baik-baik saja.


Maya kemudian meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor ia segera menghubungi Rafa karena ia ingin segera membicarakan masalahnya dengan Rafa.


Namun berkali-kali Maya menghubungi Rafa tidak ada satupun panggilannya yang diterima oleh Rafa.


"Aku tidak akan membiarkanmu menceraikanku Rafa apapun yang terjadi kita harus tetap bertahan pada pernikahan ini," ucap Maya dengan menggenggam erat ponselnya menahan kekesalannya saat itu.


Maya berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya dan berusaha mengesampingkan masalah pribadinya dengan Rafa.


Namun tak bisa dipungkiri Maya tetap saja memikirkan bagaimana caranya agar Rafa tidak menceraikannya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak boleh membiarkan Rafa menceraikanku!"


Toookk toookk tooookk


Pintu ruangan Maya diketuk oleh seseorang dan tak lama kemudian seseorang itupun masuk dan berdiri di hadapan Maya.


"Selamat pagi Bu Maya, saya meminta izin untuk pulang cepat hari ini," ucap seseorang itu.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang sangat penting?" tanya Maya.


"Saya ada janji untuk bertemu dengan dokter kandungan, karena saya sedang melakukan program hamil, hanya hari ini saja Bu, lain kali saya akan membuat janji di luar jam kerja," jelasnya.


"Program hamil? baiklah kalau begitu tapi pastikan selesaikan dulu pekerjaan yang harus kau selesaikan hari ini!"


"Baik bu terima kasih," ucap seseorang itu yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Maya.


"Program hamil? sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Maya dengan tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo ma, bagaimana kabar Mama?" tanya Maya setelah seseorang itu menerima panggilannya.


"Mama baik-baik saja sayang, bagaimana kabarmu Maya? rasanya sudah sangat lama sekali kau tidak pernah menghubungi Mama," balas seorang wanita yang merupakan Mama Rafa.


"Kabar Maya dan Rafa baik ma, Maya minta maaf karena jarang menghubungi Mama," ucap Maya.


"Tidak apa, Mama mengerti kesibukanmu," balas Mama Rafa.


"Sebagai gantinya bagaimana jika kita bertemu nanti malam? ada sesuatu yang ingin Maya katakan pada mama!"


"Baiklah, apa mama harus ke rumahmu atau kau yang datang ke rumah mama?" balas Mama Rafa bertanya.


"Jika mama tidak merasa keberatan mama bisa datang ke rumah Maya, kebetulan disana ada mama dan papa juga," jawab Maya.


"Waaahh benarkah? kalau begitu Mama akan mengajak papa ke rumahmu, kita adakan makan malam besar disana, bagaimana menurutmu?"


"Maya setuju ma, Maya akan mempersiapkan semuanya setelah pulang kerja," balas Maya.


"Terima kasih sayang, mama senang sekali mendengarnya," ucap mama Rafa.


Panggilan berakhir, Maya meletakkan ponselnya di meja dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku Rafa," ucap Maya dengan tersenyum penuh kemenangan.


**


Di tempat lain, Rafa yang sudah berada di kafe sedang sibuk dengan pekerjaannya dan tak lama kemudian seseorang mengetuk pintunya lalu berjalan masuk dengan membawa satu cup coklat panas.


"Tiara, aku pikir kau tidak masuk kerja!" ucap Rafa yang sedikit terkejut melihat Tiara, karena saat ia masuk ke kafe ia tidak melihat Tiara di tempat kerjanya dan meminta Chika untuk membawakan coklat panas ke ruangannya.


"Maaf pak, Tiara sedikit terlambat hari ini, ini coklat panas pesanan Pak Rafa," balas Tiara sambil menaruh coklat panas di meja Rafa.


"Aku tidak akan meminta coklat panas jika tahu kau yang akan membawanya kesini," ucap Rafa.


"Tiara sengaja menggantikan Chika karena Tiara ingin meminta maaf atas keterlambatan Tiara dan Tiara siap menerima sanksinya," ucap Tiara.


Rafa kemudian melihat jam di tangannya untuk memastikan berapa lama Tiara terlambat.


"Aku sudah mengatakan pada yang lainnya bahwa keterlambatan di bawah 30 menit tidak akan mendapatkan sanksi apapun dan kau hanya terlambat 15 menit," ucap Rafa.


"Bagaimana keadaan tanganmu? apa sudah membaik?" lanjut Rafa bertanya.


"Memarnya sudah sedikit menghilang pak, bagaimana dengan Pak Rafa? Pak Rafa tetap mengobatinya bukan?"


"Aku tidak perlu mengobatinya, ini hanya luka kecil yang akan segera sembuh," balas Rafa.

__ADS_1


Tiara menggelengkan kepalanya pelan lalu mengambil kotak P3K dan menaruhnya di meja Rafa.


"Pak Rafa harus tetap mengobatinya, luka kecil jika dibiarkan akan semakin besar dan membahayakan," ucap Tiara.


"Kau berlebihan sekali Tiara, ini hanya......."


TAAAAAKKKK


Tiara mengambil kembali kotak P3K dan meletaknya tepat di depan Rafa dengan kasar.


"Jika Pak Rafa tidak bisa menjaga diri sendiri, bagaimana Pak Rafa bisa menjaga kafe dan karyawan Pak Rafa? tolong Pak Rafa pikirkan itu, Tiara permisi!" ucap Tiara lalu berjalan keluar dari ruangan Rafa.


Rafa hanya terdiam untuk beberapa saat karena terkejut dengan sikap Tiara.


"Kenapa dia tidak berinisiatif untuk mengobati lukaku?" tanya Rafa pada dirinya sendiri.


Rafa tersenyum tipis lalu kembali mengerjakan dengan pekerjaannya.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari Maya namun ia abaikan hingga akhirnya sebuah pesan masuk.


"Hari ini pulanglah lebih cepat, aku akan menyiapkan makan malam di rumah!"


"Aku tidak akan pulang!" balas Rafa.


"Kau harus pulang karena akan ada mama dan papamu yang datang untuk makan malam bersama!"


Rafa begitu terkejut setelah ia membaca pesan balasan dari Maya, iapun segera menghubungi Maya untuk memastikan maksud dari pesan Maya.


"Apa maksudmu? kenapa Mama dan papa datang untuk makan malam bersama?" tanya Rafa setelah Maya menerima panggilannya.


"Mama dan papaku tetap tidak ingin pergi dari rumah, mereka ingin menginap untuk beberapa hari jadi aku memutuskan untuk meminta mamamu datang sekaligus membuktikan pada mereka bahwa hubungan kita baik-baik saja," jawab Maya menjelaskan.


"Kenapa kau melakukan itu Maya? kenapa kau tidak membicarakannya terlebih dahulu denganku?" tanya Rafa kesal.


"Aku sudah berkali-kali menghubungimu dan kau tidak pernah menerima panggilanku," ucap Maya yang tak kalah kesalnya.


"Tetap saja, seharusnya kau........"


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu, yang penting nanti malam akan ada makan malam keluargaku dan keluargamu jadi kau harus pulang tepat waktu," ucap Maya lalu mengakhiri panggilan Rafa begitu saja.


**


Namun Tiara tidak segera pulang dan memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di dalam kafe.


"Apa kau tidak akan pulang Ra?" tanya salah satu teman Tiara.


"Nanti saja," jawab Tiara.


Dalam hatinya Tiara ragu untuk pulang karena ia takut jika Bima kembali menunggunya di dekat kafe dan memaksanya untuk pulang bersamanya.


Tak lama kemudian Rafa yang baru saja keluar dari ruangannya melihat Tiara yang hanya duduk terdiam di salah satu bangku.


"Apa kau tidak akan pulang?" tanya Rafa membuyarkan lamunan Tiara.


"Mmmm...... Tiara......."


"Apa kau takut jika Bima masih menunggumu?" tanya Rafa menerka.


"Tidak, Tiara tidak takut, Tiara hanya perlu berteriak agar kak Bima tidak memaksa Tiara untuk masuk ke mobilnya," jawab Tiara berbohong.


"Sudahlah Ra jangan berbohong lagi, bukankah aku sudah memberitahumu bahwa kau tidak pandai berbohong!" ucap Rafa dengan tersenyum tipis.


"Tiara tidak berbohong, kalau begitu Tiara akan pulang sekarang dan Pak Rafa jangan mengikuti Tiara," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh Rafa.


Saat mereka berdua sudah keluar dari kafe, tiba-tiba Rafa menarik tangan Tiara, membawa Tiara berjalan ke arah mobilnya.


"Masuklah, ikut aku melihat progres kafe baru," ucap Rafa sambil membuka pintu mobilnya.


Tiarapun menganggukkan kepalanya dengan senang lalu masuk ke mobil Rafa diikuti oleh Rafa yang segera duduk di balik kemudinya.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya ke arah kafe barunya. Sesampainya disana Tiara dan Rafapun turun dari mobil lalu berjalan ke arah beberapa orang yang sudah menunggu kedatangan Rafa.


Beberapa orang yang merupakan pekerja yang bertanggung jawab untuk membangun kafe itupun menjelaskan tentang progres pembangunan kafe pada Rafa.


"Untuk detailnya Pak Rafa bisa memeriksanya sendiri dan segera mengkonfirmasi jika ada sesuatu yang salah ataupun kurang!"


Rafa menganggukkan kepalanya sambil menatap bangunan dua lantai di hadapannya.


"Ayo Ra, kita masuk!" ucap Rafa mengajak Tiara memasuki kafe baru yang sebentar lagi akan selesai dibangun.

__ADS_1


Tiarapun membawa langkahnya masuk mengikuti Rafa, menyisir setiap sudut kafe lalu berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua.


Setelah memeriksa secara keseluruhan, Rafa membawa langkahnya ke tepi pembatas yang ada di lantai dua, ia hanya diam memperlihatkan padatnya jalan raya sore itu.


Dinding pembatas kaca yang tingginya hanya sebatas dada itu membuat udara sore bisa bebas terhirup oleh pengunjung yang nantinya menikmati senja di lantai dua.


"Apa kak Rafa baik-baik saja? sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran kak Rafa," tanya Tiara yang melihat Rafa lebih banyak diam sejak meninggalkan kafe.


"Apa aku terlihat seperti itu?" balas Rafa bertanya.


"Iya, sangat jelas terlihat," jawab Tiara.


"Waaaahh sepertinya ilmu cenanyangku sudah menurun padamu," ucap Rafa yang membuat Tiara tersenyum tipis.


"Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan kak, jawab saja pertanyaan Tiara," ucap Tiara.


"Aku sedang memikirkan keputusan yang membuatku ragu," ucap Rafa.


"Jika kak Rafa masih ragu maka kak Rafa jangan memutuskannya, kakak hanya akan merasa menyesal jika memutuskan sesuatu dalam keadaan ragu," ucap Tiara.


"Lalu bagaimana denganmu? apa kau sudah mempunyai keputusan tentang kebimbanganmu?" balas Rafa bertanya.


"Tiara sudah memikirkannya baik-baik kak, Tiara yakin Tiara tidak akan menyesali keputusan Tiara," jawab Tiara penuh keyakinan.


"Baguslah kalau begitu, segera hubungi pengacara itu dan katakan apa yang seharusnya kau katakan," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Saat sinar jingga mulai tergambar di ujung langit barat, Rafapun mengajak Tiara untuk meninggalkan kafe itu.


"Aku akan mengantarmu pulang, jadi jangan mengkhawatirkan Bima, aku juga sudah meminta semua yang ada di kafe untuk merahasiakan keberadaanmu disana," ucap Rafa saat ia dan Tiara sudah berada di dalam mobil.


"Terima kasih kak," ucap Tiara yang hanya dibalas senyum tipis oleh Rafa.


Sesampainya di rumah, Tiara segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah sedangkan Rafa segera mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Baru saja Tiara membuka pintu, Chika segera menarik tangan Tiara masuk dan menutup pintu dengan cepat.


"Kau dari mana saja Ra? kenapa kau baru pulang?" tanya Chika yang tampak panik saat itu.


"Kenapa kau terlihat panik? apa terjadi sesuatu?" balas Tiara bertanya.


"Ana baru saja menghubungiku dan menanyakan keberadaanmu, dia bilang ada laki-laki yang mencarimu di kafe tapi Anna dan lainnya tidak memberitahukan apapun tentangmu padanya, tetapi dia sangat marah dan mengancam akan kembali lagi ke kafe sampai dia bisa bertemu denganmu," ucap Chika menjelaskan.


"Dia tidak melukai siapapun bukan?" tanya Tiara khawatir.


"Tidak, hanya terjadi sedikit keributan yang bisa diselesaikan oleh teman-teman yang lain," jawab Chika.


"Apa kalian sudah memberitahu kak Rafa?" tanya Tiara.


"Ana sudah berusaha menghubungi pak Rafa dan juga menghubungimu, tetapi kau dan Pak Rafa tidak bisa dihubungi sama sekali," jawab Chika yang membuat Tiara segera memeriksa ponselnya.


"Aaahh iya, ponselku kehabisan daya, maafkan aku," ucap Tiara.


"Sepertinya mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati Ra, laki-laki itu sepertinya akan kembali lagi ke kafe," ucap Chika.


"Iya kau benar, aku akan membicarakan hal ini pada kak Rafa, terima kasih sudah memberitahuku hal ini," ucap Tiara lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


**


Di tempat lain Rafa yang baru saja sampai di rumah segera disambut oleh Maya.


"Akhirnya kau pulang, masuklah, aku sudah memasak banyak makanan untuk makan malam kita," ucap Maya sambil memeluk Rafa yang baru saja masuk ke rumah.


"Lepaskan, apa yang kau lakukan!" balas Rafa sambil berusaha melepaskan pelukan Maya.


"Tidak bisakah kau bersikap manis sebentar saja?" tanya Maya berbisik.


"Aku....."


Rafa menghentikan ucapannya lalu membawa pandangannya ke arah mobil yang baru saja memasuki halaman rumahnya.


Tak lama kemudian seorang pria dan wanita keluar dari mobil itu lalu berjalan ke arah Rafa dengan penuh senyum.


Ya, mereka adalah mama dan papa Rafa yang sengaja datang memenuhi undangan Tiara untuk makan malam bersama.


Setelah menyambut kedatangan mama dan papanya Rafapun masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Sedangkan keluarga Rafa dan keluarga Maya sedang berbahasa-basi di ruang keluarga sebelum makan malam.


Di sisi lain Maya mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya dengan kop yang bertuliskan nama rumah sakit.


Dengan penuh senyum Maya membawa amplop itu untuk ia berikan pada mama dan mama mertuanya.


"Aku tidak percaya aku benar-benar menjadi wanita licik sekarang," ucap Maya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2