Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bercerita pada Rafa


__ADS_3

Rafa yang baru saja sampai di kafe segera masuk ke dalam kafe untuk mencari Tiara, namun ia sudah tidak mendapati Tiara di dalam kafenya. Rafapun segera mengambil ponsel di sakunya lalu menghubungi Tiara.


"Kau dimana Ra? apa kau sudah pulang?" tanya Rafa setelah Tiara menerima panggilannya.


"Tiara sudah pulang kak," jawab Tiara.


"Bisakah kau keluar sebentar? aku ingin mengajakmu ke suatu tempat!"


"Kemana kak?" tanya Tiara.


"Kau akan tahu nanti, aku akan segera menjemputmu, tunggu aku di depan rumah!" balas Rafa lalu mengakhiri panggilannya.


Rafa kemudian keluar dari kafe, mengendarai mobilnya ke arah rumah tempat tinggal Tiara.


Sesampainya disana sudah ada Tiara yang berdiri menunggu kedatangan Rafa.


"Ayo masuklah," ucap Rafa sambil membuka pintu mobilnya dari dalam.


Tiarapun masuk dan duduk di samping Rafa.


"Kita mau kemana kak?" tanya Tiara yang masih penasaran.


"Tidak jauh dari sini, kau pasti akan menyukainya," ucap Rafa tanpa menjawab dengan pasti pertanyaan Tiara.


Tiara hanya mengganggu anggukkan kepalanya pelan tanpa bertanya lagi karena ia paham jika Rafa tidak akan menjawab pertanyaannya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Tiara mulai mengenali sekitarnya dan bertanya pada Rafa untuk memastikan apa yang ada di pikirannya.


"Apa kita akan pergi ke danau?" tanya Tiara menerka yang hanya dibalas senyum oleh Rafa.


"Beberapa hari ini aku sudah berusaha mencari tahu jalan yang bisa dilewati mobil ke arah danau dan aku menemukan jalan ini, kau tenang saja kali ini kita tidak akan tersesat," ucap Rafa.


Sesampainya di danau, Tiara dan Rafapun keluar dari mobil lalu berjalan ke arah dermaga, tempat mereka pernah menghabiskan malam berdua.


Sama seperti sebelumnya, mereka duduk di tepi dermaga beratapkan langit penuh bintang dan cahaya terang sang bulan.


"Kenapa kak Rafa tiba-tiba mengajak Tiara kesini?" tanya Tiara pada Rafa yang duduk di sampingnya.


"Ini adalah hari istimewa untukmu, karena aku baru mengenalmu aku hanya tahu jika tempat inilah yang sangat kau sukai, jadi aku membawamu kesini," jawab Rafa.


"Terima kasih kak, terima kasih juga karena sudah banyak membantu Tiara selama ini, jika bukan karena kak Rafa Tiara tidak akan mungkin bisa melanjutkan kuliah dan menyelesaikan skripsi dengan baik, apalagi sampai mendapat predikat cumlaude," ucap Tiara dengan membawa pandangannya menatap Rafa.


"Semua itu juga karena kerja keras dan usahamu Tiara, kau memang pantas mendapatkan semua itu," balas Rafa yang juga menatap wajah Tiara di bawah hamparan langit malam.


Tiara tersenyum lalu mengalihkan pandangannya menatap pantulan bulan dari danau luas di hadapannya.


Untuk beberapa saat Tiara hanya terdiam, ia masih memikirkan semua penjelasan Maya yang baru saja didengarnya. Ia masih memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil, apakah ia harus berkata jujur pada Maya ataukah ia harus berbohong agar Mama Laras dan Gita tidak terusir dari rumah itu.


Meskipun Tiara tahu bahwa pada kenyataannya Mama Laras dan Gita hanya memanfaatkannya, tetapi ia tidak sampai hati untuk membuat Mama Laras dan Gita kehilangan tempat tinggal.


Bagaimanapun juga ia pernah merasakan kebahagiaan saat ia mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Gita, walaupun pada akhirnya ia tahu bahwa kasih sayang dan perhatian itu hanyalah kepalsuan belaka.


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, nafasnya yang berat seolah menggambarkan beban pikiran yang sedang mengganggunya saat itu.


Rafa yang sedari tadi memperhatikan Tiarapun menyadari hal itu, ia sadar jika Tiara sedang tidak baik-baik saja saat itu.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja Tiara?" tanya Rafa memastikan.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum datar, tanpa membawa pandangannya pada Rafa yang membuat Rafa semakin yakin jika Tiara sedang tidak baik-baik saja.


"Kau tidak bisa membohongiku Tiara, kau tahu aku keturunan cenayang bukan?" ucap Rafa yang membuat Tiara tersenyum tipis dengan membawa pandangannya pada Rafa.


"Ada apa denganmu Tiara? bukankah ini hari bahagiamu? kau juga terlihat begitu bahagia saat berada di kafe tadi, tetapi kenapa sekarang berubah? apa kau tidak suka aku mengajakmu kesini?" tanya Rafa yang segara dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Tidak seperti itu kak, Tiara senang bisa kembali kesini bersama kak Rafa, hanya saja...... ada sesuatu yang mengganggu pikiran Tiara," ucap Tiara.


"Kau boleh menceritakannya padaku jika kau mau, jika aku bisa aku pasti akan membantumu, setidaknya kau sudah mengeluarkan sedikit beban pikiranmu dengan bercerita padaku," ucap Rafa.


Tiara terdiam untuk beberapa saat, ia merasa ragu untuk menceritakan masalahnya pada Rafa. Meskipun Rafa sangat baik padanya, namun pada kenyataannya Rafa adalah dosen sekaligus atasan tempat ia bekerja, ia tidak tahu apakah pantas ia menceritakan masalah pribadinya pada Rafa.


"Jangan menganggapku sebagai dosen ataupun atasanmu Tiara, jika sudah seperti ini kau bisa menganggapku sebagai kakakmu," ucap Rafa yang seolah mengerti apa yang Tiara pikirkan.


"Kakak?" tanya Tiara mengulangi ucapan Rafa.


"Iya kakak, bukankah kau dulu mempunyai kakak perempuan? sepertinya dulu kalian sangat dekat dan entah apa yang terjadi pada kalian berdua tapi aku tahu jika hubunganmu dengan kakakmu tidak baik-baik saja sejak aku melihat kalian berdua di kampus," balas Rafa.


"Kak Rafa memperhatikannya rupanya," ucap Tiara.


"Aku tahu kau pernah sangat menyayangi kakakmu dan sekarang kau harus menjalani kehidupanmu tanpa sosok seorang kakak di sampingmu, jadi kau bisa menganggapku sebagai sosok kakak yang dulu selalu ada untukmu," ucap Rafa.


"sejak kapan kak Rafa sangat memperhatikanku seperti ini? kak Rafa bahkan tahu bagaimana hubunganku dengan kak Gita," tanya Tiara dalam hati.


"Memendam masalahmu sendiri hanya akan membuatmu semakin tertekan Tiara, tetapi aku juga tidak akan memaksamu untuk menceritakan masalahmu padaku, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku selalu siap mendengarkan semua cerita dan keluh kesahmu," ucap Rafa.


"entah apa yang akan aku lakukan ini benar atau tidak, tapi aku merasa harus menceritakannya pada kak Rafa, setidaknya dengan bercerita aku bisa melihat masalahku dari sudut pandang yang berbeda," ucap Tiara dalam hati.


"Kak Rafa benar, karena terlalu memikirkan masalah Tiara, Tiara tidak menyadari dan melupakan keindahan yang ada di hadapan Tiara," balas Tiara.


"Hidupmu ada dalam kendalimu sendiri Tiara, kau yang menentukan langkah dan pilihan hidupmu sendiri," ucap Rafa.


"Tiara bingung harus menceritakannya dari mana kak, karena Tiara tidak pernah menceritakan masalah Tiara pada siapapun selain Kevin yang memang sudah sejak lama sangat mengenal Tiara," ucap Tiara.


"Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan Tiara, aku akan mendengarkannya dengan baik," balas Rafa.


Tiara menghela nafasnya panjang lalu menceritakan pada Rafa tentang hubungannya dengan Bima, tentang bagaimana ia menyimpan perasaannya pada Bima sejak lama yang pada akhirnya Bima mengetahui perasaannya tepat setelah orang tua Bima datang untuk melamar Gita, kakaknya.


"Kak Rafa mungkin akan membenci Tiara setelah Tiara menceritakan semuanya pada kak Rafa," ucap Tiara sebelum ia melanjutkan ceritanya.


"Itu tidak akan terjadi Tiara, percayalah padaku," balas Rafa berusaha meyakinkan Tiara.


Tiara kemudian melanjutkan ceritanya tentang hubungannya dengan Bima di belakang Gita.


"Jika saja Tiara tahu bahwa pernikahan itu akan terjadi tentu Tiara tidak akan menjalin hubungan dengan kak Bima, tetapi Tiara juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kak Bima karena itu adalah keputusan Tiara sendiri," ucap Tiara.


Tiara juga menceritakan fakta yang menyakitkan baginya, tentang sikap Gita yang ternyata hanya berpura-pura menyayanginya. Bersamaan dengan itu Tiara juga mengetahui bahwa Bima ternyata tidak benar-benar mencintainya dan hanya mempermainkannya.


Semua fakta menyakitkan itu seolah datang bertubi-tubi yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan rumah.


"Tiara tidak ingin kembali ke rumah itu lagi kak, semua yang ada di rumah itu sudah menggoreskan luka yang sangat dalam pada Tiara, tapi sekarang Tiara bingung apakah Tiara harus tetap pada pendirian Tiara atau Tiara harus pulang demi mama dan kak Gita," ucap Tiara di akhir ceritanya.


"Apa yang membuatmu bingung Tiara? kenapa kau harus pulang demi mama tiri dan kakak tirimu?" tanya Rafa.

__ADS_1


"Tiara baru saja bertemu dengan pengacara papa dan pengacara papa menjelaskan pada Tiara tentang wasiat yang papa tinggalkan," jawab Tiara.


"Apa itu berhubungan dengan mama tirimu dan Gita?" tanya Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Pengacara itu harus memastikan apakah Tiara masih tinggal di rumah itu atau tidak, apakah mama Laras dan kak Gita memperlakukan Tiara dengan baik atau tidak," ucap Tiara.


Tiara kemudian menjelaskan tentang semua penjelasan yang Maya katakan padanya, mulai dari pembagian aset yang papanya tinggalkan dan syarat yang harus Maya pastikan sebelum pembagian aset itu dilakukan.


"Apa papamu tahu tentang bagaimana mama tirimu dan Gita memperlakukanmu selama ini?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Sejauh yang Tiara tahu papa tampak menyayangi mama Laras dan juga kak Gita, tapi Tiara tidak tahu pasti apa yang membuat papa ragu untuk memberikan sebagian aset yang ditinggalkannya untuk Mama Laras dan kak Gita," jawab Tiara.


"Dan sekarang yang membuatmu bingung adalah apakah kau harus berkata jujur pada pengacara itu atau tidak, benar begitu?" tanya Rafa menerka setelah ia memahami permasalahan Tiara.


"Iya kak, seperti yang Tiara katakan jika pengacara itu tahu bagaimana sikap Mama Laras dan kak Gita pasti Mama Laras dan kak Gita tidak akan mendapatkan sedikitpun aset peninggalan papa, bahkan Mama Laras dan kak Gita harus pergi dari rumah itu padahal Tiara tahu bahwa Mama Laras dan kak Gita sudah tidak mempunyai tempat tinggal lain bahkan saudara lain," jawab Tiara.


"Bukankah ini saat yang tepat untuk membalas semua perbuatan jahat mereka padamu?" tanya Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa dengan tatapan tajam.


"Kenapa kak Rafa berpikir seperti itu?" tanya Tiara yang tidak percaya dengan apa yang Rafa katakan.


"Apa kau tidak pernah berpikir seperti itu?" balas Rafa bertanya yang segera dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Mereka memang sudah menyakiti Tiara dan Tiarapun sudah tidak ingin kembali ke rumah itu, tapi bukan berarti Tiara mau menghancurkan masa depan mereka, bagaimanapun juga kak Gita pernah menjadi seseorang yang selalu memberikan kasih sayang dan perhatiannya pada Tiara, walaupun semua itu hanyalah kebohongan tetapi pasti bukan hal yang mudah bagi kak Gita untuk melakukan hal itu selama ini," ucap Tiara.


Rafa tersenyum lalu menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.


"Itu maksudku, kau sudah mempunyai jawabannya sekarang," ucap Rafa yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Meskipun aku baru mengenalmu tetapi aku sangat memahamimu Tiara, aku percaya kau bukanlah perempuan yang akan menghancurkan hidup orang lain hanya karena sakit hati yang pernah kau rasakan," ucap Rafa.


"Tapi Tiara benar-benar tidak ingin kembali ke rumah itu kak, Tiara ingin pergi jauh dari semua yang ada disana terutama kak Bima, bertemu kak Bima seperti mengoyak kembali luka lama Tiara apalagi jika Tiara harus tinggal satu atap dengan kak Bima," ucap Tiara dengan menundukkan kepalanya.


"Apa kau masih mencintainya?" tanya Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa.


Tiara hanya diam dengan kedua mata yang berkaca-kaca lalu kembali mengalihkan pandangannya dari Rafa, berusaha menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan saat itu.


"Kau tidak perlu menjawabnya, tatapan matamu sudah menjelaskan semuanya," ucap Rafa dengan menghela nafasnya panjang.


"Tidak mudah melupakan seseorang yang sudah lama ada di hati Tiara kak, bahkan sesakit apapun dia meninggalkan luka tapi tetap saja sisa cinta itu yang perlahan menyembuhkannya tapi juga kembali melukainya," ucap Tiara dengan mendongakkan kepalanya, menatap hamparan langit malam.


Tiara terdiam menyisapi setiap goresan luka yang terasa menyayat hatinya saat ia mengingat kembali bagaimana hubungannya dengan Bima, laki-laki yang sudah sangat lama ia cintai yang pada akhirnya meninggalkan luka yang sangat dalam di hatinya.


Setetes air matapun jatuh membasahi pipi Tiara, membuat Tiara dengan cepat menghapusnya karena tidak ingin Rafa melihatnya.


Namun Rafa yang sedari tadi memperhatikan Tiara dengan jelas melihat tetesan kesedihan itu. Ingin rasanya ia memeluk dan menenangkan Tiara dalam dekapannya, namun ia ragu mengingat siapa dirinya saat itu.


Ya, dia adalah laki-laki beristri meskipun ia sama sekali tidak mencintai istrinya.


"Tiara sangat malu pada kak Rafa, Tiara pasti terlihat sangat menyedihkan saat ini," ucap Tiara dengan tersenyum hambar.


"Kau tidak perlu malu Ra, kau bisa menceritakan apapun padaku, bagiku kau tetaplah Tiara, gadis tangguh yang selalu ceria," balas Rafa sambil menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.


Tiara hanya tersenyum dengan membawa pandangannya pada Rafa yang juga dibalas senyum oleh Rafa.


"Aku yakin kau bisa mengambil keputusan dengan bijak Tiara, kaupun harus yakin bahwa keputusanmu itu adalah yang terbaik untukmu dan kau tidak akan pernah menyesalinya," ucap Rafa dengan menatap kedalam mata Tiara.

__ADS_1


__ADS_2