
Untuk beberapa saat Rafa terdiam menatap Tiara yang terpejam di hadapannya. Rafa kemudian mengambil map yang ada dalam pelukan Tiara.
Tiara memang sengaja menjaga map itu agar Rafa tidak mengambilnya, namun karena terlalu lelah Tiarapun tertidur dengan pulas, membuat Rafa bisa mengambil map itu dari pelukan Tiara tanpa mengalami kesulitan.
Rafa kemudian kembali ke ranjangnya, membuka map yang kini sudah ada di tangannya lalu memeriksanya satu per satu sebelum ia menandatangani berkas itu.
Hingga lewat dini hari, Rafa masih tampak fokus dengan map terakhir yang dibacanya. Namun tiba tiba Tiara mengerakkan badannya dan mulai terbangun dari tidurnya.
Rafa yang menyadari hal itu segera menutup matanya, berpura-pura untuk tertidur meski saat itu posisinya masih terduduk di atas ranjang dengan memegang map di tangannya.
Tiara yang sudah mengembalikan seluruh kesadarannya begitu terkejut saat melihat Rafa yang terpejam dengan terduduk di atas ranjangnya
Tiarapun segera beranjak dari sofa lalu membawa langkahnya ke arah Rafa.
"Bandel sekali!" ucap Tiara lalu mengambil map yang ada di tangan Rafa dan tumpukan map lain yang ada di dekat Rafa.
"Maaf pak, pak Rafa harus bangun, pak Rafa tidak boleh tidur seperti ini!" ucap Tiara pelan, namun Rafa masih terpejam tanpa bergerak sedikitpun.
Tiarapun semakin mendekat Agar Rafa mendengarnya
"Pak Rafa...." panggil Tiara pelan, namun tetap saja tidak ada pergerakan apapun dari Rafa.
Tiara menghela nafasnya panjang, menarik napasnya dalam dalam sebelum ia akhirnya memutuskan untuk menyentuh tangan Rafa.
"Kak bangunlah, kak Rafa harus tidur dengan berbaring," ucap Tiara dengan semakin mendekatkan dirinya pada Rafa.
Rafa kemudian mengerjapkan matanya dan perlahan membuka matanya menatap Tiara. Untuk beberapa saat mereka saling menatap tanpa mengucapkan apapun hingga akhirnya Tiara menarik tangannya yang sedari tadi menyentuh tangan Rafa.
"Tidurlah dengan berbaring kak," ucap Tiara.
Rafa kemudian merubah posisinya agar berbaring kemudian kembali menutup matanya. Melihat Rafa yang sudah berbaring, Tiarapun berniat kembali ke sofa namun tiba tiba saja Rafa menahan tangan Tiara.
"Tetaplah disini Tiara, sebentar saja!" ucap Rafa dengan kedua mata yang masih terpejam.
Tiara menganggukkan kepalanya pelan lalu membawa dirinya duduk pada kursi yang ada di dekat ranjang Rafa.
Untuk beberapa saat Tiara hanya diam menatap Rafa yang terpejam di hadapannya. Dalam hatinya ada sebuah rasa yang menggelitik hatinya, rasa bahagia dan khawatir yang datang dengan bersamaan.
Tak dapat dipungkiri ada setitik kebahagiaan yang ia rasakan saat ia bersama Rafa, namun rasa khawatir membuatnya ragu, apakah dia boleh merasakan kebahagiaan itu atau tidak, mengingat apa yang pernah terjadi diantara mereka berdua.
"Bolehkah Tiara merasa bahagia bersama kak Rafa? Tiara takut kak, Tiara ragu dengan rasa bahagia yang Tiara rasakan saat ini, bertahun tahun Tiara berusaha untuk melupakan kak Rafa, namun pada kenyataannya Tiara tidak benar benar bisa melupakan kak Rafa," ucap Tiara pelan.
"Membuka hati Tiara lagi bukan hal yang mudah kak, untuk saat ini Tiara lebih memilih untuk membiarkan semuanya berjalan dengan sebagaimana mestinya, entah nanti Tiara akan bisa menerima kak Rafa lagi atau tidak, tapi yang pasti Tiara akan berhenti untuk membohongi diri Tiara sendiri dengan terus menghindar dari kak Rafa," ucap Tiara.
Tiara yang saat itu berpikir jika Rafa benar benar tidur, menumpahkan semua kerisauan yang ia rasakan. Tanpa ia tau jika sebenarnya Rafa tidak benar benar tidur saat itu.
Malam yang semakin larut membawa rasa kantuk yang membuat Tiara berkali kali menguap.
Hingga akhirnya Tiarapun tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya berada di ranjang Rafa, tanpa ia sadar tangannyapun masih menggenggam erat tangan Rafa.
Di sisi lain, Rafa yang sedari tadi berpura-pura tidur pada akhirnya tertidur juga, sampai pagi datang membangunkan Rafa.
Rafa mengerjapkan matanya karena merasakan kram di tangan kirinya. Saat kedua matanya terbuka ia melihat Tiara yang masih tidur dengan posisi yang sama seperti saat sebelum Rafa tertidur.
"Aahhh tanganku," batin Rafa dalam hati tanpa berani menggerakkan tangannya sedikitpun.
Tiba tiba pintu ruangan Rafa terbuka, dokter dan suster masuk ke ruangan Rafa untuk memeriksa keadaan Rafa.
"Sepertinya kita kembali nanti saja sus!" ucap Dokter pada suster setelah dokter melihat Tiara yang tidur dengan menggenggam tangan Rafa.
"Maaf dok, mungkin sebentar lagi dia akan bangun," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh dokter dan suster.
Dokter dan susterpun meninggalkan ruangan Rafa, membiarkan Rafa berdua bersama Tiara.
Rafa kemudian membawa pandangannya pada Tiara, menatap Tiara dengan pandangan penuh cinta dan penyesalan, menyesal karena pernah mengecewakan gadis yang begitu dicintainya.
"Aku mengerti kekhawatiranmu Tiara, aku memahaminya, aku tidak akan memaksamu, aku akan membiarkan waktu agar membuatmu yakin padaku," ucap Rafa sambil membelai rambut Tiara dengan pelan.
Tiba tiba Tiara segera mengangkat kepalanya, membuat Rafa begitu terkejut.
"Maafkan aku, apa aku membangunkanmu?"
Tiara menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang masih tampak mengantuk.
"Tidurlah jika kau masih mengantuk!" ucap Rafa.
Tiara kembali menggelengkan kepalanya, saat ia menguap ia baru tersadar jika satu tangannya masih menggenggam erat tangan Rafa.
Tiarapun segera melepas genggaman tangannya pada Rafa.
"Maaf pak, Tiara pergi sebentar!" ucap Tiara lalu segera beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Rafa yang seolah enggan untuk ditinggal pergi oleh Tiara.
__ADS_1
"Ke toilet, Tiara harus membasuh wajah sebentar," jawab Tiara.
"Oohh baiklah," ucap Rafa
"Apa pak Rafa juga ingin pergi ke toilet?" tanya Tiara.
"Tidak, kau saja," balas Rafa.
Tiara kemudian membawa langkah ke toilet. Di dalam toilet Tiara menatap pantulan wajahnya yang ada pada cermin di hadapannya.
"Ada apa denganku, kenapa jantungku selalu berdebar seperti ini?" tanya Tiara dengan memegang dadanya.
Tiara menghela nafasnya panjang lalu membasuh wajahnya dengan air mengalir, berusaha untuk mengembalikan pikiran pikiran positifnya.
Setelah keluar dari toilet Tiara kembali menghampiri Rafa dimana sudah ada dokter dan suster yang baru saja memeriksa keadaan Rafa.
"Bagaimana keadaan pak Rafa dok?" tanya Tiara pada dokter.
"Keadaannya sudah jauh membaik, sebenarnya dia sudah boleh meninggalkan rumah sakit, tapi dia menolak," jawab Dokter yang membuat Rafa menutup wajah dengan kedua tangannya.
Mendengar penjelasan dokter, Tiarapun membawa pandangannya pada Rafa dengan mengernyitkan keningnya.
"Hehehe....."
Sedangkan Rafa hanya terkekeh tanpa mengatakan apapun.
Setelah kepergian dokter, kini hanya ada Rafa dan Tiara disana.
"Pak Rafa harus makan dulu sebelum pulang!" ucap Tiara sambil menyiapkan makanan Rafa yang baru saja diberikan oleh suster.
"Tapi aku tidak mau pulang," balas Rafa.
"Tidak mau pulang? apa maksud pak Rafa?" tanya Tiara tak mengerti.
"Kau sangat baik padaku saat aku berada disini, aku tidak mau jika aku pulang dari sini kau kembali bersikap dingin padaku," jelas Rafa yang membuat Tiara tersenyum tipis.
"Baiklah jika itu kemauan pak Rafa, Tiara tidak bisa memaksa," ucap Tiara.
"Jadi, kau....."
"Tiara akan membiarkan pak Rafa berada di rumah sakit selama yang pak Rafa mau," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya.
"Tiara......"
Melihat senyum Tiara, Rafa hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata kata lagi. Dadanya tiba tiba saja terasa sejuk karena senyum yang Tiara berikan padanya.
"Dia tersenyum padaku, dia benar benar tersenyum padaku....." ucap Rafa dengan masih menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup.
**
Waktu berlalu, hari libur telah berlalu. Tiara kembali menjalani kesibukannya sebagai pegawai di perusahaan X.
Seperti biasa, Tiara fokus mengerjakan pekerjaannya di meja kerjanya. Tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya, membuat Tiara membawa pandangannya ke arah pintu dan begitu terkejut saat melihat Rafa yang berjalan ke arahnya.
"Tolong buatkan materi presentasi untuk produk kita, saya tunggu hasilnya sebelum jam makan siang," ucap Rafa sambil memberikan sebuah map pada Tiara.
"Baik pak, Tiara akan segera menyelesaikannya," balas Tiara.
Rafa kemudian keluar dari ruangan Tiara, sedangkan Tiara masih menatap kepergian Rafa.
"Syukurlah jika kak Rafa sudah kembali bekerja," ucap Tiara dengan senyum di kedua sudut bibirnya.
Waktupun berlalu, Tiara yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera membawa hasil kerjanya untuk ia serahkan pada Rafa.
"Permisi pak, ini materi presentasi yang pak Rafa butuhkan," ucap Tiara.
"Terima kasih," balas Rafa dengan kedua mata yang masih menatap layar laptopnya.
"Tiara permisi," ucap Tiara dengan menahan kesal karena Rafa yang seolah tidak peduli padanya.
"Tunggu!" ucap Rafa yang membuat Tiara segera membalikkan badannya.
"Apa masih ada pekerjaan yang belum kau selesaikan?" tanya Rafa.
"Hanya ada beberapa pekerjaan yang deadline-nya masih beberapa hari lagi," jawab Tiara.
"Baguslah kalau begitu, setelah makan siang kita bertemu di lobby, ikut saya pergi memeriksa lapangan," ucap Rafa.
"Baik pak," balas Tiara.
Tiara kemudian keluar dari ruangan Rafa. Setelah jam makan siang, Tiara membawa langkahnya ke arah lobby untuk menunggu Rafa.
Tak lama setelah ia menunggu, Rafapun datang.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap?" tanya Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Dengan menggunakan mobilnya, Rafa pergi meninggalkan kantor bersama Tiara.
"Kemana kita akan pergi pak?" tanya Tiara pada Rafa.
"Ke tempat yang akan menjadi sumber bahan baku produk kita, seharusnya aku bersama asisten pribadiku, tapi dia masih harus mengerjakan hal lain di kantor," jelas Rafa.
Tiarapun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Rafa.
Setelah lebih dari 2 jam perjalanan, Rafa dan Tiara sudah sampai di daerah pegunungan. Rafa kemudian menepikan mobilnya untuk menghubungi asisten pribadinya.
"Apa kita sudah sampai pak?" tanya Tiara.
"Belum, aku akan meminta asisten pribadiku untuk memberikan lokasi tujuan kita," jawab Rafa sambil berusaha menghubungi asisten pribadinya.
"Apa pak Rafa tidak mengetahui dimana lokasi yang akan kita tuju?" tanya Tiara yang mulai tampak khawatir.
"Aku memang tidak tau, tapi jangan khawatir, kita akan cepat sampai dengan menggunakan GPS," jawab Rafa.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Rafa mendapatkan lokasi tempat yang akan ia tuju dari asisten pribadinya.
Rafapun segera menyalakan GPS yang ada pada ponselnya lalu kembali mengendarai mobilnya sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh GPS.
Hampir satu jam telah berlalu, namun tujuan Rafa belum juga berakhir.
"Apa pak Rafa yakin dengan jalan yang kita lalui?" tanya Tiara memastikan.
"Entahlah, aku hanya mengikuti arah dari GPS saja," jawab Rafa.
"Sepertinya jalanan di depan sana semakin sempit pak, apa pak Rafa yakin mobil ini bisa melewatinya?" tanya Tiara sambil menunjuk jalan di hadapannya.
"Aku akan memeriksanya," jawab Rafa lalu menghentikan mobilnya.
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana!" ucap Rafa lalu keluar dari mobilnya untuk memeriksa jalanan kecil di hadapannya
Benar saja, jalanan berbatu itu terlalu sempit untuk ia lewati menggunakan mobil. Rafa kemudian kembali masuk ke mobilnya dan memutuskan untuk berbalik arah sebelum mereka terperangkap di jalanan sempit itu.
"Lebih baik kita mencari jalan lain saja," ucap Rafa sambil berusaha memutar balik mobilnya di jalanan berbatu yang tidak terlalu lebar.
"Hati hati pak," ucap Tiara khawatir.
"Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu berada dalam posisi yang berbahaya," balas Rafa berusaha meredakan kekhawatiran Tiara.
Setelah beberapa lama Rafapun berhasil keluar dari jalanan berbatu itu.
"Apa mungkin petunjuk arah dari GPS itu salah pak?" tanya Tiara pada Rafa.
"Entahlah, aku akan memeriksanya lagi," jawab Rafa lalu memeriksa maps di ponselnya.
Rafa kemudian mengendarai mobilnya ke arah lain, berharap akan ada jalan yang lebih layak untuk bisa dilalui dengan mobilnya.
Tiiiiitttttt tiiiiitttttt tiiiiitttttt
Layar ponsel Rafa seketika mati karena kehabisan daya.
"Aargghh sial, ponselku kehabisan baterai, coba pakai ponselmu untuk mengaktifkan GPS Tiara!" ucap Rafa.
Tiara kemudian mengambil ponselnya di dalam tas, namun raut wajahnya tampak kecewa setelah mendapati tanda sinyal yang ada di ponselnya tidak terlihat sama sekali.
"Percuma pak, sama sekali tidak ada sinyal disini," ucap Tiara.
Rafa menghela nafasnya panjang lalu memutar mobilnya untuk meninggalkan area pegunungan dengan hutan yang semakin lebat di kanan dan kirinya.
"Pak Rafa mau kemana sekarang?" tanya Tiara.
"Entahlah, yang pasti kita harus pergi dari sini sebelum malam," jawab Rafa.
"Apa kita tersesat sekarang pak?" tanya Tiara.
"Tidak, kita tidak tersesat, hanya tidak mengetahui jalan ke arah tujuan kita," jawab Rafa.
"Itu artinya tersesat pak Rafa!"
"Tidak Tiara, aku masih ingat jalan untuk kembali ke bawah, kau ingat bukan jika di bawah tadi ada pemukiman penduduk? kita bisa beristirahat dulu disana!"
"Tiara percayakan semuanya pada pak Rafa, Tiara harap kita tidak akan bermalam di tengah hutan hari ini," ucap Tiara yang membuat Rafa terkekeh.
"Itu tidak akan terjadi Tiara, percaya padaku!" ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Setelah beberapa lama, remang remang lampupun mulai terlihat dari kejauhan. Terlihat rumah rumah penduduk meski dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain.
"Lebih baik kita mencari penginapan, daripada harus pulang dan kembali lagi kesini besok pagi," ucap Rafa.
__ADS_1
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena ia tau jika Rafa juga terlihat sangat lelah saat itu.