
Rafa begitu terkejut saat melihat teman-teman Tiara berada tak jauh dari tempatnya berdiri bersama Tiara, ia pun segera melepas genggaman tangannya pada Tiara.
"Permisi Pak, ada apa dengan Tiara? apa dia melakukan kesalahan?" tanya salah satu teman Tiara pada Rafa.
"Tidak, hanya sedikit kesalahpahaman saja," jawab Rafa sambil membawa pandangannya pada Tiara.
"Iya hanya salah paham saja, ayo kita pergi, kami permisi Pak," ucap Tiara sambil mengajak teman-temannya pergi.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, membiarkan Tiara pergi bersama teman-temannya.
"Eh, memangnya boleh meninggalkan Pak Rafa begitu saja? sepertinya tidak sopan sekali," ucap salah satu teman Tiara.
"Tidak apa, lagi pula sepertinya Pak Rafa juga akan pergi," jawab Tiara.
"Memangnya apa yang terjadi tadi? sepertinya Pak Rafa sedang memarahimu," tanya teman Tiara yang masih penasaran.
"Mmmm.... tadi..... tadi Tiara salah masuk mobil, Tiara tidak tahu jika mobil yang hampir Tiara buka pintunya adalah mobil Pak Rafa," jawab Tiara beralasan.
"Waaahh untung saja kau tidak diteriaki maling hahaha....." ucap salah satu teman Tiara.
Tiara hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, setidaknya ia lega karena teman-temannya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Rafa beberapa saat yang lalu.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Tiara pada temannya saat temannya sudah mengendarai mobil meninggalkan kantor.
"Banyak hal yang akan kita lakukan hari ini, pertama kita akan pergi ke mall terlebih dahulu, setelah itu kita makan-makan di kafe," jawab teman Tiara.
Setelah beberapa lama berkendara, merekapun sampai di salah satu mall yang ada di kota itu, merekapun segera memasuki mall dan membeli beberapa pernak-pernik khas perempuan dengan model yang sama untuk mereka simpan sebagai kenang-kenangan pertemanan mereka.
Setelah menghabiskan waktu beberapa lama di mall, langit sore pun mulai gelap, Tiara dan teman-temannya meninggalkan mall untuk pergi ke kafe yang berada tak jauh dari mall itu.
Mereka memesan beberapa makanan dan minuman mereka membicarakan banyak hal selama mereka berada di kafe.
"Selamat Tiara, kau sudah membanggakan divisi kita," ucap salah satu teman Tiara.
"Benar, kau sudah membuat bangga kita semua Tiara, pak manager juga pasti sangat bangga padamu, tidak salah beliau memilihmu untuk menjadi perwakilan divisi pemasaran," sahut yang lain.
"Terima kasih kak, Tiara benar-benar bersyukur karena bisa bekerja dengan tim yang selalu mendukung Tiara, terima kasih juga karena sudah membantu Tiara untuk mempelajari banyak hal baru di kantor," ucap Tiara.
Tiba-tiba ponsel salah satu teman Tiara berdering, setelah beberapa lama mengobrol dengan seseorang yang menghubunginya, teman Tiarapun membawa pandangannya pada teman-temannya.
"Sepertinya setelah ini kalian harus ikut denganku," ucap salah satu teman Tiara.
"Kemana kak?" tanya Tiara.
"Aku harus pergi ke hotel tempat papaku bekerja untuk mengambil paket milik mama, karena papa tidak pulang malam ini dan paket itu harus sudah ada di tangan mama malam ini juga," jawab teman Tiara.
Mereka semuapun setuju untuk mengantarkan teman mereka ke hotel terlebih dahulu. Setelah menghabiskan makanan dan minuman mereka, merekapun meninggalkan kafe lalu pergi ke hotel tempat papa salah satu teman Tiara bekerja.
"Tiara, kau ikut denganku!" ucap teman Tiara pada Tiara.
"Baiklah," balas Tiara lalu segera keluar dari mobil untuk masuk ke hotel bersama temannya.
Saat tengah berjalan untuk mencari papa teman Tiara, tanpa sengaja Tiara melihat Maya bersama Bagas. Pada awalnya Tiara begitu terkejut karena melihat Maya dan Bagas masuk ke dalam kamar yang sama.
Maya dan Bagas bahkan tampak berjalan sambil berpelukan sebelum mereka masuk ke dalam salah satu kamar yang ada disana.
Namun Tiara memilih untuk mengabaikan hal itu, ia tidak ingin terlibat pada masalah yang terjadi antara Maya, Rafa ataupun Bagas.
Tapi tanpa Maya ketahui diam-diam teman Tiara merekam kejadian itu. Meskipun ia tidak mengenal Maya, tetapi ia mengenal Bagas yang merupakan pimpinan di divisi produksi.
Teman Tiara sengaja merekam kejadian itu dengan niat untuk ia sebarkan pada teman-temannya yang lain, untuk memperlihatkan bagaimana perilaku pimpinan divisi produksi itu.
"Apa kau tahu Tiara, dunia ini semakin gila!" ucap teman Tiara.
__ADS_1
"Apa maksudmu? kenapa kau berbicara seperti itu?" balas Tiara bertanya.
"Hal yang dulunya sangat tabu sekarang semakin sering dilakukan orang dan malah sudah dianggap hal yang biasa, batas antara moral dan kebiasaan buruk itu sekarang sudah semakin tipis, orang-orang sudah tidak memperhatikan baik atau tidaknya apa yang mereka lakukan karena mereka tahu hal itu sudah biasa dilakukan oleh beberapa orang lainnya," jawab teman Tiara menjelaskan.
"Kau benar, kita yang harus bisa menjaga diri kita sendiri dari lingkungan yang mungkin tidak sesuai dengan kepribadian kita," balas Tiara.
"Sebentar lagi kau akan pergi ke luar negeri Tiara, kau akan tinggal disana untuk waktu yang cukup lama, aku harap kau bisa menjaga diri dengan baik dan tidak terpengaruh oleh hal-hal buruk yang ada disana," ucap teman Tiara yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.
"Sejak kau tidak masuk bekerja karena sakit sepertinya banyak yang berubah darimu Tiara, tiba-tiba saja kau pindah tempat tinggal dan kau sudah tidak seceria dulu lagi, sebenarnya ada apa denganmu? apa terjadi sesuatu?" tanya teman Tiara.
"Tidak ada, aku hanya sedang berusaha untuk keluar dari lingkungan yang aku anggap toxic, kalau kau melihatku berubah dan sudah tidak seceria dulu mungkin karena aku masih berada dalam masa transisi karena tidak mudah meninggalkan sesuatu yang sebelumnya sudah menjadi bagian dari kehidupanku, kau mengerti maksudku bukan?" balas Tiara.
"Aku mengerti, tapi lingkungan toxic yang kau maksud itu bukan tentangku dan teman-teman yang lain bukan?"
"Tentu saja bukan, justru kalian adalah penyemangatku, aku sangat bersyukur karena bisa mengenal kalian dan bekerja sama dengan kalian semua," jawab Tiara dengan tersenyum.
"Apapun yang terjadi padamu kau harus tetap menjadi dirimu sendiri Tiara, nikmati waktumu nikmati hidupmu, karena kau tahu bukan jika kita hidup hanya sekali dan akan sangat disayangkan jika kau tidak benar-benar menikmati hidupmu!"
Tiara kembali menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, setelah mengambil paket dari papa teman Tiara, Tiara dan temannyapun kembali ke mobil.
Teman Tiarapun mengendarai mobilnya meninggalkan hotel, berniat untuk mengantar Tiara pulang ke tempat tinggalnya yang baru.
Namun mereka tidak benar-benar mengantarkan Tiara sampai di depan tempat tinggal Tiara yang baru, karena Tiara meminta turun di depan halte yang berada tidak jauh dari tempat tinggal Tiara.
"Apa kau yakin akan turun disini?" tanya teman Tiara memastikan.
"Iya, tempat tinggalku dekat dari sini jadi aku bisa berjalan kaki," jawab Tiara.
Setelah berpamitan pada teman-temannya Tiarapun membawa langkahnya menyusuri trotoar jalan raya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam sebuah gang yang membawanya ke tempat kostnya yang baru.
**
Di tempat lain, Rafa baru saja sampai di rumahnya. Tidak seperti biasanya, tidak ada Maya yang menunggunya pulang dari kantor seperti hari-hari sebelumnya.
"Apa Maya belum pulang Bi?" tanya Rafa pada bibi.
Rafa kemudian membawa langkahnya masuk ke kamarnya, membaringkan badannya lalu mengambil ponselnya berusaha untuk menghubungi Tiara, namun sama seperti sebelumnya ia tidak bisa menghubungi Tiara sama sekali.
Malam yang semakin larut pada akhirnya membawa pagi kembali. Rafa yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Maya yang baru saja pulang.
"Apa kau tidak pulang semalam?" tanya Rafa pada Maya.
"Aku..... aku menginap di rumah temanku," jawab Maya berbohong.
"Kau tidak berhubungan lagi dengan laki-laki itu bukan?" tanya Rafa.
"Tentu saja tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?" balas Maya.
"Jika kau memang ingin dekat dengan laki-laki, sebaiknya cari laki-laki yang benar-benar mencintaimu, bukan dia!" ucap Rafa.
"Kenapa kau berkata seperti itu Rafa? aku istrimu, bagaimana mungkin aku mencari laki-laki yang mencintaiku?"
Mendengar ucapan Maya, Rafa seketika membawa pandangannya pada Maya saat ia hampir saja melangkah keluar dari pintu rumahnya.
"Istriku? sejak kapan kau menganggap dirimu sebagai istriku?" tanya Rafa sambil membawa langkahnya mendekati Maya.
Maya menghela nafasnya panjang lalu menatap kedua mata Rafa yang berdiri di hadapannya.
"Aku adalah istrimu Rafa, kau adalah suamiku, kita sudah menikah dan pernikahan kita tercatat di pengadilan agama ataupun negara, aku tidak mungkin bersama laki-laki lain dan kaupun tidak boleh bersama perempuan lain, apa itu hal yang aneh dalam sebuah pernikahan?" ucap Maya sekaligus bertanya.
"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?" tanya Rafa tak mengerti dengan sikap Maya yang tiba-tiba menganggap pernikahan mereka adalah pernikahan sungguhan.
"Tidak bisakah kau sedikit saja memperhatikanku Rafa? tidak bisakah sedikit saja kau mencintaiku?" tanya Maya dengan kedua mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kau pasti mabuk," ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Maya lalu berjalan pergi, namun dengan cepat Maya menahan tangan Rafa.
"Aku sadar dengan apa yang aku katakan Rafa, aku mencintaimu, aku tidak ingin kau bersama perempuan lain," ucap Maya yang membuat Rafa semakin terkejut.
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Maya? bukankah kita sudah sepakat untuk berpisah baik-baik setelah kau mendapatkan apa yang dijanjikan oleh papamu? tolong jangan membuat semua ini semakin rumit!" balas Rafa.
"Semua ini tidak akan rumit jika kau mau menerimaku sebagai istrimu, tidak masalah jika kau belum mencintaiku, aku yang akan membuatmu jatuh cinta padaku asalkan kau tetap bersamaku dan tidak meninggalkanku," ucap Maya.
"Kau benar-benar gila!" ucap Rafa sambil menarik tangannya dari Maya lalu berjalan pergi meninggalkan Maya begitu saja.
"Aku sudah menjatuhkan harga diriku di depanmu Rafa, tetapi kau masih tidak menganggapku ada," ucap Maya menatap kepergian Rafa.
**
Di sisi lain, hari itu Tiara tidak pergi ke kantor. Ia sedang mempersiapkan semua berkas berkas yang ia butuhkan untuk melanjutkan kuliahnya di Harvard.
Tiara juga sedang menyibukkan dirinya untuk memilih jurusan apa yang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya.
Banyak hal yang Tiara harus siapkan sebelum ia benar-benar melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Setelah beberapa lama berkutat dengan laptop dan berkas-berkas yang ada di meja belajarnya, Tiarapun mulai beranjak dari duduknya.
Tiara mempersiapkan dirinya untuk pergi ke makam kedua orang tuanya. Berat baginya untuk tinggal lama di luar negeri karena itu artinya ia tidak akan bisa sering berkunjung ke makam kedua orang tuanya, namun ia yakin orang tuanya tidak akan keberatan dengan hal itu.
"Mama papa pasti akan mendukung Tiara bukan? maafkan Tiara jika nanti Tiara tidak akan sering kesini, tapi kalian harus percaya jika Tiara pasti selalu mengingat mama dan papa dalam hati Tiara," ucap Tiara saat ia sudah berada di antara gundukan makam mama dan papanya.
Setelah menghabiskan waktunya beberapa lama di makam Tiara kemudian menghubungi Chika. Setelah memastikan jika Chika sedang berada di kafe, Tiarapun segera menaiki bus yang akan membawanya ke kafe untuk bertemu dengan Chika.
Sesampainya di kafe Tiara segera melepas rindunya dengan teman baiknya itu, Tiara juga meminta maaf karena sempat menghilang untuk beberapa hari, tetapi ia meyakinkan Chika jika dirinya baik-baik saja.
"Sepertinya aku tidak akan bisa menemuimu untuk waktu yang cukup lama," ucap Tiara pada Chika.
"Kenapa?" tanya Chika.
"Aku akan melanjutkan pendidikanku di luar negeri dan itu pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi aku janji setelah aku kembali kesini aku pasti segera menemuimu," jawab Tiara menjelaskan.
"Waahh kau hebat sekali.... selamat Tiara, aku sangat bangga padamu, kau bahkan bisa mendapatkan keberuntungan di luar mimpimu selama ini," ucap Chika sambil bersorak senang.
Setelah menghabiskan waktunya beberapa lama bersama Chika, Tiarapun berpamitan untuk pulang. Tiara segera menunggu bus yang akan membawanya kembali pulang ke tempat kosnya.
**
Di perusahaan X.
Putra yang sedang sibuk dengan pekerjaannya begitu terkejut saat tiba-tiba papa Rafa datang menemuinya.
"Apa Om sudah ada janji dengan Rafa?" tanya Putra ada papa Rafa.
"Tidak, om kesini untuk menemuimu, bukan untuk menemui Rafa," jawab Adam.
"Menemui Putra? ada apa Om?" tanya Putra.
"Tentang apa yang kau katakan padaku beberapa saat yang lalu, aku sudah memikirkannya dan aku sudah mempersiapkan semuanya," jawab Adam.
"Apa maksud Om tentang permintaan Putra untuk dipindahkan ke Amerika?" tanya Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Adam.
"Jadi maksud om, om menyetujui perpindahan Putra ke Amerika?" tanya Putra memastikan.
"Iya aku sudah menyetujuinya aku juga sudah mempersiapkan perpindahanmu kesana, jadi kau tinggal mengurus beberapa berkas pribadimu saja," jawab Adam.
"Terima kasih banyak Om, kapan Putra bisa pergi kesana?"
"Bulan depan kau sudah mulai bekerja disana, jadi sebelum bulan depan kau sudah harus berada disana untuk mempersiapkan keperluanmu yang lain selama kau tinggal disana," jawab Adam.
__ADS_1
"Baik Om, Putra akan segera mempersiapkan berkas lainnya, sekali lagi terima kasih karena sudah mempercayakan Putra untuk pindah kesana," ucap Putra senang.
Adam hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu membawa langkahnya menemui Rafa di ruangannya.