Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Emosi


__ADS_3

Terik mentari menyambut pagi di hari yang baru. Meski sedikit kesulitan untuk berjalan Tiara masih bersemangat untuk berangkat ke kantor, terlebih saat ia tahu bahwa Rafa bekerja di perusahaan yang sama dengannya. Entah kenapa hal itu seolah memberikan semangat baru baginya.


Dengan menggunakan kruk, Tiara membawa langkahnya meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor.


Sesampainya ia di kantor, beberapa orang tampak memperhatikannya karena berjalan dengan menggunakan kruk.


Putra yang baru saja sampai di kantor juga begitu terkejut saat ia melihat keadaan Tiara saat itu. Iapun segera berlari kecil menghampiri Tiara.


"Tiara, apa yang terjadi padamu?" tanya Putra khawatir.


"Aahh iya Tiara belum memberitahu pak Putra, kemarin Tiara terjatuh dari bukit dan kebetulan saat itu ada kak Rafa yang datang dan membantu Tiara untuk ke rumah sakit, maaf karena tidak sempat menghubungi pak Putra dan yang lainnya," jawab Tiara. menjelaskan.


"Tidak masalah, Rafa sudah menjelaskan semuanya padaku, tapi kenapa kau bekerja hari ini? seharusnya kau beristirahat saja di rumah jika kau kesulitan berjalan seperti ini!"


"Tiara masih bisa berjalan Pak, walaupun agak lebih lambat hehehe....." balas Tiara.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja? jika tidak kau bisa pulang sekarang, aku akan mengantarmu!"


"Terima kasih Pak, tapi Tiara baik-baik saja, Tiara pasti masih bisa mengerjakan pekerjaan Tiara dengan baik," balas Tiara.


"Tapi...."


"Tidak perlu berlebihan, dia baik-baik saja, cepat ke ruanganku!" ucap Rafa yang tiba-tiba datang lalu berjalan meninggalkan Putra dan Tiara begitu saja.


"Aku pergi dulu, kau jangan memaksakan keadaanmu jika memang kau merasa tidak baik-baik saja nantinya," ucap Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Putra kemudian berjalan meninggalkan Tiara untuk mengikuti langkah Rafa yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift.


Sedangkan Tiara melanjutkan langkahnya dengan tertatih sembari memikirkan tentang posisi Rafa di perusahaan itu.


"Kenapa kak Putra seperti menurut sekali pada kak Rafa? apa mereka berdua sama-sama direktur atau karena mereka berdua berteman?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Hmmm.... entahlah, lebih baik aku menanyakannya langsung pada kak Rafa saat kita bertemu nanti!"


Dengan tertatih Tiara berjalan ke arah meja kerjanya. Semua teman-teman Tiarapun segera membawa pandangan mereka ke arah Tiara saat melihat Tiara berjalan dengan menggunakan kruk.


"Tiara, apa yang terjadi padamu?" tanya teman Tiara khawatir.


Tiarapun menceritakan kejadian saat ia terjatuh di bukit, termasuk saat Rafa menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.


"Kak Rafa? apa maksudmu Rafa....."


"Tiara, kita meeting sekarang!" ucap manager pemasaran yang membuat teman Tiara menghentikan ucapannya.


"Baik Pak," balas Tiara lalu segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ruangan meeting.


Meeting hari itu memang dilakukan mendadak untuk membahas tentang projek iklan yang tidak berjalan sesuai dengan rencana.


Setelah beberapa lama menunggu, beberapa staf lainpun datang disusul oleh Putra dan Rafa.


"Kak Rafa, kenapa tiba-tiba ada kak Rafa? sejak kapan kak Rafa terlibat dalam project iklan ini?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Selamat pagi semuanya, maaf karena mengajak kalian semua meeting mendadak seperti ini, saya hanya ingin menyampaikan solusi untuk iklan produk baru kita karena seperti yang kalian tahu keadaan Tiara tidak memungkinkan untuk melanjutkan syuting iklan produk baru kita, sedangkan kita hanya memiliki sedikit waktu untuk segera menyelesaikan iklan ini!" ucap Rafa dengan raut wajah yang cukup serius.


Tiara semakin tidak mengerti tentang posisi Rafa yang sebenarnya, karena tiba-tiba saja Rafa seolah mengambil alih kepemimpinan Putra tentang project iklan yang sudah beberapa kali dibahas.


"Karena kita tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan shooting ataupun casting model baru, saya memutuskan untuk membuat iklan produk baru kita menggunakan animasi dengan konsep yang sama seperti sebelumnya, saya sudah mengkonfirmasi hal ini pada sutradara maupun produser dan mereka menyetujuinya, bagaimana dengan kalian?" jelas Rafa sekaligus bertanya dengan membawa pandangannya pada semua yang ada di ruangan meeting itu.


Semua yang ada disana pun mulai berdiskusi kecil, termasuk Tiara.


"Bagaimana Tiara? apa kau setuju?" tanya manajer pada Tiara.

__ADS_1


"Tiara.... mmmm...."


"Tidak ada pilihan lain Tiara, ini pilihan terbaik yang bisa kita lakukan agar peluncuran produk baru kita tidak terhambat," sahut staf lain.


"Aaahh iya.... Tiara setuju," ucap Tiara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tiara bukannya ragu dengan ide Rafa, ia hanya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi yang tidak ia ketahui. Kenapa Rafa tiba-tiba ada di perusahaan tempatnya bekerja dan kenapa Rafa yang mengambil alih kepemimpinan project iklan untuk produk baru yang sebelumnya dipimpin oleh Putra sebagai direktur pemasaran.


Pada akhirnya semua yang ada di ruangan itupun setuju dengan ide Rafa. Rafa kemudian menjelaskan dengan detail tentang ide barunya.


Semua yang ada disana memperhatikan Rafa, termasuk Tiara yang hanya terdiam dengan menopang dagunya, memperhatikan betapa tampan dan berkharismanya laki-laki yang tengah berdiri tak jauh darinya.


Raut wajah Rafa yang tampak sangat serius membuat ketampanan Rafa semakin jelas terlihat di mata Tiara.


Tanpa sadar Tiarapun kembali teringat akan kejadian di tangga darurat beberapa hari yang lalu.


Ia seolah masih bisa merasakan debaran dalam dadanya saat Rafa berdiri sangat dekat di hadapannya, tangannya bahkan masih bisa merasakan betapa hangatnya genggaman tangan Rafa saat itu.


Meskipun sudah cukup lama mengenal Rafa, namun perasaan aneh itu baru Tiara rasakan sejak saat itu dan entah kenapa ia menjadi lebih sering berdebar setiap ia dekat dengan Rafa.


Debaran dalam dadanya yang membuatnya gugup, namun memberikan sensasi bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat ia bersama Bima, laki-laki yang ia percaya cinta pertama dalam hidupnya.


Tiba-tiba seseorang menyentuh bahu Tiara, membuyarkan Tiara dari lamunannya.


"Pak Rafa bertanya padamu!" ucap staf lain berbisik pada Tiara.


"Apa kau sudah selesai melamun?" tanya Rafa pada Tiara.


"Maaf kak, pak.... mmmm.... pak Rafa...." ucap Tiara gugup yang membuat semua yang ada disana menahan tawanya, terkecuali Putra yang hanya memperhatikan Tiara dan Rafa dengan raut wajah datar.


"Siapkan presentasi untuk peluncuran produk baru kita, anggap itu sebagai hukuman untukmu karena tidak memperhatikan penjelasanku!" ucap Rafa pada Tiara yang membuat Tiara hanya terdiam dengan mengernyitkan keningnya.


"Baiklah meeting kali ini selesai, semoga iklan baru untuk produk baru kita akan selesai tepat waktu, terima kasih atas waktunya dan sampai bertemu pada meeting selanjutnya!" ucap Rafa lalu berjalan meninggalkan ruangan meeting.


"Maaf pak, Tiara akan lebih fokus lagi mulai sekarang," balas Tiara sambil beranjak dari duduknya dengan bantuan kruk yang selalu dibawanya.


"Tentang materi presentasi, jangan mengkhawatirkannya, aku akan membantumu mengerjakannya!" ucap Putra pada Tiara lalu berjalan meninggalkan ruangan meeting.


Tiara yang masih tidak mengerti tentang apa yang terjadi hanya terdiam dengan segala macam pertanyaan dalam kepalanya.


Tiara kemudian membawa langkahnya kembali ke meja kerjanya dan masih memikirkan tentang ucapan Rafa yang tiba-tiba memintanya untuk menyiapkan materi presentasi produk baru.


"Kenapa kak Rafa tiba-tiba meminta aku untuk menyiapkan presentasi produk baru? memangnya siapa kak Rafa? apa jabatannya disini? kenapa dia tiba-tiba menggantikan kak Putra dan kenapa dia memintaku untuk melakukan hal itu?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Apa jangan-jangan kak Putra digantikan oleh kak Rafa sebagai direktur pemasaran? apa itu hukuman untuk kak Putra karena berita buruk yang tersebar di kantor? apa mungkin....."


"Tiara!" panggil teman Tiara, membuyarkan lamunan Tiara.


"Bagaimana hasil meetingnya?" tanya teman Tiara penasaran.


Tiarapun menjelaskan tentang ide baru Rafa yang disetujui oleh semua peserta meeting.


"Waah Pak Rafa memang hebat sekali, dia bisa mendapatkan solusi untuk permasalahan itu dengan cepat!" ucap dengan teman Tiara dengan bertepuk tangan kecil.


"Memangnya kau mengenal Pak Rafa? apa kau tahu pak Rafa bekerja di bagian apa?" tanya Tiara pada temannya.


"Apa kau serius dengan pertanyaanmu itu Tiara? bukankah kau sudah bertemu dengan Pak Rafa saat kau terjatuh dari bukit?" balas teman Tiara bertanya.


"Iya, tapi aku....."


"Bagaimana menurutmu? apa kau setuju bahwa CEO baru kita sangat tampan?" tanya teman Tiara memotong ucapan Tiara.

__ADS_1


"CEO baru?" tanya Tiara mengulangi ucapan teman Tiara.


"Iya, Pak Rafa adalah CEO baru kita, kau beruntung sekali karena sudah dua kali bertemu pak Rafa, sedangkan aku hanya pernah bertemu saat perkenalan CEO baru di lobby beberapa hari yang lalu," ucap teman Tiara yang membuat Tiara begitu terkejut.


"Kak Rafa CEO baru disini? itu artinya kak Rafa adalah anak pak Adam dan tante Rossa, tapi bukanlah anak mereka perempuan? sepertinya aku sudah salah paham tentang perhiasan tante Rosa yang terjatuh, tapi..... tapi Tante Rossa mengatakan sendiri bahwa tante Rossa tidak memiliki anak laki-laki......"


Tiara terdiam dengan segala macam pikiran dalam kepalanya, ia benar-benar tidak fokus untuk mengerjakan pekerjaannya hari itu karena terlalu memikirkan tentang siapa sebenarnya Rafa.


Namun Tiara tidak bisa membiarkan pikirannya terus-menerus terganggu oleh hal itu, ia sudah memutuskan untuk bekerja jadi dia harus bisa bertanggung jawab pada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Tiarapun berusaha keras untuk fokus pada pekerjaannya. Meskipun banyak pertanyaan yang ada di kepalanya tentang Rafa, ia memilih untuk mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan itu terlebih dahulu sebelum ia menyelesaikan pekerjaannya.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang saat Tiara baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Apa aku harus menanyakannya pada kak Rafa secara langsung? tidak..... lebih baik aku bertanya pada kak Putra saja, rasanya sangat tidak sopan jika harus bertanya langsung pada kak Rafa, apalagi kak Rafa sekarang adalah CEO di perusahaan tempatku bekerja," ucap Tiara dalam hati lalu mengirimkan pesan pada Putra.


"Ada yang ingin Tiara bicarakan dengan kak Putra, apa sepulang bekerja nanti kak Putra bisa menemui Tiara di rumah?"


5 menit sampai 10 menit berlalu, namun Putra belum juga membalas pesan Tiara karena ia begitu sibuk dengan pekerjaan barunya.


Di sisi lain, Putra dan Rafa baru saja meninggalkan perusahaan tempat mereka melakukan meeting.


"Ada yang ingin aku katakan padamu, bukan sebagai asisten pribadi tapi sebagai teman," ucap Putra pada Rafa.


"Teman? apa menurutmu kita masih berteman?" balas Rafa bertanya.


"Terserah padamu jika kau masih tidak menganggapku sebagai temanmu, aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukai Tiara," ucap Putra tanpa ragu.


"Itu bukan urusanku," balas Rafa.


"Aku hanya ingin kau tahu hal itu agar kau tidak terlalu dekat dengan Tiara!" ucap Putra.


"Kau tidak memiliki hak untuk membatasiku ataupun Tiara, lagi pula dia adalah pegawaiku, aku mengenalnya jauh sebelum kau mengenalnya," ucap Rafa.


"Aku tahu itu tetapi sikapmu sangat berlebihan jika kau hanya menganggapnya sebagai pegawaimu saja," balas Putra yang membuat Rafa terdiam.


"Aku sangat mengenalmu Rafa, aku tahu kau memang sangat baik pada orang-orang di sekitarmu, itu yang membuatku tidak mencurigaimu saat kau terlihat sangat khawatir ketika Tiara pingsan di kafe, tetapi hari ini aku menyadari satu hal tentang kau dan Tiara, aku melihat sesuatu yang lain dari tatapan mata kalian berdua!" ucap Putra dalam hati sambil mengendarai mobilnya kembali ke kantor bersama Rafa yang duduk di sampingnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di kantor. Putra dan Rafapun turun dari mobil setelah Putra memarkirkan mobilnya di basement.


"Apa dia tahu kau sudah memiliki istri?" tanya Putra yang membuat Rafa menghentikan langkahnya.


"Kau harus ingat bahwa kau sudah memiliki istri Rafa, jauhi Tiara jika kau memang tidak bisa bersamanya, setidaknya kau tidak akan melukai hatinya terlalu dalam karena membiarkannya berharap padamu," ucap Putra yang membuat Rafa membawa langkahnya ke arah Putra.


"Sudah cukup aku mendengar omong kosongmu, kita memang pernah berteman dan kaupun juga dekat dengan keluargaku, tapi kau jangan melewati batas hanya karena hal itu, jadi aku harap kau tidak terlalu ikut campur tentang masalah pribadiku!" ucap Rafa.


"Aku menyukai Tiara, jadi aku pasti akan ikut campur tentang apapun yang menyangkut Tiara!" ucap Putra yang membuat Rafa semakin murka saat ia mendengar bahwa Putra menyukai Tiara.


Rafa yang sudah kehilangan kesabarannya seketika menarik kerah kemeja Putra dan mendorong Putra hingga terpojok ke arah pilar besar yang ada di basement.


"Kau tidak tahu apapun tentangku Putra, kau tidak tahu tentang apa yang selama ini aku alami, jadi aku mohon padamu jaga batasanmu dan jangan memaksaku untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi!" ucap Rafa penuh emosi.


"Kau yang seharusnya menjaga batasanmu pada Tiara, Rafa!" ucap Putra yang tak kalah emosinya sambil mendorong Rafa dengan kuat, membuat Rafa terdorong beberapa langkah ke belakang hingga terbentur mobil di belakangnya.


Di sisi lain, Tiara yang saat itu berada di basement melihat saat Putra mendorong Rafa. Iapun segera mempercepat langkahnya yang tertatih ke arah Putra dan Rafa.


"Kak Putra, apa yang kak Putra lakukan?" tanya Tiara sambil membantu Rafa berdiri.


"Apa kak Rafa baik-baik saja?" tanya Tiara pada Rafa.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun lalu membawa pandangannya pada Putra dengan tatapan tajam seolah mengisyaratkan agar Putra tidak mengatakan apapun tentang pernikahannya pada Tiara.

__ADS_1


Putra hanya menghela nafasnya kasar lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan Rafa dan Tiara.


__ADS_2