
Tiara terdiam tak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Rafa. Detak jantungnya semakin cepat memompa, membuatnya semakin gugup dan tidak tahu apa yang harus dia ucapkan saat itu.
Tatapan mata Rafa padanya yang begitu dalam membuatnya semakin tidak bisa berkata-kata. Tidak mudah bagi Tiara untuk menerima sosok baru dalam hatinya meskipun ia sadar ada sesuatu yang lain yang ia rasakan pada Rafa.
Namun ia tidak akan gegabah, ia tidak ingin tersakiti untuk kedua kalinya. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti yang pernah terjadi padanya dulu. Saat ia yakin bahwa Bima adalah cintanya, tiba tiba takdir mendorong Tiara jauh dari keyakinan akan cinta yang ia miliki, menyisakan rasa sakit dan pedih dalam hatinya.
"Tiara, aku butuh jawaban darimu," ucap Rafa yang menunggu jawaban dari Tiara.
"Tiara..... mmmm.... Tiara tidak tau harus berkata apa kak," balas Tiara gugup.
"Apa kau meragukanku?" tanya Rafa yang membuat Tiara segera mengalihkan pandangannya dari Rafa.
"Ini terlalu tiba-tiba kak," jawab Tiara.
"Aku tahu kau pasti akan terkejut dengan apa yang aku katakan, tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi Tiara, aku ingin kau tahu apa yang sebenarnya aku rasakan, aku sungguh mencintaimu Tiara dan aku tidak bisa melihatmu bersama laki-laki lain selain aku," ucap Rafa.
"Apa kau belum bisa melupakan Bima?" lanjut Rafa bertanya yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
"Tiara sudah melupakan kak Bima, tetapi Tiara belum siap untuk memulai hubungan baru lagi, rasa sakit itu masih ada kak dan entah sampai kapan akan tetap ada," ucap Tiara.
"Aku tidak akan menuntut apapun darimu Tiara, tapi tolong izinkan aku mencintaimu, beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa aku layak untukmu, bahwa aku bisa memberikanmu kebahagiaan yang mampu menghilangkan rasa sakit itu dengan perlahan," ucap Rafa.
"Tapi kakak adalah CEO di perusahaan besar, keluarga kakak adalah orang terpandang, sedangkan Tiara hanyalah perempuan yang masih berusaha untuk meraih mimpi tanpa keluarga di samping Tiara, jadi sepertinya akan banyak orang yang menentang hubungan kita nantinya," ucap Tiara.
"Jabatan dan keluargaku tidak ada hubungannya dengan perasaanku padamu Tiara, tidak akan ada yang bisa merubah apa yang aku rasakan padamu," balas Rafa.
Tiara kembali terdiam mendengar ucapan Rafa. Hatinya seolah mengatakan bahwa ia merasakan hal yang sama seperti Rafa, namun sisi lain dalam dirinya menolak untuk menerima Rafa begitu saja.
"Beri aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusanku padamu Tiara," ucap Rafa bersungguh sungguh.
"Tiara akan memikirkannya dulu kak," balas Tiara yang masih ragu untuk memulai hubungan baru setelah pengalaman pahitnya bersama Bima.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan menunggumu, tapi jangan melarangku untuk terus mendekatimu karena itu adalah caraku untuk meyakinkanmu," ucap Rafa.
"Tapi Tiara harap kakak tidak terlalu menunjukkannya saat kita di kantor, kita harus tetap bisa menjaga posisi kita sebagai CEO dan pegawai biasa, apa kakak bisa menyanggupinya?" ucap Tiara sekaligus bertanya.
"Aku sanggup," jawab Rafa tanpa ragu.
Tiarapun tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan. Setidaknya ia lega jika Rafa bisa menjaga jarak dengannya saat di kantor, tidak akan ada gosip buruk yang beredar tentang dirinya dan Rafa nantinya.
__ADS_1
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari Putra membuat Tiara sedikit ragu untuk menerimanya.
Namun Tiara tetap menerima panggilan Putra, karena bagaimanapun juga Putra adalah orang pertama yang dekat dengannya saat dia mengikuti seminar di kantor tempatnya bekerja saat itu.
"Halo kak," ucap Tiara setelah ia menerima panggilan Putra.
"Apa kau sedang di rumah sekarang?" tanya Putra.
"Iya Tiara sedang di rumah, ada apa kak?" balas Tiara.
"Aku akan ke rumahmu sekarang juga, jadi tunggu aku!"
"Tapi....."
Tuuuuttt tuuuutttt tuuuutttt
Panggilan berakhir begitu saja, membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa yang masih duduk di sampingnya.
"Ada apa Tiara?" tanya Rafa.
"Putra? kenapa dia mendatangimu malam-malam seperti ini?" tanya Rafa.
"Entahlah, Tiara juga tidak tahu," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh Tiara.
"Kau tidak perlu mengantarku, lantai di luar sangat licin, jadi tetaplah disini!" ucap Rafa menahan Tiara agar tidak mengikutinya keluar.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, membiarkan Rafa meninggalkan rumahnya bersama rintik hujan yang masih terdengar lirih.
Tanpa Tiara tahu Rafa segera menghubungi Putra, meminta Putra untuk menemuinya di salah satu kafe miliknya.
Meskipun awalnya menolak, pada akhirnya Putrapun memilih untuk menemui Rafa dan membatalkan niatnya untuk menemui Tiara.
Setelah beberapa lama menunggu Putra di kafenya, Putrapun datang dan segera membawa langkahnya ke arah kursi yang ada di hadapan Rafa.
"Kenapa kau memintaku datang kesini?" tanya Putra.
__ADS_1
"Aku tahu kau akan menemui Tiara, jadi aku sengaja menahanmu agar tidak bertemu dengan Tiara," jawab Rafa tanpa basa-basi.
"Kau sangat kekanak-kanakan sekali Rafa, kau seperti bukan Rafa yang aku kenal," ucap Putra.
"Memangnya seperti apa Rafa yang kau kenal?" tanya Rafa.
"Rafa yang aku kenal tidak akan pernah mempermainkan perempuan, Rafa yang aku kenal tidak akan mungkin menyakiti orang-orang di sekitarnya," jawab Putra.
"Lalu apa menurutmu aku sedang mempermainkan perempuan sekarang?" tanya Rafa.
"Kenapa kau mempertanyakan sesuatu yang sudah kau tahu jawabannya, hanya laki-laki brengsek yang mendekati perempuan lain saat dia sudah memiliki istri," jawab Putra.
Rafa hanya tersenyum tipis mendengar apa yang Putra katakan, karena meskipun dekat dengan keluarganya, Putra tidak tahu tentang bagaimana sebenarnya pernikahannya dengan Maya.
"Apa yang sedang kau tertawakan Rafa? apa kau merasa bangga dengan apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Putra.
"Kau tidak tahu apapun tentangku Putra, jadi lebih baik kau tidak terlalu ikut campur dengan apapun yang aku lakukan," ucap Rafa.
"Aku tidak akan pernah ikut campur jika itu tidak menyangkut Tiara, karena seperti yang sudah aku katakan padamu aku menyukainya dan aku akan berusaha untuk mendapatkannya, tidak peduli jika kau menghalangiku sekalipun!" balas Putra.
"Jika bukan karena Tiara, aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu seperti ini, apa lagi berbicara panjang lebar tentang masalah pribadiku padamu," ucap Rafa.
"Apa maksudmu?" tanya Putra.
"Apa yang kau ketahui tentang hubunganku dengan Maya itu sama sekali tidak benar, semua yang kau pikirkan tentang pernikahanku dengan Maya sangat jauh berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Rafa yang membuat Putra mengernyitkan keningnya tak mengerti.
Rafa kemudian menjelaskan tentang pernikahannya dengan Maya pada Putra, tentang perjodohan antara dirinya dan Maya, tentang keterpaksaannya menerima pernikahan itu dan tentang niat lain Maya yang menerima perjodohan itu dengannya.
Rafa menjelaskan bahwa sama sekali tidak ada cinta antara dirinya dan Maya. Bahkan mereka hanya akan tidur dalam satu kamar yang sama saat di dalam rumah itu ada orang tua mereka, namun tak pernah sekalipun Rafa berada dalam satu ranjang yang sama dengan Maya.
Putra yang mendengar hal itu hanya terdiam tak percaya, karena sejauh yang ia tahu tidak pernah ada masalah dalam pernikahan Rafa dan Maya.
"Kau tidak sedang mengarang cerita hanya untuk mendekati Tiara bukan?" tanya Putra memastikan.
"Tentu saja tidak, tapi terserah padamu jika kau tidak mempercayaiku, kita memang sudah tidak berteman jadi aku tidak ragu jika kau sudah tidak mempercayaiku seperti aku yang tidak mempercayaimu," jawab Rafa.
Putra hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Satu yang harus kau tahu, aku benar-benar mencintai Tiara dan aku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya," ucap Rafa sebelum Putra benar-benar berjalan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Putra yang mendengar hal itu hanya diam mengabaikan Rafa, ia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Rafa.