Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Mengantar Pulang


__ADS_3

Tiara yang baru mengetahui bahwa Rafa adalah pemilik kafe itu terdiam tak percaya dengan penuh keterkejutan.


"Melihat reaksimu seperti ini sepertinya kau benar-benar tidak tahu bahwa Pak Rafa adalah pemilik kafe ini," ucap Chika yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Pak Rafa memang sangat low profile, bahkan beberapa karyawan disini juga tidak tahu sebelumnya bahwa Pak Rafa adalah dosen di Universitas ternama di kota ini," ucap Chika.


Tiara masih terdiam karena tidak mampu berkata-kata lagi, ia tidak menyangka bahwa dosen mesum yang menjadi dosen pembimbingnya ternyata pemilik kafe tempat dimana ia beberapa kali tertidur disana.


"Lanjutkan kesibukanmu, aku juga harus mengerjakan pekerjaanku yang lain," ucap Chika lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara.


"kenapa aku bodoh sekali, seharusnya aku tahu bahwa Pak Rafa adalah pemilik kafe ini setelah dia membawaku ke ruangannya," batin Tiara kesal pada dirinya sendiri.


"sudahlah aku tidak peduli, kalau memang keberadaanku disini dilarang oleh Pak Rafa aku hanya perlu pergi tanpa rasa malu hehehe....." batin Tiara sambil menutup mulutnya menahan tawanya.


Tiara kemudian melanjutkan mengerjakan skripsinya sampai larut malam. Ia terlalu fokus dengan buku-buku dan laptop di hadapannya sampai tidak menyadari jika jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.


"Apa kau tidak akan pulang Tiara?" tanya Chika yang sudah melepas seragamnya dan duduk di hadapan Tiara.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Apa kau kita ingin menceritakan sesuatu padaku Tiara?" tanya Chika yang melihat Tiara seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Mungkin suatu saat nanti aku akan menceritakannya, tapi tidak sekarang," jawab Tiara dengan senyum di bibir tipisnya.


"Baiklah kalau begitu, datanglah kemari kapanpun kau mau, aku pasti akan siap mendengarkan semua ceritamu," ucap Chika yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


Chika kemudian berpamitar pulang karena jam kerjanya yang sudah selesai, sedangkan Tiara masih duduk di tempatnya.


Di tempat lain, tanpa sepengetahuan Tiara diam-diam Rafa memperhatikan Tiara dari belakang mesin kopi yang ada tepat di belakang Tiara.


"kenapa dia masih ada disini? apa dia berniat untuk tidur disini lagi malam ini? jika memang iya, kenapa? apa yang sebenarnya terjadi padanya?" batin Rafa bertanya-tanya dalam hati.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari seseorang yang membuat Rafa malas untuk menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rafa setelah ia memutuskan untuk menerima panggilan itu.


"Aku sudah ada di bandara bersama orang tuaku dan mereka akan menginap di rumah malam ini," jawab suara seorang perempuan.


"Menginap? kenapa tiba-tiba sekali?" protes Rafa.


"Aku juga tidak tahu jika mereka akan menjemputku dan meminta untuk menginap di rumah, aku tidak mungkin melarang mereka bukan?"


"Apa kau tidak bisa mencari alasan agar mereka mau menginap di hotel saja? aku tidak sedang di rumah saat ini, mereka pasti akan curiga jika melihat keadaan rumah saat ini!"


"Apa kau tidak bisa pulang sebentar saja dan membereskan semuanya?"


"Tidak bisa, aku sedang sibuk di kafe, aku......"


"Kau selalu saja mengurus bisnis kecilmu itu, ya sudahlah lupakan saja!"


Sambungan berakhir, Rafa hanya menghembuskan nafasnya kesal lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"bisnis kecil..... kau tetap saja seperti dulu, selalu meremehkanku," batin Rafa kesal dalam hati.


"Halo kak, ada apa?" tanya Tiara setelah dia menerima panggilan Gita.


"Kau di mana Ra? apa kau bisa pulang sekarang?" tanya Gita dengan suara yang terdengar merintih.


"Ada apa kak? apa yang terjadi pada kakak?" tanya Tiara khawatir.


"kepalaku sangat pusing Ra, aku sudah berkali-kali menghubungi Bima tapi dia tidak menerima panggilanku sama sekali, sedangkan Mama sudah pergi keluar kota dan aku juga kesulitan untuk memesan taksi, mungkin karena ini sudah sangat malam," jawab Gita menjelaskan keadaannya saat itu.


"Baiklah kak, Tiara akan pulang sekarang, tapi mungkin Tiara tidak akan cepat sampai jadi tolong kak Gita bertahanlah, Tiara akan berusaha sampai di rumah secepatnya," ucap Tiara panik lalu segera mengemasi barang-barangnya yang ada di meja.


Tiara memasukkan semua buku dan laptopnya ke dalam tasnya. Karena panik dan terburu-buru tanpa sadar Tiara menjatuhkan buku catatan kecilnya.


Tiara kemudian berlari keluar dari kafe dan memesan taksi agar ia bisa lebih cepat sampai di rumah.


"Ayolah...... kenapa tidak ada driver yang menerimaku," ucap Tiara yang semakin panik karena ia kesulitan untuk menemukan driver.

__ADS_1


Di sisi lain, Rafa melihat sebuah buku catatan di bawah kursi dimana Tiara duduk beberapa saat yang lalu.


Rafapun segera mengambilnya dan berlari keluar dari kafe, berharap Tiara masih ada di depan kafe dan benar saja ia melihat Tiara yang masih berdiri mondar mandir dengan memegang ponselnya di depan kafe.


"Sepertinya kau menjatuhkan barangmu lagi," ucap Rafa sambil menyodorkan buku catatan kecil milik Tiara.


"Aahh iya ini milik Tiara, apa Pak Rafa membukanya?" tanya Tiara yang segera mengambil buku catatan itu dari tangan Rafa.


"Tidak, aku menemukannya di bawah kursi tempatmu duduk jadi aku berpikir bahwa ini milikmu," jawab Rafa.


"Terima kasih Pak," ucap Tiara lalu segera memasukkan buku itu ke dalam tasnya.


"Kenapa kau masih disini? apa kau nunggu seseorang?" tanya Rafa yang melihat Tiara tampak panik saat itu.


"Saya sedang menunggu taksi Pak, tetapi dari tadi tidak taksi yang lewat sama sekali," jawab Tiara.


"Kau tidak akan mendapatkan taksi disini pada jam segini Tiara, kau harus menunggu sampai besok pagi untuk mendapatkan taksi," ucap Rafa yang membuat Tiara begitu terkejut.


"Kenapa kau terlihat panik sekali Ra? apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Rafa.


"Saya harus segera pulang Pak, kakak saya sedang sakit dan harus segera ke rumah sakit, tapi tidak ada siapapun di rumah yang bisa mengantarnya pergi ke rumah sakit," jawab Tiara.


"Saya bisa mengantarmu pulang," ucap Rafa.


"Tidak Pak, tidak perlu.... saya akan menunggu bus di halte," balas Tiara lalu berjalan pergi ke arah halte yang tidak jauh dari tempatnya menunggu taksi.


Sedangkan Rafa segera kembali ke kafe, menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya meninggalkan kafe.


Rafa kemudian menghentikan mobilnya tepat di depan Tiara yang saat itu sedang menunggu bus di halte.


"Tidak akan ada kendaraan umum yang beroperasi di daerah sini jika sudah lewat dari jam 10 malam Tiara, masuklah aku akan mengantarmu pulang!" ucap Rafa.


"Tapi pak......."


"Aku tidak memaksamu, aku akan pergi jika kau menolak, tapi membiarkan kakakmu yang sakit di rumah sendirian sepertinya bukanlah ide yang bagus," ucap Rafa memotong ucapan Tiara yang membuat Tiara segera membuka pintu mobil Rafa dan duduk di samping Rafa.

__ADS_1


__ADS_2