
Hari-hari telah berlalu, Tiara menjalani hari-harinya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Meskipun sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya, Tiara masih bisa menyempatkan waktunya untuk bersenang-senang bersama teman-temannya.
Tiara juga beberapa kali menghabiskan waktunya bersama Putra di hari Minggu. Meskipun harus fokus pada dua hal yang harus dia kerjakan, tetapi ia tetap memberikan waktu istirahat bagi dirinya sendiri agar tidak terlalu stress dalam menghadapi kuliah ataupun pekerjaannya.
Seperti halnya hari itu, pagi-pagi sekali Tiara sudah bersiap untuk menunggu Putra di depan dorm tempat tinggalnya. Hari itu ia akan berkeliling kota bersama Putra, menjelajahi beberapa tempat wisata yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
Sebelumnya ia memang sudah membuat janji dengan Putra untuk menghabiskan hari Minggunya bersama Putra.
Setelah beberapa lama menunggu, sebuah mobil berhenti di depan Tiara, si pemilik segera keluar untuk menghampiri Tiara.
"Apa kau sudah siap?" tanya Putra yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil, Putra lalu mengendarai mobilnya ke arah restoran tempat mereka akan mengisi perut mereka terlebih dahulu.
"Kemana kita akan pergi kak?" tanya Tiara pada Putra.
"Aku akan mengajakmu ke restoran Indonesia yang ada disini, disana menjual banyak sekali menu khas Indonesia, kau pasti menyukainya," jawab Putra.
"Waahh kebetulan sekali Tiara sudah lama tidak makan makanan Indonesia," balas Tiara bersorak senang.
Setelah beberapa lama berkendara, merekapun sampai di tempat tujuan. Putra dan Tiarapun masuk ke dalam restoran dengan ornamen khas rumah makan Indonesia yang di beberapa sudutnya terdapat replika tanaman bambu yang cukup tinggi.
Saat baru saja memasuki restoran itu, Tiara dan Putra sudah bisa mencium bau khas masakan Indonesia yang kaya akan rempah-rempah.
Mereka juga disambut oleh beberapa pegawai yang mengenakan kebaya dan batik khas Indonesia.
Tiara dan Putrapun memilih menu makanan mereka, mereka sama-sama memilih nasi goreng dengan jus jeruk sebagai minumannya.
Setelah beberapa lama menunggu, makanan pesanan merekapun datang dan tanpa menunggu lama mereka segera menikmati makanan pesanan mereka.
"Ini nasi goreng terbaik yang pernah Tiara makan disini kak," ucap Tiara sambil menikmati nasi goreng di hadapannya.
"Jika kau suka aku akan sering mengajakmu kesini lain kali," balas Putra.
"Tiara juga akan mengajak teman-teman Tiara kesini, Tiara akan mengenalkan makanan negara kita pada mereka," ucap Tiara.
"Ide bagus, kalau kau mau aku bisa mengajakmu kesini bersama teman-temanmu juga, karena tempat ini cukup jauh dari tempat tinggalmu," ucap Putra.
"Tapi bukankah terlalu merepotkan kak Putra nantinya? karena tempat tinggal kak Putra juga jauh dari tempat tinggal Tiara!"
"Tentu saja tidak, aku akan senang jika bisa datang kesini bersamamu dan teman-temanmu juga," balas Putra.
"Baiklah kalau begitu, Tiara akan memberitahu teman-teman Tiara nanti," ucap Tiara.
Setelah menghabiskan makanan mereka, merekapun meninggalkan restoran itu. Putra mengendarai mobilnya ke arah museum Fitzwilliam.
Sesampainya disana merekapun masuk ke dalam museum, menikmati karya arsitektur yang berisi barang-barang antik dari Yunani, Romawi dan Mesir.
Setelah menghabiskan waktu beberapa lama di museum, Putrapun mengajak Tiara untuk pergi ke tempat lain.
Hari itu Putra mengajak Tiara menghabiskan hari Minggunya untuk pergi ke beberapa tempat yang belum pernah Tiara kunjungi sebelumnya.
Setelah malam tiba, Putra memutuskan untuk mengajak Tiara mengadakan pesta barbeque berdua di rumah tempat tinggalnya.
Tiarapun menyetujuinya tanpa banyak bertanya. Sebelum sampai di rumah Putra, mereka berbelanja terlebih dahulu. Mereka membeli beberapa daging, sosis, sayur, saus barbeque serta beberapa makanan ringan dan beberapa jenis minuman.
Setelah membeli semua yang mereka perlukan Putrapun mengendarai mobilnya pulang ke rumah tempat tinggalnya bersama Tiara.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai. Putra dan Tiara mengeluarkan barang belanjaan mereka dari dalam mobil lalu menatanya di meja yang ada di halaman rumah Putra.
"Kak Putra tinggal disini sendiri?" tanya Tiara.
"Tentu saja, apa kau mau tinggal disini bersamaku?" balas Putra yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat
__ADS_1
"Hahaha..... aku hanya bercanda, aku akan mengambil alat pembakarannya dulu," ucap Putra lalu berjalan masuk untuk mengambil alat pembakaran serta beberapa barang lain yang ia butuhkan.
Saat Putra kembali iapun segera menyiapkan alat pembakarannya, sedangkan Tiara mulai menyiapkan beberapa daging dan sosis yang akan mereka panggang.
Diam-diam Putra memperhatikan Tiara yang duduk di sampingnya. Gadis cantik itu terlihat begitu bahagia menjalani kehidupan barunya, namun ia yakin Tiara menyembunyikan kesedihannya jauh di dalam hatinya.
Putra tersenyum tipis saat melihat noda saus barbeque yang ada di sudut bibir Tiara, iapun menyekanya dengan jarinya, membuat Tiara seketika membawa pandangannya pada Putra.
"Kau terlihat sangat bahagia Tiara," ucap Putra.
"Tentu saja, hari ini Tiara sudah bersenang-senang bersama kak Putra," balas Tiara sambil mengambil tisu yang ada di hadapannya untuk membersihkan bibirnya.
"Apa yang aku lihat ini benar-benar Tiara yang sedang bahagia atau Tiara yang sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya?" tanya Putra.
Tiara membawa pandangannya pada Putra sekilas lalu mengalihkannya dan menatap langit luas di atasnya.
"Apa kak Putra melihat bintang di langit luas itu?" tanya Tiara dengan mendongakkan kepalanya menatap hamparan gelap tanpa bintang.
"Tidak sama sekali, tidak ada bintang disana," jawab Putra.
"Sebenarnya segelap apapun langit malam selalu ada bintang disana, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya tidak terlihat, entah itu awan mendung ataupun polusi cahaya," ucap Tiara.
Tiara kemudian membawa pandangannya pada Putra yang saat itu juga tengah menatap Tiara.
"Ada beberapa hal yang sebenarnya ada tapi tidak bisa terlihat karena sesuatu yang menghalanginya, begitu juga dengan kesedihan yang Tiara rasakan, kesedihan itu selalu ada, tapi Tiara berusaha untuk menghalanginya agar tidak terlihat oleh orang lain, tapi bukan berarti kebahagiaan Tiara adalah kebohongan," ucap Tiara.
"Tiara bahagia bisa menjalani kehidupan baru Tiara disini, Tiara menemukan banyak teman baru, Tiara menemukan banyak orang-orang yang perhatian dan menyayangi Tiara disini, bagi Tiara itu sudah cukup untuk membuat Tiara bahagia," lanjut Tiara.
"Apa aku juga salah satu yang membuatmu bahagia?" tanya Putra yang membuat Tiara tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari Putra.
Tiara kemudian menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Setidaknya selama Putra tidak mengganggu hatinya yang masih terluka ia akan menganggap kedatangan Putra sebagai bagian dari kebahagiaannya.
Namun akan berbeda jika Putra menyentuh hatinya yang masih terluka, maka Tiara akan menganggap jika kedatangan Putra kembali mengoyak luka di hatinya yang belum sembuh.
Di tempat lain, Rafa masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya, kemudian masuk dan berjalan ke arah Rafa.
"Maaf Pak sepertinya ada sedikit masalah yang harus saya sampaikan," ucap asisten pribadi Rafa yang baru.
"Katakan saja," balas Rafa yang masih fokus dengan layar komputer di hadapannya.
Asisten pribadi Rafa itupun mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Rafa untuk memberitahukan sebuah video yang sedang ramai diperbincangkan di grup kantor.
"Ini adalah video yang sedang ramai di grup kantor, anggota grup kantor itu hanya staf biasa yang berasal dari beberapa divisi tanpa ada pimpinan divisi ataupun manajer dan posisi lain di atasnya," ucap asisten pribadi Rafa.
Rafa kemudian memutar video yang ada di ponsel asisten pribadinya, ia begitu terkejut setelah ia melihat keseluruhan isi video itu.
Dari video itu jelas terlihat Bagas yang sedang berjalan dengan mesra bersama Maya lalu masuk ke salah satu kamar hotel.
"Dari mana video ini berasal?" tanya Rafa pada asisten pribadinya.
"Saya masih berusaha mencari tahunya Pak karena yang menyebarkan video itu di grup kantor adalah akun anonim."
"Lakukan semua hal yang kau bisa untuk menghentikan video itu tersebar dan pastikan agar video itu tidak tersebar di luar kantor!" ucap Rafa dengan tegas.
"Tapi bukankah video ini tidak membawa nama perusahaan? jadi saya pikir kita tidak perlu....."
"Jika seseorang mengenal Bagas sebagai pegawai di perusahaan ini dan mereka melihat bagaimana perilaku Bagas di luar sana maka mereka akan menilai buruk tentang perusahaan ini, setidaknya Bagas harus berhati-hati jika ingin melakukan hal menjijikan itu," ucap Rafa memotong ucapan asisten pribadinya.
"Jadi lakukan saja perintahku secepatnya!" lanjut Rafa.
"Baik Pak saya permisi," ucap asisten pribadi Rafa lalu berjalan keluar dari ruangan Rafa.
Sedangkan Rafa masih terdiam di tempatnya, ia berusaha menahan emosi yang sudah memenuhi dirinya saat itu.
__ADS_1
Rafa kemudian meraih jasnya, mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan ruangannya sebelum ia menyelesaikan pekerjaannya.
Rafa segera mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya untuk menemui Maya. Dengan kecepatan penuh Rafa tidak mempedulikan kendaraan lain yang beberapa kali menegurnya dengan klakson yang cukup kencang.
Rafa hanya ingin segera sampai di rumah untuk memberitahu Maya betapa bodohnya apa yang sudah dilakukan Maya bersama Bagas.
Sesampainya di rumah, Rafa tidak mengendarai mobilnya sampai ke garasi, ia membiarkan mobilnya terparkir di halaman rumah lalu segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah kemudian membuka pintu rumahnya dengan kencang.
"Tolong bibi pulang saja dan libur beberapa hari sampai Rafa menghubungi bibi lagi!" ucap Rafa pada bibi yang saat itu sedang berada di dapur.
"Baik Tuan," balas bibi tanpa banyak bertanya lalu pergi meninggalkan rumah Rafa.
Di sisi lain, Maya yang saat itu berada di kamar begitu terkejut setelah ia mendengar suara gebrakan pintu yang cukup keras.
Mayapun segera keluar dari kamarnya dan mendapati Rafa yang berjalan ke arahnya dengan raut wajah penuh emosi.
"Rafa kenapa kau sudah pulang?" tanya Maya karena tidak biasanya Rafa pulang sebelum petang.
"Lihat ini!" ucap Rafa sambil memberikan ponselnya pada Maya.
Mayapun menerima ponsel Rafa lalu memutar video yang Rafa tunjukkan padanya.
Maya begitu terkejut melihat apa yang ada di video itu, belum sampai Maya berkata apapun Rafa sudah merebut kembali ponselnya dari tangan Maya dengan penuh amarah.
"Aku sudah pernah memperingatkanmu Maya, kau harus berhati-hati jika kau memang masih berhubungan dengan Bagas, aku sama sekali tidak peduli seperti apa hubunganmu dengan Bagas tapi jika sudah seperti ini nama baik perusahaan dan keluargaku yang akan dipertaruhkan karena kebodohanmu itu!"
"Aku.... aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya Rafa.... aku...."
"Tidak perlu mengelak lagi Maya, semua ini sudah jelas, bahkan di video ini ditunjukkan kapan kejadian itu terjadi dan itu terjadi setelah kau bilang jika kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan Bagas!" ucap Rafa memotong ucapan Maya.
"Maafkan aku Rafa, aku khilaf, aku menyesal," ucap Maya menyesali apa yang sudah dia lakukan.
"Penyesalanmu itu sama sekali tidak berguna, bahkan beberapa hari yang lalu Mama memberitahuku jika melihatmu bersama laki-laki di basement dan aku yakin laki-laki itu adalah Bagas, apa aku salah?"
Maya terdiam dengan menundukkan kepalanya karena memang laki-laki yang bersamanya di basement saat itu adalah Bagas.
"Kau benar-benar keterlaluan Maya, kau berhubungan dengan laki-laki lain dan berbohong padaku jika kau sudah mengakhiri hubunganmu dengannya, tapi ternyata kau bahkan masih pergi ke hotel bersamanya dan di depanku dengan beraninya kau mengatakan jika kau mencintaiku, apa sebenarnya tujuanmu?"
"Aku benar-benar mencintaimu Rafa, aku hanya khilaf saat itu dan sekarang aku benar-benar sudah mengakhiri hubunganku dengannya, tolong percaya padaku!" ucap Maya berusaha meyakinkan Rafa.
"Berhenti mengatakan hal itu Maya, apa yang kau katakan itu terdengar sangat menjijikkan di telingaku!" ucap Rafa.
"Tapi kau juga berselingkuh dengan Tiara, kau bahkan membeli rumah untuknya meskipun kalian tidak berhubungan, tapi menyukai perempuan lain di saat kau masih menjadi suamiku adalah sebuah kesalahan Rafa!" ucap Maya berusaha membela diri.
"Kau benar aku memang bersalah karena sudah menyukai perempuan lain saat aku masih menjadi suamimu, tapi aku masih menjaga diriku untuk tidak melewati batas, sedangkan kau sudah berkali-kali berhubungan badan dengannya dan yang lebih parahnya lagi kau mengatakan jika kau mencintaiku, benar-benar menjijikkan!"
"Kemarahanmu sama sekali tidak ada gunanya Rafa, jika memang Bagas membuat citra buruk di perusahaanmu seharusnya kau marah padanya dan memecatnya, kemarahanmu padaku sama sekali tidak membuatku berhenti untuk mencintaimu!"
"Kau benar-benar gila, aku sama sekali tidak mengerti dengan arah pikiranmu, kau......"
Rafa menghentikan ucapannya saat ia mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.
Rafapun segera membawa langkahnya ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya.
"Mama!"
"Rafa tolong jangan katakan hal ini pada Mama Rossa, aku benar-benar sudah mengakhiri hubunganku dengan Bagas, kau bisa memberikan hukuman apapun padaku ataupun Bagas tapi aku mohon jangan katakan hal ini pada Mama Rossa!" ucap Maya memohon pada Rafa.
Belum sampai Rafa mengatakan apapun Mama Rafa sudah berjalan cepat memasuki rumahnya dengan raut wajah menegang.
"Maya, jelaskan semuanya pada mama sekarang juga!" ucap Mama Rafa dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.
"Apa maksud Mama, Maya....."
__ADS_1
"Berhenti berbohong pada mama, mama sudah mengetahui semuanya!" ucap Mama Rafa memotong ucapan Maya dengan menatap tajam Maya yang ada di hadapannya.