Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Debaran Tanpa Harapan


__ADS_3

TIIIIINNNN TIIIIINNNN TIIIIINNNN


Suara klakson membuyarkan lamunan Tiara dan Rafa, membuat Rafa segera mengalihkan pandangannya dari Tiara dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Sedangkan Tiara hanya tersenyum tipis dengan menatap langit biru dari jendela mobil.


Untuk beberapa saat mereka berdua hanya terdiam karena kecanggungan yang tiba tiba saja mereka rasakan. Namun itu tak berselang lama karena Tiara sudah berhasil mengatasi kecanggungannya sendiri.


"Apa kak Rafa sedang sibuk sekarang?" tanya Tiara pada Rafa.


"Tidak, kenapa?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Apa kak Rafa bisa mengantar Tiara ke suatu tempat? kak Rafa bisa pergi setelah mengantar Tiara kesana."


"Aku akan mengantarmu, kau mau kemana?" tanya Rafa.


"Ke makam di daerah X, ada yang ingin Tiara temui disana," jawab Tiara.


"Baiklah," balas Rafa lalu mengendarai mobilnya ke arah pemakaman di daerah X.


Sesampainya disana, Tiara dan Rafapun turun dari mobil.


"Terima kasih sudah mengantar Tiara kak, kak Rafa pergi saja, Tiara akan pulang menggunakan bus nanti," ucap Tiara pada Rafa.


"Apa aku tidak boleh menyapa orangtuamu?" tanya Rafa yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Kau ingin menemui orangtuamu bukan?" lanjut Rafa bertanya.


"Dari mana kak Rafa tau?" balas Tiara bertanya.


Rafa hanya tersenyum lalu membeli bunga yang ada di dekat sana kemudian berjalan masuk ke dalam area pemakaman diikuti oleh Tiara.


"kenapa kak Rafa tau kalau aku mau menemui mama dan papa disini?" tanya Tiara dalam hati sambil memperhatikan langkah Rafa yang berjalan ke arah makam mama dan papanya.


Tiara semakin terkejut saat Rafa menghentikan langkahnya tepat diantara gundukan tanah makam mama dan papa Tiara lalu berjongkok disana dan menaburkan bunga di atas makam mama dan papa Tiara.


"Selamat siang om, tante, saya Rafa," ucap Rafa dengan tersenyum ke arah dua gundukan tanah di kanan di kirinya.


"Kak Rafa kenapa......"


"Apa kau tidak akan menyapa mereka terlebih dahulu?" tanya Rafa memotong ucapan Tiara.


"Aahh iya, Tiara datang ma pa, Tiara datang bersama kak Rafa.... mmmmm.... dia.... dia dosen dan pemilik kafe tempat Tiara bekerja," ucap Tiara ragu karena sebenarnya ia sudah banyak menceritakan tentang Rafa saat ia berada di makam mama dan papanya.


Jika saat itu mama dan papanya masih hidup, pasti mereka akan tersenyum mengejek melihat sikap Tiara saat itu.


"Om dan tante sudah berhasil mendidik Tiara dengan sangat baik, dia gadis yang ceria dan penuh semangat, dia selalu menjadi sumber kebahagiaan orang orang di sekitarnya, dia juga cukup pintar walaupun terkadang dia malas membaca, mungkin karena gen dari om dan tante yang pintar jadi dia tetap menjadi mahasiswi pintar meskipun malas membaca," ucap Rafa dengan menahan senyumnya.


"Kaaakk....." rengek Tiara.


"Dia gadis yang tangguh om tante, jika om dan tante melihatnya sekarang, Rafa yakin om dan tante akan sangat bangga padanya," ucap Rafa.


Tiara hanya terdiam mendengar ucapan Rafa. Entah kenapa ada hembusan kebahagiaan saat melihat Rafa berbicara panjang tentang dirinya di hadapan makam mama dan papanya.


"mama dan papa lihat bukan bagaimana baiknya kak Rafa, Tiara sangat bersyukur karena bisa bertemu dan mengenalnya," ucap Tiara dalam hati sambil tersenyum menatap makam mama dan papanya.


"Kenapa kau hanya diam Ra? mama dan papamu tidak akan mendengarnya jika kau hanya mengatakannya dalam hati," tanya Rafa yang seolah tau jika Tiara berbicara dalam hati.


"Mereka pasti mendengarnya bahkan sebelum Tiara mengatakannya dalam hati," balas Tiara.


"Jika kau sudah selesai dengan mama dan papamu, ikutlah denganku," ucap Rafa sambil beranjak.


"Kemana?" tanya Tiara yang ikut beranjak.


Rafa hanya tersenyum lalu berjalan ke arah lain dan berhenti di samping sebuah gundukan tanah dengan bunga bunga yang masih segar di atasnya.


"Aku akan mengenalkanmu pada kakek," ucap Rafa lalu berjongkok diikuti oleh Tiara.


"Selamat siang kek, saya Tiara, mahasiswi sekaligus karyawan di kafe kak Rafa," ucap Tiara.


Rafa hanya tersenyum melihat Tiara yang memperkenalkan dirinya seperti apa yang ia lakukan saat berada di makam mama dan papa Tiara.


"Kenapa kak Rafa tersenyum seperti itu?" tanya Tiara.


"Memangnya kenapa dengan senyumku?" balas Rafa bertanya.


"Senyum kak Rafa seperti sedang mengejek Tiara," ucap Tiara.


"Aku hanya tidak terbiasa melihat seseorang berbicara di makam kakek," balas Rafa.

__ADS_1


"Apa kak Rafa tidak pernah melakukan itu saat mengunjungi makam kakek?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Rafa.


"Lalu apa yang kak Rafa lakukan disini?" tanya Tiara.


"Tidak ada, hanya menaburkan bunga dan menatap batu nisan kakek," jawab Rafa.


"Kak Rafa aneh sekali," ucap Tiara yang membuat Rafa terkekeh.


Rafa dan Tiara kemudian beranjak dan berjalan keluar dari area pemakaman lalu kembali masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kak Rafa bisa tau kalau Tiara kesini untuk menemui mama dan papa? apa pertemuan kita di halte itu bukan kebetulan? apa kak Rafa sengaja mengikuti Tiara?" tanya Tiara yang membuat Rafa terkekeh.


"Kenapa kak Rafa tertawa? pasti kak Rafa mengikuti Tiara bukan?"


"Untuk apa aku mengikutimu Ra, apa kau lupa aku pertama kali bertemu denganmu di makam itu? saat itu aku baru saja mengunjungi makam kakek lalu melihat dompetmu terjatuh dan pertemuan kita yang selanjutnya karena ketidaksengajaan, kau mengunjungi makam orangtuamu saat aku juga sedang mengunjungi makam kakekku," ucap Rafa menjelaskan.


"Benarkah? bukan karena kak Rafa mengikuti Tiara?"


"Aku juga tidak tau kenapa aku sering bertemu denganmu di makam, anggap saja itu bagian dari takdir yang akhirnya mempertemukan kita," ucap Rafa.


"Takdir?"


"Iya, bukankah kita tidak pernah tau kemana takdir akan membawa jalan hidup kita? jadi apapun bisa terjadi bahkan dari hal yang kecil sekalipun, kau tidak akan pernah tau bahwa hal kecil itu suatu saat akan menjadi hal besar yang mempengaruhi hidupmu," ucap Rafa.


Tiara hanya terdiam mendengarkan ucapan Rafa dengan kedua matanya yang menatap Rafa dari samping.


"ternyata mereka benar, kak Rafa memang sangat tampan, kenapa aku baru menyadarinya?" batin Tiara dalam hati yang tanpa sadar membuatnya tersenyum.


"Jangan terus menatapku, kau akan jatuh cinta nanti," ucap Rafa yang membuat Tiara segera mengalihkan pandangan dari Rafa.


"Tiara tidak menatap kak Rafa, Tiara hanya..... hanya baru menyadari jika kak Rafa sudah memiliki uban," ucap Tiara beralasan.


"Uban? benarkah? apa aku sudah mulai menua sekarang?"


"Tentu saja, apa kak Rafa tidak menyadarinya?" balas Tiara.


Rafapun hanya terkekeh mendengar ucapan Tiara.


"Tiara masih penasaran, bukankah kak Rafa terbiasa diam saat mengunjungi makam kakek kak Rafa, tapi kenapa kak Rafa menjadi banyak bicara saat mengunjungi makam mama dan papa Tiara?"


"Karena aku tau kau selalu melakukan hal itu," balas Rafa.


"Tentu saja tidak, aku hanya beberapa kali melihatmu disana dan aku hanya melihatmu seperti sedang berbicara tapi aku tidak mendengar apa yang kau bicarakan," jawab Rafa yang membuat Tiara bernafas lega.


"Memangnya kenapa? apa kau membicarakanku di depan makam mama dan papamu?" tanya Rafa yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Memangnya apa pentingnya membicarakan kak Rafa pada mama dan papa," gerutu Tiara dengan mengalihkan pandangannya ke arah jalanan di sampingnya.


Rafapun hanya tersenyum tipis melihat sikap Tiara.


"Mereka pasti sangat bangga padamu Ra, bahkan saat dunia kalian berpisah," ucap Rafa.


"Apa yang bisa dibanggakan dari Tiara kak, Tiara bahkan belum tau bagaimana hasil dari 4 tahun Tiara kuliah selama ini," balas Tiara.


"Kebanggaan bukan hanya dilihat dari keberhasilan Ra, proses untuk mencapainya yang penuh perjuangan juga bisa membuat orangtuamu bangga padamu, mereka tau bahwa kau sudah berhasil melewati proses yang tidak mudah itu," ucap Rafa.


"Bagaimana jika nanti hasilnya mengecewakan?" tanya Tiara.


"Mereka yang bisa menghargai proses tidak akan pernah merasa kecewa bagaimanapun hasil yang kau dapatkan nanti," jawab Rafa.


"Termasuk kak Rafa?" tanya Tiara.


"Tentu saja, aku tau bagaimana usaha terbaikmu untuk menyelesaikan skripsi dan sidangmu, apapun hasilnya nanti aku akan tetap bangga padamu Ra, kau sudah berhasil melewati jalan berbatu untuk mencapai akhir dari belajarmu selama 4 tahun ini," jawab Rafa yang membuat Tiara tersenyum.


Dalam hatinya ia merasa lega, tekanan akan hasil terbaik yang ia inginkan perlahan memudar setelah ia mendengar ucapan Rafa.


Jika Rafa saja tidak kecewa padanya, maka iapun tidak perlu merasa kecewa pada dirinya sendiri jika hasil yang ia dapatkan nanti tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.


"Kau sudah sangat berusaha Tiara, jangan terlalu membebani dirimu dengan ekspektasimu sendiri, kau boleh yakin dengan kemampuan dan hasil yang akan kau dapatkan nanti, tapi kau juga harus bersiap jika apa yang kau yakini ternyata memberikan hasil yang berbeda," ucap Rafa.


"Terkadang kekecewaan muncul karena harapan kita yang terlalu tinggi, jadi jangan melewati batas agar kau tidak terlalu dikecewakan oleh harapanmu sendiri," lanjut Rafa.


"Iya kak, Tiara mengerti," balas Tiara.


"Bagus, anak pintar," ucap Rafa sambil menepuk nepuk pelan kepala Tiara dengan satu tangannya.


Tiarapun hanya tersenyum dengan aroma bahagia yang semakin tercium dengan jelas dalam hatinya.


Aroma wangi kebahagiaan yang datang bersama bunga bunga yang merekah seolah memenuhi setiap sudut ruang hatinya saat itu.

__ADS_1


Meski begitu, ia tidak ingin terlalu jauh menyelami kebahagiaan itu karena ia tidak ingin terjatuh dan tenggelam dalam kebahagiaan yang bisa jadi akan memberinya luka yang teramat dalam seperti yang sudah Bima berikan padanya.


Tiara berusaha keras menjaga hatinya agar tidak jatuh untuk kedua kalinya. Cinta pertamanya yang meninggalkan luka dalam hatinya membuatnya waspada akan setiap debaran indah dalam dadanya, debaran indah yang bisa saja menjelma menjadi sayatan luka suatu hari nanti.


"aku hanya perlu menikmati setiap detiknya, tanpa ada harapan agar aku tidak dikecewakan," ucap Tiara dalam hati.


**


Hari hari telah berlalu, waktu bagi Tiara untuk melaksanakan yudisiumpun tiba. Dengan pakaian bernuansa hitam putih Tiara menaiki bus yang akan membawanya ke kampus.


Sesampainya di kampus, ia segera dihampiri oleh Kevin yang juga mengenakan pakaian hitam putih saat itu.


"Kau sudah siap Ra?" tanya Kevin pada Tiara.


"Tentu saja," balas Tiara percaya diri.


Apapun hasil yang akan ia dapatkan nanti, ia akan tetap bangga pada dirinya sendiri. Seperti yang pernah Rafa ucapkan padanya, ia tidak ingin membiarkan dirinya membumbungkan harapannya terlalu tinggi agar ia tidak dikecewakan oleh kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Meski begitu, dalam hatinya tentu masih ada harapan untuk mendapatkan nilai yang sempurna agar ia mendapatkan sedikit celah untuk bisa masuk ke perusahaan yang ia inginkan.


Detik demi detik berjalan penuh do'a dan harapan bagi semua mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul di gedung kampus untuk melaksanakan yudisium hari itu.


Hingga saatnya tiba mereka harus menerima hasil dari kerja keras mereka selama 4 tahun. Tidak dapat dipungkiri beberapa dari mereka tampak kecewa dengan hasil yang mereka dapatkan, beberapa dari beberapa juga ada yang tidak peduli dengan angka yang mereka dapatkan asalkan mereka bisa lulus dan meraih gelar yang mereka impikan.


Setelah acara yudisium selesai, Tiarapun keluar dari gedung itu dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Selamat Ra, aku sangat bangga padamu," ucap Kevin sambil memeluk Tiara dengan erat.


"Terima kasih Kevin," balas Tiara.


Bella yang melihat hal itupun segera berlari dan menarik Kevin agar melepaskan pelukannya pada Tiara.


"Kau bisa memberinya selamat padanya tanpa harus memeluknya," ucap Bella sinis.


"Apa kau tidak akan memberikan selamat padanya?" tanya Kevin pada Bella.


"Selamat," ucap Bella singkat dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


"Apa kau ingin pulang sekarang Ra? aku akan mengantarmu jika kau akan pulang sekarang," tanya Kevin pada Tiara.


"Aku...."


"Bagaimana denganku, apa kau tidak akan mengantarku pulang?" sahut Bella bertanya pada Kevin.


"Aku membawa motor hari ini, apa kau mau aku mengantarmu menggunakan motor?" balas Kevin bertanya yang segera dibalas gelengan kepala oleh Bella.


"Tidak, lebih baik aku pulang sendiri," ucap Bella.


"Baiklah, ayo Ra!" ucap Kevin lalu menarik tangan Tiara meninggalkan Bella begitu saja.


Namun tiba tiba Tiara menghentikan langkahnya saat ponselnya berdering karena pesan masuk dari Rafa.


"Aku di depan kampusmu, apa kau sudah pulang?"


Dengan cepat Tiarapun membalas pesan Rafa.


"Belum kak, Tiara akan segera keluar sekarang!"


"Kevin, sepertinya aku tidak bisa pulang denganmu," ucap Tiara pada Kevin.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Aku harus pergi ke suatu tempat bersama seseorang, bye!" jawab Tiara lalu berlari pergi meninggalkan Kevin.


Setelah Tiara keluar dari gerbang kampus, iapun melihat mobil Rafa dan segera menghampirinya.


"Masuklah!" ucap Rafa.


"Apa kak Rafa kebetulan lewat lagi?" tanya Tiara setelah ia duduk di samping Rafa.


"Tidak, aku memang menunggumu disini," jawab Rafa.


"Benarkah? kenapa?"


"Karena aku tau kau pasti akan menemui mama dan papamu setelah yudisium," jawab Rafa.


"Kak Rafa benar, apa kak Rafa akan mengantar Tiara kesana sekarang?"


"Tentu saja, aku juga harus menemui kakek karena hari ini adalah hari dimana kakek menghembuskan nafas terakhirnya di depanku," jawab Rafa dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


Tiara yang mendengar hal itu hanya diam. Meski ia melihat senyum tipis di bibir Rafa, namun ia tau ada guratan kesedihan pada raut wajah Rafa saat itu.


__ADS_2