
Sebelum Rafa meninggalkan kafe.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari Maya. Meski awalnya enggan untuk menerima panggilan itu, pada akhirnya Rafa menerimanya.
"Halo, ada apa?" tanya Rafa malas.
"Aku baru saja kecelakaan, aku sedang di rumah sakit sekarang," jawab Maya.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Rafa.
"Iya aku baik baik saja hanya sedikit mengalami benturan di kepala, tetapi sebentar lagi orang tuaku akan datang kesini jadi aku harap kau bisa sampai disini sebelum orang tuaku datang, kau tidak ingin mereka curiga bukan?" balas Maya.
"Baiklah aku akan segera kesana," ucap Rafa lalu mengakhiri panggilan Maya dan segera keluar dari ruangannya.
Rafa berjalan cepat meninggalkan kafe lalu segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat Maya di rawat.
Dia terburu-buru dan panik bukan karena mengkhawatirkan Maya, tetapi ia tidak ingin orang tua Maya mencurigai hubungan mereka berdua jika Rafa tidak ada di samping Maya saat Maya baru saja mengalami kecelakaan.
Beruntung Rafa sampai di rumah sakit sebelum orang tua Maya datang.
"Sepertinya kau baik-baik saja," ucap Rafa yang melihat mayat duduk di atas ranjangnya sambil menatap fokus laptop yang ada di pangkuannya.
"Apa kau berharap terjadi sesuatu yang buruk padaku?" tanya Maya tanpa menoleh ke arah Rafa.
"Tidak ada untungnya buatku jika hal itu terjadi," balas Rafa lalu membawa langkahnya duduk di sofa yang ada di ruangan Maya.
Meskipun hanya mengalami luka kecil, Maya sengaja meminta kamar VIP agar ia bisa lebih nyaman karena ia harus mengerjakan pekerjaannya meskipun kepalanya terbalut perban saat itu.
"Simpanlah laptopmu, orang tuamu pasti akan mengira bahwa aku tidak memperhatikanmu jika kau terus bekerja saat sedang seperti ini," ucap Rafa pada Maya.
"Memangnya selama ini kau memperhatikanku?" tanya Maya.
"Apa kau ingin orang tuamu tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya?" balas Rafa bertanya.
Maya hanya menghela nafasnya kesal lalu menyimpan file yang baru saja dikerjakannya dan menutup laptopnya.
Tepat saat Maya baru saja meletakkan laptopnya di atas meja, pintu ruangannya terbuka dan kedua orang tuanyapun masuk.
"Apa yang terjadi padamu sayang? kenapa kau bisa mengalami kecelakaan seperti ini?" tanya sang mama yang begitu khawatir melihat keadaan Maya.
"Maya baik-baik saja ma, hanya sedikit pusing tadi jadi Maya kurang fokus mengendarai mobil," jawab Maya.
"Kau terlalu bekerja keras Maya, tidak bisakah kau mengurangi waktu kerjamu?" tanya sang mama.
"Maya menyukai pekerjaan Maya saat ini ma, Maya juga menikmati semua ini jadi tidak mungkin Maya menyia-nyiakan waktu Maya begitu saja," balas Maya.
"Bagaimana jika kau memiliki sopir?" sahut sang papa bertanya.
"Kenapa dia harus memiliki sopir? bukankah ada Rafa yang bisa mengantar kemanapun dia pergi," ucap sang Mama sambil membawa pandangannya pada Rafa yang duduk di sofa.
Rafapun seketika membawa pandangannya ke arah kedua orang tua Maya lalu berganti menatap Maya.
"Rafa juga memiliki kesibukannya sendiri ma, rasanya tidak mungkin jika Maya harus selalu meminta tolong pada Rafa," ucap Maya.
"Rafa akan mencarikan sopir untuk Maya ma, Mama jangan khawatir," ucap Rafa pada mama mertuanya.
"Kalian berdua jangan terlalu sibuk bekerja, Mama sudah sangat ingin menimang cucu saat ini," ucap Mama Maya dengan membawa pandangannya pada Maya dan Rafa bergantian.
Maya dan Rafa hanya tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun karena tidak mungkin bagi mereka berdua untuk memberikan cucu pada orang tua mereka.
Setelah beberapa lama menemani Maya, orang tua Mayapun berpamitan pulang.
"Aku juga harus pergi," ucap Rafa pada Maya.
"Pergilah, lagi pula aku juga tidak membutuhkanmu disini," balas Maya sambil mengambil laptopnya yang ada di meja.
"Beristirahatlah untuk hari ini saja agar kau cepat sembuh," ucap Rafa lalu keluar dari ruangan Maya.
"Sok perhatian sekali," balas Maya menggerutu lalu membuka laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
Sedangkan Rafa segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju ke kafe.
Sesampainya di kafe Rafa yang akan masuk ke dalam cafe melihat Tiara yang baru saja keluar dari kafe bersama Chika.
"Selamat sore Pak," sapa Chika yang hanya dibalas senyum dan anggukan kepala oleh Rafa.
__ADS_1
Tiara dan Chikapun berjalan meninggalkan kafe dengan saling berbisik membicarakan Rafa.
"Sepertinya tidak ada sesuatu yang buruk," ucap Chika.
"Mudah-mudahan saja," balas Tiara.
"Apa kau tahu siapa sebenarnya Pak Rafa, Tiara?" tanya Chika pada Tiara.
"Aku hanya tahu bahwa Pak Rafa pernah menjadi dosen di kampusku," jawab Tiara.
"Pak Rafa adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan besar di kota ini, jika Pak Rafa mau Pak Rafa bisa menjadi CEO disana tetapi Pak Rafa lebih memilih untuk menjadi dosen dan menjalani bisnisnya sendiri," ucap Chika menjelaskan.
"Benarkah dari mana kau tahu?" tanya Tiara.
"Tidak ada yang aku tidak tahu di dunia ini Tiara hahaha......" balas Chika percaya diri.
"Aku bahkan tahu bahwa Pak Rafa adalah lulusan terbaik di kampusnya yang ada di luar negeri," lanjut Chika.
"Waaaahhh sepertinya rektor di kampusku sudah membuang berlian hanya karena bisikan-bisikan kecil di internet," ucap Tiara.
"Membuang berlian? apa maksudmu Tiara? apa Pak Rafa dikeluarkan dari kampus?" tanya Chika yang terkejut mendengar ucapan Tiara.
"Bukankah kau mengetahui semua yang ada di dunia ini? aku pikir kau sudah tahu tentang hal itu," balas Tiara.
"Sepertinya aku sedikit terlambat mengetahui berita itu hehehe....." ucap Cika sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Sedangkan Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Chika.
"Tapi kenapa Pak Rafa dikeluarkan dari kampus? apa Pak Rafa melakukan kesalahan?" tanya Chika penasaran.
"Sebenarnya tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh Pak Rafa, tetapi karena banyaknya komentar negatif membuat rektor memilih untuk mengeluarkan Pak Rafa dari kampus dengan alasan tidak ingin nama baik kampus tercoreng," jawab Tiara.
"Memangnya apa yang Pak Rafa lakukan sehingga membuat banyak komentar negatif?" tanya Chika yang belum puas dengan jawaban Tiara.
"Sepertinya lebih baik kau tidak tahu, lagi pula apa yang dilakukan Pak Rafa itu bukanlah suatu kesalahan, hanya saja banyak orang yang lebih suka melihatnya dari sudut pandang negatif tanpa mereka tahu tentang kejadian yang sebenarnya," jawab Tiara.
"Apa itu ada hubungannya denganmu?" tanya Chika menerka.
Tiara hanya menoleh ke arah Chika tanpa mengatakan apapun. Ia tidak ingin Chika ikut berpikir negatif tentang Rafa jika Chika tahu tentang alasan Rafa dikeluarkan dari kampus.
"Kenapa kau hanya diam? apa benar itu ada hubungannya denganmu?" tanya Chika mengulangi pertanyaannya.
"Apa jangan-jangan kalian ketahuan melakukan sesuatu di kampus?" tanya Chika dengan pikirannya yang semakin liar.
"Jaga ucapanmu Chika, kau tahu pak Rafa tidak seperti itu bukan?" balas Tiara kesal.
"Hahaha....... aku hanya bercanda Tiara....." ucap Chika dengan tertawa.
Sedangkan Tiara hanya terdiam karena ia merasa tidak suka dengan candaan Chika. Entah kenapa ia merasa kesal saat seseorang berpikiran buruk tentang Rafa.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Tiara tengah mengerjakan skripsinya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Kau pasti memblokir nomorku bukan? ingat aku adalah dosen pembimbingmu dan jangan lupa besok kita bimbingan skripsi jam 08.00 pagi!"
Tiara menghela nafasnya kesal lalu melempar ponselnya di atas ranjangnya.
"Bagaimana aku bisa melupakannya jika aku harus bertemu dengannya setiap hari? aaaarrghhhh kenapa harus kak Bima yang menjadi dosen pembimbingku......." gerutu Tiara kesal.
Tiara kemudian mengambil buku yang Rafa pinjamkan padanya. Tiara seketika mengingat saat ia terkahir kali bertemu dengan dosen pembimbingnya yang lama.
Saat itu ia bisa melakukan bimbingan skripsi dengan cepat karena tidak banyak bagian yang harus direvisi, hal itu karena ia sudah mengerjakan skripisinya bersama Rafa sebelumnya.
"Sepertinya aku memiliki ide bagus," ucap Tiara lalu segera mengambil ponselnya.
"Aku harus meminta tolong kak Rafa untuk membantuku mengerjakan skripsi agar aku tidak perlu berlama lama bertemu kak Bima besok," ucap Tiara lalu segera mencari nama Rafa di penyimpanan kontaknya.
Namun tiba tiba Tiara mengurungkan niatnya.
"Tunggu dulu, bagaimana jika kak Rafa menolak? kak Rafa kan bukan dosenku lagi!"
Untuk beberapa saat Tiara menimang nimang ponsel di tangannya. Ia ragu untuk meminta tolong pada Rafa.
__ADS_1
"Tidak apa, daripada aku harus berlama lama bersama kak Bima, lebih baik aku meminta tolong kak Rafa, entah kak Rafa akan membantuku atau tidak, setidaknya aku sudah mencobanya," ucap Tiara lalu segera mengirimkan pesan pada Rafa.
"Apa kak Rafa sedang sibuk?"
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Tak butuh waktu lama, Rafapun membalas pesan Tiara.
"Tidak, ada apa?"
"Tiara ingin minta tolong, jika kak Rafa ada waktu, tolong bantu Tiara mengerjakan skripsi," balas Tiara.
"Baiklah, datang saja ke kafe!"
Tiara segera beranjak dari duduknya setelah ia membaca pesan balasan dari Rafa.
"Datang ke kafe? sekarang? waaaahhhh dia bahkan tidak berpikir dulu sebelum membalas pesanku," ucap Tiara tak percaya lalu segera menyiapkan laptop dan buku-buku yang akan ia gunakan untuk mengerjakan skripsi bersama Rafa.
Setelah berganti pakaian, Tiara menyemprotkan parfum di leher dan tangannya lalu menyisir rambut panjangnya dan mengambil bando kelinci miliknya.
"Aaahhh Tiara....... kenapa kau genit sekali!" ucap Tiara lalu segera melepas bando kelincinya dan mengikat rambutnya ke atas seperti biasa.
Setelah selesai bersiap, Tiarapun segera keluar dari kamarnya.
"Kau mau kemana Ra?" tanya Chika yang melihat Tiara keluar dari kamar.
"Mengerjakan skripsi di kafe," jawab Tiara.
"Apa kau mau aku temani?" tanya Chika.
"Tidak perlu, terima kasih," jawab Tiara lalu segera berlari kecil meninggalkan rumah.
Tiara membawa langkahnya ke arah kafe dengan penuh semangat. Sesampainya di kafe ia segera masuk dan duduk di bangku yang sering ia tempati.
Tak lama kemudian Rafa datang dengan membawa dua cup minuman dan makanan ringan.
"Apa kau ada jadwal bimbingan skripsi lagi besok?" tanya Rafa.
"Iya kak, besok Tiara harus ke kampus jam 08.00 pagi," jawab Tiara.
Tiarapun mulai mengerjakan skripsinya dengan dibantu oleh Rafa. Sesekali ia menyeruput minuman di hadapannya dan menikmati makanan ringan yang sudah Rafa siapkan.
Karena Rafa menjelaskan materi skripsi pada Tiara dengan cara yang santai tanpa terkesan menggurui dan mendikte Tiara, membuat Tiara begitu santai saat mengerjakan skripsinya bersama Rafa, ia menganggap Rafa layaknya teman kampusnya, bukan sebagai dosen apalagi sebagai pemilik kafe tempat ia bekerja.
Hingga akhirnya malampun semakin larut.
"Lanjutkan saja bersama dosen pembimbingmu besok pagi, pasti ada beberapa bagian yang harus kau revisi besok!" ucap Rafa.
"Kenapa tidak sekarang saja kak? Tiara ingin menyelesaikannya sekarang agar besok tidak perlu revisi lagi," protes Tiara.
"Ini sudah sangat malam Tiara, kau harus pulang dan beristirahat!" ucap Rafa.
"Tapi Tiara ingin segera menyelesaikannya kak, tolong kak Rafa periksa sekali saja, Tiara janji akan segera merevisinya dengan baik," ucap Tiara memohon pada Rafa.
"Hanya tinggal dua paragraf lagi yang belum aku periksa, karena ini sudah sangat malam biarkan dosen pembimbingmu yang memeriksanya besok, sekarang kau harus pulang dan beristirahat!"
"Apa kak Rafa harus segera pulang? atau kak Rafa harus mengerjakan sesuatu? jika iya Tiara akan menunggu kak Rafa disini, kak Rafa bisa mengerjakan pekerjaan kak Rafa dulu setelah itu bantu Tiara merevisi 2 paragraf terakhir ini!"
"Tidak, tidak ada yang harus aku kerjakan, aku hanya tidak ingin kau terlalu memaksakan dirimu untuk menyelesaikan semuanya malam ini," balas Rafa.
"Tolong Tiara kak, Tiara benar benar harus menyelesaikannya sekarang, Tiara tidak ingin berlama lama bertemu kak Bima di kampus, Tiara....."
"Bima? kenapa tiba tiba kau membicarakan Bima?" tanya Rafa memotong ucapan Tiara.
Tiara menghela nafasnya karena ia sudah salah berbicara. Ia merasa tidak seharusnya ia mengatakan pada Rafa tentang alasannya ingin menyelesaikan bab barunya malam itu juga, namun sudah kepalang tanggung, Tiarapun menjelaskan alasannya pada Rafa.
"Kak Bima sekarang menjadi dosen pembimbing Tiara, entah kak Rafa tau atau tidak tapi Tiara dan kak Bima terlibat masalah di luar kampus yang membuat Tiara harus menjauhi kak Bima, itu kenapa Tiara meminta tolong kak Rafa untuk membantu Tiara menyelesaikan bab baru ini agar Tiara tidak perlu berlama lama bersama kak Bima besok pagi!" ucap Tiara menjelaskan.
"Apa kau tidak bisa membedakan sikapmu dengan Bima saat kau berada di dalam dan di luar kampus?"
"Tiara sudah berusaha kak, tapi kak Bima sendiri yang selalu menganggu Tiara, keberadaan kak Bima di dekat Tiara benar benar membuat Tiara tidak nyaman!" balas Tiara.
"Tapi bagaimanapun juga dia adalah dosenmu Tiara!"
"Tiara tau kak, tapi masalah Tiara dan kak Bima bukan perkara yang mudah , Tiara...... aaahh lupakan saja, kak Rafa tidak akan mengerti," ucap Tiara sambil mengemasi buku bukunya.
"Baiklah, kita lanjutkan saja!" ucap Rafa sambil mengentikan tangan Tiara yang akan memasukkan buku ke dalam tas.
__ADS_1
Seketika Tiara terdiam saat Rafa memegang tangannya. Namun ia segera tersadar dari lamunan singkatnya dan urung memasukkan bukunya ke dalam tas.