Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bermalam di Tepi Danau


__ADS_3

Di tempat lain.


Berkali kali Maya menghubungi Rafa namun tidak pernah ada jawaban. Dengan terpaksa Mayapun pergi ke kafe Rafa berniat untuk menemui Rafa secara langsung.


Sesampainya disana ia segera menanyakan keberadaan Rafa pada waiters, namun waiters mengatakan jika Rafa sudah keluar dari kafe sejak siang tadi.


"Apa kau tau kemana dia pergi?" tanya Maya pada waiters.


"Kalau tidak salah pak Rafa akan melihat progres kafe baru yang sedang dibangun," jawab waiters yang ternyata Chika.


"Kafe baru? dimana alamatnya?"


"Maaf saya kurang tahu," jawab Chika.


Maya menghela nafasnya kesal lalu segera keluar dari kafe Rafa.


"Kafe baru? sejak kapan dia mempersiapkan kafe barunya? dia pasti memiliki banyak waktu luang karena sudah tidak menjadi dosen sekarang, itu kenapa dia membuang buang uang dari orangtuanya hanya untuk bermain main seperti ini!" ucap Maya sambil menyalakan mesin mobilnya.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Maya berdering, sebuah panggilan dari mamanya.


"Halo Maya, kau dimana? kenapa belum datang?" tanya sang mama setelah Maya menerima panggilan sang mama.


"Maya.... Maya sudah di jalan ma, mama berangkat saja dulu, Maya akan menyusul," jawab Maya memberi alasan.


"Baiklah, mama dan papa berangkat dulu, kau jangan terlambat!"


"Baik ma," balas Maya lalu mengakhiri panggilan sang mama.


Maya kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan kafe menuju ke tempat acara keluarganya di laksanakan.


"Kau benar benar sangat egois Rafa, aku sangat membencimu," ucap Maya kesal karena ia merasa Rafa sedang bersembunyi darinya saat itu karena Rafa tidak ingin menghadiri acara keluarga Maya.


Sesampainya Maya di tempat acara, dengan malas Maya membawa langkahnya masuk menghampiri satu per satu saudaranya.


Hampir semua yang ada disana menanyakan keberadaan Rafa pada Maya.


"Kenapa suamimu tidak ikut Maya? kalian tidak sedang bertengkar bukan?" tanya saudara Maya yang terkenal "nyinyir".


"Tentu saja tidak, dia sedang sibuk mengurus bisnis barunya," jawab Maya.


"Apa dia tidak bisa menyempatkan waktunya sebentar saja untuk datang kesini? ini kan acara keluarga besar kita!"


"Aku tidak pernah memaksanya untuk melakukan apapun, aku selalu memberinya kebebasan dalam mengambil keputusan jadi aku membiarkannya sibuk dengan bisnisnya," jawab Maya.


"Laki laki tidak bisa dibiarkan bebas seperti itu Maya, bahaya!"


"Akan lebih bahaya lagi jika aku mengekangnya seperti yang kau lakukan pada suamimu, aku tidak ingin Rafa diam diam berselingkuh seperti suamimu," ucap Maya yang membuat saudaranya seketika terdiam dan segera pergi meninggalkan Maya.


"Maya, jangan berbicara seperti itu!" ucap sang mama yang tiba tiba datang menghampiri Maya.


"Dia yang mencari masalah pada Maya ma," balas Maya membela diri.


"Dimana Rafa? apa dia tidak datang lagi?" tanya sang mama.


"Rafa sedang sibuk dengan kafe barunya ma, jadi dia tidak bisa datang," jawab Maya.


"Dia selalu saja sibuk, tapi kau tidak mengendarai mobil sendiri bukan?"


"Tentu saja Maya mengendarai mobil sendiri," jawab Maya.


"Rafa benar benar keterlaluan, kenapa dia belum memberimu supir?"


"Maya tidak suka memakai supir ma, Maya lebih suka berkendara sendiri," jawab Maya beralasan karena memang sebenarnya Rafa belum memberinya supir.


"Tapi kau kan baru saja kecelakaan Maya, kau....."


"Maya akan lebih berhati hati ma, Maya janji," ucap Maya memotong ucapan mamanya.


"Sudahlah ma, Maya sudah dewasa, biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka!" sahut sang papa yang tiba tiba datang.


**


Di sisi lain.


Tiara dan Rafa masih berada di danau. Langit yang mulai gelap perlahan membawa bulan dan bintang menempati tempatnya masing-masing memberikan cahaya dan keindahan dalam hamparan pekat gelap malam.


"Waaah pemandangan disini indah sekali," ucap Tiara yang sudah membaringkan badannya di atas dermaga sambil menatap hamparan bintang dan bulan di langit malam.


"Apa kau tidak takut Tiara?" tanya Rafa yang saat itu masih duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Kenapa Tiara harus takut, justru Tiara sangat senang melihat pemandangan ini," balas Tiara.


"Tapi kita hanya berdua disini," ucap Rafa yang membuat Tiara segera beranjak dan menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Rafa.


"Kak Rafa tidak akan melakukan sesuatu bukan?" tanya Tiara dengan menatap serius Rafa yang duduk di sebelahnya.


"Hahaha... apa yang kau pikirkan Tiara? kau mesum sekali!" balas Rafa tertawa.


"Kak Rafa sendiri yang membuat Tiara berpikir seperti itu," ucap Tiara.


"Apa menurutmu aku laki-laki seperti itu?" tanya Rafa yang segera dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Walaupun pertemuan pertama kita bukanlah hal yang menyenangkan tapi Tiara percaya kak Rafa bukan orang jahat," ucap Tiara.


"Apa kau ingat dimana pertama kali kita bertemu?" tanya Rafa.


"Tentu saja ingat, waktu itu Tiara menghindar dari kak Bima dan tanpa pikir panjang Tiara masuk ke dalam mobil kak Rafa, saat Tiara tidak sengaja tertidur kak Rafa membawa Tiara pulang," jawab Tiara.


"Jadi kau masuk ke dalam mobilku untuk menghindari Bima?" tanya Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Tapi itu bukan pertemuan pertama kita Tiara," ucap Rafa


"Benarkah? lalu dimana pertama kali kita bertemu?" tanya Tiara.


"Kita pernah bertemu di pemakaman, apa kau lupa?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Di pemakaman?" tanya Tiara sambil berusaha menggali ingatannya tentang Rafa.


"Aku menemukan dompetmu yang terjatuh dan mengembalikannya padamu saat di pemakaman," ucap Rafa menjelaskan.


"Aaahh iya Tiara ingat, jadi itu kak Rafa?" ucap Tiara sekaligus bertanya.


"Kau bilang ingat tapi kau masih bertanya apakah itu aku," gerutu Rafa yang membuat Tiara terkekeh.


"Maaf kak, Tiara hanya ingat kejadian itu tapi tidak mengingat wajah kak Rafa hehehe...." ucap Tiara.


"Aku juga pernah bertemu denganmu sebelum kau masuk ke dalam mobilku," ucap Rafa.


"Benarkah? dimana?" tanya Tiara.


"Waaahh sepertinya kau benar-benar tidak pandai mengingat seseorang," ucap Rafa yang kembali membuat Tiara terkekeh sambil menggaruk-garuk tengkuknya.


"Aku pernah melihatmu di kampus, kau lari dan tanpa sengaja menabrakku lalu pergi bersama Bima," ucap Rafa.


"Sepertinya pertemuan kita cukup unik," ucap Tiara.


"Kau benar, aku bahkan tidak menyangka bahwa kita bisa sedekat ini setelah kau memanggilku dengan sebutan laki-laki mesum," balas Rafa.


"Hehehe..... maafkan Tiara kak, Tiara hanya kesal saat itu," ucap Tiara.


"Apa sekarang penilaianmu tentangku sudah berubah Tiara?" tanya Rafa.


"Tentu saja, dibalik sikap kak Rafa yang menyebalkan Tiara tahu kak Rafa sangat perhatian dan baik hati, tidak hanya pada Tiara tapi juga pada semua karyawan di kafe," jawab Tiara.


Malampun semakin larut, Tiara dan Rafa masih berada di dermaga. Kini mereka berdua sudah terbaring di atas dermaga beratapkan hamparan bintang dan sinar sang bulan.


"Rasanya tidak terlalu buruk tersesat disini," ucap Tiara.


"Kenapa?" tanya Rafa.


"Lihatlah kak, bintang-bintang itu tidak akan terlihat dari pusat kota, tapi mereka terlihat jelas dari sini, ini adalah pemandangan yang sangat langka yang tidak bisa setiap hari Tiara lihat," jawab Tiara.


Tiara dan Rafapun membicarakan banyak hal mulai dari tentang kuliah, pekerjaan dan hal-hal kecil lainnya hingga akhirnya Tiarapun mulai mengantuk dan tertidur.


"Sebenarnya apa yang membuatmu meninggalkan rumahmu Tiara?" tanya Rafa namun tidak ada jawaban apapun dari Tiara.


"Maaf jika aku menanyakan hal yang terlalu privasi untukmu, kau tidak perlu menjawabnya jika kau merasa keberatan," lanjut Rafa namun masih tidak ada jawaban dari Tiara.


Rafapun membawa pandangannya ke arah Tiara dan mendapat Tiara yang tengah terpejam saat itu.


Rafa tersenyum tipis melihat Tiara yang tampak nyenyak tertidur di tepi danau yang gelap gulita tanpa ada satupun pencahayaan selain bulan yang bersinar terang malam itu.


Saat Tiara bergerak pelan, tanpa sengaja matanya tertutup beberapa bagian dari rambutnya. Rafa yang melihat hal itupun dengan perlahan menyentuh rambut Tiara dan menyibakkannya ke belakang telinga Tiara.


"Cantik sekali," ucap Rafa pelan dengan tersenyum menatap Tiara yang terpejam dengan nyenyak saat itu.


Menit demi menitpun berlalu berganti jam, hingga akhirnya cahaya bulanpun memudar berganti dengan sinar jingga sang mentari.


Tiara mulai mengerjapkan matanya perlahan lalu membawa pandangannya ke sekitarnya saat ia sudah mengembalikan seluruh kesadarannya.


Matanya jatuh tepat di hadapan Rafa yang saat itu tertidur dengan menghadap ke arahnya. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang saat ia menyadari bahwa ia tertidur dengan jarak yang sangat dekat dengan Rafa.

__ADS_1


Tiara bahkan bisa mencium dengan jelas wangi parfum Rafa, entah karena kemeja Rafa yang ia pakai atau karena memang jarak mereka berdua yang sangat dekat.


Saat Tiara akan beranjak ia baru tersadar bahwa tangannya menggenggam tangan Rafa, membuatnya segera menarik tangannya dari Rafa dan hal itu membuat Rafa terbangun dari tidurnya.


"kau sudah bangun Ra?" tanya Rafa dengan suara serak khas bangun tidur.


"Iii.... iyaa.... kak....." jawab Tiara gugup sambil mengalihkan pandangannya ke sekitarnya berusaha untuk menenangkan kegugupannya saat itu.


"kenapa tanganku bisa menggenggam tangan kak Rafa? apa yang sudah aku lakukan semalam? aaahh tidak.... aku pasti sudah gila," ucap Tiara dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.


Rafa kemudian beranjak dari duduknya saat melihat Tiara memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Kau kenapa Ra? apa kepalamu pusing? atau perutmu sakit lagi?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Tiara tidak apa-apa kak, sepertinya kita harus segera pergi dari sini sebelum seseorang datang dan mengira kita melakukan sesuatu yang buruk disini," ucap Tiara yang segera beranjak dari duduknya diikuti oleh Rafa.


"Lebih baik kita mencari sarapan dulu sebelum perutmu sakit," ucap Rafa lalu menaiki motornya bersama Tiara.


"Kak, ada yang ingin Tiara tanyakan," ucap Tiara pada Rafa.


"Tanyakan saja," balas Rafa santai sambil mengendarai motornya.


"Semalam..... tidak terjadi sesuatu bukan?" tanya Tiara ragu.


"Apa kau berharap terjadi sesuatu?" balas Rafa bertanya yang membuat Tiara segera memukul punggung Rafa.


"Tidak Tiara, apa yang ada di kepalamu itu tidak benar," ucap Rafa yang seolah tahu apa yang Tiara pikirkan saat itu.


"Memangnya apa yang ada di kepala Tiara, kak Rafa sok tahu sekali," balas Tiara kesal.


"Semalam kau tertidur lebih dulu setelah itu aku juga ikut tidur karena tidak ada teman mengobrol," ucap Rafa yang membuat Tiara bisa bernafas lega.


Tak lama kemudian merekapun sampai di depan warung. Tidak seperti sebelumnya yang ragu untuk masuk, kali itu Rafa melangkah masuk ke dalam warung tanpa ragu diikuti oleh Tiara.


Rafa memesan dua makanan dan 2 minuman lalu menikmati makanan dan minumannya bersama Tiara.


Setelah membayar Rafapun bertanya pada si pemilik warung jalan untuk ke arah jalan raya.


"Kebetulan sekali anak saya mau keluar ke jalan raya, kalian berdua bisa mengikutinya jika ingin keluar ke jalan raya karena jalanan disini memang sangat membingungkan, terutama bagi seseorang yang baru pertama kali masuk kesini," ucap si pemilik warung yang membuat Tiara bersorak kegirangan.


"Akhirnya kita punya petunjuk untuk keluar dari sini kak," ucap Tiara senang.


Rafa kemudian mengendarai motornya bersama Tiara mengikuti anak si pemilik warung.


Tak beberapa lama kemudian merekapun bisa keluar dari labirin gang sempit itu. Namun tiba-tiba Rafa menepikan motornya dan segera berlari sedikit menjauh dari Tiara untuk berjongkok dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Tiara yang melihat hal itu begitu terkejut dan khawatir lalu segera menghampiri Rafa.


"Kak Rafa kenapa?" tanya Tiara khawatir.


"Perutku sangat mual, apa kita bisa beristirahat sebentar disini Ra?" jawab Rafa sekaligus bertanya pada Tiara.


"Bisa kak, kak Rafa tunggu disini, Tiara akan membeli minuman untuk kak Rafa," ucap Tiara lalu segera berlari untuk membeli minuman.


Tiarapun kembali dan memberikan sebotol minuman pada Rafa.


"Kak Rafa pucat sekali, apa sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Rafa.


Namun tiba-tiba Rafa merasa perutnya semakin mual dan pandangannya mulai berkunang-kunang.


"tidak..... aku tidak mungkin pingsan di depan Tiara, memalukan sekali," ucap Rafa dalam hati berusaha untuk menjaga kesadarannya saat itu.


Tiara yang melihat taksi dari kejauhanpun segera bersiap untuk menghentikan taksi karena melihat raut wajah Rafa yang semakin pucat.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang kak," ucap Tiara sambil membantu Rafa masuk ke dalam taksi.


Tak lupa Tiara menitipkan motornya pada penjual minuman yang berada di dekat sana.


Sesampainya di rumah sakit Rafapun segera diperiksa oleh dokter dan ternyata penyebab rasa mual dan pusingnya adalah karena makanan yang baru saja dikonsumsi oleh Rafa.


Alhasil Rafapun harus terbaring di ranjang rumah sakit dengan infus yang menancap di tangannya.


"Maafkan Tiara kak, seharusnya Tiara tidak memaksa kak Rafa untuk memakan makanan itu," ucap Tiara yang merasa bersalah pada Rafa.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan kesalahanmu," balas Rafa.


"Kalau saja Tiara tidak membuat kak Rafa mendatangi Tiara di minimarket, kita tidak akan tersesat di gang itu dan kak Rafa tidak akan memakan makanan itu," ucap Tiara menyesal.


"Jangan terlalu memikirkannya Tiara, apa kau lupa ada hal yang jauh lebih indah untuk kau ingat?"


"Cahaya senja dan bintang malam," jawab Tiara dengan tersenyum yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Rafa.

__ADS_1


"Benar sekali, sekarang pulanglah dan jangan memberi tahu yang lain tentang keadaanku sekarang," ucap Rafa pada Tiara.


__ADS_2