
Rafa masih berada di kafenya bersama Putra, ia terdiam mendengar apa yang baru saja Putra katakan padanya.
Memang sudah seharusnya ia menceraikan Maya sebelum ia mendekati Tiara, namun ia tidak bisa begitu saja menceraikan Maya mengingat bagaimana keadaan sang mama.
"Apa kau ragu pada perasaanmu?" tanya Putra pada Rafa yang sedari tadi hanya terdiam.
"Sama sekali tidak, aku yakin pada apa yang aku rasakan, hanya saja..... semua ini terlalu rumit," jawab Rafa.
"Apa yang membuatmu tidak bisa menceraikan Maya, Rafa? bukankah sudah jelas tidak ada cinta dalam pernikahan kalian dan kaupun tau bahwa dia sudah bersama laki laki lain di belakangmu!"
Rafa seketika membawa pandangannya pada Putra setelah ia mendengar ucapan terakhir Putra. Ia terkejut karena Putra tau tentang hubungan Maya dengan laki laki lain.
"Dari mana kau tau?" tanya Rafa.
"Aku melihatnya sendiri, dia bersama laki laki di bar dan kau sengaja membiarkan hal itu?"
"Aku tidak punya hak untuk melarangnya," balas Rafa
"Apa kau tau siapa laki laki itu?" tanya Putra yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Rafa.
"Apa kau benar benar tidak peduli pada Maya? kau bahkan tidak berusaha mencari tau siapa laki laki yang menjadi selingkuhan Maya!"
"Aku tidak peduli apa yang dia lakukan dan dengan siapa dia berhubungan, selama itu tidak membawa pengaruh buruk pada keluargaku!" balas Rafa yang membuat Putra hanya diam dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Asal kau tau, sejak aku bertemu Tiara aku sudah berniat untuk berpisah dengan Maya, tapi mama yang sangat berharap pada pernikahanku dengan Maya membuatku ragu, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada mama jika aku berpisah dengan Maya," ucap Rafa
"Tapi kau hanya akan menempatkan Tiara pada posisi yang salah Rafa, entah kau mencintai istrimu atau tidak, tetapi sebagai perempuan Tiara tetap akan disalahkan jika dia mempunyai hubungan denganmu," balas Putra.
"Aku butuh waktu untuk menyelesaikan hubunganku dengan Maya, ini bukan perkara yang mudah, kau tidak akan mengerti apa yang sedang aku alami saat ini!" ucap Rafa.
"Aku tau dan aku mengerti Rafa, aku mengenalmu dengan baik, kau masih sama seperti Rafa yang dulu aku kenal, tapi mendekati Tiara saat kau masih berstatus suami Maya adalah tindakan seorang pengecut Rafa dan aku yakin kau tidak sepengecut itu!"
Rafa tersenyum tipis lalu menghela nafasnya panjang mendengar ucapan Putra.
"Mungkin sekarang aku bukanlah Rafa yang kau kenal, karena aku akan menjadi laki laki pengecut demi mendapatkan seseorang yang aku cintai," ucap Rafa.
"Kau benar benar sudah gila!" ucap Putra.
"Cinta yang membuatku segila ini, aku akan melakukan apapun untuk bisa bersama Tiara, tapi aku butuh waktu untuk mengakhiri hubunganku dengan Maya dan itu tidak mudah, aku harap kau bisa mengerti," balas Rafa.
"Ini tidak adil untukku Rafa, jika kau belum juga menceriakan Maya maka biarkan Tiara sendiri yang memilih antara kau dan aku, kau tidak bisa melarangku untuk mendekatinya karena kau masih suami Maya!" ucap Putra dengan tegas.
"Dengan satu syarat," ucap Rafa.
"Apa itu?" tanya Putra.
"Jangan pernah memberi tahu siapapun tentang hubunganku dengan Maya, termasuk orangtuaku dan Tiara," jawab Rafa yang membuat Putra tersenyum tipis.
"Aku tidak akan memberi tahu siapapun, anggap saja aku tidak pernah tau bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Maya, tapi aku yakin cepat atau lambat mereka akan tau yang sebenarnya dan kau harus mempersiapkan hal itu!" ucap Putra lalu beranjak dari duduknya.
Rafa hanya menghela nafasnya panjang, mengusap wajahnya kasar lalu menyeruput minuman di hadapannya.
**
Hari telah berganti, pagi itu Tiara pergi ke kantor tanpa menggunakan kruk yang sebelumnya ia pakai untuk membantunya berjalan.
Meskipun masih sedikit terasa sakit, setidaknya ia sudah bisa berjalan meskipun tanpa menggunakan kruk.
"Setelah apa yang kak Rafa katakan kemarin, rasanya aku jadi semakin gugup jika bertemu dengan kak Rafa, tapi kak Rafa kan CEO, pegawai biasa sepertiku tidak akan mungkin sering bertemu dengannya bukan?" batin Tiara sambil membawa langkahnya ke arah lift dengan pelan.
Baru saja Tiara masuk ke dalam lift, seseorang tiba tiba masuk dan berdiri di samping Tiara.
Tiara membawa pandangannya pada seseorang itu dengan tersenyum tipis.
"Ini adalah contoh file presentasi tentang produk baru, kau bisa mempelajarinya dan menyesuaikan dengan produk baru kita," ucap Putra sambil memberikan sebuah flashdisk pada Tiara.
"Terima kasih pak, Tiara akan mempelajarinya," balas Tiara.
"Kau bisa bertanya padaku jika ada yang tidak kau mengerti!" ucap Putra.
"Baik pak," balas Tiara.
TRIIIING
Lift berhenti, pintu liftpun terbuka.
"Tiara permisi pak," ucap Tiara sebelum ia keluar dari lift.
__ADS_1
Putrapun hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia begitu mengagumi perempuan cantik di hadapannya itu.
"Aku tidak yakin jika aku bisa memilikimu Tiara, tapi aku tidak akan menyerah sebelum aku mengusahakan segala cara," ucap Putra dalam hati.
Hari itu Tiara sibuk mempelajari file presentasi yang Putra berikan padanya, ia juga harus menganalisis tentang produk baru yang akan diluncurkan agar dia bisa membuat presentasi yang sesuai dengan produk baru itu.
Di sisi lain, Putra yang sedang berada di pantry tiba tiba di datangi oleh seorang laki laki yang tampak ragu membawa langkahnya pada Putra.
"Ada apa?" tanya Putra sambil mengaduk minuman di gelasnya.
"Mmmm.... saya.... saya minta maaf pak," jawabnya.
"Untuk apa?" tanya Putra.
"Tentang apa yang terjadi di bar kemarin, saya....."
"Apa kau tau siapa dia? apa kau benar benar mengenalnya atau hanya bersenang-senang saja dengannya?" tanya Putra memotong ucapan Bagas.
"Saya hanya tau dia adalah pengacara di salah satu firma hukum, saya mengenalnya saat dia sering pergi ke bar sendirian, jadi kita dekat dan....."
"Apa yang kau lakukan disini? kita sedang banyak pekerjaan sekarang!" ucap Rafa yang tiba tiba datang.
Putra kemudian membawa gelas minumannya keluar dari pantry bersama Rafa, meninggalkan Bagas yang masih berada di dalam pantry.
"Ada apa dengannya? apa kau baru saja memarahinya?" tanya Rafa pada Putra.
"Apa kau tidak mengenalnya?" balas Putra bertanya.
"Tidak, memangnya siapa dia?"
"Lupakan saja, dia hanya pimpinan salah satu divisi disini," jawab Putra.
Meskipun Rafa pernah melihat Bagas bersama Maya, namun ia tidak mengenali Bagas saat di pantry karena Bagas yang berdiri membelakanginya.
Putra dan Rafa kemudian mengerjakan pekerjaan mereka sampai jam makan siang tiba. Karena terlalu banyak pekerjaan, Rafa tidak sempat meninggalkan meja kerjanya bahkan hanya untuk makan siang.
Putra yang juga sangat sibuk hari itu menyempatkan waktunya untuk memesan makanan lalu memberikannya pada Rafa.
"Tidak perlu berlebihan, aku belum memaafkanmu!" ucap Rafa yang masih sibuk dengan komputer di hadapannya.
"Aku sudah tidak berharap apapun darimu, bagiku kau adalah rivalku untuk mendapatkan Tiara!" balas Putra lalu berjalan keluar dari ruangan Rafa.
**
Ia sedang mengerjakan materi presentasi yang Rafa sesuai dengan perintah Rafa, karena besok siang akan ada meeting untuk membahas produk baru, Tiara harus menyelesaikan materi presentasinya hari itu juga sebelum dia berikan pada Putra untuk diperiksa.
"Aaahh mataku rasanya lelah sekali," ucap Tiara sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari Rafa.
"Halo Tiara, kau dimana? kenapa rumahmu gelap sekali?" tanya Rafa setelah Tiara menerima panggilan Rafa.
"Tiara masih di kantor kak, Tiara belum menyelesaikan materi presentasi untuk meeting besok," jawab Tiara.
"Pulanglah, aku akan membantumu mengerjakannya," ucap Rafa.
"Tapi ada beberapa berkas yang Tiara butuhkan disini, itu kenapa Tiara harus mengerjakannya di kantor," balas Tiara.
"Apa kau meragukan kemampuanku?"
"Tentu saja tidak, tapi...."
"Pulanglah sekarang atau aku akan menjemputmu sekarang juga!" ucap Rafa memotong ucapan Tiara.
"Baiklah, Tiara akan pulang sekarang!" balas Tiara.
Setelah panggilan berakhir, Tiarapun menyimpan filenya lalu beranjak dan meninggalkan meja kerjanya.
Saat tengah berjalan di lobby, Tiara berpapasan dengan Putra.
"Kau baru pulang Tiara?" tanya Putra.
"Iya pak," jawab Tiara.
"Kebetulan aku juga akan pulang, aku bisa mengantarmu pulang jika kau mau!" ucap Putra.
__ADS_1
Sebelum Tiara membalas ucapan Putra, ia membawa pandangannya pada beberapa orang yang tampak memperlihatkan dirinya dan Putra.
"Terima kasih pak, tapi Tiara harus pergi ke tempat lain dulu, Tiara permisi!" ucap Tiara lalu berjalan mendahului Putra.
Putra hanya menghela nafasnya, membiarkan Tiara pergi meninggalkannya. Ia lalu membawa pandangannya pada beberapa orang yang ada disana.
"Apa kalian mau aku antar pulang juga?" tanya Putra dengan tersenyum genit yang membuat mereka hanya menggeleng dengan tersenyum malu.
"Fokus saja pada pekerjaan kalian, perusahaan tidak akan mempekerjakan pegawai yang hanya suka bergosip tentang rekan kerjanya," ucap Putra dengan tersenyum lalu berjalan pergi.
Meskipun sedang kesal, Putra masih bisa memberikan senyumnya pada orang lain, karena sejak dulu Putra memang dikenal sebagai atasan yang ramah dan menyenangkan, sangat berbeda dengan Rafa yang tegas.
Putra kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan kantor, ia berniat untuk menemui Tiara di rumahnya. Namun sesampainya disana ia harus mengurungkan niatnya dan mengendarai mobilnya pergi karena melihat mobil Rafa yang sudah terparkir di halaman rumah Tiara.
"Sepertinya kau memang sangat mencintai Tiara, tapi aku tidak akan membiarkan Tiara menjadi perempuan kedua dalam pernikahanmu, aku tidak akan membiarkan orang lain memandang rendah Tiara karena berhubungan dengan laki laki yang sudah beristri sepertimu Rafa!"
Sebagai seseorang yang pernah sangat dekat dengan Rafa, Putra tau jika selama ini Rafa tidak pernah dekat dengan perempuan manapun.
Putra bahkan sangat terkejut saat ia diberitahu tentang pernikahan Rafa dan Maya yang tiba tiba.
Rafa yang tidak pernah merasakan cinta kini harus merasakannya saat ia sudah menjadi suami wanita lain.
Hatinya yang seharusnya hanya milik istrinya malah menjadi milik perempuan lain. Namun saat mengerti cerita pernikahan Rafa dan Maya, Putra tidak bisa mengalahkan Rafa sepenuhnya.
Meskipun begitu, ia tidak bisa membenarkan jika Rafa tetap berhubungan dengan Tiara saat Rafa masih berstatus sebagai suami Maya.
Di sisi lain, Rafa sedang membantu Tiara untuk menyelesaikan materi presentasi untuk produk baru mereka. Sesekali mereka tertawa dan bercanda sampai jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Tiara menutup laptop di hadapannya, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa sambil memejamkan matanya.
"Akhirnya selesai," ucapnya dengan kedua mata yang masih tertutup.
"Beristirahatlah, kau pasti sangat lelah!" ucap Rafa.
"Apa kak Rafa mau pulang?" tanya Tiara yang sudah membuka kedua matanya.
"Apa kau mau aku meninggal disini?" balas Rafa bertanya.
"Tentu saja tidak," jawab Tiara dengan cepat yang membuat Rafa tersenyum gemas.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Rafa.
"Mmmm..... tentang apa yang kak Rafa katakan malam itu.... Tiara..... mmmm....."
"Jangan ragu Tiara, katakan saja," ucap Rafa yang sudah tidak sabar menunggu keputusan Tiara.
"Tiara..... Tiara butuh waktu kak," ucap Tiara.
"Tiara tidak tau kapan Tiara akan siap membuka hati lagi, tapi untuk sekarang Tiara tidak ingin terlalu terburu buru seperti dulu, Tiara minta maaf jika apa yang Tiara katakan mengecewakan kak Rafa," lanjut Tiara.
"Aku mengerti, pasti sulit untukmu mempercayaiku setelah apa yang Bima lakukan padamu, tapi aku harap masa lalumu itu tidak akan membuat hatimu selamanya tertutup Tiara," ucap Rafa.
"Tiara bukan tidak mempercayai kak Rafa, Tiara hanya takut jika apa yang Tiara percaya nantinya akan menyakiti Tiara seperti dulu, mari kita jalani saja seperti saat ini kak, jika sudah tiba waktunya Tiara pasti akan memberi tahu kakak," ucap Tiara.
Rafa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia mengerti bagaimana masa lalu membuat Tiara sulit membuka hatinya, namun itu bukan masalah bagi Rafa karena dari apa yang Tiara katakan sama sekali tidak menyiratkan penolakan dari Tiara.
Tiara hanya ragu karena takut akan masa lalu yang bisa jadi terulang kembali, terlebih Rafa sadar jika dirinya adalah laki laki yang sudah beristri.
Sembari mendekati Tiara dan menunggu Tiara membuka hatinya, Rafa akan mencari cara untuk bisa terlepas dari pernikahan palsunya bersama Maya.
Setidaknya ia tau jika Tiara tidak sedang menyukai laki laki lain saat itu dan itu membuatnya sedikit lega serta tidak terlalu mengkhawatirkan Putra yang juga tengah berusaha mendekati Tiara.
"Tidak ada yang berubah diantara kita bukan?" tanya Tiara memastikan.
"Tentu saja ada," jawab Rafa yang membuat Tiara sedikit terkejut.
"Kau harus mempersiapkan dirimu dengan baik karena aku akan menunjukkan padamu bagaimana aku sangat mencintaimu," lanjut Rafa yang membuat Tiara tersenyum tersipu malu.
"Aaahh iya, jangan lupa untuk mengambil cuti bulan depan, kita akan pergi ke Jepang selama 7 hari," ucap Rafa.
"7 hari? apa boleh Tiara cuti selama itu?" tanya Tiara.
"Tentu saja boleh, kau bahkan bisa cuti selama yang kau mau!" jawab Rafa.
"Tidak kak, itu terlalu berlebihan, sepertinya 3 atau 4 hari cukup," ucap Tiara.
"Konser akan dilakukan 2 hari Tiara, kau tau itu bukan? 3 hari tidak akan cukup, bagiamana jika 5 hari?"
__ADS_1
"Mmmm.... 4 hari," balas Tiara.
Rafa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Rasanya ia sudah tidak memiliki hasrat untuk berdebat dengan gadis cantik di hadapannya itu.