Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Mendapatkan Semuanya


__ADS_3

Tiara masih berada di ruangan Rafa. Semangat yang dari tadi membara dalam dirinya tiba-tiba hilang begitu saja saat ia tahu bahwa kedatangannya kesana bukanlah untuk untuk wawancara kerja.


Rafa yang ada di hadapannya saat itu bukanlah Rafa pemilik kafe tempat ia melamar pekerjaan, melainkan Rafa dosen pembimbingnya.


"Kau akan membuatku merasa bersalah jika kau tiba-tiba menunda skripsimu seperti ini Tiara," ucap Rafa yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya.


"Keputusan Tiara untuk menunda skripsi sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pak Rafa, Tiara sudah memutuskan hal ini sebelum Tiara tahu bahwa Pak Rafa dikeluarkan dari kampus," balas Tiara.


"Lalu apa yang membuatmu menunda skripsi mu Ra?" tanya Rafa yang membuat Tiara kembali terdiam untuk beberapa saat.


Namun pada akhirnya Tiara membuka mulutnya dan menceritakan pada Rafa alasannya untuk menunda skripsinya, namun ia masih merahasiakan tentang masalah keluarganya karena ia merasa tidak perlu menceritakan hal itu pada Rafa.


"Untuk saat ini Tiara hanya membutuhkan uang untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup Tiara, jadi Tiara memilih untuk bekerja terlebih dahulu sampai Tiara bisa menabung untuk melanjutkan skripsi Tiara," ucap Tiara dengan menundukkan kepalanya.


"Kau tidak menunda skripsimu karena video itu bukan?" tanya Rafa memastikan.


"Tentu saja tidak pak, Tiara bahkan tidak peduli pada mereka yang menggunjing di belakang Tiara, jika Tiara masih memiliki uang yang cukup untuk melanjutkan skripsi Tiara pasti tidak akan menundanya seperti ini," jawab Tiara berusaha meyakinkan Rafa.


Rafa kemudian menghela nafasnya panjang, tangan kanannya mengetuk-ngetukkan pena yang dipegangnya di meja seolah memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil saat itu.


"Kau bisa bekerja disini, tapi kau juga harus melanjutkan skripsimu," ucap Rafa.


"Tapi Tiara harus menabung dulu untuk bisa melanjutkan skripsi Pak, Tiara....."


"Saya akan memotong gajimu beberapa persen untuk membayar biaya kuliahmu, jika kau tidak menggunakan uangmu untuk berfoya-foya gajimu pasti akan cukup untuk kehidupanmu sehari-hari," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


"Tapi pak....."


"Kau bisa tinggal di mess karyawan yang sudah saya siapkan agar lebih bisa berhemat, ada beberapa karyawan lain yang juga tinggal disana," ucap Rafa yang tidak ingin mendengar penolakan dari Tiara.


Tiara terdiam beberapa saat, ia memikirkan dengan baik semua ucapan Rafa. Ia ragu apakah ia bisa melanjutkan skripsinya sembari bekerja di kafe, ia juga tidak tahu berapa gaji yang akan dia dapatkan jika Rafa memotongnya untuk biaya kuliah. Apakah gaji itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhannya atau tidak.


"tapi Pak Rafa bilang gajiku akan cukup untuk kehidupanku sehari-hari jika aku tidak berfoya-foya, tentu saja aku tidak akan punya cukup waktu untuk berfoya-foya jika aku harus bekerja dan mengerjakan skripsiku, dua hal itu saja pasti sudah sangat menyita banyak waktuku," ucap Tiara dalam hati.


"Sampai kapan kau akan diam Tiara?" tanya Rafa membangunkan lamunan Tiara.

__ADS_1


"Tiara masih berpikir Pak," balas Tiara.


"Saya tidak akan memaksamu, jika kau tidak setuju dengan apa yang saya katakan tadi kau bisa keluar dari ruangan ini karena saya harus mewawancarai beberapa orang lagi hari ini," ucap Rafa


"Baik pak Tiara setuju," ucap Tiara dengan cepat karena ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu begitu saja.


Setidaknya ia harus menjalani dulu apa yang ada di hadapannya, ia akan tahu bagaimana hasilnya setelah ia menjalaninya daripada hanya menebak-nebak dan pada akhirnya hanya memberikan penyesalan baginya.


Rafa tersenyum tipis lalu mengeluarkan selembar kertas dari laci mejanya dan memberikannya pada Tiara.


"Ini kontrak yang harus kau tandatangani, bacalah lebih dulu sebelum kau......"


Rafa menghentikan ucapannya saat Tiara dengan cepat menandatangani kontrak itu.


"Kau bahkan belum membacanya Tiara," ucap Rafa.


"Tiara percaya pada Pak Rafa," balas Tiara dengan tersenyum.


"Baiklah kalau begitu kau bisa menyimpan salinannya," ucap Rafa.


"Kau bisa tinggal di mess hari ini, tapi kau mulai bekerja minggu depan," jawab Rafa.


"Kenapa minggu depan? itu lama sekali Pak Rafa," protes Tiara.


"Ya sudah sekarang saja kau bekerja!" ucap Rafa.


"Sekarang...... mmmmm.... rasanya itu terlalu cepat hehehe....."


Rafa menghela nafasnya dengan menahan senyumnya melihat sikap Tiara.


"Baiklah terserah kau saja!"


"Tiara akan mulai bekerja besok, lalu bagaimana dengan shift kerja Tiara pak, bagaimana jika di tengah shift kerja Tiara ada jadwal skripsi yang tiba-tiba," tanya Tiara pada Rafa.


"Kau boleh meninggalkan jam kerjamu hanya untuk bimbingan skripsi di kampus dan tentunya atas izinku," jawab Rafa.

__ADS_1


"Baik Pak, terima kasih," ucap Tiara dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Tiara kemudian keluar dari ruangan Rafa dengan penuh senyum. Ia tidak menyangka jika ia akan mendapatkan tiga hal yang ia inginkan sekaligus.


Ia ingin mendapatkan pekerjaan, mendapatkan tempat tinggal dan yang paling penting adalah ia ingin tetap melanjutkan skripsinya.


Tiara merasa sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan Rafa padanya, laki-laki yang dulu ia pikir adalah laki-laki mesum kini memberikan tiga hal yang sangat Tiara butuhkan saat itu, pekerjaan, tempat tinggal dan kesempatan untuk melanjutkan skripsi.


"aku harus membagi waktuku dengan baik, tidak hanya demi diriku sendiri tapi juga untuk pak Rafa yang sudah banyak membantuku, aku tidak boleh mengecewakan Pak Rafa yang sudah sangat percaya padaku," ucap Tiara dalam hati.


Tiara membawa langkahnya meninggalkan kafe dengan bersenandung riang, ia sudah tidak sabar untuk menceritakan hal itu pada Kevin.


Tiara kemudian menaiki bus yang akan membawanya ke kampus karena ia tahu Kevin masih berada di kampus saat itu.


Saat Tiara baru saja sampai di depan kampus, ponselnya berdering, Tiara begitu terkejut saat ia melihat layar ponselnya dan membaca nama seseorang yang sedang menghubunginya saat itu


Kak Gita


Tiara yang akan menggeser tanda panah hijau seketika menahan jarinya agar tidak menerima panggilan Gita.


Tiara teringat semua ucapan Gita padanya sebelum ia meninggalkan rumah. Kakak yang selama ini ia pikir menyayanginya pada kenyataannya hanya menyimpan kebencian dalam dirinya.


Semua kasih sayang dan perhatian yang ia dapatkan dari Gita hanyalah sebuah kebohongan yang sengaja Gita lakukan demi harta.


Meskipun Tiara sangat bersedih karena hal itu tetapi jauh dalam hatinya ia masih berharap bahwa apa yang Gita katakan itu hanyalah emosi sesaat karena kemarahannya.


Dalam hatinya ia masih merindukan Gita, kakak yang selama ini memberinya begitu banyak perhatian dan kasih sayang meskipun semua itu hanya kepalsuan belaka.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Sebuah pesan masuk, membuat Tiara segera membacanya.


"Kau di mana Tiara? pulanglah, ini rumahmu kau harus kembali kesini!"


Tiara terdiam menatap pesan masuk dari Gita yang ada di ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2