
Setelah Rafa berusaha untuk membangunkan Tiara beberapa kali, iapun tersadar jika Tiara tidak sedang tertidur saat itu.
"Apa dia pingsan lagi?" tanya Rafa sambil terus menepuk-nepuk pipi Tiara meski tak ada respon sama sekali dari Tiara.
Setelah memastikan Tiara benar-benar pingsan, Rafapun segera membopong Tiara keluar dari kelas menuju ke klinik fakultas yang jaraknya cukup jauh dari kelas tempat Tiara menunggu Rafa.
Para mahasiswi dan mahasiswa yang melihat hal itu hanya bisa terdiam tanpa mengedipkan mata mereka melihat bagaimana Rafa membopong Tiara melewati mereka.
Dari semua mahasiswi dan mahasiswa yang melihat kejadian itu, ada Bima yang menatap dengan pandangan tidak suka. Bimapun segera berjalan cepat mengikuti Rafa.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Bima pada Rafa ketika Tiara tengah diperiksa oleh petugas kesehatan.
"Aku juga tidak tahu, aku melihatnya sudah pingsan di kelas," jawab Rafa.
"Jika kau tidak bisa menjadi dosen pembimbing yang baik untuknya lebih baik kau mengundurkan diri dan biarkan dosen lain yang menjadi dosen pembimbingnya!"
"Apa maksudmu, aku....."
"Tolong jangan berisik, keluarlah jika kalian berdua ingin bertengkar!" ucap petugas kesehatan pada Rafa dan Bima membuat Rafa menghentikan ucapannya.
Setelah beberapa lama menunggu, Tiarapun tersadar. Setelah memastikan dirinya sudah cukup kuat Tiarapun turun dari ranjang dan begitu terkejut karena mendapati Rafa dan Bima yang sedang menunggunya saat itu.
Melihat Tiara yang sudah keluar Rafa dan Bima segera beranjak dari duduk mereka, berniat untuk menghampiri Tiara, namun Tiara segera kembali masuk karena ia tidak ingin bertemu dengan Bima.
"Kenapa kau masuk lagi Tiara? apa kau masih pusing?" tanya Rafa.
"Tiara tidak akan keluar dari sini jika Pak Bima masih ada disana," jawab Tiara yang membuat Rafa membawa pandangannya pada Bima.
"Kau mendengarnya bukan?" tanya Rafa pada Bima.
"Aku akan menunggu disini sampai dia keluar!" ucap Bima.
"Ini kampus, tolong jangan membuat keributan disini, selesaikan masalah kalian berdua di luar kampus tanpa mengganggu kegiatan kampus!" ucap Rafa pada Bima.
__ADS_1
Bima hanya mendengus kesal lalu berjalan pergi begitu saja.
"Kau bisa keluar Tiara, dia sudah pergi," ucap Rafa yang membuat Tiara keluar dan menghampiri Rafa.
"Bagaimana keadaanmu Ra? kenapa kau pingsan lagi?" tanya Rafa pada Tiara.
"Tiba-tiba kepala saya pusing Pak, mungkin karena tadi pagi saya minum kopi," jawab Tiara.
"Apa kau selalu seperti ini setiap meminum kopi?" tanya Rafa.
"Dari dulu saya memang selalu seperti ini setelah beberapa jam meminum kopi, tapi sekarang saya sudah baik-baik saja Pak, ayo kita mulai bimbingan skripsinya," jawab Tiara.
"Lebih baik kita tunda bimbingan hari ini, kau pulang saja, kita bisa mengatur jadwalnya lagi?" ucap Rafa.
"Tapi Tiara sudah baik-baik saja Pak, Tiara bisa memulai bimbingannya sekarang!" ucap Tiara.
"Kesehatanmu lebih penting daripada bimbingan skripsi Tiara, pulanglah dan beristirahatlah!" ucap Rafa lalu berjalan pergi begitu saja.
Baru saja Rafa pergi, Kevin tiba-tiba datang menghampiri Tiara yang akan keluar dari klinik.
"Aku tidak sengaja minum kopi tadi pagi, tapi aku sudah baik-baik saja sekarang," jawab Tiara.
"Berhentilah minum kopi Tiara, minum kopi tidak akan membuatmu melupakan kak Bima!" ucap Kevin.
"Apa maksudmu, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kak Bima!" balas Tiara kesal.
"Lalu apa yang membuatmu minum kopi padahal kau tahu kau tidak bisa minum kopi?"
"Aku sudah bilang aku tidak sengaja Kevin, berhentilah menceramahiku!" ucap Tiara lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Kevin namun Kevin berlari kecil sampai dia berada di samping Tiara.
"Satu fakultas sedang membicarakanmu saat ini," ucap Kevin.
"Membicarakanku? kenapa?" tanya Tiara tak mengerti.
__ADS_1
Kevin kemudian memberikan memperlihatkan sebuah video pada Tiara. Tiara begitu terkejut saat melihat video yang ada di ponsel Kevin video dimana dirinya tengah dibopong oleh Rafa di depan semua mahasiswa dan mahasiswi di fakultasnya.
"Sepertinya kau atau pak Rafa akan mendapat masalah jika video ini sampai di tangan dekan, apalagi jika sudah sampai tersebar di seluruh kampus, bisa jadi rektor akan turun tangan!" ucap Kevin.
"Apa yang membuat video ini menjadi masalah? Pak Rafa menggendongku karena aku pingsan saat itu, aku bahkan tidak menyadari hal itu," ucap Tiara membela diri.
"Mungkin tidak akan terlalu bermasalah padamu, tapi bisa jadi Pak Rafa yang akan mendapat masalah besar karena hal ini," balas Kevin.
"Tapi Pak Rafa hanya membantuku, kenapa dia harus disalahkan?" tanya Tiara tidak setuju.
"Bukan aku yang membuat peraturan dan memutuskan masalah atau tidaknya, lebih jelasnya kau akan tahu beberapa hari lagi dan aku harap kejadian ini tidak mempengaruhi skripsimu!" ucap Kevin lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara yang hanya terdiam di tempatnya berdiri.
"Tidak..... aku tidak boleh membiarkan Pak Rafa mendapat masalah karena aku, Pak Rafa tidak bersalah, justru Pak Rafa sudah membantuku dengan membawaku ke klinik, aku juga tidak bersalah karena aku memang pingsan saat itu," ucap Tiara lalu mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Rafa.
Beberapa kali Tiara menghubungi Rafa namun tidak pernah ada jawaban, tanpa ia tahu Rafa sedang menghadap dekan saat itu.
"Saya tahu apa yang kamu lakukan semata-mata untuk membantu mahasiswimu Rafa, tapi tidak etis rasanya jika melihat dosen menggendong mahasiswinya di depan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya," ucap dekan pada Rafa.
"Kau bisa menghubungi petugas kesehatan jika memang ada keadaan darurat, kau bukan dosen baru di sini Rafa kau pasti tahu hal itu bukan?" lanjutnya yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.
"Maafkan saya pak, saya terlalu panik dan tidak sempat memikirkan hal itu," ucap Rafa.
"Saya pribadi tidak akan memperpanjang masalah ini dan saya hanya bisa membantumu untuk membicarakan hal ini dengan rektor jika sampai masalah ini terdengar oleh rektor, tetapi apapun keputusan rektor nantinya saya tidak bisa membantumu Rafa!"
"Baik Pak saya mengerti, tapi bolehkah saya meminta tolong satu hal pada bapak?"
"Katakan saja, saya pasti akan membantumu jika memang saya bisa!"
"Jika saya harus diberhentikan dari kampus ini, setidaknya biarkan saya menyelesaikan tugas saya sebagai dosen pembimbing Tiara, setelah dia menyelesaikan skripsinya saya akan segera mengundurkan diri secepatnya," ucap Rafa.
"Saya akan memikirkannya, semoga tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu Rafa karena saya tahu bagaimana kemampuanmu di sni dan saya sangat menyayangkan jika sampai kau harus keluar dari kampus ini."
Setelah selesai di sidang oleh dekan fakultas Ekonomi dan Bisnis, Rafa kemudian keluar dari ruangan dekan dengan langkah yang tak bersemangat.
__ADS_1
"tidak biasanya aku gegabah seperti ini," ucap Rafa dalam hati lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Tiara.