
Di dalam ruangan sang papa, Rafa masih berdiri tenang dengan tersenyum melihat keterkejutan sang papa.
"Rafa apa kau serius? apa maksudnya ini? kau tidak sedang bercanda bukan?" tanya papa Rafa setelah membaca surat lamaran pekerjaan dan CV yang baru saja Rafa berikan padanya.
"Tentu saja Rafa serius, apa Rafa harus mengikuti tes terlebih dahulu?" balas Rafa sekaligus bertanya.
Papa Rafa menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya, membawa langkahnya pada Rafa dan memeluk anak satu-satunya itu.
"Papa yakin kau pasti akan melakukan hal ini, terima kasih Rafa, papa percayakan perusahaan ini padamu!" ucap papa Rafa sambil menepuk-nepuk punggung Rafa.
"Terima kasih sudah mempercayai Rafa pa, Rafa akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat papa bangga pada Rafa," balas Rafa sambil memeluk sang papa.
Pada akhirnya Rafa memilih untuk masuk ke perusahaan papanya. Dengan begitu ia bisa berada lebih dekat dengan Tiara agar Putra tidak memiliki lebih banyak kesempatan untuk bisa mendekati Tiara.
Meskipun niat awalnya hanyalah demi Tiara namun Rafa tetap akan melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia tidak ingin keputusan konyolnya itu membuat sang papa kecewa karena sudah mempercayakan perusahaan padanya.
Tentang kafe miliknya, Rafa tetap akan menjalankan kedua kafenya. Rafa meminta seseorang yang dipercayainya untuk membantunya mengurus kedua kafenya, dengan begitu pekerjaannya di kafe akan lebih ringan, membuatnya bisa lebih fokus untuk bekerja di perusahaan sang papa.
"Jadi kapan papa bisa memperkenalkanmu sebagai pengganti papa disini?" tanya papa Rafa setelah mereka berdua duduk.
"Bagaimana jika besok? untuk sekarang masih ada beberapa hal yang harus Rafa selesaikan di kafe," balas Rafa.
"Baiklah, papa akan menyiapkan semuanya, papa juga akan meminta Putra untuk menjadi asisten pribadimu, dia yang akan membantumu untuk....."
"Kenapa harus Putra? Apa tidak ada yang lain pa?" tanya Rafa memotong ucapan sang papa.
"Papa sudah berjanji pada asisten pribadi papa yang sekarang jika kau sudah masuk ke perusahaan ini maka papa akan memindahkannya ke cabang perusahaan yang ada di kota tempat tinggal keluarganya, jadi tidak ada yang menempati posisi asisten pribadi untukmu dan kau tidak mungkin mengerjakan semua pekerjaanmu sendiri tanpa bantuan asisten pribadi," ucap papa Rafa menjelaskan.
"Tapi tidak harus Putra bukan? pasti masih banyak kandidat lain yang bisa menjadi asisten pribadi Rafa, lebih baik Rafa sendiri yang akan menentukan siapa yang akan menjadi asisten pribadi Rafa!" ucap Rafa.
"Ini sudah keputusan papa, kau tidak bisa menolaknya!" balas papa Rafa dengan tegas.
"Tapi pa...."
"Kalian berdua sudah dewasa Rafa, apa tidak bisa kau melupakan pertengkaran kalian di masa lalu? apa tidak bisa kalian berdua menyelesaikannya sebagaimana orang dewasa menyelesaikan masalah mereka?"
Rafa hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, ia benar-benar kesal karena harus bekerja sama dengan Putra secara langsung.
"Keputusan papa sudah bulat, jika kau tidak bisa menerimanya maka kau bisa kembali ke kafemu saja!" ucap papa Rafa yang membuat Rafa hanya bisa menghela nafasnya kasar.
Papanya yang sedari dulu sangat menginginkannya untuk bergabung di perusahaan ini memintanya untuk kembali ke kafe hanya karena dirinya yang tidak ingin jika Putra yang menjadi asisten pribadinya.
Entah kedekatan seperti apa yang dimiliki sang papa dengan Putra, tetapi ia tahu jika papanya memang selalu bersikap baik pada Putra, bahkan tak jarang lebih membela Putra dibanding dirinya, anak satu-satunya.
"Baiklah terserah papa saja, Rafa permisi!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan sang papa dengan kesal.
Putra yang sedang berada di lobby memicingkan matanya memastikan siapa yang ia lihat saat itu.
Seketika raut wajah Putrapun berubah setelah ia memastikan bahwa ia tidak salah mengenali laki-laki yang tengah berjalan melewati meja resepsionis.
"Rafa, kenapa dia ada disini?" tanya Putra pada dirinya sendiri.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Putra berdering, sebuah panggilan dari papa Rafa yang meminta Putra untuk segera menemui papa Rafa di ruangannya.
Setelah menyelesaikan urusannya di lobi Putrapun segera menemui papa Rafa.
"Besok akan menjadi hari bersejarah bagi perusahaan kita Putra!" ucap papa Rafa setelah Putra duduk di hadapannya.
"Hari bersejarah apa maksud Pak Adam?" tanya Putra tidak mengerti.
"Rafa baru saja datang dan dia membawa ini," jawab papa Rafa sambil memberikan amplop coklat yang berisi surat lamaran kerja dan CV milik Rafa.
Putra mengernyitkan keningnya setelah dia membaca isi dari amplop coklat itu.
__ADS_1
"Apa maksudnya Rafa akan bergabung di perusahaan ini?" tanya Putra memastikan.
Papa Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum penuh kebanggaan, karena sudah sejak lama papa Rafa sangat ingin Rafa bergabung dengan perusahaan.
"Kali ini dia tidak hanya bergabung tapi dia juga akan menjadi CEO baru yang akan menggantikanku, kau tahu bukan aku sudah sangat ingin bersantai di rumah, menghabiskan waktu bersama istriku!" ucap papa Rafa.
"Akhirnya Rafa berubah pikiran, tapi apa pak Adam tahu apa yang membuat Rafa tiba-tiba memutuskan untuk masuk ke perusahaan?" tanya Putra.
"Entahlah aku tidak akan terlalu memikirkannya, yang terpenting sekarang aku mempercayakan perusahaan ini padanya dan aku mempercayakanmu untuk membantunya membawa perusahaan ini lebih baik," balas papa Rafa.
"Sebagai direktur pemasaran Putra akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini," ucap Putra.
"Tidak, bukan sebagai direktur pemasaran tetapi sebagai asisten pribadi Rafa," ucap papa Rafa yang membuat Putra begitu terkejut.
"Asisten pribadi Rafa? apa Pak Adam serius?" tanya Putra.
"Tentu saja serius, aku yakin kau dan Rafa pasti bisa bekerja sama dengan baik," jawab papa Rafa.
"Putra mohon maaf sebelumnya, tapi bagaimana mungkin Putra bisa menjadi asisten pribadi Rafa sedangkan Rafa sangat membenci Putra!" ucap Putra.
"Kau pasti bisa, aku yakin kalian bisa membawa perusahaan ini menjadi lebih baik dengan kerjasama yang baik antara kalian berdua," balas papa Rafa tanpa ragu.
"Apa Pak Adam sudah membicarakan hal ini dengan Rafa? apa Rafa menyetujuinya?" tanya Putra yang masih merasa ragu untuk bisa menjadi asisten pribadi Rafa mengingat bagaimana Rafa masih menyimpan dendam padanya.
"Aku sudah memberitahunya dan dia tidak punya pilihan untuk tidak menyetujuinya," jawab papa Rafa.
Putra hanya terdiam ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat itu, ia tidak bisa menolak apa yang sudah papa Rafa putuskan selain karena papa Rafa adalah pemilik perusahaan, papa Rafa juga sudah banyak membantunya jadi tidak mungkin jika Putra tidak menuruti permintaan papa Rafa.
"Apa kau menolak untuk menjadi asisten pribadi Rafa?" tanya papa Rafa.
"Putra tidak mungkin menolaknya Pak, hanya saja sepertinya tidak akan mudah untuk bisa bekerja sama dengan Rafa selagi kita belum menyelesaikan masalah pribadi kita," jawab Putra.
"Kalian sudah bukan anak kecil lagi, kalian adalah dua laki-laki dewasa yang sudah seharusnya menyelesaikan masalah pribadi kalian sejak lama, anggap saja ini adalah langkah awal untuk kalian berdua bisa memulai kembali persahabatan kalian seperti dulu!" ucap papa Rafa.
**
Tiba-tiba salah satu teman Tiara mengeluhkan dadanya sakit dan tak lama kemudian dia pun jatuh pingsan.
Dia segera dibawa ke ruang kesehatan lalu dialihkan ke rumah sakit karena keadaannya yang memburuk.
"Sayang sekali dia harus dibawa ke rumah sakit padahal sebentar lagi dia harus mengikuti meeting untuk membahas tentang iklan produk baru kita," ucap salah satu teman Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia tahu bagaimana temannya itu sangat ingin menjadi bagian dari iklan produk baru mereka, tapi jika kesehatan temannya itu memburuk tidak menutup kemungkinan jika ia akan digantikan oleh orang lain.
Tiara membawa langkahnya memasuki ruangan meeting bersama manajer pemasaran, sutradara dan beberapa orang lainnya yang terlibat dalam project iklan untuk produk baru mereka.
Tak lama setelah mereka berkumpul Putrapun masuk ke ruangan itu, sebagai direktur pemasaran ia juga harus terlibat dalam pertemuan itu.
Setelah beberapa lama membahas tentang iklan produk baru mereka, sutradara meminta untuk mengganti teman Tiara yang sedang sakit saat itu agar proses syuting tidak terhambat jika harus menunggu keadaan teman Tiara membaik.
Putra, manajer pemasaran dan beberapa staf yang lainpun setuju.
"Lalu siapa yang akan menjadi penggantinya? apa mungkin kita melakukan casting lagi?" tanya manajer pemasaran.
"Sepertinya tidak perlu, saya memiliki konsep baru yang sepertinya akan lebih menarik dibanding dengan konsep sebelumnya," jawab sutradara lalu menjelaskan tentang konsep baru yang dimaksud olehnya.
"Jika iklan itu berkonsep keluarga petani yang sederhana bukankah seharusnya kita memiliki model laki-laki dan perempuan?" tanya manajer pemasaran.
"Benar sekali, kita juga membutuhkan satu anak kecil yang akan melengkapi keluarga sederhana yang bahagia ini," jawab sutradara.
"Tapi sepertinya akan sedikit sulit untuk mencari model laki-laki dalam waktu yang singkat seperti ini, bukankah kita tidak punya cukup waktu untuk melakukan casting lagi?" tanya Putra.
"Pak Putra benar, tapi itu tidak akan sulit jika Pak Putra bersedia untuk terlibat dalam iklan ini," jawab sutradara.
"Apa maksudmu aku yang akan menjadi model iklan itu bersama Tiara?" tanya Putra yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh sang sutradara.
__ADS_1
Tiara yang mendengarnya begitu terkejut namun ia tidak memiliki hak untuk menolaknya. Ia hanya khawatir jika ia terlibat satu projek bersama Putra itu akan membuat gosip buruk tentang dirinya dan Putra kembali beredar dan ia khawatir jika hal itu bisa mempengaruhi kredibilitas Putra.
"Bagaimana Pak, apa Pak Putra setuju?" tanya manajer pemasaran pada Putra.
"Kenapa tiba-tiba kau memilihku? apa kau yakin dengan keputusanmu memilihku?" tanya Putra pada sutradara.
"Tentu saja saya yakin, saya sudah melihat beberapa iklan yang dibintangi oleh Pak Putra dan sepertinya iklan untuk produk baru perusahaan ini akan menampilkan wajah baru Pak Putra sebagai petani desa yang sederhana, berbeda dari iklan Pak Putra yang lain," jawab sutradara menjelaskan.
Putra menggangguk anggukkan kepalanya, ia kemudian membawa pandangannya pada yang lainnya untuk meminta pendapat.
"Bagaimana dengan kalian semua? apa kalian setuju?" tanya Putra pada semua orang yang ada disana.
Semua yang ada disanapun berkata setuju terkecuali Tiara yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu," ucap Putra sebelum ia mengakhiri meeting.
Setelah meeting berakhir, semua yang ada dalam ruangan itupun keluar satu persatu termasuk Tiara.
Saat Tiara baru saja kembali ke meja kerjanya, ponselnya berdering sebuah pesan masuk dari Putra.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu tetapi sepertinya kau akan menolak jika aku menemuimu sekarang."
Tiarapun segera membalas pesan Putra.
"Bagaimana jika kak Putra ke rumah saja? Tiara akan menunggu kak Putra di rumah!"
"Baiklah," balas Putra dengan cepat.
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan lewat dari jam kerja yang seharusnya. Tiara yang baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya segera mengemasi barang-barangnya kemudian berjalan keluar dari kantor.
15 menit Tiara berjalan, iapun sampai di depan rumahnya dan mendapati mobil Putra yang terparkir di depan rumahnya.
Melihat Tiara yang datang, Putrapun segera keluar dari mobilnya.
"Apa kak Putra sudah lama menunggu?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Putra.
"Silakan masuk kak!" ucap Tiara sambil membuka kunci gerbangnya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu," balas putra.
Tiara menganggukkan kepalanya, membiarkan Putra menjelaskan tentang apa yang ingin dia katakan.
"Tentang apa yang kita bicarakan saat meeting tadi, apa kau menyetujui konsep baru yang dibicarakan sutradara tadi?" tanya Putra.
"Tiara setuju," jawab Tiara dengan menganggukkan kepalanya.
"Apa kau juga setuju jika aku ikut terlibat dalam iklan itu?" tanya Putra yang khawatir jika Tiara sebenarnya tidak menyetujui hal itu.
"Semua orang yang ada di ruangan meeting setuju, apa boleh jika Tiara tidak sependapat dengan mereka semua?" balas Tiara tanpa menjawab dengan pasti.
"Jika kau tidak menyetujuinya maka aku tidak akan menerimanya, aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman Tiara," ucap Putra.
"Maafkan Tiara kak, Tiara hanya tidak ingin mereka kembali bergosip tentang kak Putra seperti sebelumnya, tapi Tiara juga tahu jika Tiara tidak berhak meminta kak Rafa menolak usul dari sutradara," ucap Tiara.
"Jika itu memang membuatmu tidak nyaman aku akan mencoba mencari solusi yang lain, aku pergi dulu, kau masuk dan beristirahatlah!" ucap Putra lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Tiarapun masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Putra menghilang dari pandangannya. Baru saja Tiara masuk ke dalam kamar, ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari temannya.
"Tiara, apa benar kau dan Pak Putra yang akan menjadi model iklan produk baru kita?" tanya teman Tiara.
"Itu baru usulan dari sutradara, belum ada keputusan apapun dari Pak Putra," jawab Tiara.
"Kau tidak akan menolak bukan jika Pak Putra yang akan menjadi modal iklan bersamamu?"
"Jika aku punya kuasa untuk menolaknya aku pasti menolaknya, karena aku tidak ingin Pak Putra menjadi bahan gunjingan orang lain karena dekat denganku," balas Tiara.
__ADS_1
"Tapi ini masalah pekerjaan Tiara, kau harus profesional, kau harus bisa membedakan masalah pribadi dan masalah pekerjaan, lagi pula ini demi kelancaran iklan produk baru kita, sama sekali tidak ada hubungannya dengan hubunganmu dan Pak Putra!" ucap teman Tiara yang membuat Tiara terdiam memikirkannya.