
Waktu berlalu mengantarkan sinar jingga melukiskan dirinya di ujung langit barat. Tiara sedang berada di lantai dua villa Rafa untuk melihat gambaran indah lukisan sore sang Pencipta.
"Bagaimana perasaanmu sekarang Tiara? apa sudah lebih baik?" tanya Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Jangan berpura-pura baik-baik saja Tiara, bukankah kau sudah berjanji untuk selalu terbuka padaku!" ucap Rafa.
"Maafkan Tiara kak, sepertinya Tiara terlalu merepotkan kak Rafa," ucap Tiara.
"Jangan berkata seperti itu, aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu," balas Rafa.
"Sampai kapan Tiara disini kak? kak Rafa juga tidak mungkin berlama-lama disini bukan?" tanya Tiara.
"Kita pikirkan itu nanti setelah dokter Brian memeriksa keadaanmu," jawab Rafa.
"Kau harus berjanji padaku untuk menceritakan semuanya pada dokter Brian, kau harus terbuka padanya agar dia bisa membantumu mengatasi ketakutanmu," lanjut Rafa.
"Iya kak, Tiara mengerti," balas Tiara.
Rafa tersenyum sambil membelai rambut Tiara dengan lembut. Hatinya terasa sakit saat melihat bekas tamparan di pipi Tiara dan memar kebiruan di leher Tiara.
Tanpa ia sadar ia mengusap pipi Tiara dengan pelan, menyesal karena ia tidak bisa datang sebelum Tiara mendapatkan kekerasan di rumahnya.
"bagaimana bisa kau memaafkan mereka Tiara? bagaimana bisa kau masih mengkhawatirkan mereka yang sudah menyakitimu?" tanya Rafa dalam hati.
"Apa mungkin mereka akan kembali menemui Tiara kak?" tanya Tiara yang membuat Rafa segera mengalihkan tangannya untuk menggenggam tangan Tiara.
"Aku pastikan mereka tidak akan menyakitimu lagi Tiara, jangan khawatir," jawab Rafa.
"Bagaimana cara kak Rafa memastikannya? meskipun Tiara sudah keluar dari rumah tapi kak Bima tetap saja menemukan Tiara dan setelah kejadian kemarin bukan tidak mungkin jika kak Bima akan menemukan Tiara lagi meskipun Tiara sudah tidak bekerja di kafe!"
"Jangan terlalu memikirkannya Tiara, aku akan selalu melindungimu dari mereka yang sudah menyakitimu," balas Rafa.
"Selama ini Mama Laras memang selalu memperlihatkan ketidaksukaannya pada Tiara setelah papa meninggal, Mama Laras memang sering menampar Tiara tapi kemarin rasanya berbeda, raut wajah Mama Laras benar-benar dipenuhi oleh emosi yang terlihat seperti ingin membunuh Tiara," ucap Tiara dengan pandangan kosong mengingat apa yang Mama Laras lakukan padanya.
"Jika ada sesuatu yang buruk terjadi padamu maka yang pertama kali dicari oleh polisi adalah mereka yang ada di rumah itu, tapi aku akan pastikan bahwa mereka tidak akan melakukan sesuatu yang buruk lagi padamu, karena mereka akan benar-benar menyesalinya jika itu terjadi," ucap Rafa.
"Terima kasih kak, Tiara tidak tahu apa yang akan terjadi pada Tiara jika kak Rafa tidak menyelamatkan Tiara waktu itu," ucap Tiara.
"Aku harap takdir akan selalu membawaku padamu, begitu juga denganmu yang selalu terikat denganku," balas Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa.
Tiara tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan, begitu juga Rafa yang memberikan senyumnya pada Tiara lalu membelai lembut rambut Tiara.
"aku janji akan mengembalikan senyummu Tiara, aku janji akan mengembalikan keceriaanmu seperti sebelumnya, aku akan membawakan kebahagiaan yang akan selalu membuatmu tersenyum dengan bahagia," ucap Rafa dalam hati.
Bersama dengan langit yang mulai gelap, Rafa dan Tiara saling menatap dengan semua perasaan yang ada dalam hati mereka. Entah itu sekedar perasaan nyaman atau lebih dari sekedar nyaman.
Saat malam semakin larut Rafapun mengajak Tiara kembali ke kamar. Sama seperti sebelumnya Rafa mengantarkan Tiara masuk ke dalam kamarnya lalu mendudukkan Tiara di tepi ranjang.
"Tidurlah yang nyenyak dan jangan mengkhawatirkan apapun, aku akan selalu ada disini menjaga dan menemanimu," ucap Rafa pada Tiara.
"Terima kasih kak," ucap Tiara lalu membaringkan dirinya di atas ranjang sedangkan Rafa segera menarik selimut untuk Tiara.
Menit demi menit berlalu Tiarapun tampak sudah tertidur dengan nyenyak.
"Aku tidak mengerti kenapa takdir membawaku padamu disaat aku sudah memiliki istri, aku tidak tahu apakah ini bagian dari takdir baik untukku atau takdir yang seharusnya aku hindari, tapi yang aku tahu aku tidak ingin meninggalkanmu, aku ingin selalu ada di sampingmu menjaga dan menemanimu Tiara," ucap Tiara dalam hati sambil membelai lembut rambut Tiara.
Rafa kemudian beranjak lalu membawa langkahnya untuk duduk di sofa yang ada di dekat ranjang Tiara.
Rafapun memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya.
Sebelum pagi datang, Tiara yang nyenyak dalam tidurnya tiba-tiba merasa sesak dalam dadanya. Ia merasa sepasang tangan tengah mencekiknya dengan sangat kuat.
Samar-samar ia melihat raut wajah penuh emosi dari seseorang yang sedang mencekiknya saat itu.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, maka kau juga tidak akan bisa mendapatkannya Tiara," ucap seseorang yang saat itu tengah mencekik Tiara dengan sangat kuat.
Semakin Tiara berusaha melepaskan tangan itu dari lehernya, cengkeraman tangan itu terasa semakin kuat, membuatnya kesakitan dan kesulitan bernafas.
"Aaakkhh..... aaakkhh..... kaaakkk..... raaffaaaa..... aaakkhh....."
Rafa yang samar samar mendengar suara Tiara segera terbangun dari tidurnya dan mendapati Tiara yang tengah terpejam dengan kedua tangannya yang memegang lehernya.
__ADS_1
Rafapun segera menghampiri Tiara lalu mengalihkan kedua tangan Tiara dari lehernya sendiri.
"Tiara bangunlah Tiara!" ucap Rafa berusaha membangunkan Tiara, namun Tiara masih terpejam dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Tiara bangunlah, kau hanya bermimpi Tiara!" ucap Rafa sambil membelai lembut rambut Tiara.
Tiba-tiba kedua mata Tiara terbuka dan menyadari keberadaan Rafa di hadapannya. Tiarapun segera beranjak dari tidurnya lalu memeluk Rafa dengan menangis.
"Tenanglah Ra, kau hanya bermimpi," ucap Rafa sambil memeluk Tiara dengan erat.
"Tiara takut kak, mimpi itu terasa sangat nyata," ucap Tiara dengan nafas terengah-engah di tengah isak nangisnya.
"Itu hanya mimpi Tiara, tidak akan ada yang menyakitimu disini," ucap Rafa sambil mengusap punggung Tiara berusaha untuk menenangkan Tiara.
Rafa kemudian mengambil segelas air ada di meja lalu memberikannya pada Tiara.
Tiarapun meminum air pemberian Rafa sampai habis tak tersisa.
"Kembalilah tidur, pagi masih beberapa jam lagi," ucap Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
"Apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Rafa.
"Tiara tidak tahu kak, tapi Tiara takut untuk kembali tidur, rasanya mimpi itu benar-benar nyata," jawab Tiara sambil memegang lehernya yang seolah masih merasakan kesakitan itu.
"Apa kau mau melihat bintang?" tanya Rafa.
"Melihat bintang? dimana?" balas Tiara bertanya.
Rafa tersenyum lalu beranjak dari ranjang Tiara. Rafa menggeser sofa yang ia gunakan untuk tidur ke arah jendela besar yang ada di kamar itu.
Rafa kemudian membuka tirainya dan terlihatlah hamparan langit luas di hadapannya.
"Kemarilah!" ucap Rafa pada Tiara.
Tiarapun beranjak dari ranjangnya lalu berjalan menghampiri Rafa.
"Waahh ini indah sekali kak," ucap Tiara yang bisa melihat hamparan langit gelap dengan taburan bintang melalui jendela kamarnya.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang lalu duduk di samping Rafa.
Tanpa sadar ia membawa dirinya bersandar pada Rafa, membuat Rafa seketika mengulurkan tangannya untuk membawa Tiara ke dalam dekapannya.
Mereka melewati malam itu dengan duduk berdua di sofa, menatap hamparan gelap langit malam penuh bintang hingga pada akhirnya Tiarapun tertidur dalam dekapan Rafa
"Tidurlah yang nyenyak Tiara, aku akan selalu ada disini untukmu," ucap Rafa sambil membelai rambut Tiara dengan lembut.
Waktupun berlalu, sinar matahari yang baru saja datang menyapa masuk ke dalam kamar melalui kaca jendela yang tirainya terbuka lebar.
Tiara mengernyitkan matanya karena silau dengan cahaya matahari, itu membuatnya dengan perlahan membuka matanya dan menyadari jika dirinya tertidur dalam dekapan Rafa.
Perlahan Tiara mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan yang tengah memeluknya dengan erat. Tak bisa dipungkiri ia merasa begitu nyaman berada di dalam dekapan Rafa, membuatnya enggan untuk beranjak dari duduknya.
Namun sinar matahari yang mengganggu membuat Tiara beranjak dan menutup tirai jendela dihadapannya lalu kembali duduk dalam dekapan Rafa dan memejamkan matanya, menikmati hangat dan nyamannya berada dalam dekapan Rafa.
Menit demi menit berlalu hingga akhirnya Rafapun terbangun dari tidurnya. Ia perlahan menundukkan kepalanya menatap Tiara yang masih terpejam dalam dekapannya.
"kenapa kau bisa secantik ini bahkan saat kau tertidur!" ucap Rafa dalam hati dengan tersenyum.
Tiba-tiba Tiara membuka matanya dan mendongakkan kepalanya menatap Rafa yang saat itu tengah menatapnya.
Merekapun saling menatap untuk beberapa saat lalu saling melemparkan senyum.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
"Tiara sudah bangun dari tadi," jawab Tiara.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Rafa.
"Kak Rafa tertidur pulas tadi dan lagi Tiara masih ingin berada dalam dekapan kakak," jawab Tiara dengan tersenyum malu yang membuat Rafa semakin erat memeluk Tiara.
"Apa kau sudah puas sekarang?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
__ADS_1
Rafapun tersenyum sambil membelai rambut Tiara.
"Tapi kita harus segera bersiap, pagi ini kau harus bertemu dengan dokter Brian," ucap Rafa.
"Baiklah Tiara mandi dulu," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya sedangkan Rafa segera keluar dari kamar Tiara.
Rafa kemudian menghampiri bibi yang sedang memasak di dapur.
"Apa bibi sudah membawa yang Rafa minta?" tanya Rafa pada bibi.
"Sudah Tuan, bibi ambilkan dulu," jawab bibi lalu mengambil sebuah paper bag dan memberikannya pada Rafa.
Semalam Rafa meminta tolong pada bibi untuk membelikannya sepasang baju untuk dirinya dan Tiara.
Karena bibi hanya bekerja di villa itu saat pagi sampai malam, jadi bibi memberikan apa yang Rafa minta saat bibi kembali bekerja di pagi hari.
"Terima kasih Bi," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh bibi.
Saat Rafa akan meninggalkan dapur, ia menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiri bibi.
"Apa tidak ada yang bibi tanyakan pada Rafa? jika ada tanyakan saja agar bibi tidak salah paham," tanya Rafa pada bibi.
"Tidak ada Tuan, tugas bibi disini hanyalah untuk menjaga dan membersihkan villa ini serta melayani tuan dan tamu yang datang kesini," jawab bibi.
"Apapun yang Tuhan Rafa lakukan disini itu bukan sesuatu yang patut bibit pertanyakan karena itu adalah hal pribadi Tuan Rafa dan bibi tidak berhak untuk ikut campur," lanjut bibi.
"Terima kasih sudah memahaminya bi," ucap Rafa yang kembali dibalas anggukan kepala oleh bibi.
Rafa kemudian kembali ke kamar Tiara, mengetuk pintunya beberapa kali untuk memastikan apakah Tiara masih di berada di kamar mandi atau tidak.
Setelah beberapa kali mengetuk dan tidak ada jawaban, Rafapun membuka pintu kamar Tiara lalu menaruh pakaian Tiara di atas ranjang.
"Pakai pakaian yang ada di atas ranjang Tiara, aku sudah menyiapkannya untukmu!" ucap Rafa dari depan pintu kamar mandi.
"Terima kasih kak," balas Tiara dari dalam kamar mandi.
Rafa kemudian keluar dari kamar Tiara untuk mandi dan berganti pakaian di kamar lain. Setelah Tiara dan Rafa selesai mandi dan berganti pakaian merekapun duduk di ruang makan untuk menikmati makanan yang sudah bibi siapkan.
Tak lama setelah mereka selesai makan, dokter Brianpun datang.
"Terima kasih sudah datang dok, maaf sudah membuat dokter Brian jauh-jauh kesini," ucap Rafa pada dokter Brian.
"Santai saja Rafa, kau seperti tidak mengenalku saja," balas dokter Brian.
"Tiara kenalkan, ini dokter Brian yang semalam aku ceritakan padamu," ucap Rafa memperkenalkan dokter Brian pada Tiara.
Setelah Tiara dan dokter Brian berkenalan, Rafapun mengajak mereka berdua masuk ke kamar Tiara untuk memulai konsultasi.
"Tidak bisakah kakak Rafa disini saja?" tanya Tiara yang seolah enggan untuk ditinggal berdua bersama dokter Brian.
"Aku akan menunggumu di depan Tiara, jangan khawatir dokter Brian akan mendengarkan semua ceritamu dengan baik dan akan membantumu mengatasi ketakutanmu," ucap Rafa.
Tiarapun menganggukkan kepalanya dengan pelan tanpa mengatakan apapun. Setelah Rafa keluar dari kamar itu, kini hanya ada Tiara bersama dokter Brian.
Sebelum mempertanyakan lebih jauh tentang masalah yang Tiara hadapi dokter Brian terlebih dulu berbasa-basi agar membuat Tiara nyaman bercerita padanya, hingga akhirnya Tiarapun menceritakan semua kejadian yang ia alami mulai dari saat Mama Laras mencekik lehernya, ia yang tidak bisa menahan ketakutannya dan mimpi buruk yang dialaminya.
"Apa kau pernah mengalami kekerasan seperti itu sebelumnya?" tanya Dokter Brian pada Tiara.
"Mama Laras memang sering membentak dan menampar Tiara, tapi Mama Laras tidak pernah mencekik Tiara seperti itu, Tiara bahkan baru pertama kali melihat raut wajah Mama Laras yang penuh emosi seperti saat itu," jawab Tiara menjelaskan.
Setelah mendengarkan semua cerita Tiara, dokter Brianpun bisa menyimpulkan bahwa Tiara mengalami trauma ringan atas kejadian buruk yang baru saja menimpanya.
Dokter Brian kemudian memanggil Rafa untuk menjelaskan keadaan Tiara pada Rafa.
"Untuk sementara lebih baik dia dijauhkan dari banyak orang, terutama orang-orang yang pernah menyakitinya, ini beberapa resep obat yang harus Tiara konsumsi selama kurang lebih satu bulan, jika Tiara masih merasakan hal yang sama kita bisa bertemu lagi untuk berkonsultasi," ucap dokter Brian di akhir penjelasannya.
"Baik dok, terima kasih," ucap Rafa.
"Kau juga harus lebih sering memberinya memori yang membuatnya bahagia, itu akan lebih cepat membuatnya melupakan kejadian buruk yang menimpanya," ucap dokter Brian yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.
Setelah kepergian dokter Brian, Rafapun mengajak Tiara untuk membeli obat yang sudah diresepkan oleh dokter Brian.
__ADS_1