Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Ulang Tahun Tiara


__ADS_3

Hari hari telah berlalu, setiap detik waktu terlewati tanpa bisa dihentikan. Tiara masih sering bertemu Bima hanya untuk bimbingan skripsi karena bagaimanapun juga Bima adalah dosen pembimbingnya.


Meski begitu, Tiara masih sering mengerjakan skripsinya bersama Rafa agar ia tidak perlu terlalu lama menghabiskan waktunya bersama Bima.


Bima yang dulu menjadi sosok laki laki yang diidamkan oleh Tiara, kini tak lebih hanyalah seorang dosen baginya. Tak ada lagi harapan untuk bisa menjalin hubungan ataupun sekedar dekat dengan Bima lebih dari sekedar mahasiswi dan dosen.


Meskipun sejak dulu hubungan mereka berdua sangat dekat, tapi takdir seolah memberikan jarak agar Tiara mulai melangkah mundur dari kedekatan mereka berdua.


Tiara tidak ingin kembali hanyut dalam kesalahan yang pernah ia lakukan bersama Bima. Sebagai seseorang yang sudah mulai tumbuh dewasa, Tiara ingin menjaga hatinya agar tidak mudah jatuh cinta.


Meski begitu, jauh dalam hatinya ia menyayangkan hubungannya dengan Bima yang harus berakhir dengan tidak baik, mengingat bagaimana dekatnya mereka sejak dulu.


Namun ia tidak akan memberikan celah pada dirinya sendiri untuk menerima Bima kembali dalam hidupnya, karena cinta pertamanya itu sudah memberikan luka yang teramat dalam di hatinya.


Kini, dengan kehidupan barunya sebagai waiters dan mahasiswi, ia menyibukkan dirinya bersama teman teman barunya.


Semua masalah yang sempat melemahkan dan menjatuhkannya seolah sudah memudar seiring dengan berjalan waktu.


Meski masih saja terlintas kerinduannya akan kehangatan keluarga, teman temannya di kafelah yang bisa memberinya kehangatan yang ia rindukan.


Teman teman yang saling peduli satu sama lain, teman teman yang sudah menganggapnya seperti keluarga dan Rafa yang selalu bersikap dewasa seperti kakak yang selalu menjaganya.


Semua itu terasa sempurna bagi Tiara di saat Tiara membutuhkan dukungan dalam kehidupannya yang sedang terpuruk.


Kini, ia hanya harus fokus dengan skripsinya yang sebentar lagi akan selesai. Setelah sidang dan wisuda Tiara akan melanjutkan langkahnya untuk mencapai mimpinya.


Sebuah perusahaan besar yang menjadi tujuannya harus bisa ia raih meskipun ia tau itu tidak akan mudah baginya.


Tiara tidak akan menyerah dengan mimpinya. Kehidupan barunya di luar rumah tanpa mama dan papanya membuatnya harus bisa menjadi seseorang yang lebih kuat dan tangguh.


Tentang siapa yang akan menjadi masa depannya nanti, ia tidak terlalu memikirkannya karena baginya kehidupannya yang sekarang sudah lebih dari cukup untuknya.


Dari semua orang yang ada di dekatnya saat ini, hanya ada satu nama yang selalu ia sebut saat ia berkunjung ke makam mama dan papanya.


Rafa, dia adalah satu satunya nama yang tak pernah ia lupakan saat ia menceritakan hari harinya di atas makam mama dan papanya.


Rafa tidak hanya menempati posisinya sebagai atasan bagi Tiara, tapi Rafa juga seperti kakak dan teman baik bagi Tiara.


Kedewasaan dan perhatian Rafa padanya membuatnya sesekali merasakan degupan kencang dalam dadanya.


Tapi Tiara tidak terlalu memikirkannya karena ia tau perhatian Rafa tidak hanya untuknya, tapi juga untuk semua karyawannya yang berada di kafe.


Laki laki yang usianya 5 tahun di atas Tiara itu memang pandai membuat para karyawannya betah bekerja di kafe. Tidak hanya karena ketampanannya yang selalu dipuja oleh Chika dan yang lain, tapi juga karena sikap Rafa yang selalu memperhatikan mereka semua.


Hal itulah yang membuat Tiara tidak ingin merasakan lebih jauh degupan dalam dadanya saat ia bersama Rafa.


Di sisi lain, hubungannya dengan Bima juga membuatnya enggan untuk menjalin hubungan baru dengan laki laki lain.


Tiara bahkan seolah menutup hatinya untuk siapapun, karena ia tidak ingin kembali dikecewakan oleh cinta yang selama ini selalu ia puja.


**


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara terus berdering saat Tiara masih tertidur pulas. Namun karena suara ponselnya yang cukup mengganggu, Tiarapun dengan kesal terbangun dari tidurnya lalu mengambil ponselnya yang ada di meja.


"Kevin? ada apa? ini bahkan masih jam 12 tengah malam, awas saja jika kau hanya ingin menggangguku!" gerutu Tiara lalu menggeser tanda panah hijau di ponselnya.


"Kevin, kau....."


"Happy birthday Tiara," ucap Kevin sebelum Tiara memarahinya.


Tiara yang mendengar ucapan selamat ulang tahun seketika terdiam dan tersenyum. Kekesalannya seketika musnah begitu saja saat mendengar Kevin menguapkan selamat ulang tahun padanya.


Kesibukannya sebagai waiters dan mahasiswi yang dikejar skripsi membuatnya lupa pada hari ulang tahunnya sendiri.


"Selamat ulang tahun Ra, semoga semua cita cita dan harapanmu bisa segera terwujud," ucap Kevin.


"Terima kasih Kevin, terima kasih juga sudah mengingatkan hari ulang tahunku," ucap Tiara.


"Aku tidak pernah melupakannya Ra, besok pagi hadiahku untukmu akan datang, aku minta maaf karena tidak bisa menemuimu besok," ucap Kevin.


"Padahal aku lebih berharap kalau kau datang, memangnya ada sesuatu yang sangat penting daripada aku?" tanya Tiara berpura pura kesal.

__ADS_1


"Pagi nanti aku akan pergi ke luar kota untuk menemui papa Bella, aku tidak bisa menolaknya karena papa Bella sendiri yang memintaku untuk datang bersama Bella," jawab Kevin.


"Waaahhh..... sepertinya kau mendapat lampu hijau dari keluarga Bella," ucap Tiara.


"Bella memberi tahu papanya jika skripsi yang aku kerjakan berhubungan dengan pekerjaan papanya, jadi papanya berniat untuk membantuku, itu yang membuatku tidak bisa menolaknya," balas Kevin menjelaskan.


"Baguslah kalau begitu, aku senang jika hubunganmu dengan Bella dan keluarganya semakin baik," ucap Tiara.


"Kau tidak akan marah bukan? aku benar benar minta maaf Ra!"


"Tenang saja, bukankah pagi nanti kado darimu sudah datang? hehehe....."


"Iya, aku sudah pastikan pagi nanti hadiah dariku pasti akan sampai di tempat tinggalmu," balas Kevin.


"Aku akan segera menemuimu setelah aku pulang dari luar kota, aku janji!" lanjut Kevin.


"Santai saja, nikmati waktumu bersama Bella dan papanya," balas Tiara.


"Kau memang teman yang baik," ucap Kevin.


"Tentu saja, tidak ada yang lebih baik dari aku hehehe....."


"Kau benar sekali, sekarang lanjutkan tidurmu dan sekali lagi selamat ulang tahun Tiara, jangan pernah merasa sendiri karena banyak orang yang menyayangimu di sampingmu," ucap Kevin.


"Iya, terima kasih Kevin," balas Tiara.


Sambungan berakhir. Tiara tersenyum sambil melihat fotonya bersama mama dan papanya yang tersimpan di ponselnya.


"Terima kasih sudah memberikan Tiara kasih sayang yang sangat berlimpah ma, pa, Tiara bahkan masih bisa merasakan kasih sayang mama dan papa sampai saat ini," ucap Tiara lalu menaruh ponselnya di atas meja kemudian membaringkan dirinya di dalam selimut.


"Selamat ulang tahun Tiara, semoga akan banyak hal baik yang terjadi di usia yang baru ini, semangat Tiara," ucap Tiara menyemangati dirinya sendiri.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat Tiara baru saja mengerjapkan matanya.


Ia sengaja bangun terlambat karena hari itu adalah hari Minggu. Baginya hari Minggu adalah hari santainya karena ia tidak harus bekerja dan mengerjakan skripsi apa lagi bimbingan skripsi.


"Selamat pagi Tiara yang semakin dewasa," ucap Tiara pada dirinya sendiri dengan tersenyum lebar.


Tiara kemudian beranjak dari ranjangnya untuk mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Tiara menyisir rambutnya di depan cermin besar sambil menyelipkan jepit rambut diantara rambut panjangnya.


Suara ketukan pintu membuat Tiara segera membuka pintu kamarnya.


"Ada paket untukmu Ra!" ucap Chika sambil memberikan sebuah paket yang cukup besar pada Tiara.


"Waaahhh akhirnya datang, terima kasih Chika!" ucap Tiara dengan penuh senyum.


"Kau terlihat rapi sekali, apa kau akan pergi hari ini?" tanya Chika yang melihat Tiara tampak rapi.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Tidak biasanya kau menggerai rambutmu dan memakai hiasan rambut seperti itu, apa jangan jangan kau mau berkencan?" tanya Chika penuh selidik.


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin bertemu orangtuaku," jawab Tiara.


"Baiklah, nikmati waktumu!" ucap Chika lalu berjalan pergi sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Tiara kemudian membuka paket dari Kevin. Meskipun terlihat besar, ternyata di dalam paket itu terdapat beberapa paket yang lebih kecil, membuat Tiara sempat kesal saat membukanya satu per satu, hingga akhirnya paket terakhirpun terbuka.


Tiara begitu senang saat melihat sepasang sepatu yang selama ini ia inginkan.


"Aahh Kevin, kau selalu tau apa yang aku inginkan," ucap Tiara senang sambil mengenakan sepatu barunya.


"Pas sekali, cocok dengan pakaianku hari ini," ucap Tiara sambil berputar di hadapan cermin.


Tiara kemudian merapikan kamarnya yang sempat berantakan karena paket dari Kevin lalu segera berjalan keluar dari kamarnya.


Tak lupa Tiara mengirimkan pesan pada Kevin untuk berterima kasih atas hadiah yang ia terima.


Tiara kemudian menaiki bus yang membawanya ke makam mama dan papanya. Seperti biasa, sesampainya disana Tiara banyak bercerita, bahkan sesekali ia tampak tertawa meski kedua matanya berkaca-kaca.


Tak dapat dipungkiri rasa rindu pada kedua orangtuanya masih saja ada meskipun sudah lama kedua orangtuanya meninggal.


Meski begitu, Tiara akan selalu berusaha untuk tetap ceria karena ia selalu beranggapan bahwa kedua orangtuanya selalu melihatnya dan akan bersedih jika melihatnya bersedih.


Setelah puas menceritakan banyak hal, Tiarapun beranjak dan berjalan keluar dari makam.

__ADS_1


Tanpa Tiara tau, seseorang sedari tadi memperhatikan Tiara dari samping gundukan makam yang baru saja ditaburi bunga.


"Sudah aku duga, kau pasti kesini," ucap Rafa pelan.


Rafa kemudian membawa langkahnya keluar dari makam lalu masuk ke mobilnya dan mengendarainya ke arah halte dimana Tiara biasa menunggu bus disana.


Rafapun menghentikan mobilnya tepat di depan Tiara lalu menurunkan kaca mobilnya.


"Tiara, masuklah!" ucap Rafa pada Tiara.


"Kak Rafa, kenapa kak Rafa ada disini?" tanya Tiara yang berjalan mendekati mobil Rafa.


"Ini jalanan umum, apa aku tidak boleh ada disini? cepat masuk sebelum aku kena tilang karena berhenti disini," balas Rafa yang membuat Tiara segera masuk dan duduk di samping Rafa.


"Kemana kau akan pergi? aku akan mengantarmu," tanya Rafa.


"Tiara akan pulang kak," jawab Tiara.


"Baiklah," ucap Rafa lalu mengendarai mobilnya, bukan untuk mengantar Tiara pulang, melainkan membawa Tiara ke kafe.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Tiarapun menyadari bahwa Rafa tidak mengantarnya pulang.


"Kenapa kita ke kafe kak? apa kafe akan buka hari ini?" tanya Tiara.


"Turun dan masuklah, aku akan memarkir mobil terlebih dahulu," ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Tiara.


Tiarapun turun dari mobil Rafa. Saat Tiara akan membuka pintu kafe dengan kunci miliknya, ia begitu terkejut karena kafe tidak sedang terkunci saat itu.


"Ada apa Ra? kenapa kau terlihat panik?" tanya Rafa yang sudah berdiri di belakang Tiara.


"Kak.... sepertinya.... ada maling, Tiara...."


"Tidak ada, masuklah," ucap Rafa memotong ucapan Tiara lalu membuka pintu kafe agar Tiara masuk.


"Tapi kak....."


"SURPRISE..............!!!!!!" teriak semua yang ada di dalam kafe yang membuat Tiara begitu terkejut.


Ternyata disana sudah ada Chika, Ana dan semua karyawan kafe lainnya. Mereka meniupkan terompet dan melemparkan konfeti ke arah Tiara yang baru saja masuk ke dalam kafe.


Tiarapun hanya bisa terdiam dengan keterkejutannya tanpa bisa berkata kata lagi.


"Selamat ulang tahun Tiara," ucap Chika sambil memeluk Tiara diikuti oleh Ana dan teman temannya yang lain.


"Aku tidak tau harus berkata apa selain berterima kasih pada kalian semua," ucap Tiara gugup karena ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat kejutan dari teman teman yang baru dikenalnya.


Mereka semuapun mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil membawa sebuah kue di lengkapi dengan lilin lilin kecil di atasnya.


Tiarapun mulai mengucapakan harapannya dalam hati lalu meniup lilin lilin di atas kue ulang tahunnya.


"Semoga semua harapanmu tercapai Tiara," ucap Rafa pada Tiara.


"Terima kasih pak Rafa," balas Tiara.


"Kau harus berterima kasih pada Chika, karena ini adalah idenya," ucap Rafa.


"Aku hanya memberi ide tapi ini semua pak Rafa yang menyiapkan," ucap Chika.


"Apapun itu, kalian semua sudah memberikan hadiah terindah di ulang tahunku kali ini, jadi aku sangat berterima kasih," ucap Tiara yang langsung mendapat pelukan dari semua teman temannya.


Tiarapun hanya bisa terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca penuh haru. Sedangkan Rafa hanya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Tiara.


Mereka kemudian menikmati makanan dan minuman yang sudah Rafa pesan dari restoran.


Waktupun berlalu, pesta kejutan ulang tahun Tiarapun sukses dilaksanakan. Mereka berhasil membuat Tiara tidak mampu membendung air mata kebahagiaannya saat itu.


Orang orang baru yang ia temui nyatanya benar benar tulus padanya, membuat sangat bersyukur karena bisa menjadi bagian dari kafe milik Rafa.


Saat Tiara dan yang lainnya baru saja sampai di rumah tempat mereka tinggal, sudah ada sebuah paket besar yang bertuliskan nama Tiara disana.


Tiara bahkan harus dibantu Chika dan yang lainnya untuk bisa mengangkat paket itu masuk ke kamar Tiara.


Tiara kemudian membuka paket itu dan begitu terkejut saat melihat isinya. Ada banyak album EXO dan lighstick EXO dari versi pertama sampai versi ketiga.


Selain itu ada sangat banyak photo card official juga di dalamnya serta perintilan lain yang berhubungan dengan EXO.


Tiara kemudian melihat sebuah kertas kecil di bagian paling bawah paket itu.

__ADS_1


"Apa ini sudah cukup membuatmu yakin tentang janjiku padamu?"


__ADS_2