
*Flashback sebelum Gita membuka pintu kamar Tiara*
"Ternyata udara malam disini sangat dingin ya Bi," ucap Gita pada bibi.
"Iya non, sebaiknya Gita kembali ke villa, udara malam disini sepertinya tidak baik untuk bayi dalam kandungan non Gita."
"Tapi Gita ingin berjalan-jalan Bi," ucap Gita menolak untuk kembali ke villa.
"Lebih baik non Gita berjalan-jalan besok pagi bersama Tuan Bima dan non Tiara, kasihan bayi dalam kandungan non Gita jika non Gita memaksakan untuk berjalan-jalan malam hari seperti ini," ucap bibi mengingatkan.
"Aahhh iya bibi benar, kalau begitu Gita kembali ke villa dulu ya Bi!"
"Iya non hati-hati."
Gitapun berjalan kembali ke villa dan tidak mendapati Bima di halaman villa.
Gita kemudian berjalan masuk ke dalam villa dan tanpa ragu membuka pintu kamarnya, ia bahkan sampai membuka pintu kamar mandinya karena berpikir jika Bima ada di dalam.
"Kemana Bima? tidak mungkin dia di kamar Tiara bukan?" tanya Gita pada dirinya sendiri sambil membawa langkahnya dengan ragu untuk menaiki tangga ke arah kamar Tiara.
"Kita nikmati kebersamaan singkat kita ini Tiara."
Gita terdiam terpaku di depan kamar Tiara setelah ia mendengar suara Bima dari dalam kamar Tiara. Darahnya seolah mendidih menahan emosi dalam dirinya, membuatnya segera membuka dengan kasar pintu kamar Tiara.
*Flashback off*
"Kalian benar-benar menjijikkan!" ucap Gita penuh emosi lalu berlari menuruni tangga dengan diikuti oleh Bima.
Sedangkan Tiara segera beranjak dari ranjangnya, ia bingung apa yang harus ia lakukan saat itu.
Namun pada akhirnya Tiarapun keluar dari kamarnya berniat untuk menemui Gita dan menjelaskan semuanya pada Gita.
Saat Tiara sudah berada di depan kamar Gita, Tiara masih ragu untuk mengetuk kamar Gita.
__ADS_1
"Dengarkan aku dulu, aku tidak melakukan apa-apa padanya, aku hanya....."
"Berhentilah membodohiku Bima, apa kau pikir selama ini aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan dengan Tiara?" ucap Gita memotong ucapan Bima yang membuat Bima begitu terkejut, begitupun dengan Tiara yang mendengar ucapan Gita dari depan pintu kamarnya.
"Apa maksudmu? kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Bima.
"Aku tahu semua yang kau lakukan di belakangku Bima, aku tahu apa yang kau lakukan dengan Tiara bahkan sebelum pernikahan kita, jika kau memang mencintainya kenapa kau tidak menikahinya, kenapa kau harus menikahiku padahal kau mencintainya!"
"Aku juga tidak mencintai Tiara, aku hanya bermain-main dengannya karena aku tahu dia selama ini mencintaiku, semua yang aku lakukan dengannya hanyalah untuk kesenanganku, tolong percayalah padaku!" ucap Bima yang membuat Tiara yang mendengarnya begitu terkejut.
"Pada awalnya aku juga tidak mencintaimu Bima, itu kenapa aku tidak peduli pada hubunganmu dengan Tiara, tapi setelah aku mengandung bayi ini aku selalu memikirkan hal itu, aku tidak ingin kehilanganmu karena aku merasa aku sudah mencintaimu," ucap Gita dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku Gita, maaf sudah melukai hatimu," ucap Bima dengan menghapus air mata yang sudah menetes di pipi Gita.
"Tolong akhiri hubunganmu dengan Tiara, tolong selesaikan hubungan kalian berdua, aku sedang mengandung anak kita sekarang, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anak kita karena hubunganmu dengan Tiara yang sangat menyakiti hatiku," ucap Gita.
"Baiklah, aku akan mengakhiri hubunganku dengan Tiara demi bayi kita, maafkan aku dan tolong jangan pernah menceritakan masalah ini pada siapapun karena jika keluargaku tahu tentang hal ini mereka pasti akan menghambatku untuk menjadi pimpinan di anak perusahaan papa," ucap Bima.
"Apa aku bisa mempercayaimu saat ini?" tanya Gita meragukan Bima.
Di sisi lain Tiara yang ada di depan kamar Gita hanya bisa menangis dalam diam mendengar semua yang Bima dan Gita bicarakan.
Hatinya yang sudah terluka semakin tersayat dengan dalam saat ia mendengar fakta bahwa Bima tidak benar-benar mencintainya.
Tiarapun berjalan ke arah kamarnya lalu mengemasi semua barang-barangnya dan keluar meninggalkan villa malam itu juga.
Dengan langkah yang penuh luka bersama hatinya yang hancur, Tiara berjalan menyusuri malam dengan rasa sakit yang begitu menyesakkan dadanya.
Ia bahkan tidak bisa menahan tetesan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya, membuatnya terisak diantara gelapnya malam berselimut hawa dingin yang seolah membekukan kesakitannya.
Hingga pada satu titik Tiara tidak mampu lagi membawa langkahnya untuk terus berjalan, ia jatuh terduduk di pinggir jalan dengan menangis terisak dan memeluk kedua kakinya yang ditekuk.
"mama, papa maafkan Tiara.... rasanya benar-benar sangat menyesakkan...... rasanya benar-benar sangat menyakitkan ma pa," ucap Tiara dalam hati dengan terisak.
__ADS_1
Di bawah hamparan bintang di langit malam, Tiara menikmati setiap luka yang menyayat hatinya dengan sangat dalam.
Perih dan pedih seolah menyusup ke setiap sudut ruang hatinya yang sudah dipenuhi luka oleh cinta yang selalu ia banggakan selama ini.
Untuk sesaat saja cinta yang tersimpan dalam hatinya mampu memberinya begitu banyak kebahagiaan, namun takdir dengan cepat merubah kebahagiaan itu menjadi rasa sakit yang menghimpit dadanya, menyisakan luka yang melemahkan dirinya.
Tiara kemudian merogoh tasnya untuk mencari ponselnya dan dengan bodohnya dia baru tersadar bahwa ia meninggalkan ponselnya di kamarnya.
Tiarapun semakin menangis kesal pada dirinya sendiri yang selalu saja ceroboh bahkan di saat-saat seperti itu.
Malam terasa sangat panjang bagi Tiara yang hanya duduk berselimut luka yang membeku di hatinya.
Setelah cukup lama menangis, Tiarapun mulai berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ia selalu mengingat kedua orang tuanya setiap ia merasa bersedih, karena hanya kedua orang tuanyalah yang bisa membuatnya kuat dalam menjalani semua takdir hidupnya.
Setelah dirasa ia sudah mempunyai cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanannya, Tiarapun segera beranjak dan kembali berjalan tanpa ia tahu kemana tujuannya.
Karena masih terlalu kalut dengan apa yang baru saja terjadi padanya, tanpa Tiara sadar ia berjalan melewati batas trotoar dan tiba-tiba.....
CCKKIIIIIIIIITTTTTTTTT
Sebuah mobil hampir saja menabrak Tiara jika si pengemudi tidak dengan cepat menginjak remnya.
Karena Tiara yang tiba-tiba berada di tengah jalan, badan mobil itu sedikit mengenai Tiara membuat Tiara terjatuh tepat di hadapan mobil itu.
Si pemilik mobil dengan cepat keluar dari mobilnya lalu menghampiri Tiara.
"Apa yang kau lakukan? apa kau tidak punya mata?" tanya seorang perempuan pengemudi mobil yang hampir saja menabrak Tiara.
"Maafkan saya," balas Tiara sambil menundukkan kepalanya dengan posisinya yang masih terduduk di jalan raya.
"Minggirlah, kau hampir membuat mobilku lecet!" ucap perempuan itu sambil mendorong tubuh Tiara, membuat Tiara semakin jatuh tersungkur.
__ADS_1
Perempuan itupun segera kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi meninggalkan Tiara yang masih tersungkur di tepi jalan raya.