Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Hari Pertama


__ADS_3

Di rumah Rafa.


Rafa baru saja keluar dari mobilnya setelah ia sampai di rumahnya. Hari itu ia menghabiskan waktunya di luar rumah, namun ia sama sekali tidak pergi ke kafe untuk menghindari Tiara yang hari itu meninggalkan kafe.


Ia merasa lebih baik jika tidak melihat Tiara pergi dari kafenya, karena itu akan semakin membuatnya merasa berat untuk membiarkan Tiara pergi.


Dengan langkah yang tak bersemangat Rafa berjalan masuk ke dalam rumahnya. Rafa begitu terkejut saat ia membuka pintu kamarnya karena sudah ada banyak barang-barang asing yang tergeletak di meja dan lantai kamarnya.


Saat Rafa baru saja membalikkan badannya sudah ada Maya yang berdiri di belakangnya.


"Kenapa? apa kau akan mengusirku dari kamarmu?" tanya Maya yang melihat raut keterkejutan Rafa.


"Aku lupa jika orang tuamu kesini," ucap Rafa lalu masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Maya.


"Mama dan papa sudah sampai di sini sejak kemarin, tapi kau bahkan tidak di rumah sejak Mama dan papa datang," ucap Maya.


"Dimana mereka sekarang?" tanya Rafa.


"Sedang berkunjung ke rumah orang tuamu, mungkin sebentar lagi akan kembali," jawab Maya.


"Kemana kau pergi semalam? kenapa kau tidak pulang?" tanya Maya.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu padaku? bukankah itu menjadi urusan kita masing-masing? aku bahkan tidak pernah menanyakan padamu kemana dan siapa laki laki yang bersamamu di hotel," balas Rafa yang membuat Maya begitu terkejut.


"Sudah kubilang dia hanya temanku, dia meminta tolong padaku untuk membantu menyelesaikan masalahnya," ucap Maya.


"Aku tidak peduli apapun alasanmu, siapapun dia dan apa hubunganmu dengannya aku tidak mau tahu," balas Rafa.


"Tapi setidaknya hargai orang tuaku, tidak bisakah kau bersikap baik pada mereka?" ucap Maya sekaligus bertanya.


"Seharusnya kau menanyakan hal itu pada mamamu, karena pernikahan ini tidak akan terjadi jika mamamu tidak meminta mamaku untuk menikahimu," balas Rafa yang membuat Maya terdiam.


"Keluarlah, aku sedang ingin sendiri saat ini!" ucap Rafa.


Mayapun membawa langkahnya keluar dari kamar Rafa, sedangkan Rafa segera menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.


Rafa memejamkan matanya dengan memijit keningnya yang terasa pusing.


Ia tidak tahu bagaimana caranya agar ia bisa terlepas dari pernikahan palsunya karena tidak mungkin baginya untuk terus melanjutkan pernikahan yang hanya didasari oleh paksaan dan kebohongan.


Tanpa ia sadar ada sesuatu dalam hatinya yang menginginkannya terlepas dari pernikahan palsunya. Sesuatu yang sejak dulu tidak pernah dirasakan oleh hatinya namun sekarang perlahan menggerayangi setiap inci relung hatinya.


"Sampai kapan Rafa harus terus seperti ini ma? tidak bisakah Rafa melepaskan Maya?" tanya Rafa dalam hati dengan masih memejamkan matanya.


Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mamanya jika ia terlalu gegabah untuk mengakhiri pernikahannya dengan Maya, karena ia tahu bagaimana sang Mama sangat berharap pada pernikahannya dengan Maya.


Jika dulu Rafa tidak pernah memikirkan kehidupan pernikahannya, maka sekarang hal itu memenuhi kepalanya. Bagaimana cara agar ia bisa mengakhiri pernikahannya dengan Maya selalu menghantui pikirannya.


Namun semakin ia memikirkannya semakin ia menemukan jalan buntu karena pada akhirnya ia merasa tidak ada yang bisa ia lakukan, karena ia begitu menyayangi sang mama dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Mama yang sangat disayanginya.


**


Hari baru bagi Tiara telah tiba. Dengan celana panjang, kemeja putih dan blazer hitam Tiara berjalan keluar dari kosnya dengan menenteng tas kerjanya.


Tiara membawa langkahnya dengan penuh semangat ke arah tempat kerjanya, sebuah perusahaan besar yang sudah lama ia incar dan menjadi bagian dari mimpi masa depannya.


Gedung tinggi perusahaan besar itu bahkan terlihat dari depan gang kecil yang ada di depan kos Tiara.


Degup jantung Tiara berjalan beriringan dengan suara sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi. Angin semilir bersama cahaya matahari menemani langkahnya sampai ia tiba di depan gedung tinggi perusahaan X.


Dengan senyum penuh semangat Tiara berjalan ke arah lobi dan menghampiri resepsionis untuk mengambil name tag miliknya.


Setelah mengalungkan name tag itu di lehernya, Tiara membawa langkahnya memasuki lift yang akan membawanya ke lantai 5 tempatnya bekerja.


Saat pintu lift hampir saja tertutup seseorang berlari dan mencegah pintu lift tertutup menggunakan tangannya lalu segera masuk ke dalam lift.


"Tiara!" ucap Dita yang begitu terkejut karena melihat Tiara saat ia memasuki lift.


Belum sempat lift tertutup, lagi-lagi seseorang masuk ke dalam lift dengan cepat. Melihat Tiara yang ada di dalam lift, seseorang itu memamerkan senyumnya tanpa ragu.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak," sapa Tiara dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Selamat pagi, selamat datang di perusahaan X," balas Putra yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena merasa senang melihat Tiara yang akhirnya berhasil menjadi bagian dari perusahaan tempatnya bekerja.


Dita yang berada disana hanya terdiam bersama keterkejutannya yang masih tidak percaya karena Tiara kini ada bersamanya.


TRIIIING


Pintu lift terbuka, Tiara dan Dita keluar dari lift meninggalkan Putra yang masih berada di dalam lift karena mereka bekerja di lantai yang berbeda.


"Kau pasti terkejut bukan?" tanya Tiara pada Dita.


"Kenapa kau bisa ada disini? bukankah kau dinyatakan tidak lolos karena kau pingsan sebelum menyelesaikan interview?" balas Dita bertanya.


"Kau benar, aku memang sempat dinyatakan tidak lolos, tetapi aku mendapatkan kesempatan kedua untuk mengerjakan tes terakhir dan akhirnya aku ada disini, bersamamu," ucap Tiara dengan tersenyum senang.


"Kesempatan kedua? bagaimana bisa? bukankah sudah ada keputusan akhir yang menyatakan Tiara tidak lolos? apa mungkin pak Putra yang membantu Tiara untuk mendapatkan kesempatan kedua?" batin Dita bertanya dalam hati.


"Kenapa kau hanya diam? apa kau tidak senang bekerja bersamaku?" tanya Tiara yang melihat Dita hanya terdiam tanpa mengucapkan apapun.


"Aku senang.... sangat senang, aku hanya terkejut saja karena tidak menyangka jika kau akan beruntung mendapatkan kesempatan kedua, lalu dimana kau akan ditempatkan? karena aku sudah menempati divisi pemasaran terlebih dahulu," balas Dita.


"Entahlah, aku belum diberitahu tentang hal itu, mungkin saja kita berdua bisa diterima di divisi pemasaran," ucap Tiara.


"Tapi bukankah mereka hanya akan menerima satu pekerja baru pada tiap divisi?" tanya Dita.


"Iya apa benar, kita lihat saja nanti dimana aku akan ditempatkan, aku akan menerima dimanapun aku ditempatkan karena tujuanku yang utama adalah menjadi bagian dari perusahaan ini," ucap Tiara.


Dita hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum canggung, entah kenapa kedatangan Tiara seperti sebuah ancaman baginya.


Tiara dan Ditapun berkumpul di ruangan divisi pemasaran. Manajer pemasaran kemudian memberikan pengumuman tentang kedatangan Tiara dan Dita sebagai pekerja baru yang ada di perusahaan X.


Pada awalnya Dita memang diterima di divisi pemasaran, namun saat manajer pemasaran melihat hasil tes Tiara Ditapun mulai tersingkir.


Manajer pemasaran memutuskan untuk memilih Tiara sebagai bagian dari divisi pemasaran dan memindahkan Dita ke divisi lain.


Hal itu tentu saja membuat Dita begitu terkejut.


"Karena saat itu hanya ada kau yang menjadi kandidatnya, jika divisi pemasaran tidak menerimamu maka tidak ada pekerja baru yang akan masuk ke divisi pemasaran," jawab manajer pemasaran.


"Tapi....."


"Tapi setelah melihat hasil tes Tiara ternyata nilainya jauh di atasmu dan kita semua sepakat untuk memilih Tiara dan memindahkanmu ke divisi lain," ucap manajer pemasaran memotong ucapan Dita.


"Maaf Pak, tidak bisakah Tiara dan Dita bekerja sama di divisi pemasaran? rasanya tidak adil jika Dita tiba-tiba dipindah begitu saja," ucap Tiara.


Manajer pemasaran kemudian membawa pandangannya pada yang lainnya, seolah meminta pendapat pada anggota tim yang ada di divisi pemasaran.


"Saya setuju, setidaknya beri mereka waktu selama 3 bulan percobaan," ucap salah satu dari anggota tim divisi pemasaran.


Setelah berpikir beberapa lama, manajer pemasaranpun membuat keputusan.


"Baiklah, saya tidak akan memindahkan Dita ke divisi lain tapi saya tidak berjanji untuk mempertahankannya di divisi pemasaran, mari kita lihat bagaimana cara kerja dan hasil kerja kalian berdua selama tiga bulan percobaan dan hanya salah satu dari kalianlah yang akan tetap bertahan di divisi pemasaran, sedangkan yang lainnya harus bersedia untuk dipindahkan ke divisi lain!" ucap manager pemasaran memberi keputusan.


"Terima kasih Pak," ucap Tiara senang karena setidaknya ia dan Dita memiliki kesempatan untuk bekerja sama di divisi yang mereka inginkan sejak awal.


Tiara dan Ditapun duduk di tempat kerja mereka masing-masing. Tiara dan Dita duduk bersebelahan bersama dengan anggota divisi pemasaran yang lain.


"Akhirnya kita bisa bekerja sama, mari kita lakukan yang terbaik dan buktikan pada manajer bahwa kita layak untuk berada disini!" ucap Tiara pada Dita.


Dita hanya tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya meski dalam hatinya ia merasa ragu apakah ia bisa tetap berada di divisi pemasaran atau tidak.


"Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku tidak akan dengan mudah melepaskannya, apapun yang terjadi," ucap Dita dalam hati.


Lain halnya dengan Dita yang tampak tidak nyaman dengan keberadaan Tiara, Tiara justru merasa senang karena bisa bekerja sama dengan Dita, teman barunya.


Tiarapun mulai mengerjakan beberapa hal yang diperintahkan oleh atasannya dan beberapa anggota tim yang lain, begitu juga dengan Dita yang saat itu tampak sibuk dengan komputer di hadapannya.


"Tolong fotocopy berkas-berkas ini dan kembalikan padaku setelah kau selesai!" ucap salah seorang anggota tim pada Dita sambil memberikan bertumpuk-tumpuk map pada Dita.

__ADS_1


"Baik kak," balas Dita.


Namun bukannya membawa map itu ke tempat fotocopy, Dita malah memberikan map itu pada Tiara.


"Ini bukan pekerjaanku, untuk apa aku membuang waktuku untuk mengerjakan hal ini!" ucap Dita dalam hati.


"Tolong fotocopy berkas-berkas ini Tiara, aku sedang sibuk dengan pekerjaan yang lain," ucap Dita pada Tiara.


"Oke baiklah," balas Tiara.


Saat Tiara sedang berdiri di depan mesin fotocopy, seseorang menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan disini? bukankah Dita yang seharusnya mengerjakannya?" tanyanya pada Tiara.


"Dita masih mengerjakan pekerjaannya kak, kebetulan Tiara senggang jadi Tiara yang melakukannya," jawab Tiara.


"Ooh baiklah kalau begitu," ucapnya lalu pergi meninggalkan Tiara.


Waktupun berlalu, jam makan siang tiba. Tiara berjalan ke arah kantin bersama Dita, mereka membicarakan banyak hal sambil sesekali bercanda.


"Kau cari tempat duduk saja, aku yang akan memesan makanan dan minuman!" ucap Dita pada Tiara saat mereka sampai di kantin.


"Kau tahu apa yang tidak boleh aku makan dan aku minum bukan?" tanya Tiara memastikan.


"Tentu saja, aku tidak akan memesan apapun yang mengandung kafein," jawab Dita.


"Good," ucap Tiara sambil mengacungkan dua ibu jarinya pada Dita.


Waktu pun berlalu, jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 03.00 sore namun belum ada yang beranjak dari duduknya, karena masih berkutat dengan pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Tiara, bukankah seharusnya kita sudah pulang sekarang?" tanya Dita berbisik pada Tiara.


Tiara kemudian melihat ke arah jam yang ada di tangan kirinya sebelum dia menjawab pertanyaan Dita.


"Kau benar, tapi masih ada yang harus aku pelajari, jadi sepertinya aku akan pulang terlambat hari ini, lagi pula ini hari pertamaku jadi aku sangat bersemangat bahkan tidak ingin meninggalkan meja kerjaku hehehe...." balas Tiara.


"Kau aneh sekali, aku saja sudah sangat bosan dan ingin segera pulang!" ucap Dita.


"Siapa yang ingin pulang tidak perlu ragu untuk pulang, terutama kalian berdua Dita dan Tiara," ucap salah seorang anggota tim divisi pemasaran.


"Saya masih ingin berada disini kak, masih banyak yang harus saya pelajari," ucap Dita.


Tiarapun segera membawa pandangannya pada Dita karena apa yang Dita ucapkan sangat berbanding terbalik dengan ucapan Dita padanya.


"Bukankah kau sudah ingin pulang?" tanya Tiara berbisik pada Dita.


Dita hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum lalu kembali fokus pada komputer di hadapannya, entah apa yang sedang ia kerjakan saat itu.


Sedangkan Tiara tidak terlalu ambil pusing karena ia benar-benar menikmati hari pertamanya di tempat kerjanya yang baru saat itu.


**


Di tempat lain, Rafa memasuki kafenya dengan langkah yang malas. Untuk pertama kalinya ia tidak bersemangat untuk berangkat ke kafe.


Baru saja ia menginjakkan kaki di dalam kafe ia sudah merasakan aura yang berbeda karena kepergian Tiara dari kafe.


"Ra, seperti biasa," ucap Rafa sambil berjalan memasuki ruangannya.


"Maaf pak...."


Mendengar suara Chika, Rafa tersadar jika dia sudah salah berbicara.


"Tolong bawakan hot choco ke ruangan saya," ucap Rafa lalu masuk ke dalam ruangannya.


Karena sudah terbiasa meminta coklat panas pada Tiara, Rafapun tidak sadar jika dia menyebut nama Tiara.


Rafa menjatuhkan dirinya di atas kursi kerjanya, ia menghela nafasnya berusaha untuk fokus pada pekerjaannya.


Sedangkan di sisi lain Chika yang sudah selesai membuat minuman pesanan Rafa segera memberikannya pada Rafa lalu keluar dari ruangan Rafa sambil mengetik pesan yang ia kirimkan pada Tiara.

__ADS_1


"Baru satu hari tidak bertemu denganmu sepertinya Pak Rafa sudah sangat merindukanmu, aahhh menyedihkan sekali!"


"Send hehehe...." ucap Chika dengan terkekeh lalu mengirim pesan itu pada Tiara.


__ADS_2