
Tiara dan Rafa masih berada di ruangan penyimpanan. Tiara masih terkejut atas keberadaan Rafa yang tiba-tiba ada di kantor tempatnya bekerja, terlebih saat Rafa memberitahu dirinya bahwa Rafa adalah rekan kerjanya.
"Kau tetap saja ceroboh seperti dulu, apa ada barang lain yang kau cari?" ucap Rafa sekaligus bertanya, membuat Tiara berusaha untuk mengendalikan keterkejutannya saat itu.
"Tidak...... tidak ada," jawab Tiara dengan menggelengkan kepalanya.
Rafa tersenyum tipis lalu mengambil file yang dia butuhkan kemudian berjalan keluar dari ruangan penyimpanan bersama Tiara.
Sambil mendorong trolinya Tiara hanya terdiam dengan menatap Rafa yang berjalan di sampingnya.
"Berhentilah menatapku seperti itu, kau seperti melihat hantu saja!" ucap Rafa yang merasa sedang diperhatikan oleh Tiara.
"Tiara hanya tidak menyangka jika akan bertemu dengan kak Rafa disini," balas Tiara.
"Apa kau senang aku bekerja disini bersamamu?" tanya Rafa yang segera dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Tentu saja Tiara senang, bahkan sangat senang," jawab Tiara dengan penuh senyum yang membuat Rafa semakin gemas melihatnya.
Rafapun tersenyum lalu mengambil alih troli yang Tiara dorong dan mendorongnya menggantikan Tiara.
"Jika kak Rafa bekerja disini, bagaimana dengan kafe?" tanya Tiara pada Rafa.
"Aku....." Rafa menghentikan ucapannya saat ia melihat Putra dari kejauhan.
Rafa kemudian membuka pintu yang mengarah ke arah tangga darurat, Rafa menarik tangan Tiara, mengajak Tiara masuk lalu menutup pintu itu dengan perlahan.
"Kenapa kak? ada apa?" tanya Tiara tak mengerti.
"Sssstttt.... diamlah!" balas Rafa dengan berbisik sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Tiara.
Tanpa sadar Rafa berdiri sangat dekat dengan Tiara yang badannya sudah menempel di dinding, membuat Tiara tidak bisa mundur sedikitpun.
Tiarapun hanya terdiam dengan degup jantung yang berdetak kencang. Ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya saat itu, tapi yang pasti ada sebuah perasaan gugup yang terasa aneh dalam dirinya.
Perasaan gugup yang bukan membuatnya tidak nyaman, melainkan perasaan gugup yang membuatnya bahagia. Hatinya seolah baru saja tersentuh sejuknya embun dingin yang membaurkan rasa sedih yang sejak lama mengisi hatinya.
Bersama dengan dagup jantung yang berdetak kencang, Tiara menikmati setiap detik kedekatannya dengan Rafa. Sentuhan jari Rafa di bibirnya dan genggaman tangan Rafa di tangannya membuatnya terdiam menikmati rasa indah yang perlahan memenuhi setiap sudut hatinya.
Rafa yang sedari tadi memfokuskan telinganya untuk mendengar langkah kaki Putra kemudian membawa pandangannya pada Tiara yang hanya terdiam dengan kedua mata menatap dirinya dengan pandangan yang tidak ia mengerti.
Mereka berduapun saling menatap, dua pasang mata saling memberikan sinyal cinta yang perlahan tumbuh mekar dari dalam hati mereka masing-masing.
Setitik bahagia kini menyebar memenuhi ruang hati tanpa membiarkan sedikitpun celah untuk perasaan lain yang sebelumnya ada.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari Putra membuat Rafa dan Tiara segera tersadar dari segala macam rasa dan pikiran mereka masing-masing.
Rafapun segera melepaskan tangan dan jarinya dari Tiara. Ia merasa begitu kesal setelah ia melihat panggilan masuk dari Putra.
"Aku harus pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik dan jangan ceroboh!" ucap Rafa sambil menepuk nepuk pelan kepala Tiara kemudian membuka pintu dan berjalan pergi begitu saja.
Sedangkan Tiara masih berada di tempatnya berdiri, ia memegang dadanya yang masih berdegup dengan kencang saat itu.
"Ada apa denganku? apa yang aku rasakan sekarang?" tanya Tiara pada dirinya sendiri sambil berusaha untuk mengatur pernafasannya.
Tiara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan beberapa kali sebelum akhirnya ia keluar dan kembali mendorong trolinya ke arah tempat dimana ia harus menghancurkan semua file yang ada di dalam trolinya.
"Fokus Tiara, jangan terlalu memikirkannya!" ucap Tiara sambil menepuk-nepuk keningnya agar ia tetap fokus pada pekerjaannya.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktunya di depan mesin penghancur kertas, Tiarapun mengembalikan troli ke tempat asalnya lalu berjalan ke arah meja kerjanya dan mengerjakan banyak pekerjaan yang sempat terlantar.
Karena terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, Tiarapun tidak memiliki waktu untuk meninggalkan meja kerjanya bahkan untuk makan siang sekalipun.
"Apa kau tidak makan siang Tiara?" tanya salah satu teman Tiara.
"Tidak kak, banyak pekerjaan Tiara yang terlambat untuk dikerjakan, jadi Tiara harus segera menyelesaikannya sekarang," jawab Tiara.
Teman-teman Tiarapun meninggalkan Tiara yang masih berkutat dengan komputer di hadapannya.
__ADS_1
Setelah salah satu pekerjaannya selesai, ia pun segera membawanya ke divisi umum sesuai dengan perintah manajer.
Saat Tiara kembali ke meja kerjanya, ia terkejut karena mendapati sebuah kotak yang berisi makanan dan satu cup minuman di meja kerjanya.
Tiarapun mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu tentang siapa yang menaruh makanan dan minuman itu di meja kerjanya, namun ia tidak melihat siapapun di sekitarnya karena semua teman-temannya masih berada di kantin.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa yang membuat Tiara dengan cepat membuka pesan itu.
"Aku tahu kau sangat sibuk, tapi sempatkan waktumu untuk makan siang, jaga kesehatanmu dan jangan melakukan hal-hal ceroboh lagi!"
Tiara tersenyum senang setelah ia membaca pesan dari Rafa, ia pun membalas pesan Rafa dengan sebuah stiker boneka lucu yang memperlihatkan senyum manisnya.
Tiara kemudian menikmati makan siangnya sambil mengerjakan pekerjaannya.
Waktupun berlalu, jam makan siangpun sudah selesai dan teman-teman Tiara sudah kembali ke meja kerjanya satu persatu.
Tepat pukul 02.00 siang Tiara dan beberapa staf lainnya masuk ke ruangan meeting untuk membahas tentang shooting iklan produk baru mereka.
Di dalam ruangan meeting, sudah ada Putra, sutradara, produser dan beberapa orang yang lain.
Setelah membahas beberapa hal, meeting pun selesai tepat pukul 3. Tiara dan yang lainnyapun meninggalkan ruangan meeting itu satu persatu.
"Bagaimana makan siangmu? apa kau menyukainya?" tanya Putra saat dia berjalan di samping Tiara, membuat Tiara segera menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Putra yang juga ikut menghentikan langkahnya.
"Makan siang?" tanya Tiara mengulangi pertanyaan Putra.
"Iya makan siang, aku menaruh makanan dan minuman di meja kerjamu, apa kau belum memakannya?" jawab Putra sekaligus bertanya.
"Aaahhh itu dari kak Putra?" balas Tiara yang tampak kecewa setelah ia tahu bahwa makanan dan minuman itu dari Putra, bukan dari Rafa.
"Iya, aku sengaja membawanya untukmu karena aku tahu kau sudah menghabiskan banyak waktumu untuk menerima sanksi karena keterlambatanmu, jadi kau pasti sangat sibuk, tapi kenapa kau sepertinya kecewa? apa kau berpikir jika makanan dan minuman itu dari orang lain?"
"Tidak," jawab Tiara dengan menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih untuk makan siangnya pak, Tiara menyukainya," lanjut Tiara dengan tersenyum.
Saat Tiara tiba di meja kerjanya, ia segera menjatuhkan kepalanya di atas meja kerjanya. Tiba-tiba saja ia merasa tidak bersemangat sejak ia tahu bahwa makanan dan minuman yang ada di meja kerjanya bukanlah pemberian Rafa.
"Bisa-bisanya aku berpikir bahwa makanan dan minuman itu adalah pemberian kak Rafa, kenapa juga aku harus berharap kak Rafa yang memberikannya untukku, aaaaarrrghhh menyebalkan sekali!" batin Tiara kesal.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa.
"Semangat dan jangan pulang terlambat!"
Tiara menghela nafasnya kasar dan memilih untuk mengabaikan pesan Rafa. Meskipun pada dasarnya Rafa tidak melakukan kesalahan apapun pada Tiara, namun harapan yang membuat Tiara kecewa kini menyisakan kesal yang berimbas pada Rafa.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 petang saat Tiara baru saja merapikan barang-barangnya di atas meja kerjanya.
Tiara kemudian membawa langkahnya ke arah lift yang membawanya turun ke lobi. Saat ia berjalan di lobi, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rafa.
"Di bagian apa kak Rafa bekerja? apa kak Rafa sudah pulang sekarang atau bahkan sudah pulang dari tadi?" batin Tiara bertanya dalam hati.
Tiara sengaja memperlambat langkahnya, berharap ia akan bertemu dengan Rafa, namun sampai ia melewati pintu utama matanya tidak juga menangkap keberadaan Rafa.
Tiarapun membawa langkahnya dengan kesal. Sejak masalah makan siang itu suasana hati Tiara menjadi buruk, ia lebih mudah kesal pada segala sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Kenapa juga aku kesal seperti ini, perusahaan itu sangat besar, kak Rafa bisa menjadi bagian dari apapun di perusahaan itu, banyak bagian dari perusahaan yang tidak bisa aku jangkau, meskipun berada di tempat yang sama bukan berarti aku akan bisa dengan mudah menemui kak Rafa," ucap Tiara dalam hati.
Di tengah kekesalannya, Tiara menghentikan langkahnya saat ia melihat mobil Rafa yang berhenti di depan rumahnya.
Tiba-tiba saja sebuah senyum perlahan tergaris di bibirnya, namun saat teringat tentang kekesalannya pada Rafa senyum itupun tiba-tiba menghilang, berganti dengan raut wajah yang tampak kesal.
Di sisi lain, Rafa yang menyadari kedatangan Tiara segera melambaikan tangannya dengan senyum manis di bibirnya. Tiara yang melihat itu pun tidak bisa menahan gejolak indah dalam hatinya.
Hatinya tiba-tiba berbunga, memaksanya untuk menyunggingkan senyum meski ia baru saja dipenuhi oleh rasa kesal dalam dirinya.
__ADS_1
Pada akhirnya Tiara tetap tersenyum dengan membawa langkahnya semakin mendekat ke arah Rafa.
"Apa kau lelah?" tanya Rafa pada Tiara yang sudah berdiri di hadapannya.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Apa yang kau lakukan dengan banyak file yang kau bawa tadi pagi? kau tidak sedang dibully bukan?" tanya Rafa.
"Tentu saja tidak, hari ini Tiara terlambat dan mendapatkan hukuman untuk menghancurkan file-file itu," jawab Tiara.
"Baguslah kalau begitu, sekarang masuklah dan beristirahatlah!" ucap Rafa sambil menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.
"Apa kak Rafa menunggu Tiara hanya untuk menanyakan hal itu?" tanya Tiara sebelum ia membuka gerbang rumahnya.
"Aku tidak sempat menanyakannya padamu tadi, jadi aku sengaja menemuimu agar aku bisa melihat apakah kau berbohong padaku atau tidak," jawab Rafa.
"Tapi kak Rafa tahu jika Tiara tidak berbohong bukan?" tanya Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.
"Aku tahu, sekarang masuklah, aku akan pulang!" ucap Rafa sambil memegang kedua bahu Tiara dan mendorongnya ke arah pintu gerbang.
Tiarapun membuka gerbangnya lalu kembali menutupnya dan masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Rafa sudah tak terlihat di hadapannya.
"Aaahh iya, aku belum bertanya di bagian mana kak Rafa bekerja, aku akan menanyakannya lain kali saat bertemu lagi!" ucap Tiara sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
**
Hari telah berganti, pagi itu Tiara memasukkan beberapa barang-barang yang dibutuhkannya ke dalam tas ransel miliknya.
Setelah memastikan tidak ada yang terlewat, Tiarapun membawa langkahnya keluar dari rumah menuju ke kantor tempatnya bekerja.
Sesampainya disana, ia segera berkumpul dengan sutradara dan beberapa staf yang lainnya. Tak lama kemudian Putrapun tiba, mereka semua segera menaiki bus yang akan membawa mereka ke daerah pegunungan.
Hari itu Tiara dan yang lainnya akan melakukan shooting untuk produk baru mereka. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat yang dituju.
Disana sudah ada beberapa camp yang sudah disiapkan. Tiara dan Putrapun segera mengganti pakaian mereka dengan pakaian khas petani Indonesia.
Mereka juga dikenalkan pada seorang anak kecil yang akan berperan sebagai anak Tiara dan Putra.
Sebelum melakukan shooting, Tiara dan Putra melakukan pendekatan pada anak kecil itu terlebih dahulu untuk mempermudah saat proses shooting nantinya.
Setelah semua persiapan dilakukan, Tiara, Putra dan anak kecil itupun bersiap untuk melakukan adegan mereka masing-masing.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Putra berdering saat Putra sedang beristirahat, memperhatikan Tiara yang sedang beradegan di depan kamera.
Sebuah panggilan dari Rafa membuat Putra tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Kau dimana? cepat ke kantor sekarang juga!"
"Tidak bisa, aku sedang sibuk untuk....."
"Kesibukan apa yang kau lakukan di hari Minggu seperti ini? cepatlah datang ke kantor sekarang juga atau aku akan memberikan banyak pekerjaan untukmu!" ucap Rafa mengancam lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Putra hanya menghela nafasnya kasar, kemudian mengirimkan pesan pada Rafa.
"Aku tidak bisa ke kantor sekarang karena aku sedang melakukan syuting untuk iklan produk baru kita bersama Tiara."
Setelah mengirimkan pesan pada Rafa, Putra pun segera memulai adegannya bersama Tiara.
Di sisi lain, Rafa yang saat itu tengah berkutat dengan komputer di hadapannya begitu terkejut setelah ia membaca pesan dari Putra.
"Syuting iklan bersama Tiara? kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang hal ini?" tanya Rafa pada dirinya sendiri lalu segera beranjak dari duduknya.
"Aku tidak akan membiarkan dia mendekati Tiara!" ucap Rafa sambil berjalan cepat meninggalkan ruangannya.
Saat ia baru saja masuk ke dalam mobilnya, ia baru sadar jika ia tidak tahu dimana lokasi syuting iklan yang dilakukan Putra dan Tiara.
Rafapun segera menghubungi seseorang yang bisa memberitahunya. Setelah ia mengetahui dimana lokasi syuting itu dilakukan, Rafapun segera mengendarai mobilnya ke arah lokasi syuting.
__ADS_1
"Kau pikir kau bisa mendekati Tiara, jangan harap, selama masih ada aku disini aku tidak akan membiarkanmu mendekati Tiara, apalagi mendapatkannya!" ucap Rafa dengan tatapan tajam menatap jalan raya di hadapannya.