
Cinta memang tidak bisa diterka kapan dan kepada siapa dia akan datang. Terkadang waktu yang salah membawa cinta datang, namun enggan pergi.
Untuk sekejap saja Tiara merasa kebahagiannya dipaksa pergi oleh takdir hidupnya. Rasa bahagia yang ia rasakan bersama Rafa tiba tiba harus terpental jauh menyisakan sesak dalam dadanya.
Ucapan dari Maya, mama dan papa Rafa sudah cukup menjelaskan tentang situasi yang ada saat itu.
Maya yang akan memperkenalkan mertua dan suaminya pada Tiara, Maya yang memanggil mama Rafa dengan panggilan "ma" dan papa Rafa yang menyebut Rafa "suamimu" membuat Tiara mengerti.
Di tengah keterkejutannya, tiba tiba Rafa datang dengan membawa sebuah paper bag yang berisi perhiasan yang baru saja Maya beli.
"Kau juga meninggalkan barangmu Maya," ucap Rafa yang belum menyadari keberadaan Tiara karena ia sedang fokus dengan ponselnya.
"Aaahh iya, ini perhiasan yang baru saja Maya beli untuk mama," ucap Maya lalu memberikan paper bag itu pada mama Rafa.
"Terima kasih sayang," ucap mama Rafa.
"Ma, Rafa....."
Rafa menghentikan ucapannya saat ia menyadari jika ada Tiara yang duduk di samping Putra saat itu.
Rafa seketika terdiam, ia seolah kehilangan kata katanya begitu saja. Tenggorokannya seperti tercekat dan tak mampu berkata kata lagi.
"Duduklah, kita semua sudah menunggumu," ucap papa Rafa.
Dengan ragu Rafapun duduk di samping Maya.
"Mama dan papa sengaja mengundang kalian semua makan malam untuk memperkenalkan Tiara, dia adalah gadis baik yang sudah menolong mama saat mama hampir pingsan di kantor dan ternyata dia cukup dekat dengan Putra," ucap mama Rafa memperkenalkan Tiara.
"Kebetulan sekali Maya juga mengenal Tiara, kita bahkan berhubungan baik, benar kan Tiara?" sahut Maya.
"Iya, benar," jawab Tiara dengan tersenyum canggung.
"Waahhh dunia memang terasa sempit sekali jika sudah seperti ini," ucap mama Rafa.
"Kau harus tau Rafa, Tiara memiliki potensi besar di perusahaan kita, nilai tesnya sangat baik dan hampir sempurna, itu kenapa papa memberinya kesempatan kedua setelah dia dinyatakan tidak lolos," ucap papa Rafa.
Rafa hanya terdiam, ia menatap Tiara dengan pandangan penuh rasa bersalah. Ia benar benar tidak menyangka jika mamanya mengajak Tiara untuk makan malam bersama dan yang lebih membuatnya terkejut adalah Maya yang ternyata mengenal Tiara dengan baik.
Sama halnya dengan Tiara dan Rafa yang terkejut dengan keadaan saat itu, Putrapun juga begitu terkejut. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan karena memang hal itu akan terjadi, cepat atau lambat.
Meskipun berusaha untuk terlihat baik baik saja, nyatanya Tiara sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Gejolak dalam dadanya membuatnya ingin menangis saat itu juga, namun ia tidak bisa melakukannya.
"Tiara, kau terlihat sangat pucat, apa kau baik baik saja?" tanya Maya pada Tiara.
"Tiara.... Tiara hanya sedikit pusing kak," jawab Tiara beralasan.
"Apa kau mau pulang sekarang?" tanya Putra.
"Tidak kak, Tiara bisa menahannya," jawab Tiara.
"Kau terlihat sangat pucat Tiara, lebih baik kau pulang bersama Putra, Tante akan mengajakmu makan malam bersama lagi lain kali," ucap mama Rafa.
"Terima kasih Tante, maaf karena Tiara tidak bisa disini sampai acara selesai," ucap Tiara pada mama Rafa.
"Tidak apa Tiara, om dan Tante mengerti," balas Mama Rafa.
"Tiara permisi om, Tante, kak Maya dan..... pak Rafa," ucap Tiara lalu pergi meninggalkan meja itu bersama Putra.
Rafa hanya terdiam di tempatnya duduk. Hatinya ingin berlari mengejar Tiara, namun ia sadar jika ia tidak mungkin melakukan hal itu.
Di sisi lain, Tiara hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Ia sedang berusaha untuk bisa menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Putra.
"Tiara, kau baik baik saja?" tanya Putra saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Kak Putra mengetahuinya?" balas Tiara bertanya dengan tatapan kosong.
"Iya, aku mengetahuinya, maaf karena tidak memberi tahumu sebelumnya," jawab Putra yang bisa mengerti maksud dari pertanyaan Tiara.
"Kenapa kak Putra tidak memberi tahu Tiara?" tanya Tiara dengan suara bergetar.
"Ada beberapa hal yang harus kau dengar sendiri dari Rafa, tapi yang pasti aku tau Rafa tidak pernah berniat untuk mempermainkanmu Tiara," jawab Putra.
__ADS_1
Tiara hanya terdiam. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Putra, namun ia tidak ingin menanyakannya lebih jauh lagi.
Baginya sudah cukup fakta yang ia ketahui malam itu, fakta bahwa laki laki yang mendekatinya ternyata sudah memiliki istri. Terlebih istri Rafa adalah Maya, perempuan hebat yang sudah membantu masalahnya dengan mama Laras, Gita dan Bima.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Tiarapun sampai di depan rumahnya. Ia segera turun dari mobil Putra tanpa sempat berterima kasih.
Tiara segera masuk ke dalam rumahnya, mengunci pintu rumah dan jatuh terduduk di belakang pintu rumahnya.
Tiara mendekap kedua kakinya dengan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuatnya lemah.
"Kenapa rasanya sesakit ini.... kenapa rasanya sakit sekali....."
Tiara terisak bersama luka yang perlahan menggores hatinya dengan dalam. Tanpa ia sadar, ia sudah membawa Rafa jauh ke dalam hatinya dan saat nama Rafa sudah menggeser Bima dari hatinya, Rafa seolah menusukkan pedang tajam yang kembali mengoyak hati yang sudah pernah terluka.
"Kenapa ini harus terjadi lagi, kenapa Tiara harus berada di situasi yang seperti ini ma pa..... kenapa....."
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan masuk dari Rafa. Tiarapun mengabaikannya, ia memilih untuk menonaktifkan ponselnya saat itu juga.
Ia tidak mengerti kenapa Rafa mendekatinya saat Rafa sudah memiliki istri. Rafa yang sudah seperti kakak baginya tiba tiba menjadi sosok jahat yang sudah menggoreskan luka dengan begitu dalam di hatinya.
"Aku tidak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan ini, tapi yang pasti aku baru menyadari jika aku mencintaimu dan tidak ingin kau dimiliki oleh laki-laki lain selain aku!"
Tiba tiba semua ucapan Rafa kembali terngiang di telinga Tiara. Ia tidak menyangka betapa egoisnya Rafa yang menginginkan dirinya sedangkan Rafa sendiri sudah memiliki istri dan tidak ingin jika Tiara dimiliki oleh laki laki lain.
Tiara kemudian segera masuk ke kamarnya, membuka pintu kamar mandinya dan segera menyalakan shower, membiarkan dirinya basah oleh guyuran air shower.
Tiara mengusap wajahnya dengan kasar saat ia teringat tentang malam terakhirnya bersama Rafa saat mereka berada di Tokyo.
Tiara merasa jijik dengan dirinya sendiri saat dia mengingat semua kejadian yang pernah membuatnya bahagia itu.
"Bodoh sekali, aku memang sangat bodoh...." ucap Tiara memaki dirinya sendiri.
Tiara kemudian menjatuhkan dirinya di lantai kamar mandi. Isak tangisnya menggema memenuhi kamar mandinya.
"Kenapa kak Rafa harus bersikap sebaik itu jika akhirnya akan seperti ini.... kenapa..... kenapaaaa......."
**
Ia sudah berkali kali menghubungi Tiara namun tidak pernah ada jawaban, bahkan ia sudah tidak bisa lagi menghubungi Tiara.
Rafapun segera menghubungi Putra, menanyakan pada Putra tentang bagaimana keadaan Tiara.
"Halo, kau dimana? apa kau bersama Tiara?" tanya Rafa setelah Putra menerima panggilannya.
"Kenapa kau bertanya padaku? apa kau tidak bisa menghubunginya?" balas Putra bertanya.
"Jawab saja pertanyaanku!" ucap Putra dengan nada tinggi.
"Kau sudah kalah Rafa, jadi berhentilah membuang waktumu untuk mendekati Tiara!" ucap Putra yang semakin membuat Rafa emosi.
"Kau yang sudah merencanakan semua ini bukan? kau pasti merencanakan makan malam ini agar Tiara tau semuanya!"
"Untuk apa melakukannya? aku yakin Tiara akan tau semua kebohonganmu tanpa aku beri tahu, waktu akan menjawab semuanya Rafa, bukankah aku sudah mengingatkanmu!"
"Kau memang brengsek Putra, aku benar benar tidak akan memaafkanmu kali ini!" ucap Rafa penuh emosi.
Setelah panggilan berakhir, Rafa melempar ponselnya ke sembarang arah, beruntung ponselnya mendarat tepat di atas ranjangnya.
"Aaarrrghhhh siaalll!" ucap Rafa dengan berteriak penuh emosi sambil mengacak acak rambutnya sendiri.
Maya yang mendengar teriakan Rafa segera mengetuk pintu kamar Rafa.
"Rafa, apa kau baik baik saja?" tanya Maya dari depan pintu kamar Rafa.
Rafa kemudian menyambar kunci mobilnya lalu keluar dari kamarnya.
"Rafa, ada apa denganmu? kenapa kau...."
"Diamlah, jangan menggangguku!" ucap Rafa memotong ucapan Maya lalu berjalan pergi begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa dia sangat marah, sejak makan malam tadi sepertinya dia sedang tidak baik baik saja, bukan.... bukan sejak makan malam, tapi sejak bertemu dengan Tiara, dia bahkan menatap Tiara dengan tatapan yang dalam, apa mungkin......"
Maya menggelengkan kepalanya, ia berusaha menolak apa yang sedang ia pikirkan saat itu.
Di sisi lain, Rafa mengendarai mobilnya ke arah rumah Tiara. Sesampainya disana ia kembali menghubungi Tiara namun tetap saja tidak bersambung.
Rafa kemudian melompati pagar rumah Tiara, mengetuk pintu rumah Tiara beberapa kali, namun tetap saja tidak ada jawaban.
"Tiara aku tau kau ada di rumah, tolong buka pintunya, aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Rafa dari depan pintu rumah Tiara.
Karena masih tidak ada jawaban, Rafapun berjalan ke arah jendela kamar Tiara. Ia mengetuknya beberapa kali, berharap Tiara akan memberinya kesempatan untuk berbicara.
"Tiara, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu Tiara!" ucap Rafa dari depan jendela kamar Tiara.
Dari dalam kamarnya, Tiara hanya diam meskipun ia mendengar suara Rafa dari luar kamarnya.
Rasa sakitnya semakin terasa saat ia mendengar suara Rafa. Laki laki yang pada akhirnya membuatnya jatuh cinta, nyatanya sudah memiliki istri. Bagi Tiara tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada hal itu.
Ia merasa takdir seperti sedang mempermainkan dirinya. Ia merasa takdir tidak benar benar berpihak padanya.
Saat dia berusaha terlepas dari masa lalunya, ia menemukan cintanya yang baru. Namun baru saja hatinya berdebar dengan bahagia, tiba tiba takdir memaksanya mundur dengan luka yang semakin dalam.
"Baiklah jika kau tidak mau bertemu denganku, aku akan membiarkanmu menenangkan dirimu sendiri, tapi hanya untuk hari ini, besok kita harus bertemu dan aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Rafa lalu berjalan meninggalkan rumah Tiara dengan langkah yang tak bersemangat.
Di dalam kamarnya, Tiara hanya terisak. Ia hanya tidak bisa menerima fakta yang baru diketahuinya, laki laki yang dianggapnya sebagai pahlawan dalam hidupnya, nyatanya memberikan luka yang jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.
**
Hari telah berganti, Tiara mengerjapkan matanya namun enggan untuk terbangun dari tidurnya.
Baru saja membuka mata, perlahan bulir bening menetes membasahi pipinya. Menyakitkan, hanya satu kata itu yang bisa menggambarkan keadaan Tiara saat itu.
Tiarapun beranjak dari duduknya, mengguyur badannya di bawah shower untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia bersiap untuk meninggalkan rumah.
Bukan untuk pergi bekerja, melainkan pergi ke makam kedua orang tuanya. Tiara sengaja keluar dari rumah pagi pagi sekali sebelum seseorang datang ke rumahnya.
Tiara menaiki bus yang membawanya ke makam kedua orangtuanya. Sesampainya disana Tiara menumpahkan semua tangisnya diantara dua gundukan makam mama dan papanya.
Setelah beberapa lama berada disana, Tiarapun membawa langkahnya ke arah halte untuk menunggu bus.
Tak dapat dipungkiri, rasa sedih membuat keceriannya memudar. Tiba tiba sebuah mobil berhenti di depan Tiara. Pemilik mobil itupun segera keluar menghampiri Tiara.
"Apa yang kau lakukan disini sepagi ini?" tanya Kevin pada Tiara.
Melihat Kevin datang, Tiara hanya diam. Ia membawa pandangannya menatap Kevin dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Hatinya terlalu sakit untuk bisa menahan kesedihannya sendiri.
"Masuklah ke mobil, aku tidak ingin kau menangis disini," ucap Kevin sambil meraih tangan Tiara, membawa Tiara masuk ke dalam mobilnya.
Kevin kemudian mengendarai mobilnya ke arah taman yang tidak terlalu jauh dari halte tempat dia bertemu Tiara. Kevinpun menghentikan mobilnya disana.
"Ada apa Tiara? apa yang terjadi padamu?" tanya Kevin pada Tiara yang sedari tadi hanya terdiam.
Meskipun tidak benar benar menangis, tetapi Kevin bisa melihat betapa sedihnya Tiara saat itu
"Katakan padaku Tiara, apa dan siapa yang membuatmu bersedih seperti ini?" tanya Kevin yang belum mendapatkan jawaban apapun dari Tiara.
Tiara kemudian menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Ia berusaha untuk bisa mengendalikan dirinya saat itu.
"Sepertinya aku sudah jatuh cinta," ucap Tiara dengan menundukkan kepalanya.
"Jatuh cinta? kenapa hal itu membuatmu bersedih?" tanya Kevin tak mengerti.
"Aku jatuh cinta pada orang yang salah Kevin, saat aku sadar bahwa aku mencintainya, saat itu juga aku tau bahwa aku tidak bisa bersamanya," jawab Tiara dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.
"Kau tidak sedang membicarakan pak Rafa bukan?" tanya Kevin memastikan, karena sejauh yang ia tau Rafa sangat baik pada Tiara jadi tidak mungkin jika Rafa yang membuat Tiara bersedih seperti itu.
"Ini memang tentang kak Rafa, aku menyesal karena membiarkan diriku jatuh cinta padanya, seandainya aku tau lebih awal aku tidak akan membiarkan diriku merasa bahagia saat bersama kak Rafa," jawab Tiara yang membuat Kevin cukup terkejut.
"Ada apa dengan pak Rafa? bukankah pak Rafa selama ini sangat baik padamu?"
__ADS_1
Tiara kembali menarik napasnya dalam dalam sebelum ia menjawab pertanyaan Kevin.
"Kak Rafa sudah menikah," ucap Tiara yang membuat Kevin semakin terkejut mendengarnya.