Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bermalam di Penginapan


__ADS_3

Setelah beberapa lama mengendarai mobilnya untuk mencari penginapan, Rafapun mengentikan mobilnya di depan sebuah penginapan yang tidak terlalu besar.


"Apa kau tidak keberatan jika kita bermalam disini?" tanya Rafa pada Tiara sebelum mereka keluar dari mobil.


"Tiara tidak keberatan pak," jawab Tiara.


"Baiklah kalau begitu, ayo turun, semoga masih ada kamar!" ucap Rafa lalu turun dari mobilnya diikuti oleh Tiara.


Rafapun membawa langkahnya ke arah lobby untuk memesan dua kamar.


"Mohon maaf pak, untuk malam ini hanya ada satu kamar dengan double bed yang tersedia," ucap si resepsionis.


"Satu? apa tidak bisa diusahakan untuk dua kamar? saya akan membayar lebih jika bisa diusahakan," tanya Rafa.


"Mohon maaf pak, tidak bisa," jawab si resepsionis dengan ramah.


"Bagaimana Tiara? hanya ada satu kamar dengan double bed," tanya Rafa pada Tiara.


"Apa memungkinkan jika kita mencari penginapan lain pak?" balas Tiara bertanya.


"Maaf kak, untuk penginapan lain memang ada, tetapi jaraknya sangat jauh dan melewati daerah hutan yang minim penerangan, itupun saya tidak bisa memastikan apakah disana masih ada kamar atau tidak," sahut si resepsionis.


Rafa menghela nafasnya panjang sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Sejak ia mengalami kecelakaan kepalanya memang sering terasa pusing, meskipun bukan pusing yang sangat menyakitkan namun hal itu cukup mengganggunya.


"Pak Rafa baik baik saja?" tanya Tiara khawatir.


"Aku baik baik saja, lebih baik kita cari penginapan lain saja," jawab Rafa lalu berjalan pergi, namun dengan cepat Tiara menahan tangan Rafa.


"Tidak ada jaminan apapun dari penginapan lain nanti, daripada kita membuang waktu lebih baik kita menginap disini saja!" ucap Tiara.


"Apa kau yakin? hanya ada satu kamar dengan satu ranjang disini!" tanya Rafa memastikan.


"Tidak masalah, yang terpenting sekarang kita bisa beristirahat dengan nyaman karena perjalanan tadi cukup melelahkan," jawab Tiara.


"Baiklah kalau begitu," ucap Rafa lalu memberi tahu resepsionis jika ia akan mengambil satu kamar yang tersisa.


Resepsionis kemudian memberikan sebuah kunci dan menunjukkan dimana letak kamar yang akan ditempati oleh Rafa dan Tiara.


Rafa dan Tiara kemudian membawa langkah mereka ke arah kamar yang sudah ditunjuk oleh resepsionis. Setelah membuka kamar itu, mereka cukup terkejut melihat ranjang yang ada di dalam kamar itu.


"Ini yang dia sebut double bed?" tanya Rafa yang tampak kesal.


"Aku akan menemui resepsionis itu lagi, kau tunggulah disini!" ucap Rafa pada Tiara.


"Jangan pak!" ucap Tiara mencegah Rafa.


"Kenapa? ranjang ini sangat sempit Tiara, ini bukan doubel bed, tapi single bed!"


Tiara tersenyum lalu meraih kedua tangan Rafa dan menggandengnya ke arah ranjang lalu mendudukkan Rafa di tepi ranjang.


"Pak Rafa beristirahatlah, pak Rafa pasti sangat lelah karena mengendarai mobil cukup lama dengan keadaan jalanan yang berbatu," ucap Tiara.


"Tapi....."


"Tiara akan tidur di sofa, pak Rafa bisa tidur di ranjang dengan nyaman," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


"Tidak mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa Tiara!" ucap Rafa.


"Tiara sudah merasa nyaman meskipun dengan hanya tidur di sofa pak, jadi itu bukan masalah untuk Tiara," balas Tiara.


"Kau saja yang tidur disini, aku yang akan tidur di sofa," ucap Rafa sambil beranjak dari duduknya dan dengan cepat mendudukkan Tiara di tepi ranjang.


Rafa kemudian membawa langkahnya ke arah kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Rafa terdiam dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Ia sengaja tidak memperlihatkan hal itu pada Tiara agar Tiara tidak merasa khawatir.


"Sial, kenapa kepalaku semakin pusing!" batin Rafa menggerutu kesal.


Di atas ranjang, Tiara yang merasa Rafa terlalu lama berada di kamar mandi segera membawa langkahnya ke arah kamar mandi dengan khawatir.


"Pak Rafa, apa pak Rafa baik baik saja?" tanya Tiara dengan mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku baik baik saja Tiara, tidurlah dulu, aku akan segera keluar!" jawab Rafa berbohong.


"Baik pak," balas Tiara lalu membawa langkahnya kembali duduk di tepi ranjang, namun bukannya tidur, Tiara masih menunggu Rafa keluar dari kamar mandi.


Setelah beberapa lama menunggu, pintu kamar mandipun terbuka. Tiara melihat Rafa keluar dari kamar mandi dengan memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Pak Rafa, apa yang terjadi pada pak Rafa?" tanya Tiara yang segera menghampiri Rafa.


"Hanya sedikit pusing Tiara, tapi.... tapi aku tidak apa-apa," jawab Rafa dengan raut wajahnya yang mulai pucat.


Tiara kemudian meraih tangan Rafa, menaruhnya di atas pundaknya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Rafa untuk membantu Rafa berjalan ke arah ranjang.


"Apa pak Rafa sering merasa seperti ini? apa mungkin ini akibat dari kecelakaan waktu itu? apa pak Rafa sudah memberi tahu dokter? apa pak Rafa....."


"Ssssttt.... kenapa kau cerewet sekali Tiara!" ucap Rafa sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Tiara.


Seketika kedua mata Tiara berkaca-kaca. Ia bisa melihat dengan jelas jika Rafa sedang tidak baik baik saja saat itu, namun Rafa berusaha untuk tidak menunjukkannya pada Tiara.


Hal itu membuat Tiara bersedih, terlebih jika apa yang terjadi pada Rafa adalah karena kecelakaan yang pernah terjadi beberapa hari yang lalu, kecelakaan yang terjadi karena Rafa menolong Tiara.


"Berhenti berbohong pada Tiara kak, katakan pada Tiara apa yang sebenarnya kak Rafa rasakan, apa benar kak Rafa sering pusing setelah kecelakaan itu?" tanya Tiara dengan air mata yang sudah memenuhi kedua matanya.


Rafa hanya menghela nafasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya.


"Ini semua gara gara Tiara, andai waktu itu Tiara tidak menyebrang, andai waktu itu kak Rafa tidak menolong Tiara, pasti kak Rafa tidak akan seperti ini," ucap Tiara dengan air mata yang akhirnya luruh di pipinya.


Melihat hal itu Rafapun segera menghapus air mata di pipi Tiara lalu membawa Tiara ke dalam dekapannya.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Tiara, apa yang terjadi adalah keputusanku sendiri, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada orang yang aku cintai, aku sama sekali tidak peduli pada apapun yang akan terjadi padaku nantinya," ucap Rafa.


"Kak Rafa bodoh sekali, kak Rafa bodoh karena berpikir seperti itu!" ucap Tiara dengan terisak dalam pelukan Rafa.


"Masih banyak hal bodoh lainnya yang bisa aku lakukan untukmu Tiara, tapi aku mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi padaku, aku hanya melakukan hal yang menurutku benar bukan karenamu, tapi keinginanku sendiri, karena..... aku mencintaimu," ucap Rafa.


Tiara kemudian melepaskan dirinya dari dekapan Rafa, membawa kedua matanya menatap Rafa yang duduk di hadapannya.


"Sudah bertahun tahun berlalu, apa kak Rafa yakin dengan apa yang kak Rafa rasakan?" tanya Tiara.


"Tidak ada sedikitpun keraguan di hatiku Tiara, justru selama bertahun tahun ini aku semakin yakin dengan perasaanku, bertahun tahun aku bersabar untuk memberimu waktu menyembuhkan diri dan memberikan waktu bagi diriku sendiri untuk bisa menjadi lebih baik dan pantas untukmu," jelas Rafa.


Mendengar ucapan Rafa yang terdengar begitu yakin, Tiarapun hanya terdiam. Rafa kemudian meraih kedua tangan Tiara dan menggenggamnya.


"Aku mencintaimu Tiara, selamanya akan terus mencintaimu, sejauh apapun jarak memisahkan kita, selama apapun waktu memaksa kita berpisah, aku akan tetap mencintaimu dan aku akan selalu kembali padamu, apapun yang terjadi," ucap Rafa bersungguh-sungguh.


"Aku tidak akan memaksamu dalam hal apapun Tiara, aku akan bersabar menunggu sampai saatnya tiba, sampai kau bisa datang padaku dan memelukku dengan erat," lanjut Rafa.


"Kak....."


Tiarapun hanya bisa menurut, ia membaringkan dirinya di atas ranjang dengan Rafa yang masih duduk di tepi ranjang.


Malam yang semakin larutpun membawa Tiara nyenyak dalam tidurnya.


Sedangkan Rafa segera membaringkan dirinya di atas sofa lalu terpejam bersama malam.


**


Malam yang panjang telah berlalu, Tiara mengerjapkan matanya dan mendapati Rafa yang terlihat tertidur pulas di atas sofa.


Tiara tersenyum tipis lalu membawa langkahnya ke kamar mandi. Tiara terdiam di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi.


Ia memikirkan apa yang semalam terjadi antara dirinya dan Rafa.


"Aku mencintaimu Tiara, selamanya akan terus mencintaimu, sejauh apapun jarak memisahkan kita, selama apapun waktu memaksa kita berpisah, aku akan tetap mencintaimu dan aku akan selalu kembali padamu, apapun yang terjadi,"


Tiara tersenyum saat ia mengingat ucapan Rafa padanya. Debar debar dalam dadanya datang bersama rasa bahagia yang menyeruakkan wangi kebahagiaan.


"Sama seperti kak Rafa, akupun pernah melakukan kesalahan dan kekhilafan, tidak ada yang benar benar bersih tanpa salah di dunia ini, bukankah yang terpenting bagaimana kita menjalani kehidupan kita yang sekarang?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan kemudian membasuh wajahnya dengan air mengalir yang terasa begitu dingin.


Tiara kemudian keluar dari kamar mandi, namun saat ia baru saja membuka pintu, ia begitu terkejut karena sudah ada Rafa yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Kak Rafa!"


"Kau lama sekali!" ucap Rafa lalu masuk ke kamar mandi, sedangkan Tiara segera keluar dari kamar mandi.


Tak lama kemudian Rafapun keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana keadaan pak Rafa?" tanya Tiara pada Rafa yang sudah duduk di sofa.


"Kenapa kau memanggilku seperti itu lagi? apa aku harus sakit agar kau tidak memanggilku seperti itu?" balas Rafa bertanya dengan suara kesal.


"Bagiamanapun juga pak Rafa adalah atasan Tiara, jadi......"

__ADS_1


"Aku atasanmu saat kita sedang bekerja dan berada di kantor, tapi di luar itu aku bukan lagi atasanmu," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


"Tapi bukankah kita disini karena urusan kantor?" tanya Tiara yang membuat Rafa menghela nafasnya.


"Terserah kau saja," balas Rafa malas, membuat Tiara terkekeh.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, Tiarapun segera membukanya dan mendapati staff hotel yang datang dengan membawakan sarapan dan obat yang sebelumnya sudah Tiara pesan.


"Pak Rafa harus makan dan minum obat, Tiara tidak tau obat apa yang biasa pak Rafa konsumsi, tapi obat ini bisa meredakan pusing untuk sementara," ucap Tiara.


"Aku baik baik saja Tiara, kau....."


"Tiara akan sangat bersedih jika pak Rafa terus berbohong pada Tiara tentang keadaan pak Rafa, jika apa yang pak Rafa katakan semalam bukanlah kebohongan, maka pak Rafa harus menjaga diri dengan baik sampai Tiara datang dan..... dan....."


"Dan memelukku?" tanya Rafa penuh senyum.


Tiara hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun lalu membawa dirinya menghindar dari pandangan Rafa.


"Benarkah apa yang aku katakan?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Kau pasti sedang tidak jujur sekarang," ucap Rafa.


"Cepat habiskan makanan pak Rafa, bukankah kita harus sampai di tempat tujuan pagi ini?" ucap Tiara sekaligus bertanya.


"Kau benar," balas Rafa lalu menikmati sarapannya bersama Tiara.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan, merekapun segera melakukan check out.


"Tiara sudah berusaha menghubungi asisten pribadi pak Rafa, tapi belum ada jawaban, Tiara juga sudah mengirim pesan tapi belum ada balasan," ucap Tiara pada Rafa.


"Kita tunggu saja sebentar lagi," balas Rafa.


"Hanya menunggu disini?" tanya Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan hotel, si pengendara segera berlari kecil ke arah Rafa.


"Selamat pagi pak, apa kita bisa berangkat sekarang?" sapa asisten pribadi Rafa sekaligus bertanya.


"Tentu, lebih cepat lebih baik," balas Rafa lalu mengajak Tiara masuk ke dalam mobilnya, kemudian mengendarai mobilnya mengikuti asisten pribadinya.


"Kenapa asisten pribadi pak Rafa ada disini?" tanya Tiara.


"Aku meminjam telepon hotel untuk menghubunginya semalam, aku memintanya untuk menjemput kita disini," jelas Rafa yang membuat Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan merekapun sampai di tempat tujuan. Tiara, Rafa dan asisten pribadinyapun mulai memeriksa keadaan lapangan, memastikan jika tidak ada gangguan ataupun kendala yang berarti.


Waktupun berlalu, matahari semakin terik, namun udara pegunungan membuat terik matahari masih terasa sejuk.


"Kau kembalilah dulu, masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan bersama Tiara!" ucap Rafa pada asisten pribadinya.


"Baik pak, saya permisi," balas asisten pribadi Rafa.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya bersama Tiara ke arah yang berbeda dengan asisten pribadinya.


"Kemana kita akan pergi pak?" tanya Tiara pada Rafa.


"Ke tempat yang tidak mungkin kau lupakan," jawab Rafa yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Bukankah kita harus pergi ke kantor hari ini?" tanya Tiara.


"Asisten pribadiku yang akan mengurus semua," jawab Rafa.


"Tapi pak......"


"Tidak bolehkah aku beristirahat satu hari saja?" tanya Rafa memotong ucapan Tiara.


"Tentu saja boleh karena pak Rafa adalah CEO di perusahaan, tapi Tiara tetap harus bekerja pak, Tiara....."


"Kita bisa bekerja dimanapun Tiara, termasuk disini," ucap Rafa sambil menunjuk sebuah bangunan yang tidak jauh darinya.


"Itu....... bukankah itu vila pak Rafa?" tanya Tiara.


"Sudah ku duga, kau pasti masih mengingatnya," ucap Rafa


"Bagaimana bisa Tiara melupakannya, disanalah Tiara berusaha untuk menyembuhkan diri dari rasa trauma Tiara," balas Tiara.


"Tapi sekarang semua itu sudah berlalu, lembaran baru sudah terbuka, Tiara siap untuk menulis kisah baru Tiara dengan penuh kebahagiaan," lanjut Tiara.

__ADS_1


"Bisakah aku menjadi bagian dari kisah barumu yang penuh kebahagiaan itu?" tanya Rafa yang membuat Tiara terdiam.


__ADS_2