
Tiara membaringkan dirinya di atas ranjang kamarnya setelah ia mengakhiri panggilannya dengan temannya.
Tiara memejamkan matanya memikirkan apa yang baru saja temannya katakan.
"Dia benar, iklan itu bukan tentang aku dan kak Putra, tapi tentang produk baru perusahaan tempat aku dan kak Putra bekerja, tidak seharusnya aku berpikir untuk membuat kak Putra menolak saran sutradara, terlebih sudah tidak banyak waktu lagi untuk memikirkan konsep baru ataupun mencari model yang lain," ucap Tiara berusaha berpikir dengan jernih.
"Lagi pula bukan kak Putra sendiri yang merekomendasikan dirinya untuk ikut terlibat secara langsung tapi sutradara yang memilih kak Putra karena melihat potensi yang dimiliki kak Putra untuk bisa terlibat langsung dalam project iklan ini!"
"Aku harus menghubungi kak Putra, pasti kak Putra sedang bingung memikirkan masalah ini, aku memang bodoh sekali bisa-bisanya aku membuat kak putra menolak saran dari sutradara," ucap Tiara lalu meraih ponselnya dan mencari nama Putra pada penyimpanan kontaknya.
Tak butuh waktu lama Putrapun menerima panggilan Tiara.
"Halo kak, apa kak Putra sedang sibuk?" tanya Tiara setelah Putra menerima panggilannya.
"Tidak, hanya sedang memikirkan konsep baru tentang iklan produk kita," jawab Putra.
"Mmmmm.... tentang iklan itu, Tiara ingin minta maaf jika Tiara sempat berpikiran sempit beberapa waktu yang lalu," ucap Tiara.
"Apa maksudmu?" tanya Putra tak mengerti.
"Tiara hanya berpikir tentang gosip yang akan beredar tentang Tiara dan kak Putra, tapi Tiara tidak berpikir tentang masalah yang akan kita semua hadapi jika iklan itu tidak berjalan dengan lancar, Tiara tidak berpikir jika kekhawatiran Tiara tentang gosip itu akan membuat project iklan produk baru kita terhambat," jawab Tiara menjelaskan.
"Aku mengerti maksudmu Tiara, kekhawatiranmu itu ada benarnya juga, jadi aku tidak akan menerima usul dari sutradara jika itu membuatmu tidak nyaman dengan gosip baru yang bisa saja tersebar nantinya," ucap Putra berusaha memahami kekhawatiran Tiara.
"Tapi Tiara berusaha untuk berpikir dari sudut pandang yang berbeda kak, Tiara tidak ingin masalah pribadi Tiara menghambat kesuksesan produk baru kita, jadi Tiara memutuskan untuk menyetujui saran sutradara, Tiara tidak akan keberatan dengan apapun yang terjadi nantinya, entah itu gosip tentang Tiara dan kak Putra ataupun tentang gosip tidak benar lainnya," ucap Tiara.
"Apa kau serius Tiara?" tanya Putra memastikan.
"Tiara serius kak, Tiara tidak akan meminta kak Putra untuk menolak atau menerima saran sutradara, kak Putra pasti tahu apa yang terbaik bagi perusahaan dan sekali lagi Tiara menyetujui usul dari sutradara yang meminta kak Putra untuk terlibat secara langsung dalam project iklan itu," jawab Tiara meyakinkan.
"Bagaimana dengan kekhawatiranmu yang bisa saja terjadi nantinya?" tanya Putra.
"Apapun yang terjadi nanti Tiara akan menghadapinya, Tiara akan membuktikan pada mereka semua yang membenci Tiara bahwa apa yang mereka pikirkan tentang Tiara itu salah," jawab Tiara.
"Tapi bagaimana dengan kak Putra? apa kak Putra akan baik-baik saja jika berita tidak benar itu kembali tersebar?" lanjut Tiara bertanya.
"Kau jangan khawatir, aku pasti bisa mengatasinya, lebih baik kita fokus saja pada produk baru yang sebentar lagi akan kita luncurkan," jawab Putra.
"Jadi apa kak Putra akan menerima usul dari sutradara?" tanya Tiara.
"Jika kau tidak merasa keberatan untuk membiarkanku terlibat langsung dalam iklan itu maka aku akan menerima usul sutradara, karena memang itulah yang terbaik yang bisa kita lakukan, karena seperti yang kau tahu kita sudah tidak mempunyai cukup waktu untuk merubah konsep ataupun mencari penggantiku," jawab Putra.
"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu saat meeting besok kak!" ucap Tiara.
Panggilanpun berakhir, Tiara merasa lega karena akhirnya hal yang membuatnya resah sedari tadi telah mendapatkan jalan keluar.
Terkadang kita harus berpikir dari sisi yang berbeda agar kita bisa mendapatkan titik terang dari setiap permasalahan yang ada.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi, namun Tiara masih tampak nyenyak di atas ranjangnya.
Ia bahkan tidak mendengar alarm yang sudah beberapa kali berbunyi dari ponselnya, tanpa sadar Tiara mematikan alarm itu dan kembali terlelap dalam tidurnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari Kevin yang membuat Tiara segera terbangun dari tidurnya. Dengan malas Tiara menerima panggilan Kevin.
"Halo Kevin, kenapa kau menghubungiku pagi-pagi seperti ini?" tanya Tiara dengan suara yang terdengar begitu malas.
"Apa kau baru bangun tidur?" tanya Kevin.
"Hmmmmm....." balas Tiara berdehem tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Aku menghubungimu karena ingin menanyakan alamat tempat tinggalmu yang baru, apa kau tidak sedang bekerja sekarang?" ucap Kevin sekaligus bertanya.
"Tentu saja aku bekerja, aku akan mengirim lokasiku padamu nanti, sekarang aku ingin melanjutkan tidurku dulu!" ucap Tiara.
"Tiara....... !" panggil Kevin dengan berteriak yang membuat Tiara segera menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Kenapa kau berteriak padaku Kevin? Kau membuatku kesal saja," ucap Tiara.
"Apa kau tidak tahu jam berapa sekarang?" tanya Kevin yang membuat Tiara segera melihat ke arah jam yang ada di ponselnya.
Seketika Tiara beranjak dari tidurnya dan segera melempar ponselnya begitu saja. Tiara segera masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan menggosok gigi lalu berganti pakaian tanpa mandi.
Tiara merapikan dirinya dengan sebaik mungkin dan tak lupa dia mengenakan cukup banyak parfum agar tidak terlihat jika tidak mandi pagi itu.
Tiara segera menyambar tas kerjanya dan ponsel miliknya lalu bergegas keluar dari rumah untuk berangkat ke kantor.
Karena terlalu terburu-buru Tiara bahkan tidak sadar jika ponselnya masih terhubung dengan Kevin sampai akhirnya Kevin mengakhiri panggilannya karena Tiara tiba-tiba menghilang begitu saja dari ponselnya.
Di sisi lain, pagi itu semua manajer dan direktur perusahaan X berjajar rapi di lobi untuk menyambut kedatangan CEO baru mereka.
Rafa sengaja meminta sang papa untuk tidak menyiapkan penyambutan yang berlebihan atas kedatangan dirinya sebagai CEO baru pengganti sang papa.
Meskipun begitu, sang papa tetap harus memperkenalkan Rafa secara resmi pada manajer dan direktur yang bekerja di perusahaan itu.
Selain itu papa Rafa juga mengumumkan bahwa Putra akan menjadi asisten pribadi Rafa mulai hari itu.
Semua yang ada disana pun bertepuk tangan menyambut kedatangan Rafa dan perpindahan jabatan Putra menjadi asisten pribadi CEO baru mereka.
Setelah perkenalan singkat di lobby, papa Rafapun meninggalkan perusahaan itu, menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya pada Rafa dengan bantuan Putra yang menjadi asisten pribadi Rafa.
Setelah Rafa dan Putra meninggalkan lobby, para manajer dan direkturpun mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Beberapa dari staf yang ada di lobby mulai membicarakan CEO baru mereka, tidak sedikit dari mereka memuji betapa tampan dan berkharismanya Rafa.
Rafa yang sedang berjalan ke ruangannya tak lelah mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Tiara sejak ia masih berada di lobby, hal itupun diperhatikan oleh Putra.
"Sebenarnya siapa yang sedang kau cari?" tanya Putra pada Rafa.
"Berbicaralah yang sopan, aku adalah atasanmu!" ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Putra.
Putra hanya tersenyum menyeringai mendengar ucapan Putra.
"Baik Pak, saya minta maaf," ucap Putra dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Rafa kemudian masuk ke ruangannya. Hal yang pertama dia lakukan adalah merapikan meja kerjanya sesuai dengan keinginannya.
Sedangkan Putra sudah lebih dulu merapikan meja kerjanya yang baru yang berada tepat di depan ruangan Rafa.
Di sisi lain, Tiara yang sudah terlambat masuk kerja tidak berhenti berlari sampai ia tiba di kantor. Dengan nafas yang tersengal-sengal Tiara berjalan ke arah lift lalu masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai tempatnya bekerja.
Tiara sudah pasrah jika dirinya akan mendapatkan sanksi atas keterlambatannya. Ia pun berjalan ke arah meja kerjanya dengan raut wajah yang tampak lelah.
"Waah tumben sekali kau terlambat Tiara!" ucap salah satu teman Tiara.
"Iya kak, Tiara juga tidak mengerti kenapa Tiara terlambat bangun," balas Tiara.
"Sayang sekali kau terlambat hari ini, padahal tadi pagi ada perkenalan CEO baru di lobby, kau pasti menyesal karena tidak bisa melihat setampan apa CEO baru kita," ucap teman Tiara.
"CEO baru? lalu bagaimana dengan Pak Adam?" tanya Tiara.
"Tentu saja Pak Adam sudah tidak berada disini, posisi Pak Adam sekarang sudah digantikan oleh anaknya yang menjadi CEO baru di perusahaan ini," jawab teman Tiara.
"Digantikan oleh anaknya? bukankah anak pak Adam itu perempuan?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Hahaha kau sok tahu sekali, sangat disayangkan kau tidak melihat CEO baru kita tadi pagi karena kesempatan untuk bertemu dengan CEO di perusahaan ini sangatlah langka bagi kita yang hanya pegawai rendahan hahaha....."
"Kakak benar, pegawai biasa seperti kita tidak akan mungkin bertemu langsung dengan CEO," balas Tiara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tiara, masuk ke ruangan saya!" ucap manager yang tiba-tiba datang minta Tiara untuk masuk ke ruangannya.
"Baik Pak," balas Tiara lalu segera beranjak dari duduknya kemudian berjalan masuk ke arah ruangan sang manager.
Manajer yang mengetahui bahwa Tiara terlambat segera memberikan sanksi kecil pada Tiara.
"Kau hanya terlambat beberapa menit jadi kau hanya akan menerima sedikit sanksi dariku, ambil semu file dengan kode EXP yang ada di ruangan penyimpanan dan hancurkan semuanya sampai habis!" ucap manager pada Tiara.
"Baik pak, Tiara permisi," balas Tiara lalu keluar dari ruangan manager.
"Apa kau mendapat hukuman?" tanya teman Tiara.
"Tentu saja, Tiara harus menghancurkan beberapa file yang ada di ruangan penyimpanan," jawab Tiara lalu berjalan ke arah ruang penyimpanan.
"Hahaha kau kasihan sekali, bersemangatlah!" ucap teman Tiara dengan sedikit berteriak.
Tiara yang baru saja sampai di ruangan penyimpanan segera berjalan menyusuri satu persatu rak tinggi yang ada di dalam ruangan itu untuk mencari file dengan kode EXP sesuai dengan perintah manajernya.
"Menghancurkan beberapa file tidaklah susah bukan? aku hanya perlu mencari filenya dan menghancurkannya, itu tidak akan rumit dan tentunya tidak akan menyita banyak waktuku," ucap Tiara sambil mengedarkan pandangannya mencari kode EXP yang ada pada setiap rak yang menjulang tinggi di kanan dan kirinya.
Hingga akhirnya Tiara terdiam menatap satu rak yang berdiri kokoh di hadapannya. Mata Tiara menatap ke arah bawah dan perlahan berjalan semakin naik sampai ia mendongakkan kepalanya menatap kode EXP yang berjajar rapi dari bawah sampai ujung tertinggi rak di hadapannya.
"Waaaaahhh...... ini benar-benar di luar dugaanku, aku harus mengambil semua file ini dan menghancurkannya satu persatu, ternyata seperti ini hukuman kecil yang Pak manajer maksud!" ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya pelan menatap tumpukan file dengan kode EXP yang tertulis pada raknya.
"Baiklah, mari kita mulai peperangan ini sekarang juga!" ucap Tiara lalu mengambil troli untuk menaruh file-file berkode EXP di hadapannya.
"Bagaimana aku mengambil file yang ada di ujung rak itu? apa tidak ada kursi disini?" tanya Tiara pada dirinya sendiri sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi di sekitarnya, namun tentu saja ia tidak menemukan kursi yang dicarinya.
Dengan terpaksa Tiarapun harus ekstra berjinjit untuk bisa mengambil file yang ada pada rak paling atas.
Di sisi lain, Rafa yang tengah memeriksa beberapa file yang ditinggalkan oleh sang papa tampak kebingungan saat ia merasa file yang dibutuhkannya tidak ada pada rak di ruangan kerjanya.
Rafapun menanyakan hal itu pada Putra.
"Sepertinya ada di ruangan penyimpanan, aku akan mencarinya!" ucap Putra.
"Tidak perlu, aku akan mencarinya sendiri!" ucap Rafa lalu berjalan ke arah ruangan penyimpanan.
Saat Rafa baru saja tiba di dalam ruangan penyimpanan ia tersenyum senang saat melihat gadis cantik yang dicintainya ada di hadapannya.
Saat itu Tiara tengah berjinjit untuk mengambil file yang terletak di ujung rak, karena tidak mampu menjangkaunya dan hampir saja terjatuh, tanpa sengaja Tiara memegang rak yang hampir saja membuat rak itu terjatuh menimpa Tiara jika Rafa tidak dengan cepat menahan rak itu.
"AAAAAAAAAAA!!!!!!" teriak Tiara dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya saat rak di hadapannya hampir saja terjatuh ke arahnya.
"Dasar ceroboh, kau harus lebih berhati-hati Tiara!" ucap Rafa yang saat itu berdiri di belakang Tiara sambil menahan rak.
Tiara yang saat itu masih menundukkan kepalanya dengan menutup wajahnya seketika memutar badannya untuk memastikan suara laki-laki yang ia kenal.
"Kak Rafa!" ucap Tiara yang begitu terkejut melihat keberadaan Rafa saat itu.
Rafa hanya tersenyum lalu mengambil semua file yang ada pada rak tertinggi dan menaruhnya di atas troli milik Tiara.
"Kak Rafa kenapa ada disini?" tanya Tiara yang masih dipenuhi dengan keterkejutan karena keberadaan Rafa yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Kita akan menjadi rekan kerja mulai sekarang," jawab Rafa sambil memamerkan name tag miliknya.
Tiara hanya terdiam dengan mulut yang menganga tanpa ia sadari. Ia tidak menyangka jika ia akan menjadi rekan kerja Rafa di perusahaan besar tempat ia bekerja.
Karena terlalu terkejut Tiara bahkan tidak sadar jika di bawah nama Rafa tertulis jabatannya sebagai CEO pada name tag yang diperlihatkannya pada Tiara.
__ADS_1