
Pagi di hari Minggu. Gita baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati Bima yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kemana saja kau semalam?" tanya Gita pada Bima, namun Bima hanya diam dan terus membawa langkahnya masuk ke dalam kamar seolah tidak mempedulikan Gita.
Gita yang merasa diacuhkanpun segera membawa langkahnya mengikuti Bima.
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini padaku?" tanya Gita pada Bima.
"Sampai Tiara kembali," jawab Bima sambil memejamkan matanya di atas ranjang.
"Waaahh rupanya kau mulai terang-terangan di hadapanku sekarang," ucap Gita yang membuat Bima membuka matanya dan beranjak dari ranjangnya.
"Bukankah kau sudah lama tahu tentang hubunganku dengan Tiara, jadi aku tidak perlu lagi bersandiwara di hadapanmu, lagi pula kau juga tidak mencintaiku bukan!"
"Setidaknya kau mempedulikan anak yang ada di kandunganku, jika bukan karenamu anak ini tidak akan mungkin ada," balas Gita.
"Kau benar, aku memang menginginkan anak itu tapi itu bukan berarti aku bisa mencintaimu, jadi jangan pernah berharap lebih padaku karena bisa jadi kau akan semakin kecewa nantinya," ucap Bima yang kembali merebahkan badannya dan memejamkan matanya.
Gita yang kesalpun akhirnya keluar dari kamar menuju ke arah dapur.
"Kau harus bisa merebut hatinya jika kau tidak ingin dia pergi darimu," ucap Mama Laras pada Gita.
"Dia bahkan sama sekali tidak mempedulikan Gita meskipun Gita sedang mengandung anaknya saat ini," balas Gita.
"Semua ini menjadi rumit karena salahmu Gita, jika saja kau bisa menurunkan sedikit saja egomu pasti semua ini tidak akan terjadi," ucap Mama Laras.
"Sampai kapan Mama akan terus menyalakan Gita seperti ini, Gita sudah lelah dengan semua sandiwara yang Mama buat hanya demi harta warisan papa!"
"Dan harta warisan itu semakin jauh karena kau mengusir Tiara dari sini," ucap Mama Laras selalu berjalan pergi meninggalkan Gita.
"kau memang selalu beruntung Tiara, bahkan Mama yang sangat membencimupun tidak ingin kau pergi dari rumah ini," ucap Gita kesal dalam hati.
Gita kemudian membawa langkahnya ke arah sang mama lalu duduk di dekat mamanya.
"Mama sangat menginginkan Tiara kembali ke rumah ini, apa Mama juga akan melakukan hal yang sama jika Gita yang keluar dari rumah ini?" tanya Gita pada sang mama.
"Tentu saja, mama menginginkan warisan itu untuk kehidupan kita yang lebih baik Gita, Mama melakukan semua ini tidak hanya demi Mama tapi juga demi dirimu," ucap Mama Laras.
"Tapi apa Mama pernah memikirkan perasaan Gita? apa Mama pernah memikirkan apa yang Gita rasakan selama ini?" tanya Gita yang membuat mama Laras terdiam.
"Dari dulu Gita sangat membenci Tiara, tapi mama selalu meminta Gita untuk bersikap baik padanya, sampai sekarang Gita sudah tumbuh dewasa Mama tetap meminta Gita melakukan hal itu, apa Mama tahu bahwa Gita tersiksa selama ini? apa Mama pernah memikirkan hal itu?"
"Sudahlah Gita kau jangan berlebihan, kau hanya menjadi lebih sensitif karena hormon kehamilanmu, kehamilanmu ini memang merepotkan sekali," ucap Mama Laras lalu beranjak dari duduknya.
Gita hanya terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan sang mama padanya.
"apa benar kehamilanku ini merepotkan? apa tidak seharusnya aku hamil? bahkan Bima tidak juga mencintaiku walaupun aku sedang mengandung anaknya saat ini," tanya Gita dalam hati.
Gita kemudian beranjak dari duduknya lalu keluar dari rumah. Beberapa lama kemudian Gita kembali dengan membawa satu kantong nanas di tangannya.
Gitapun segera membawa nanas itu ke dapur lalu mengupasnya. Tanpa ragu Gita memakan beberapa nanas yang sudah ia kupas.
"Aku tidak peduli lagi, kehamilanku ini memang menyusahkan, untuk apa aku mengandung anak dari laki-laki yang tidak mencintaiku bahkan dengan terang-terangan mencintai perempuan lain di hadapanku," ucap Gita dengan penuh emosi.
Bima yang saat itu akan pergi ke dapur begitu terkejut saat melihat Gita yang tengah memakan buah nanas dengan lahap.
Bimapun segera merebut nanas yang ada di tangan Gita dan membuangnya ke tempat sampah.
"Apa yang kau lakukan Gita? apa kau sudah gila?" tanya Bima dengan berteriak pada Gita membuat Mama Laras keluar dari kamarnya karena mendengar teriakan Bima.
Melihat Bima yang tampak emosi saat itu Gitapun tidak bergeming. Gita malah mengambil nanas lain yang sudah dikupasnya dan bersiap untuk memakannya namun dengan cepat Bima merebut nanas itu dan menampar Gita dengan kencang.
PLAAAAAKKKKK
Suara tamparan itu terdengar nyaring di telinga, bahkan Mama Laras yang baru saja keluar dari kamarpun mendengar tamparan itu.
"Apa salahku? apa yang membuatmu sangat marah padaku seperti ini? kau akan menampar istrimu sendiri Bima!" tanya Gita dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang sudah kau lakukan dengan buah ini? apa kau mau membunuh bayimu?" balas Bima bertanya dengan berteriak.
"Ada apa ini? kenapa kalian saling berteriak seperti itu?" tanya Mama Laras dengan membawa pandangannya pada Bima dan Gita.
__ADS_1
"Lihatlah ma, dia pasti sengaja memakan banyak buah nanas untuk menggugurkan kandungannya!" ucap Bima sambil menunjuk satu kantong nanas yang ada di meja dapur.
"Apa itu benar Gita? apa kau mau menggugurkan kandunganmu?" tanya Mama Laras pada Gita.
"Bukankah mama sendiri yang berkata bahwa kehamilan Gita merepotkan? apa salah jika Gita memutuskan untuk menggugurkan janin ini sebelum dia tumbuh besar?" balas Gita bertanya.
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil Gita, kau sudah dewasa seharusnya kau bisa berfikir lebih jauh tentang apa yang kau lakukan ini," ucap Mama Laras.
"Maaf ma kali ini biarkan Bima yang menyelesaikan masalah ini," ucap Bima lalu menarik tangan Gita dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Bima menutup pintu kamarnya dengan kencang lalu menjatuhkan Gita di atas ranjang dengan kasar.
"Katakan padaku apa yang kau inginkan sekarang? kau sungguh ingin membunuh bayi dalam kandunganmu?" tanya Bima yang sudah terbakar emosi saat itu.
"Kenapa kau peduli pada kandunganku? bukankah kau sama sekali tidak peduli padaku?" balas Gita bertanya.
Bima kemudian mendekat ke arah Gita, menundukkan kepalanya dan memegang kedua pipi Gita dengan satu tangannya.
"Dengar baik-baik Gita, jika kau berani melakukan hal ini lagi aku akan menceraikanmu saat itu juga, aku tidak peduli lagi tentang cabang perusahaan yang papa janjikan jika hal itu benar-benar kau lakukan!" ucap Bima lalu melepaskan tangannya dari pipi Gita dengan kasar.
Gitapun hanya terdiam dengan memegang kedua pipinya yang terasa sakit. Ia tidak habis pikir dengan sikap Bima yang sangat kasar padanya bahkan saat dirinya tengah hamil.
**
Di tempat lain Tiara baru saja pulang dari jogging bersama Chika dan teman-temannya yang lain.
Setelah mandi dan berganti pakaian Tiarapun mulai berkutat dengan laptop dan buku-bukunya.
Biiiiippp biiiipp biiiipppp
Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan masuk dari Rafa.
"Apa kau sudah menemukan jawaban dari pertanyaanmu kemarin?"
"Belum, bukankah pak Rafa yang seharusnya memberitahu Tiara jawaban itu?" balas Tiara.
"Saya sedang di toko buku dekat kafe sekarang, kemarilah jika kau sedang senggang," ucap Rafa.
Gedung dua lantai itu tidak hanya menjual berbagai macam buku tetapi juga menyewakannya dan menyediakan tempat untuk pengunjungnya membaca buku.
Tiara kemudian mengirimkan pesan pada Rafa, menanyakan dimana keberadaan Rafa saat itu.
"Saya di lantai 2," jawab Rafa yang membuat Tiara segera membawa langkahnya naik ke lantai 2.
Benar saja, di salah satu sudut ruangan itu Tiara melihat Rafa yang sedang membaca buku dengan serius.
"ternyata pak Rafa memang tampan," ucap Tiara dalam hati yang tanpa sadar membuatnya tersenyum saat ia menyadari ketampanan laki-laki di hadapannya itu.
Tiara kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat saat ia menyadari senyum yang baru saja tersungging di bibirnya, Tiarapun segera membawa langkahnya untuk duduk di hadapan Rafa.
Menyadari kedatangan Tiara, Rafapun menggeser 2 buku di hadapannya ke arah Tiara.
"Kau harus membaca dua buku ini," ucap Rafa dengan pandangannya yang masih fokus pada buku di tangannya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering, Tiarapun segera mengambil ponsel dari tasnya dan mendapati nama Gita yang baru saja mengirim pesan padanya, namun Tiara memilih untuk mengabaikannya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tapi tak berapa lama kemudian ponsel Tiara kembali berdering, membuat Tiara segera menonaktifkan ponselnya saat itu juga.
"Jika keluargamu masih mencarimu itu artinya mereka masih menyayangimu," ucap Rafa dengan pandangan yang masih menatap buku di tangannya.
"Mereka bukan menyayangi Tiara, mereka hanya membutuhkan Tiara untuk dimanfaatkan," balas Tiara lalu membuka buku yang baru saja Rafa berikan padanya.
Namun karena Gita yang baru saja menghubunginya membuat Tiara tidak bisa fokus pada buku yang sedang dibacanya saat itu.
"Sepertinya ada masalah besar yang membuat sikapmu berubah pada kakakmu," ucap Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa.
"Pak Rafa....."
"Jangan memanggilku seperti itu, apa aku sudah terlihat sangat tua di matamu?" protes Rafa memotong ucapan Tiara.
__ADS_1
"Bukankah Pak Rafa memang sudah tua? Pak Rafa bahkan terkadang sangat cerewet seperti pa...... pa.....," ucap Tiara dengan satu kata yang ragu ia ucapkan di akhir kalimatnya.
Satu kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa ia pikirkan terlebih dahulu. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ia menyamakan seseorang yang baru ia kenal dengan sang papa yang sangat dia sayangi yang sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Apa papamu sepertiku?" tanya Rafa dengan menyunggingkan senyumnya, namun seketika senyumnya menghilang saat melihat Tiara yang tampak menundukkan kepalanya. dengan raut wajah yang sedih.
"Asa apa Ra? apa ada sesuatu yang salah?" tanya Rafa sambil menutup buku yang dibacanya.
Seketika Tiara menggelengkan kepalanya lalu tersenyum ke arah Rafa.
"Bagaimana Tiara harus memanggil Pak Rafa sekarang?" tanya Tiara yang berusaha memperlihatkan wajah cerianya pada Rafa.
"Di luar kampus dan di luar kafe kau bisa memanggilku kakak karena aku rasa aku tidak setua itu untuk dipanggil "Pak" setiap saat," ucap Rafa yang membuat Tiara terkekeh.
"Apa memang orang tua selalu seperti Pak Rafa?" tanya Tiara dengan menahan tawanya.
"Apa maksudmu?" tanya Rafa.
"Seperti yang baru saja Pak Rafa katakan, sepertinya orang tua memang selalu tidak ingin terlihat tua di depan anak muda seperti Tiara hehehe....."
"Aku tidak setua yang kau pikirkan Tiara, kita hanya selisih 5 tahun dan jika kau menganggapku tua maka aku juga akan menganggapmu sama tuanya sepertiku," ucap Rafa dan semakin membuat Tiara tidak bisa menahan tawanya.
"Oke baiklah, kak Rafa...." ucap Tiara mengikuti permintaan Rafa karena memang pada dasarnya Rafa tidaklah setua yang Tiara pikirkan.
Bahkan jika dilihat dari wajah dan postur tubuhnyapun Rafa masih cocok jika disebut sebagai mahasiswa yang satu angkatan dengannya.
"Begitu lebih baik," balas Rafa sambil mengacungkan dua jempolnya pada Tiara.
Tiara dan Rafa kemudian membaca buku mereka, sampai beberapa lama kemudian merekapun memutuskan untuk keluar dari toko buku itu.
"Sepertinya Tiara tidak mempunyai cukup uang untuk membeli buku ini, jadi Tiara hanya akan menyewanya saja," ucap Tiara.
"Aku sudah membelinya, kau bisa membawanya dan mengembalikan padaku jika kau sudah selesai menggunakannya," ucap Rafa
"Benarkah? terima kasih pak Ra....."
"Eheemmm!!"
Rafa sengaja berdehem untuk mengingatkan Tiara agar tidak memanggilnya "Pak".
"Aahh iya maksud Tiara kak Rafa, terima kasih sudah meminjamkan buku ini pada Tiara," ucap Tiara sambil menahan tawanya bahkan sampai mereka keluar dari toko buku itu.
"Kenapa kau tertawa Ra? apa ada yang aneh padaku?" tanya Rafa.
"Tidak, hanya saja Tiara tidak terbiasa memanggil "kak Rafa"," jawab Tiara.
"Mulai sekarang kau harus membiasakannya, apa menurutmu aku harus menggunakan peraturan ini untuk di kafe juga agar semuanya memanggilku seperti itu?"
"Apa sebegitunya kak Rafa tidak ingin terlihat tua?" balas Tiara bertanya.
"Apa aku memang sudah terlihat tua?" tanya Rafa dengan menatap kedua mata Tiara dengan jarak yang sangat dekat membuat Tiara seketika menjadi gugup.
Tiarapun hanya terdiam dengan kedua matanya yang tidak berkedip saat matanya beradu pandang dengan kedua mata Rafa yang tengah menatapnya saat itu.
"Tidak..... aku yakin aku tidak setua itu," ucap Rafa lalu berjalan pergi begitu saja.
Tiara seketika terbangun dari lamunannya dan memegang dadanya yang terasa berdetak sangat kencang saat itu.
"Waaahh kak Rafa benar-benar membuat jantungku naik turun," ucap Tiara sambil mengusap dadanya, berusaha menenangkan gejolak dalam dadanya saat itu.
TIIIIINNNN TIIIIINNNN
Suara klakson dari mobil Rafa membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa.
"Masuklah, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Rafa pada Tiara yang masih berdiri di depan toko buku.
Tiarapun menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil Rafa.
"ternyata kak Rafa tidak semenyebalkan yang aku pikirkan, kak Rafa bahkan masih mau membantuku mengerjakan skripsi walaupun dia sudah tidak menjadi dosen di kampusku," ucap Tiara dalam hati sambil menatap Rafa yang tengah mengemudikan mobilnya saat itu.
"Berhentilah menatapku atau kau akan jatuh cinta padaku," ucap Rafa yang membuat Tiara segera mengalihkan pandangannya.
__ADS_1