Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab10. Sengaja Memanas-Manasi.


__ADS_3

Bab10. Sengaja Memanas-Manasi.


***


Perdebatan semalam membuat Kasih enggan bersuara. Dia terlalu cemburu dengan kedekatan Krisna dan juga Nita. Bagaimana tidak mereka begitu romantis hujan-hujanan seperti di film-flm India.


Wajahnya di tekuk sedari dia keluar kamar. Bibirnya sesekali mengumpati lelaki yang tengah berada di depannya.


"Aku tuh gak cinta dia, meskipun kami telah menikah." Krisna memandang Kasih dengan wajah datarnya. Jika perdebatan mereka tejadi Kasih selalu mengulang kembali kata-kata Krisna yang telah ia ucapkan padanya.


"Apakah salah jika aku memperlakukannya seperti itu? Dia juga istriku Kasih. Kamu harusnya mengerti kamu itu madu dia. Nita pun berhak atas perhatian dariku. Jangan selalu beranggapan aku akan kejam padanya meskipun aku tidak mencintainya. Satu tahun pernikahan yang telah terlewati dengannya. Tidak sedikit pun aku bisa menyakitinya," tandas Krisna menggertak Kasih. Wanita muda itu sedikit terkejut dengan ucapan suaminya.


Dia bahkan menundukkan kepalanya karena Krisna telah melukai hatinya. Bukan jawaban itu yang Kasih inginkan. Tetapi dia ingin krisna berkata bahwa dia tidak akan mengulangi hal itu lagi. Tetapi jawaban dan harapannya membuat Kasih bersedih.


Krisna yang melihat Kasih menangis langsung mendekatinya. Dia juga memeluknya menenangkan wanita muda itu yang sifatnya kekanak-kanakan.


"Sudah jangan menangis." Krisna mengusap air mata Kasih dengan jemarinya. Tidak lupa dia mengecup keningnya.


Kasih yang melihat Nita tengah menonton keromantisannya dengan Krisna langsung mengeluarkan jurus untuk menyindir serta memanas-manasi Nita.


"Kamu gak bakal kan tinggalin aku? Kamu cuma cintanya sama aku. Meskipun kamu punya istri dua," tanya Nita pada Krisna. Lelaki itu pun menjawab.


"Iya." Krisna belum menyadari jika Nita tengah menonton keromantisan keduanya.


"Iya, kalau aku nikah sama kamu dan kamu tidak mencintaiku, aku akan memilih meninggalkanmu. Dari pada aku selalu terluka setiap harinya. Pernikahan itu indah jika saling mencintai," ucap Kasih memanas-manasi Nita.


Nita memandang nanar kearah mereka yang tengah berpelukan. Haruskah dia pun melupakan kenangan indah yang telah terlewati di masa kecil hingga dewasa. Harusnya Nita meninggalkan Krisna yang telah berjanji akan menjaganya hingga akhir hayat.


Tetapi Nita tidak bisa melakukannya. Andai saja Krisna memperlakukannya dengan tidak baik dia tidak akan bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini. Sikap lembut dan sedikit perhatiannya membuat Nita tidak bisa menjauh dari Krisna. Apa yang bisa dia lakukan jika tanpa Krisna di sampingnya.

__ADS_1


Tidak ingin mendengar kata sindiran lagi, Nita langsung berjalan kearah meja makan. Dia juga menyapa mereka dan tersenyum seperti biasanya.


Krisna menguraikan pelukan itu. Dia tidak tahu jika Nita telah datang. Andai dia tahu, dia tidak akan menyuguhkan sarapan keromntisannya pada Nita.


"Mas," rengek Kasih di saat Krisna melepaskan pelukannya.


"Kenapa lagi? Nita sudah datang. Jadi kita harus sarapan. Kasihan dia kalau kelaparan, dan lagi Mas pun harus berkerja," ungkap Krisna yang tidak ingin meladeni rengekan Kasih lagi.


Kasih dengan cepat menuangkan nasi dan lauk pauknya kedalam piring Krisna. Ia tahu jika Nita akan melakukannya. Lagi-lagi Nita hanya tersenyum menanggapi. Dia menyelipkan anakan rambut Kedaun telinganya. Untuk mengusir rasa malunya di saat Kasih melakukannya dengan cepat. Krisna hanya mengembuskan napas berat. Mungkin untuk kedepannya mereka tidak seperti ini. Mengingat mereka masih baru tinggal bersama.


Wanita muda itu, menyuapi Krisna dengan mesra. Suara khas manja dan rengekan anak kecil membuat mata Nita berembun. Dia pun berdiri akan berpamitan kekamar mandi.


"Aku permisi dulu," pamit Nita dia berlari kedalam kamar mandi. Dia menangis di sana. Menumpahkan rasa sesak melihati pasangan itu.


Kasih yang melihat Nita bersedih pun tersenyum kemenangan. Dia berhasil membuat wanita itu merasa tidak diinginkan. Semudah itu membuatnya rapuh. Bukankah orang yang tersakiti akan mudah meninggalkan. Jika cepat terjadi tentu saja Kasih lebih bahagia. Dan tentunya dia akan menjadi satu-satunya.


"Sepenting itu dia untuk kamu? Jika tidak ada rasa mengapa kamu harus sepanik itu," gerutu Kasih. Dia menghentakkan kakinya dengan penuh amarah. Dia berusaha membuat Nita terluka tetapi suaminya selalu mencoba menjadi penawarnya.


"Tata, kamu baik-baik saja?" Krisna mengetuk kamar mandi terburu-buru. Dia juga tidak sabar ketika Nita tidak juga menjawabnya.


"Tata kamu mendengarku tidak?" Teriak Krisna. Dia akan mencoba mendobrak pintu itu jika Nita tidak juga keluar. Namun, belum dobrakan itu dilakukan Nita membukanya dengan cepat.


"Aku hanya tidak enak badan, Kris," ucap Nita sembari menempelkan tangannya ke kening. Krisna panik dengan refleks dia menggendong Nita dan akan membawanya ke kamar.


"Aku bisa sendiri Kris. Kamu berangkat saja, nanti kamu kesiangan!" Seru Nita merasa tidak enak hati. Dia sekilas melihat ekspresi Kasih yang sedang marah karena memperlakukan Nita berlebihan.


"Diamlah, kamu juga istriku. Bukankah aku harus memperlakukanmu dengan baik? Kamu ini sedang sakit," seloroh Krisna membuat Nita terdiam. Dia menempalkan kepalanya di dada bidang sang suami. Dia juga mengalungkan tangannya di leher Krisna.


Ketika telah sampai di kamar Nita. Krisna dengan perlahan membaringkan Nita di ranjangnya. Begitu hati-hati karena dia takut Nita terluka.

__ADS_1


"Kenapa begitu hati-hati? Aku ini hanya pusing bukan sedang mengandung Kris," ungkap Nita, dia juga tekekeh dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Mengandung? Siapa yang menghamili kamu? Bukankah kamu tidak punya pacar?" Telisik Krisna dia sedikit menautkan alisnya merasa curiga. Nita langsung terdiam dan berubah menjadi datar.


Memang Krisna pikir dia wanita mura*an. Meskipun dia tidak pernah disentuh oleh Krisna. Tidak sedikitpun pikirannya untuk melakukan hal kotor itu. Nita menatap tajam kearah Krisna.


"Kamu marah? Hey, apa yang salah dengan pertanyaanku?" Tanya Krisna sedikit tertawa kecil.


"Kamu menganggap aku wanita mura*an Kris! Bagaimana kamu bisa menanyakan aku mengandung anak siapa! Ayok check aku ke rumah sakit jika kamu tidak percaya!" Ketus Nita dengan melipat tangan di dada. Krisna tertawa melihat ekspresi Nita begitu jutek. Tidak menyangka jika istrinya itu sedikit sensitif.


"Iya, iya aku percaya. Kamu memang wanita yang baik. Tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu," jawab Krisna menenangkan Nita yang kesal.


Krisna mendengar deru mesin mobil berhenti di pekarangan rumahnya. Dia tahu pasti sekretaris itu datang untuk menjemputnya. Mau tidak mau dia meminta izin untuk pergi kekantor. Nita mengiyakan, dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


Lelaki itu langsung kedepan, dan di sana sudah ada Kasih yang menunggu Krisna.


"Mau kemana sudah cantik seperti ini?" tanya Krisna.


"Aku mau ikut kamu ke kantor!" Rengek Nita dengan bibir mengerucut. Krisna tertawa dan dia langsung mengiyakannya.


Nita yang melihat betapa bahagianya Krisna di saat Kasih ingin ikut bersamanya. Hanya bisa menatap nanar penuh luka.


***


Biarkan Nita berjuang dulu dengan cintanya ya teman-teman. Dia belum menyerah. Meskipun aku melarangnya... ×_×


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2