Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab85. Berkabung.


__ADS_3

Nita mengikuti kemana Karina pergi, ternyata tujuan Karina kerumah Krisna. Kaki yang enggan untuk melangkah, tetapi rasa penasaran sungguh bersarang dalam pikirannya. Anak Krisna yang Karina bawa ketoko cukup meyakinkan dirinya jika keluarga mantan suaminya tengah dilanda masalah.


Bagaimanapun keadaannya Krisna tidak akan membiarkan Karina untuk membawa anaknya. Nita meyakinkan dirinya jika dia datang hanya untuk melihat Tazkia. Bukankah Riska, pun bisa mengawasi cucunya. Atau terjadi sesuatu pada wanita baya itu, pikiran Nita semakin kalut.


Apalagi para tetangga mulai berdatangan, dahinya mengkerut semakin bingung. Akhirnya dia bertanya pada tetangga yang baru saja keluar dari rumah Krisna.


"Maaf bu, ini ada apa ya? kenapa silih berganti untuk masuk?" tanya Nita pada orang itu. Ibu itu tampak menghela napas, memandangi Nita dengan wajah sendu.


"Bu Riska meninggal dunia, ini sudah 4 hari kepergian beliau," jawabnya, wanita baya itu berpamitan pulang. Begitu lemas kaki Nita tidak percaya jika mantan mama mertuanya meninggal.


Dua minggu kebelakang mereka bertegur sapa lewat telepon, meminta Nita untuk datang karena wanita itu merindukan dirinya. Namun, Nita belum bisa datang mengunjungi, mengingat dia belum ingin bertemu dengan Krisna.


Kini dia begitu menyesali, keterlambatan dirinya untuk menemui Riska. Tubuhnya meresot tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri. Rasa sesal yang kian dalam membuatnya tidak sadarkan diri di halaman rumah Krisna.


Orang sekitar yang melihat langsung memboyong Nita untuk masuk kedalam rumah Krisna. Karina yang mengetahui jika dia orang yang dikenalinya begitu khawatir. Dia membawa minyak aroma terapi untuk didekatkan kearah hidung Nita.


Hampir satu jam Nita pingsan. Matanya mulai mengerjap dan perlahan dia beringsut untuk duduk, pemandangan yang dia lihat begitu menyedihkan. Tazkia, gadis yang tegar itu sungguh menyedihkan. Nita bisa mengerti akan perasaan Tazkia. Dia langsung memeluk gadis itu, membelai punggung Tazkia dengan lembut.


"Mbak ... Ini salah Kia, jika Kia tidak berkata jujur pada Mama semuanya tidak akan seperti ini." Isak tangis terus keluar dari mulut gadis itu. Matanya sudah sembab bahkan terlihat sipit.


Nita perlahan menguraikan pelukannya dan menangkup pipi gadis itu dengan tatapan dalam. Mengusap air mata yang terjatuh di pipi Tazkia. Namun, bukannya berhenti menangis gadis itu kembali menjerit.


"Berhenti menangis, Kia. Jangan menyalahkan dirimu, Mama akan sedih melihat keadaan kamu seperti ini. Keponakan kamu pun masih membutuhkan kamu," ucap Nita memberi pengertian.

__ADS_1


Nita pun duduk berdampingan dengan Tazkia, mengarahkan kepala gadis itu untuk bersandar di bahunya. Tazkia menangis lagi hingga tertidur di bahu Nita. Pakaian Nita sampai basah terkena air mata Tazkia.


Karina perlahan membantu Nita untuk membaringkan Tazkia di sofa dengan hati-hati. Setelah membaringkan Tazkia, Nita menyuruh Karina untuk ikut bersamanya.


"Kenapa kamu merahasiakan masalah ini, Karin? kamu tahu hubungan aku dan Mama Riska dekat?" tanya Nita, Karina menundukkan kepalanya. Dia ingat jika Nita belum ingin mengunjungi Riska, itulah alasan dirinya tidak memberitahu Nita.


"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Mbak dengan Ibu, aku tidak enak untuk memberitahu, Mbak," jawab Karina. Nita menggelengkan kepalanya.


"Jika masalahnya seperti ini apa kamu kira aku akan tetap enggan untuk datang? tapi sudahlah, aku tidak ingin memarahimu." Nita mempersilahkan Karina untuk pergi.


***


Waktu sudah malam hari, Tazkia belum juga membuka mata. Bahkan gadis itu belum makan dengan benar selama 4 hari. Kepergian Riska dalam hidupnya membuat dirinya rapuh dan tidak bersemangat untuk hidup.


Kali ini Nita memasak untuk Tazkia, semoga saja dia mau untuk makan malam ini. Nita menunggu Tazkia untuk terbangun. Tangannya terangkat untuk mengusap wajah gadis itu.


"Ini salah Kia, Mbak, jika Kia tid--"


"Cukup." Nita membungkam mulut gadis itu dengan suara tegasnya. "Makanlah dulu, menangis seharian membutuhkan tenaga," titah Nita, Kia menatap makanan yang terhidang di meja lalu dia menatap Nita dengan wajah sendunya.


Kia tidak menolak, dia membawa piring berisi makanan itu. Makan dengan diiringi tangisan. Nita membelai kepala Kia, menyisipkan anakan rambut yang menghalangi pipinya.


Rambut gadis itu kusut, pelayan mengatakan sehabis mandi dia tidak akan menyisir. Waktunya dihabiskan untuk menangis. Nita pun meminta pelayan untuk membawakan sisir, dia menyisir rambut Tazkia.

__ADS_1


Karina yang melihat adegan itu ikut merasai keperihan di hatinya. Dia pun sama seperti Tazkia, merasa kehilangan. Dia pun menyesal karena tidak mengiyakan keinginan wanita baya itu untuk menjadi pendamping Krisna. Dia sudah tidak akan mengharapkan Bian, meski dia masih menaruh hati padanya.


Baby sitter menyadarkan Karina dari lamunan. Dia mengatkan jika Krisna ingin berbicara padanya. Saat ini Krisna tengah berada di luar kota, keadaan duka dan juga perusahaan cabangnya tengah mengalami kendala. Mau tidak mau dia harus datang meski suasana hatinya sedang kacau.


["Bagaimana dengan keadaan Kia, saat ini? apakah dia mau makan? dia sudah tidak menyalahkan dirinya sendiri lagi 'kan?"] Krisna memberondong banyak pertanyaan pada Karina. Gadis itu menelan ludah dengan sulit, kerongkongannya tercekat mendengar suara Krisna.


["Hallo, kamu masih di sana Karina?"]


["Ya-iya Tuan Krisna dia mu-mulai mau makan, ka--"] ucapan Karina terpotong, tiba-tiba Nita datang memberi isyarat jika jangan mengatakan pada Krisna jika dirinya datang. Karina sudah gugup dengan situasi ini. Menganggukkan kepala pun seolah berat.


["Ta-tapi Nona Kia, ma-masih menyalahkan di-dirinya,"] jawab Karina melanjutkan ucapannya. Di seberang sana terdengar helaan napas barat. Krisna pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Di sana dia sedang kesulitan sedangkan di rumah pun tengah berkabung.


Tetapi lelaki itu mempunyai tanggungjawab pada adik perempuan dan anaknya. Jika sampai perusahaan bermasalah dia tidak akan memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Dia pun sama halnya dengan Tazkia, menyalahkan dirinya karena kepergian sang mama.


Air mata lelaki itu terjatuh, lalu dia pun memutuskan sambungan telepon.


***


Setelah Tazkia tertidur kembali Nita masuk kedalam kamar Riska. Tangannya menyentuh lemari yang dilewatinya. Matanya berulang kali dia kedipkan agar tidak menangis. Melihat figura yang terpasang poto dirinya dan Riska. Saling merangkul, saling tertawa.


Sebelum menikah dengan Krisna dia bagai anak dan ibu yang tidak terpisahkan. Namun, karena luka yang Krisna berikan teramat dalam membuatnya memberikan jarak.


"Maafkan aku, ma. Karena tidak bisa berbakti padamu di sisa hidupmu. Aku bahkan malah menghindarimu ketika kamu ingin menemuiku. Maafkan aku ma," gumam Nita meremas sprei kasur.

__ADS_1


Membawa bantal dan menciuminya, Karina ikut masuk dan mengatakan jika ada orang yang ingin bertemu dengannya. Nita menyimpan bantal itu dan mulai berjalan kedepan.


***


__ADS_2