
Bab31. Merajuk.
***
Kasih memandang suaminya yang masih terlelap. Tidurnya begitu nyenyak hingga dia membangunkannya pun lelaki itu masih betah di alam mimpinya. Wanita itu menusuk-nusuk pipi Krisna, memainkannya seperti anak kecil.
Hatinya berbunga-bunga saat ini, Krisna pasti akan menuruti keinginannya. Segala sesuatu yang dia mau, Krisna selalu memberikannya. Kasih kecup berulang kali pipi suaminya itu.
Namun, Krisna seolah enggan untuk terbangun. Meski Kasih sudah berusaha menggodanya.
"Bangun!" Rengek Kasih sembari memeluk tubuh suaminya dengan mesra. Krisna mengerjapkan matanya dengan malas.
Dia memandang wajah istrinya tepat di wajahnya. Kasih berusaha mengecup bi*ir Krisna. Namun, lelaki itu menolak.
"Jangan sayang, Mas bau. Belum gosok gigi. Menyingkir dulu," titah Krisna. Membuat wanita itu cemberut seketika. Dia memang tidak bisa menghalangi keinginan Krisna. Namun, kali ini dia mempunyai senjata yang sangat ampuh untuk meluluhkan hati suaminya yang kadang-kadang dingin.
"Sabar ya, sayang. Papa-mu suka begitu kadang. Mungkin dia tidak menginginkan kita, Nak." Tangannya ia elus kepermukaan perut dengan wajah yang sangat sedih.
Krisna tidak mampu melanjutkan perjalannya menuju kamar mandi ketika Kasih merajuk membawa anaknya. Dia mendesah frustrasi jika menyangkut calon bayinya. Apalagi ini anak pertamanya. Tentu dia akan melakukan apapun untuk anaknya.
Tetapi mengusir Nita dari rumah itu sungguh itu bukan ngidam yang masuk akal. Meski pemenang hatinya adalah Kasih. Dia tidak akan mampu melukai hati Nita.
Lelaki itu berbalik dan berlutut di hadapan Kasih. Dia memegangi perut wanita itu yang masih datar. Ia mengelusnya dengan lembut.
"Sayang, dia juga akan menjadi ibu-mu kelak. Tolong beritahu dia, jika Ibu Nita akan sangat berjasa dalam pertumbuhan masa depan kamu kelak," ucap Krisna. Entah apa yang membuat Krisna melontarkannya. Kasih mengehempaskan tangan Krisna dengan kasar. Dia tidak terima dengan lontaran suaminya itu.
Secara tidak langsung lelaki itu menolak dan tidak ingin menuruti keinginan Kasih. Padahal dia sudah berbahagia akan merayakan kemenangannya. Tetapi kenyataannya dia salah besar.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? Kamu pikir aku tidak bisa merawatnya dengan baik!" Teriak Kasih. Dia menatap tajam kearah suaminya.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus mengusirnya dari sini. Sampai anakmu lahir," ucap Kasih. Krisna mendekati istrinya lagi dengan perlahan.
Dia akan mencoba membujuknya, "tenanglah dulu, sayang. Apakah kamu lupa kalau kamu tengah mengandung? Dia juga sangat dibutuhkan, percaya padaku. Aku tidak bisa menuruti keinginan kamu untuk ini. Mengertilah, jangan membuat aku menjadi suami yang tidak tahu malu lagi seperti dulu," timpal Krisna.
"Kamu mencintainya?" tanya Kasih, "jawab, Mas!"
Namun, Krisna masih terdiam tidak sanggup mengatakan apa pun. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Apakah ini bisa dikatakan rasa cinta. Atau hanya rasa kasihan, atau bahkan karena rasa tidak tega, mengingat Nita seorang diri. Tidak mempunyai sanak saudara.
"Berhentilah untuk bertanya hal itu," jawab Krisna. Membuat Kasih semakin yakin jika Krisna sudah mulai mencintainya.
'Kenapa bisa seperti itu, apa yang salah denganku. Mengapa dia malah mencintai wanita itu. Padahal dia sudah tidak menghargai dirinya lagi,' batin Krisna.
"Kamu bilang aku berhenti untuk bertanya. Sedangkan setiap masalah yang menyangkut wanita itu, kamu tidak pernah mau menjawab pertanyaanku. Jika kamu tidak mau mengusirnya aku akan mengeluarkan bayi ini sebelum waktunya," ancam Kasih. Lelaki itu membelalak tidak percaya dengan keputusan Kasih.
"Apa maksud kamu?" tanya Krisna berpura-pura tidak mengerti. Padahal hatinya sudah ketar-ketir jika Kasih melakukan hal bod*h.
"Aku akan membuatnya tidak bisa bertemu dengannya. Bahkan aku tidak akan--" Krisna langsung mengecup bib*r istrinya. Membungkam wanita itu agar berhenti mengancamnya. Dia tidak bisa terus-terusan mendengarnya.
"Berhenti. Tolong, berhenti. Sebelum kamu menyakiti anakku." Krisna memohon pada Kasih. Wanita itu langsung menghentikan aksinya. Kasih merasa bersalah terhadap bayi itu. Dia berbicara dengan wajah sedihnya di hadapan Krisna. Dia menatap sekilas kearah Krisna dengan sinis
"Ayahmu tidak ingin kita bahagia sayang,"
"Aku mohon mengertilah, aku akan mengabulkan apapun itu. Asal kamu jangan memintaku untuk mengusirnya, sayang." Krisna mencoba bernegosiasi dengan kasih. Namun, bukan Kasih jika dia tidak bisa merajuk. Agar Krisna menuruti keinginannya.
"Yasudah kamu pertahankan dia, biar aku saja yang mengalah. Aku akan pergi dari kehidupan kamu, kamu sudah tidak lagi mencintaiku." Kasih menangis setelah mengatakan itu.
"Dewasalah Kasih. Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu, mengapa kamu selalu kekanak-kanakan. Berpikir dengan jernih dan turutilah Nita, dia selalu berpikir dewasa dan menyikapinya dengan tenang," ungkap Krisna semakin menyulut emosi Kasih. Wanita itu mendorong tubuh suaminya agar keluar dari kamarnya.
"Pergi aku tidak mau melihat wajahmu." Kasih menangis dan menutup pintu dengan kasar. Hingga terdengar oleh Nita.
__ADS_1
Nita pun keluar dan melihat Krisna yang tengah frustrasi di depan kamar istri mudanya.
"Kenapa, Kris? Kalian bertengkar?" tanya Nita. Dia membawa Krisna untuk masuk kedalam kamarnya. Nita juga memberikan segelas air untuk Krisna minum.
'Andai Kasih bisa bersikap dewasa seperti kamu, Ta. Dan andai juga dia itu kamu, Ta. Orang yang kucintai, mungkin akan berbeda cerita. Bahkan bahagia yang selalu kita rasakan setiap saatnya,' batin Krisna.
Nita mengernyit ketika Krisna malah memandangnya dengan serius. Dia bahkan melamun tanpa Nita tahu apa yang tengah lelaki itu pikirkan. Nita berusaha memegangi bahu Krisna. Agar dia cepat sadar. Lelaki itu cukup lama menatapnya membuat Nita salah tingkah.
"Hey, apa yang kamu pikirkan?"
"Aku ... Andai Kasih sepeti kamu, Ta," ucap Krisna. Yang hanya ditanggapi dengan tawa kecil oleh Nita.
"Jangan membandingkan aku dan dia. Jelas saja kami berbeda, dan kami mempunyai kelebihan dan juga kekurangan masing-masing, Kris. Jika kamu ingin mendapatkan satu wanita yang sesuai kriteria kamu yang ternyata berada dalam dua orang, kamu terlalu serakah. Kamu tidak bersyukur memiliki dia." Nita menjabarkan apa yang dia amati.
Krisna mengembuskan napas kasar. "Aku ... Lelah, Ta." Krisna memeluk Nita.
"Kedamaian yang aku rasakan hanya ketika aku bersamamu."
"Kamu bukan tidak merasa damai berada disampingnya. Kamu hanya tidak bersyukur memilikinya. Padahal dia pilihan kamu." Nita mengelus punggung Krisna dengan lembut.
"Bagaimana bisa aku menuruti keinginannya yang tidak masuk akal, Ta. Dia tetap ingin aku mengusir kamu dari rumah ini. Sedangkan aku, tidak akan pernah bisa melakukannya padamu." Krisna menguraikan pelukannya dan memandang Nita.
"Kenapa aku yang harus pergi? Dan kenapa kamu tidak memintanya untuk dia saja yang pergi agar tidak bisa melihatku,"
"Mmmm, Ta, aku sedang berusaha membujuknya,"
"Kamu terlalu cinta dia, Kris. Semoga mendapat jalan keluar untuk masalah ini. Dan jika kamu mengusirku dari sini. Jangan harap aku akan kembali padamu," ancam Nita.
***
__ADS_1
Bersambung ...