Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab116. Tidak Kusangka.


__ADS_3

Krisna berusaha menjelaskan, tetapi Nita enggan untuk mendengarkan. Dia lebih memilih mengobati luka Krisna. Daripada harus mendengar penjelasannya.


Dia sebenarnya sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Krisna, akan tetapi keadaannya yang sungguh memprihatinkan membuatnya tidak bisa membiarkan dia terluka.


Nita mencoba membawa Krisna ke rumah sakit, tetapi Krisna menolak, dia lebih memilih ingin diantarkan Nita untuk pulang kerumahnya. Nita pun mengantarkannya, dia telaten membersihkan luka Krisna dan juga merawatnya dengan baik.


"Terim kasih, Ta. Aku senang kamu masih mau merawatku dengan baik seperti ini," ucap Krisna dengan tulus. Matanya berbinar-binar begitu bahagia, meski seluruh tubuhnya terasa remuk dan juga wajahnya babak belur dia tidak mempedulikannya yang terpenting baginya bisa bersama-sama dengan Nita.


Wanita yang telah dia cintai, setelah kehilangan istri keduanya. Nita hanya mengangguk dan tersenyum pada Krisna. Tidak ada sepatah katapun yang dia lontarkan.


Tangannya masih sibuk untuk mengompres pipi Krisna. Lelaki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, setelah sekian lama mereka berpisah.


Krisna memegangi pergelangan tangan Nita dengan penuh kasih sayang. Dia juga menatap begitu dalam kearah Nita. Nita yang di tatap, salah tingkah. Nita merasa risih dengan apa yang Krisna lakukan. Dia menggoyangkan tangannya agar Krisna melepaskan.


"Maaf," kata itu meluncur dari bibir Krisna, saat dia menyadari Nita memasang wajah tidak suka.


Nita lagi-lagi hanya mengangguk, raganya memang berada di sana untuk mengobati Krisna. Akan tetapi hatinya berkelana, dia masih tidak percaya jika Indra melakukan hal buruk seperti itu pada Karina.


Salah apa gadis itu hingga membuat Indra ingin menghancurkan Karina? yang dia tahu hanya Krisna lah yang selalu membencinya, tapi apakah dia yang melakukannya?


"Bukankah Indra orang yang Bian kirim untuk menjaga Karina, tetapi mengapa bisa itu terjadi," batin Nita.


"Aku heran dengan lelaki itu, Ta. Bukankah dia kaya, lantas mengapa membawa Karina ke Kelab untuk dijual," terang Krisna membuat Nita menoleh kearah Krisna dengan tatapan tidak percaya.


"A-apa? benarkah begitu?" ucap Nita terbata-bata, dia semakin tidak bisa menerima kenyatan yang baru saja didengarnya. Krisna mengangguk tanpa ada keraguan.

__ADS_1


"Yasudah, kamu istirahatlah. Aku harus ketoko. Kasihan pegawaiku membutuhkan aku," pamit Nita, gadis itu berdiri membawa baskom kecil tempat air yang telah dia pakai untuk mengompres luka Krisna.


Tangan Krisna mencekal tangan Nita lagi, "bisakah kamu menemaniku sebelum aku tertidur," pinta Krisna dengan sorot mata memohon. Nita tidak tega, dia pun mengiyakan dan kembali menyimpan baskom kecil itu di atas nakas, lantas kembali mendudukkan bokongnya di tepi ranjang di sisi Krisna yang tengah berbaring.


"Andai aku bisa mengulang waktu, Ta. Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu demi cinta yang sesaat. Benar kata Mama-ku saat aku memutuskan sesuatu aku benar-benar harus memikirkan dampak setelahnya agar aku tidak menyesal dikemudian hari. Tetapi ternyata penyesalanku sia-sia, dan berakhir dengan duka." Mata Krisna terpejam setelah mengatakan apa yang ada di dalam benaknya.


Nita hanya bergeming saat mendengarnya, dia tidak merasa tersentuh sedikitpun. Yang ada di benaknya saat ini bertemu dengan Indra meminta penjelasannya tentang kebenaran yang telah Krisna katakan padanya.


Setelah menunggu lama, akhirnya Krisna tertidur. Dengan perlahan Nita membawa baskom kecil itu dan membawanya keluar kamar. Menutup pintu dengan perlahan.


***


Nita duduk bersandar di sofa tempatnya bekerja. Menutup matanya memikirkan kejadian yang sempat terjadi hari ini. Dia kembali mengembuskan napas kasar saat mengingatnya lagi. Membuka matanya lalu menatap langit-langit ruangannya dengan tatapan kosong.


Menutup mata sesaat lalu menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Ada apa, Risma." Gadis itu hanya menunjuk kearah kedepan. Nita tidak tahu apa yang terjadi di depan. Dia pun melangkahkan kakinya untuk menuju kedepan.


Di sana ada Indra yang tengah memprotes tidak terima, saat lelaki itu tidak diizinkan untuk masuk. Rindi dan Karina pun ikut mencegahnya.


"Saya mau bertemu dengan bos kalian," ucap Indra, tetapi Karina, Rindi, dan Imam menggelengkan kepala.


"Tidak bisa Tuan, di sini sudah ada larangan Tuan Indra dilarang masuk," timpal Rindi.


"Iya, Tuan. Maaf bukan kami tidak sopan. Kami hanya menjalankan perintah," sahut Karina.

__ADS_1


"Sebaiknya Tuan pergi!" seru Imam dengan tegas. Namun, Indra tetap kukuh lelaki itu berusaha untuk masuk, tetapi didorong oleh ketiga karyawan Nita agar tidak masuk kedalam toko.


Tenaganya yang cukup kuat membuat kedua gadis itu terhuyung jatuh. Nita menatap tajam kearah Indra setelah apa yang dilakukan lelaki itu pada Krisna kini dia mulai melukai karyawannya.


Dada Nita sudah naik turun, sudah ingin memberikan pelajaran pada lelaki itu yang sudah menjadi orang tidak bermoral. Bagaimana bisa seorang pengusaha yang sukses bisa tidak punya pikiran seperti Indra. Bukankah hanya untuk ingin bersama dengannya sampai membuat rencana menculik Karina. Sungguh cara yang kotor!


Nita menarik tangan Indra dengan kasar menuju samping tokonya. Nita tidak mungkin memaki lelaki itu di depan toko, dia takut jika konsumennya datang di suguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakan, tentang perdebatan mereka.


"Berhenti menggangguku, dan setialah dengan Kia, kamu tahu aku dan dia sudah bagai saudara!" pinta Nita dengan tegas.


"Aku dan dia tidak saling mencintai Nona Nita, percayalah ... dan aku tidak tahu tentang penculikan Karina, sungguh kedekatan kita waktu malam itu hanya kebetulan," sanggah Indra masih berusaha menjelaskan.


Nita mendelik, "kebetulan yang sangat direncanakan dengan matang. Kamu sengaja melakukan itu agar aku dan kamu bisa berkeliling denganku begitu! apa untungnya kita bisa berjalan-jalan jika rasa cemas menyelimuti diriku. Kamu sungguh lelaki yang tidak punya hati Tuan Indra," sungut Nita.


"Jika aku tidak punya hati, aku tidak akn mempunyai rasa padamu,"


"Bukankah aku mengatakan kalau Krisna yang telah menculik Karina, tetapi kenapa kamu malah percaya dengan Tuan Krisna. Kamu tidak bisa menuduhku begitu saja tanpa bukti, Nona Nita."


Nita mengibaskan tangannya di udara seolah tidak mempercayai penjelasan Indra, dia meninggalkan lelaki itu tanpa ingin mendengarkan lagi ucapannya.


Karina sengaja mendengarkan perdebatan diantara Indra dan Nita. Setelah Nita masuk kedalam toko dia mendekati Indra yang tengah gundah karena tidak bisa meyakinkan wanita itu. Indra terlihat kusut, bahkan wajah mes*m yang selalu Karina lihat berubah menjadi sendu.


"Saya tidak tahu salah saya apa pada anda Tuan Indra, mengapa hal ini anda lakukan pada saya. Seingat saya, saya tidak pernah mengganggu hidup anda. Bahkan anda yang selalu menggoda saya pun saya tidak pernah memberitahu Mbak Nita. Tetapi saat anda menculik saya dan Nona Kia sungguh keterlaluan. Apalagi ada satu orang lelaki paruh baya yang kamu suruh untuk masuk kedalam hotel. Lelaki itu mengancam Nona Kia, entah apa yang sebenarnya anda katakan padanya sampai dia mengatakan bertekuk lutut pada anda. Bukankah Anda berhasil membuatnya terjatuh dalam perangkap anda lagi."


***

__ADS_1


__ADS_2