Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab110. Perbedaan Sikap.


__ADS_3

Saat tengah sarapan Tazkia terus memandangi tangannya yang tersemat arloji. Menunggu, ya dia tengah menunggu seseorang yang selalu menjemputnya pagi buta. Dia akan berjalan-jalan untuk menghibur hatinya yang tengah terluka. Terluka karena kehilangan sosok mama dalam hidupnya.


Sedangkan sang kakak sama sekali tidak memikirkan perasaan adiknya. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan pekerjaannya pun seolah yang paling penting baginya. Setelah insiden perusahaan hampir bangkrut dia semakin gencar dalam bekerja. Menghalalkan segala cara agar perusahaannya bisa lebih maju dari perusahaan WN group.


"Siapa yang kamu tunggu?" Suara dingin itu membuat bulu kuduk Tazkia meremang. Sosok hangat itu kini berubah menjadi dingin. Kilatan pancaran matanya sungguh menakutkan.


Tazkia menciut, bahkan ketika dia menyuapkan makanan kemulutnya pun dengan tangan gemetar. Setelah mengumpulkan keberanian Tazkia mulai mendongak menatap tajam kearah Krisna.


"Aku salah apa, Mas. Kenapa ka-kamu menjadi seperti ini," ucap Tazkia dengan bibir bergetar. Tatapan tajam itu kini berubah menjadi tatapan sendu. Seharusnya Krisna bisa menjadi pengganti sosok mama dan papa yang telah pergi dari dunia ini.


Hati Krisna terenyuh melihat tatapan sang adik. Tetapi dia lebih memilih mengalihkan tatapannya. Dia tidak mau tersentuh, dia harus melakukannya. Agar Tazkia bisa menuruti semua perintahnya. Dia ingin mengubah Tazkia yang semula semaunya, bisa dia kendalikan.


Termasuk menikahkan Tazkia dan Indra. Dengan begitu dia bisa lebih kaya. Dan juga dia akan mendapatkan Nita dengan mudah tanpa hambatan.


"Habiskan makananmu, dan pergilah menemui Indra." Krisna lantas meninggalkan adiknya yang masih mencerna semua perkataan Krisna.


Indra? Dia memang tidak bisa jauh dari lelaki itu. Karena hanya Indra yang selalu memenuhi keinginannya. Tetapi dia sama sekali tidak mencintai Indra, bahkan dia tidak ingin memberikan kesempatan kedua untuknya.


Namun, pikirannya beralih mengingat Ari. Gadis itu telah beberapa pekan tidak bertemu dengan Ari, kemana saja dia. Dia harus mencari lelaki itu agar bisa mendengarkan keluh kesahnya.


"Nona anda mencari saya?" Bisik Ari di telinga Tazkia. Gadis itu terperanjat memegangi dadanya. Dia juga menepuk kasar bahu Ari.


"Ya Tuhan, kamu! Bikin orang jantungan! Jantungku satu, kalau copot gak ada gantinya!" Gerutunya mencebik. Ari mengangguk.


"Aku mengundurkan diri untuk bekerja dengan Taun Krisna, Nona Kia." Kia berbalik dengan alis menyatu.


"Kenapa? Bukankah perusahaan kakakku sudah stabil, lantas kenapa kamu ...."


"Tidak bisa aku ceritakan, suatu saat kamu juga akan mengerti. Aku pamit Nona Kia, jika Tuan Krisna tahu aku berada di sini dia akan marah besar." Ari mulai berjalan mundur dan meninggalkan Kia yang masih menatapnya kebingungan.

__ADS_1


Lalu jika Ari bisa kesini, bukankah lelaki itu mengendap-endap untuk masuk?


***


Tazkia duduk melamun di teras depan rumah. Menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Sikap kakaknya sungguh berubah tidak biasa. Apa yang membuatnya menjadi begitu keras padanya. Kenapa Krisna seolah menyuruhnya untuk dekat dengan Indra.


Gadis itu terus memutar otaknya, dia terus mengingat-ingat kesalahan apa yang telah diperbuatnya, hingga membuat Krisna begitu sinis menatapnya.


"Aku tidak punya salah, kemarin pun dia masih bersikap manis padaku, kenapa sekarang berubah dalam sekejam mata." Tazkia mulai menelungkupkan tangannya kewajah.


Setelah Krisna pergi untuk bekerja. Dia menjadi orang yang merasa tidak mempunyai siapa-siapa. Apalagi Ari yang sudah tidak bekerja dengan kakaknya. Pantas saja dia sudah lama tidak melihat Ari untuk menjemput Krisna. Ternyata dia lebih memilih mengundurkan diri.


Lalu bekerja di mana sekarang dia? Lelaki itu, kenapa membuat Tazkia merasakan ada yang aneh. Merasa ada yang kurang saat belum bertemu.


"Jangan cemberut terus." Suara bariton yang paling malas dia dengar. Tetapi dia butuhkan, Indra, lelaki itu datang dengan gagahnya di hadapan Tazkia. Dia memang memesona, tetapi entah kenapa hatinya beku.


"Mari masuk kedalam mobilku. Kamu akan dapat kejutan," titah Indra, Tazkia menatap tangan itu yang terulur.


"Kerja sana! Katanya kaya pengusaha paling berpengaruh, mana ada leha-leha begitu. Nanti bangkrut perusahaan kamu."


"Ya, makanya kamu ikut aku, supaya aku tidak terlambat kerja,"


Kaki Tazkia hentakan di lantai. Gadis itu tidak suka di perintah, apalagi oleh Indra. Lantas dia membuka pintu depan mobil dan masuk dengan mulut yang komat-kamit.


"Nyuruh-nyuruh orang, aku tuh gak suka di suruh, ya."


"Tampan tapi gak bisa meluluhkan hatiku, iya si anak kecil. Aku tahu kamu pasti menganggapku masih kecilkan. Aku sudah besar, sudah jatuh cinta juga," oceh Tazkia. Tangannya terulur untuk memasang seat belt.


Beberapa menit dia menunggu Indra untuk masuk, tetapi lelaki itu belum juga membuka pintu mobil untuk masuk. Di saat dia menunggu.

__ADS_1


"Selamat pagi." Dari kursi belakang seseorang membisikan sapaan di telinga Tazkia. Gadis itu perlahan memutar untuk menoleh.


Matanya mengerjap tidak percaya, padahal lelaki itu tadi telah berpamitan. Lantas mengapa sekarang jadi berada di sini?


"Apa kamu masih merindukanku? Aku sekarang ada di hadapan kamu, mari Nona Kia aku antar kemana pun yang kamu inginkan. Tetapi untuk sekarang saya harus bekerja," ucap Ari. Lelaki itu keluar mobil dan mulai duduk di kursi kemudi. Sedangkan Indra, dia duduk di kursi belakang.


Tazkia terus memandang Indra, dan Ari secara bergantian berulang-ulang. Indra hanya menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah Tazkia.


"Kalian jadi rekan kerja? What, salah gak sih. Kenapa? Mas Ari, apa Mas Krisna membuat kamu tidak nyaman hingga kamu memilih berganti bos. Bos yang tidak tahu sopan santun. Mas Ari kamu tahu dia datang ke rumahku dan tidak tahu malunya mengajakku nonton wayang," adunya pada Ari.


Banyak bicara, ya Indra bisa merasakan kalau Tazkia merasa percaya pada lelaki itu bahkan hal sepele kemarin saja dia beritahukan.


"Mana ada begitu, Kia," sanggah Indra yang ikut menimpali, mengingat dia tidak pernah mengatakan itu.


Tazkia menoleh kebelakang dengan menjulurkan lidahnya. Indra tersenyum hangat memandang gadis itu yang tengah berkeluh kesah.


Hatinya cukup tenang, dia sama sekali tidak merasa terganggu. Indra jadi mengingat Nita, ah, wanita itu. Apakah dia akan melakukan hal seperti itu jika dia merasa Indra lelaki yang tepat? Menceritakan berbagai kejadian yang telah dialaminya.


"Sekarang Nona Kia, mau kemana?" Tanya Ari menyela racauan gadis itu. Kia tampak berpikir.


"Ke rumah Mbak Nita saja, Mas Ari. Aku sakit hati sama Mas Krisna," gerutunya dengan menghela napas berat. Walau hanya sepintas mampir dipikirannya membuatnya menjadi terluka kembali.


Berusaha untuk tidak mengingat, tetapi tetap saja selalu memenuhi otaknya.


"Aku akan mengantarmu, tenangkan hati, ok. Jangan banyak pikiran." Ari mengangkat tangannya sebelah dan mengusap puncak kepala gadis itu dengan sayang.


Perlakuan yang selalu membuat Tazkia merasa nyaman.


***

__ADS_1


__ADS_2