Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab94. Karina mencurigakan.


__ADS_3

"Aku ingin kamu memberikan aku kesempatan kedua, Ta," ucap Krisna ketika mereka telah sampai di restoran. Nita duduk dengan tegak, merasa tidak nyaman dengan situasi itu.


Krisna berusaha mendekat dan memegangi tangan Nita, meski wanita itu berusaha menghindarinya.


"Kris, apa ini yang akan kamu bahas?" alis Nita menaut seolah meminta penjelasan pada lelaki itu. Krisna mengangguk mantap.


Dia mengeluarkan sebuah cincin dari saku jasnya, kotak buludru berwarna merah itu cincin yang sempat dia beli, tetapi belum pernah dia berikan. Nita terlanjur pergi dan meninggalkannya, kesalahpahaman terjadi diantara mereka membuat hubungan keduanya merenggang.


Nita memandangi cincin indah itu, dia ingat jika cincin itu sempat dia lihat, dia berusaha memikirkan di mana dia melihatnya. Dan Nita pun mengingatnya jika cincin itu pernah Kasih pakai.


"I-ini," ucap Nita ragu-ragu. Menatap cincin itu dengan dalam, lalu menatap Krisna secara bergantian.


"Untukmu." Krisna menggeser tangannya agar lebih dekat mengarah kearah tangan Nita. Tangan Nita yang semula di atas meja Nita alihkan berada di pangkuan pahanya. Dia tidak ingin sampai Krisna menyematkan cincin itu di jarinya.


"Kris, kita memang tidak bisa bersama kembali. Kumohon mengertilah, kamu tidak mencintaiku, kamu hanya merasa bersalah," terang Nita merasa Krisna salah mengartikan perhatiannya terhadap keluarga mereka.


"Kamu kira aku akan tersentuh dengan kamu memberikan cincin ini." Mata Nita mengarah kearah kotak buludru itu.


"Kamu tidak mengingatnya kalau cincin ini, pernah dipakai oleh istri mudamu." Krisna tampak terkejut hingga dia menyenggol gelas yang berada disampingnya.


Krisna tidak bisa berkata-kata lagi ketika Nita mengatakannya. Tenggorokannya tercekat seolah tidak bisa menengguk ludahnya. Apalagi menyanggah ucapan Nita.


Krisna pun meminta untuk pulang lebih cepat. Dia juga membayar makanannya dan mengganti rugi gelas yang sempat dia pecahkan.


Di dalam perjalanan pulang Krisna sama sekali tidak mengatakan apapun. Mulutnya seolah terkunci, Nita merasa khawatir jika lelaki itu akan marah dan membuat Nita merasakan trauma seperti dulu. Namun, jalan yang mereka lalui jalan menuju rumah Nita. Wanita itu bernapas lega.


"Kris," panggil Nita, dia merasa bersalah.


"Hmm," jawab Krisna hanya dengan deheman.


"Apa kamu marah padaku?" tanya Nita, tetapi Krisna masih menatap kedepan tanpa berniat menoleh kearah Nita.


"Aku tidak berhak untuk memarahi kamu. Kamu tinggal bilang jika tidak suka dengan cincinnya jangan membuat aku malu," protes Krisna.

__ADS_1


"Tapi, Kris,"


"Masuklah, tidak usah memikirkan aku. Aku banyak stok tidak terbatas akan kesabaran untuk menunggu kamu mencintaiku kembali." Krisna memotong ucapan Nita, membukakan pintu dan menyuruh Nita untuk masuk kedalam rumahnya.


***


Amarah yang semula dia tahan kini dia luapkan. Krisna memukul setir dengan emosi. Dirinya merasa terhina dengan ucapan Nita. Bisa-bisanya Nita menghina dirinya. Jelas-jelas cincin itu tidak pernah dipakai oleh Kasih.


"Cara lembut tidak membuat kamu melirikku, aku akan memakai cara ekstrim." Krisna menekatkan tekadnya kali ini. Dia akan memulai dari Indra.


Dia mulai mencari informasi tentang lelaki itu untuk mendatangi rumahnya. Ya, siapa lagi yang dia akan tanyai jika bukan pada Ari. Krisna telah mendapatkan alamat rumah lelaki itu, dia pun mengunjungi malam itu juga. Indra menatap tidak percaya jika Krisna datang berkunjung kerumahnya.


Lelaki itu mempersilakan Krisna untuk masuk, tetapi Krisna memilih untuk di luar.


"Ada apa Tuan Krisna, tidak biasanya anda datang bertamu kerumah saya. Sungguh kehormatan bagi saya anda bisa meluangkan waktu," ucap Indra, Krisna tersenyum meremehkan.


"Saya tidak akan bertamu jika tidak penting, membuang waktu saya. Saya akan berbicara langsung keinti. Jauhi Nita dan Kia," tegas Krisna. Indra tampak tidak percaya dengan ucapan lelaki itu yang memintanya untuk menjauhi kedua wanita itu.


Tepat saat dirinya sedang kesal Bian meneleponnya.


["Bagaimana kabar Karina?"] Tanya Bian di seberang telepon sana.


["Wanitamu sungguh menakutkan. Dia menganggap saya mes*m dan mendorong tubuh saya hingga tersungkur, dada saya menjadi korban!"] Seru Indra dengan rasa kesal pada Bian. Lelaki itu tergelak mendengar keluhan saudaranya.


["Aku yakin kamu menggodanya, dia tidak akan melakukan hal seperti itu jika kamu tidak berbuat yang aneh-aneh,"] kata Bian masih membela Karina. Bibir Indra mencebik, dia tahu jika Bian tetap akan membenarkan perilaku wanita itu.


["Bagaimana dengan wanita yang kamu lamar, sudah pernah bergulung dalam selimut yang sama?"] Ledek Bian, membuat Indra semakin kesal.


["Memang saya belum bercerita padamu? Gagal total, tetapi dapat pengganti baru."] Indra tertawa riang.


["Cinta lama yang belum kelar telah di depan mata,"] ucap Indra dengan semangat. Namun, ponselnya bergetar mendapati nomor baru mengiriminya pesan baru.


["Siapa yang menghubungi kamu, Dra?"] tanya Bian ketika lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Indra membaca pesan itu dan mengabaikan teriakan Bian. Bibirnya tersenyum jahil mendapati Karina yang menghubunginya.


["Tebak siapa yang telah mengirim pesan,"] tanya Indra. ["Kucing garong mengirimi pesan untukku, Yan. Saya tutup teleponnya Yan."]


***


Pagi ini Karina datang kerumah Indra. Dia membawakan sarapan untuk lelaki itu, sebagai permintaan maafnya karena telah terlalu berlebihan dan membuat lelaki itu celaka.


Dia meminta satpam untuk membukakan pintu. Namun, satpam mengkonfirmasi lebih dulu sebelum mengizinkan Karina masuk. Dan Indra pun mengizinkan gadis itu untuk masuk.


Diq menatap takjub rumah Indra, ketika telah sampai di pintu utama dia ragu-ragu untuk menekan bel.


"Aku malu, sudah membuatnya celaka." Karina lebih memilih pergi lagi, dia tidak punya muka saat ini untuk bertemu dengan lelaki itu. Dia sudah bersikap garang dan membencinya untuk apa dia merasa bersalah.


Dari lantai dua rumahnya Indra memandangi Karina yang tengah pergi dari rumahnya dengan mulut komat-kamit.


"Dia memang gadis yang mempunyai gengsi tinggi, pantas saja hubungan mereka begitu rumit," gumam Indra.


Sedangakn Karina terus merutuki kebodohannya, karena sempat mengirimi pesan singkat pada Indra. Apalagi permintaan maaf yang ditulisnya. Ingin dia tarik lagi pesan itu, tetapi terlanjur telah dibaca.


"Sepertinya Akau ralat karena merasa bersalah. Dia yang lebih dulu menggodaku, dan itu semua pantas dia dapatkan." Karina pergi dari rumah Indra tanpa memberikan sarapan pagi sebagai tanda permintaan maafnya. Dia berpamitan pada satpam dan pergi menuju toko.


Tanpa Karina sadari seseorang tengah mengintai dirinya.


Orang itu mempoto dan mengiriminya pada Nita.


Karina datang Ketoko dengan terengah-engah. Entah mengapa dia merasa ada yang mengikuti, padahal dia jelas tahu jika Indra masih berada di rumahnya. Lalu siapa yang mengikuti dirinya.


Nita melihat tingkah aneh Karina yang masuk seolah tengah dikejar seseorang. Nita berjalan kesana-kemari untuk memastikan apakah ada orang yang mencurigakan. Dilihat dari tingkah Karina, gadis itu tengah katakutan.


"Apa dia takut aku mengetahui kalau dia datang kerumah Indra. Mengapa sikapnya aneh, apalagi orang yang telah mengirimiku poto, apa maksudnya." Nita beritanya-tanya pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2