Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab83. Kemana Dia?


__ADS_3

Acara lamaran telah diselenggarakan, Nita sudah diberi peringatan agar dia datang. Namun, Nita merasa bahwa dirinya tidak perlu untuk datang, dia sama sekali bukan bagian dari keluarga mereka.


Nita memandangi wajahnya yang sedang berada di pantulan cermin. Beberapa kali dia menghembuskan napas kasar, ragu-ragu untuk datang. Namun, dia mengingat pesan Bian, jika dirinya harus hadir mewakilinya.


"Datang atau tidak?" Dia memandang bingkai photo dirinya dan Bian, lelaki itu sudah dia anggap sebagai adik kandungnya. Akhirnya dengan pertimbangan dia akan menghadiri acara lamaran Indra.


Rambut Nita yang panjang dia biarkan tergerai, dia memilih dres berwarna merah muda, tas beserta sepatu berwarna senada. Wanita itu memoles wajahnya dengan make-up. Setelah selesai berdandan dia keluar. Namun, sebelum pergi Ana datang.


Wanita itu terpukau melihat penampilan majikannya yang berdandan.


"Nona sungguh cantik hari ini, apakah anda akan berken--"


"Mbak Ana, aku hanya akan datang keacara lamaran. Bukan untuk berkencan, jika pun aku berkencan dengan siapa." Nita tertawa mendengar ucapan Ana. dia merasa tidak dekat dengan lelaki manapun, mengapa Ana bisa berpikiran seperti itu.


Ana memandangi Nita dari ujung rambut hingga ujung kaki berulang kali, "dengan lelaki semalam kah Nona, saya rasa di--"


"Mbak, dia lelaki me*um yang pernah kutemui. Tidak akan aku ingin berkencan dengannya." Nita bergidik memikirkan Indra. Namun, Ana tertawa melihat tingkah majikannya. Sudah lama dia tidak melihat tingkah majikannya yan seperti ini.


"Anda tidak mencintainya kah Nona? cinta itu tidak mengenal usia, tidak juga melihat dari tingkat tentang apa yang Nona bicarakan barusan," ucap Ana memperingatkan Nita. Nita tersenyum lalu pergi.


Sepanjang perjalanan menuju tempat lamaran Indra, dia teringat Krisna. Bukan tanpa alasan, dia hanya takut jika lelaki itu akan membuat kacau acara itu.


Kini kendaraan yang telah membawanya pergi telah sampai di tempat tujuan. Nita membuka pintu perlahan dan turun. Sebelum masuk dia mengembuskan napas kasar. Berdoa semoga tidak terjadi sesuatu.

__ADS_1


Acara itu digelar pukul sembilan pagi, Nita sengaja datang pukul 10, supaya dia tidak terlalu lama menunggu sampai acara tukar cincin. Namun, ketika dia masuk dia merasa heran. Di sana tidak ada siapapun kecuali Indra, dan juga sekretarisnya.


"Selamat datang Nona Nita, silakan duduk, dan nikmai hidangan yang tersedia," sapa sekretaris Indra. Namun, ketika lelaki akan pergi Nita menahannya.


"Kenapa acaranya belum dimulai?" tanya Nita, sekretaris itu hanya tersenyum.


"Kekasih Tuan Indra belum datang, menurut pelayan di rumahnya dia telah pergi dari pukul 8." Lelaki itu membungkukkan badannya, dan pamit undur diri.


Nita menatap iba Indra yang hanya mematung di kursi. Sesekali lelaki itu menengguk minuman yang terhidang di meja. Bukankah lamaran ini harusnya berakhir bahagia? Namun, mengapa mereka seolah tidak saling mencintai?


"Hubungan seperti apa yang mereka jalani, hingga lamaran moment penting seperti ini malah saling menyakiti," gumam Nita, dia akhirnya memberanikan diri untuk mendekat kearah Indra.


Dia ingin menghibur lelaki itu, ketika Nita telah sampai di dekat Indra dia memegangi bahu Indra. Lelaki itu menatap tangan Nita yang tengah berada di bahunya, perlahan dia juga mendongak menatap Nita.


"Kamu datang, maaf telah membuat anda repot-repot datang. Tetapi acaranya gagal," sesal Indra, Nita tersenyum dia mendudukkan bokongnya disamping Indra.


"Anda ingin mendengar cerita hidup saya?" Nita menjeda ucapnnya menunggu persetujuan Indra. Lelaki itu menganguk mantap.


"Bermula dari perjodohan diantara kami, kami bersama-sama sewaktu kecil. Kami tumbuh bersama, bahkan usia kami seumuran." Nita mengambil dahulu tisu mengusap bawah matanya. Belum mengatakan semuanya tetapi dia sudah tidak sanggup mengatakannya.


Indra yang melihat reaksi Nita pun, memintanya untuk tidak melanjutkan lontarannya jika dia tidak mampu mengataknnya.


"Saya tidak merasa sakit hati. Namun, saya merasa terlalu memaksakan diri. Dia memang masih muda berumur 22 tahun, dia pernah mengatakan jika hubungan kami harus dijalani tanpa harus mengekang satu sama lain. Dia tidak ingin terikat ikatan serius. Namun, saya berpikir ini perlu karena saya mencintai dia, saya tidak ingin dia mengira saya tidak serius padanya. Setelah saya bertemu dengan dia, saya bisa sedikit bepikir dewasa," ucap Indra panjang lebar.

__ADS_1


"Saya kira ucapannya yang seperti itu karena dia memberikan kode, jika saya memang harus memberikan hubungan yang jelas. Namun, saya salah. Dia berkata sesuai kenyatannya, ini yang berada di pikirannya."


Setelah mengatakan masalahnya, sekretaris Indra datang memberitahu Indra jika rapat akan segera di mulai.


"Saya harus bekerja kembali Nona Nita, jika anda tidak keberatan supir saya akan mengantarkan anda." Indra berdiri, tetapi Nita masih duduk dan menatap bingung.


"Mungkin ada bingung mengapa saya bisa langsung bekerja, sebelum menyempatkan kemari saya meminta rapat diadakan siang hari. Namun, karena acara ini gagal saya meminta rapat di majukan." Nita pun mengangguk setelah Indra menjelaskannya.


***


Sebelum supir Indra mengantarkan Nita pulang, dia menuju kantor Indra lebih dulu. Dalam perjalanan Indra hanya terdiam dan sibuk melihat dokumen-dokumen yang dibawa sekretarisnya. Nita pun merasa canggung dan tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan dia merasa menyesal, mengapa tidak memilih menaiki taksi online.


Di saat dia tengah melamun, terlintas dalam pikirannya mengingat Krisna lagi. Ya, kemana lelaki itu? tidak biasanya dia tidak datang di saat dirinya pergi bersama lelaki.


"Nona Nita," panggil Indra, wanita itu masih saja menatap kearah jendela tidak menghiraukan panggilan Indra.


"Ada masalah apa, sudah 2 hari Krisna tidak datng mengganggu, apakah terjadi sesuatu hingga dia tidak sempat lagi untuk membuang waktunya memohon waktuku," batin Nita, dia membawa ponselnya dan menekan kontak bernama Krisna.


Tetapi niatnya itu dia urungkan, dia takut jika Krisna akan salahpaham padanya. Dia kembali mencari nama Ari, tetapi dia urungkan lagi. Hingga akhirnya dia memilih kontak Tazkia untuk dia hubungi. Lagi-lagi Nita pun mengurungkannya. Menyimpan ponsel itu di pahanya, lalu dia membawanya lagi, hal itu dia lakukan berulang kali.


"Nona Nita," panggil Indra lagi kedua kalinya, Nita tidak menyahut dia tampak gelisah. Tidak ada pilihan lain Indra pun memegangi tangan Nita dengan terpaksa.


"Eh." Nita menatap tangan Indra yang sedang bertaut. Indra pun menatap Nita, wajah heran yang Indra lihat. Dia-pun melepaskannya.

__ADS_1


"Maaf jika saya lancang. Namun, anda terlihat seperti gelisah. Saya hanya mencoba menenangkan anda, tolong jangan berpikiran buruk tentang saya," sesal Indra, merasa lancang.


***


__ADS_2