Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab143. Curiga (2)


__ADS_3

Nita memalingkan wajah ketika suaminya semakin mendekat. Perasaan curiga yang bersemayam membuatnya malas untuk berdekatan seperti ini. Haruskah dia mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya?


Dari semalam sampai pagi menjelang perasaan tidak enak hati bersemayam dalam diri. Terlalu percaya nyatanya memang membuat dia terluka lagi.


"Lepas, Tuan Indra!" Seru Nita menekankan. Suaranya terdengar rendah, tetapi penuh kekesalan. Indra semakin merapatkan tubuhnya dan Nita. Wajahnya yang tampan semakin memesona di mata Nita.


"Jika aku tidak ingin, bagaimana?" Nita memberontak meminta Indra untuk melepaskan jerat suaminya.


Nita memukul keras lengan suaminya agar Indra melepaskan. Bukannya melepaskan Indra malah semakin mendekatkan wajahnya dan wajah Nita. Sontak saja membuat Nita diam seketika saat dirinya memberontak.


"Ah, senangnya kamu cemburu seperti ini," ujar Indra dengan memegang dagu Nita. Wanita itu dengan cepat menepis tangan suaminya dengan kasar.


"Semakin galak, semakin gemas aku," ucap Indra mengerlingkan matanya. Mata Nita membola sempurna dengan tingkah suaminya. Tetapi kesadaran Nita masih waras, dia teringat jika Ana pun masih berada di sekitaran mereka.

__ADS_1


"Lepas! Malu sama, Mbak Ana,"


"Dia tidak ada!"


"Lepaskan, aku, tidak! pergi saja sana, ngapain teleponan harus jauh dari aku. sangat mencurigakan sekali, bicara saja jika sudah punya yang baru," gerutu Nita mengeluarkan uneg-unegnya. Indra tersenyum senang lagi kali ini. Istrinya benar-benar cemburu padanya, bukankah itu bagus, berarti bukan hanya Indra yang mencintai. Namun, mereka saling mencintai.


Indra tidak menyela, dia membiarkan istrinya untuk berpendapat.


"Semua lelaki sama saja, manis di mulut doang," sindir Nita dengan ketus.


"Tentu saja tidak akan akan aku lepaskan, di mana ada konsep aku selingkuh sedangkan istriku di rumah saja sudah sangat menyenangkan aku." Indra menggendong istrinya menuju kekamar. Saat mereka sudah berada di dalam ponsel Indra berdering lagi. Dia lagi-lagi mengangkatnya dan pergi. Kali ini begitu jauh hingga keluar kamar.


"Dasar lain di mulut, lain di hati, dan juga lain sikapnya!" Indra meghiraukan ucapan istrinya.

__ADS_1


Nita ingin sekali mengikuti kemana langkah suaminya pergi. Dia ingin memastikan siapa penelepon itu hingga membuat suaminya tidak ingin mengangkatnya di depan Nita. Tangan terlipat di bawah di dada. Wajah datar penuh curiga begitu kentara.


Beberapa menit berlalu akhirnya Indra membuka pintu secara perlahan. Melihat raut wajah istrinya membuat Indra merasa bersalah, tapi apalah daya dia tetap harus melakukannya. Biarlah dia salahpaham hanya beberapa saat.


Indra mendekati Nita, "aku berangkat dulu, ya. Hati-hati di rumah, jangan lupa sarapan." Indra mengecup kening istrinya dengan sayang. Sesaat Nita termangu merasakan kehangatan sikap suaminya yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Namun, kesadarannya kembali dia teringat jika dirinya tengah merajuk. Dia hanya mengangguk dan memalingkan wajah tanpa menoleh kearah suaminya. Andai tidak penting Indra memilih ingin menghabiskan paginya hari ini bergulung dalam kasur, melahap habis istrinya yang tengah merajuk itu.


"Aku pergi sekarang, ya,"


Nita hanya mengangguk lagi, tanpa menoleh kearah suaminya. Indra pun berjalan menuju kearah pintu. Pintu dibuka sangat hati-hati agar tidak mengeluarkan suara yang gaduh. Saat Nita mendengar suara pintu yang ditutup dia menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu dengan nanar. Mungkin suaminya sudah menuju pelataran, dia ingin sekali mengantarkan Indra, akan tetapi sikapnya yang membuat enggan melakukannya.


"Harus ngapain sih, aku. Kalau diam saja bukanlah tidak akan tahu apa yang dia lakukan. Bagaimana kalau aku ke toko dulu, ah iya aku harus ke toko dulu lalu memata-matai suamiku." Nita bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


***


__ADS_2