Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
BonChap. Bab69.Tidaklah Mudah.


__ADS_3

Bab69. Tidaklah Mudah.


***


Setelah acara kemarin membuat Krisna tidak punya pilihan lain. Selain mengiyakan keinginan mantan istrinya. Meski dia tidak ingin berpisah. Tetapi apa yang bisa dia perbuat. Semuanya telah usai, lalu cintanya? Cinta Krisna tidak pernah berkurang seujung kuku pun untuk wanita itu.


Namun, saat ini lelaki itu tengah ingin memarahi Karina. Sudah jelas bahwa dia begitu mencintai mantan istrinya. Mengapa dia bisa mencoba untuk menggodanya. Meski dia pengasuh anaknya dan mempunyai ikatan persaudaraan dengan Kasih nyatanya dia tidak menginginkan Karina.


"Kenapa kamu sok perhatian kemarin di rumah Nita? Ingin mencoba memutuskan hubungan kami, dan membuat kamu menjadi nyonya di sini! Jangan harap! Meski aku membiayai kamu itu karena kamu saudara istriku, jangan berharap kamu bisa menggantikan dia! Dan ingat aku tidak tertarik padamu!" tegas Krisna. Lelaki itu menegaskan bahwa sikapnya kemarin sungguh membuatnya emosi.


Karina mencoba menejelaskan. Namun, belum juga berucap lelaki itu sudah menjauhi dirinya. Tidak ingin terjadi salah paham Karina mengejar Krisna.


"Tuan Krisna, saya mohon anda jangan berpikiran buruk tentang saya. Saya tidak bermaksud demikian, maafkan saya jika saya sa--"


"Berhentilah berbicara dengan saya mulai saat ini. Saya muak! Jika anda butuh apa-apa bilang saja pada Tazkia, saya tidak ingin lagi berurusan denganmu!" Seketika membuat langkah Karina terhenti. Dia tahu dan sadar diri, tetapi melihat Bian yang mengawasi mereka membuat dia ingin memberikan perhatian lebih pada lelaki yang berada di dekatnya waktu kemarin. Dia tidak menyadari jika itu Krisna dan membuat masalah besar saat ini.


"Maaf Tuan Krisna, aku hanya ingin Bian melihat aku bahagia meski tanpa dia melalui anda. Saya tidak bermaksud mempersulit jalan hidup anda. Saya merasa saya ini bekerja menjadi pengasuh anak Kasih, makanya anda membiayai kehidupan saya," gumam Karina. Meski alasan yang dia punya tidaklah mungkin dia ucapkan pada Krisna.


Acara kemarin membuatnya terluka. Tidak menyangka jika Bian berada di sana diam-diam. Dia yakin jika Bian mempunyai hubungan khusus, sedari di desa dia sudah melihat kedekatan Bian dan Nita. Mereka cocok jika ingin bersama pikirnya.


Tetapi pikiran Krisna terhadapnya sungguh tidaklah benar. Dia tidak ingin menjadi istri Krisna, bahkan jika bisa memilih dia ingin menghidupi keponakannya itu dengan jerih payahnya sendiri. Tetapi Karina tahu jika tidak semudah itu bisa membawa anak itu. Ayahnya cukup berpunya, dia tidak akan membiarkan anaknya sengsara dengan Karina.


Karina melakukan lagi panggilan itu, meski nomor itu sudah tidak aktif lagi.

__ADS_1


"Yan, meski kamu tidak lagi mencintaiku. Tetapi aku tidak bisa membohongi rasa ini. Aku mencintaimu Yan."


***


"Mbak Nita," panggil Bian, ketika dia hanya bisa menjaga Nita dari kejauhan kini dia sudah mulai bisa menemuinya.


"Eh, Bian, bagaimana kabarmu?" tanya Nita, tetapi Bian hanya melengkungkan senyuman. Dia membawa bingkisan untuk mereka makan siang.


Bian datang dengan tekadnya yang bulat. Dia sudah menyiapkan beberapa kemungkinan jika dia ditolak atau di terima. Bian ingin melamar Nita, seseorang yang telah berjasa dalam hidupnya. Ketika dia dalam jalan buntu, Nita datang memberinya jalan untuk melewati masa-masa sulit.


Sedangkan Nita selama ini hanya menganggap dia adik. Semua bermula saat dia dan Bian berbincang disambungan telepon. Dia tidak mengabari Karina tetapi meminta Nita untuk merahasiakannya bahkan lelaki muda itu terus menggodanya. Nyatanya ucapan yang pernah dulu terlontar bukankah sebuah kata yang berada dalam hatinya. Itu hanya sebuah balasan karena lelaki itu menggodanya.


"Aku ingin kamu menjadi istriku," ucap Bian, dia membawa sebuah cincin yang cantik. Meski bukan berlian dia membelinya dengan seluruh kehidupannya.


"Bian." Nita menghela napas panjang, lalu setelahnya menutup kotak cincin berbahan buludru itu.


"Percayalah, ini bukan cinta. Aku sering membalas menggodamu tidak sepenuhnya dari hatiku. Aku hanya membalas saja, karena kamu selalu menggodaku. Buat aku bangga. Jangan bertingkah bodoh seperti ini lagi." Nita beranjak berdiri, lalu menepuk bahu lelaki muda itu.


Dia belum ingin membuka hatinya untuk Bian. Tidak pernah terpikirkan jika Bian akan senekad itu melamarnya. Nita perlahan mulai berjalan untuk masuk kedalam rumahnya. Namun, Bian mengehentikan langkahnya.


"Mbak Nita apakah kamu tidak sama sekali memiliki rasa untukku? Apakah aku selama ini tidak cukup baik untuk mendampingimu?" tanya lelaki itu. Nita menghentikan langkahnya.


"Yan." Nita berbalik lagi dan menatap lelaki muda itu yang tengah bersedih karena telah di tolak mentah-mentah oleh Nita. Bukan tanpa alasan dia menolak Bian.

__ADS_1


"Aku hanya menganggapmu adik, seperti dulu kamu selalu mengatakan jika aku ini mirip kakakmu. Perasaan itu tidaklah akan berubah Yan," tandas Nita.


"Tidaklah mudah menerima orang baru setelah kepahitan yang ku lalui begitu menyedihkan. Kamu tahu rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Aku ingin sendiri dulu, mengobati luka hati ini," terang Nita. Bian mengangguk dia mengerti akan perasaan Nita. Tetapi apakah cinta dia untuk Karina tidaklah menyusut? Lalu rasa nyaman saat bersama Nita itu sudah membuktikan bahwa lelaki muda itu mencintainya.


"Tapi aku mencintaimu, aku sudah tidak memiliki rasa lagi terhadap Karina. Kamu salah Mbak jika menganggap aku begitu mencintai Karina." Nita tertawa mendengar ucapan lelaki itu.


"Kita sama-sama terluka oleh orang yang kita cintai, kamu yakin ini cinta Yan? Kamu hanya mencari pelarian untuk mengurangi rasa kesepianmu. Karena kamu terlalu gengsi mengungkapkan isi di hatimu," ucapan Nita mempu membuat Bian terdiam.


Di saat keduanya tengah terdiam saling mencermati tentang apa yang sudah terlontar, seseorang datang dan memberikan Bian sebuah pukulan.


Siapa lagi jika bukan Krisna, lelaki itu datang dengan emosinya yang menggebu. Membuat Nita khawatir. Lelaki itu sudah tidak bisa mengontrol lagi emosinya ketika Nita bersama lelaki lain. Meski mereka telah berpisah nyatanya keposesifan Krisna tidak berkurang.


Nita membawa Krisna masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Bian sedang di tangani oleh Ari.


"Ini untuk kesekian kalinya kamu membuat onar di hadapanku. Kamu mau apa lagi? Pernikahan kita sudah berakhir! Berhentilah menjadi mantan suami posesif!" Tegas Nita. Krisna menatap dengan pilu, kini bahkan dia sudah tidak berhak atas wanita itu.


"Tapi aku masih mencintaimu, sudah berapa kali aku menegaskan. Jika aku tidak pernah mau perpisahan ini terjadi!" Cerca Krisna tidak kalah tegas. Nita memutar bola matanya karena dia sudah tidak bisa lagi memberinya pengertian yang lembut. Apakah dia harus memulai untuk berbuat kasar pada mantan suaminya itu?


***


Ada uneg-uneg yang kurang pas untuk memberikan Krisna pelajaran? ayo komentar dibawah nanti aku akan isi di BonChap selanjutnyašŸ¤—


Terimakasih yang sudah memberikan vote, hadiah, like, dan komentarnyašŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2