
Pukul tiga sore mereka telah sampai di kota. Sepanjang perjalan Nita tertidur, bahkan sampai telah tiba di rumah pun wanita itu masih terlelap. Meski Indra berusaha menepuk pundak Nita berulang kali agar terbangun tetap saja tidak bisa membangunkannya.
Indra pun memanggil Satpam agar menjadi saksi jika dirinya tidak melakukan hal kotor saat menggendong Nita ke kamarnya. Satpam berusaha meminta dirinya untuk menggendong majikannya. Akan tetapi Indra tidak ingin tubuh wanita itu di sentuh lelaki manapun.
"Biar saya saja, Pak. Selebihnya anda cukup mengikuti saya, agar Nona Nita tidak merasa saya berbuat yang tidak-tidak. Kalau bisa di video saja Pak." Satpam itu pun mengambil ponselnya. Namun, Indra meminta ponselnya saja untuk merekam.
Setelah Nita di tidurkan di atas ranjang. Dan dia sudah merekamnya. Indra pun berjalan menuju dapur untuk membawa minuman. Seseorang datang mengagetkan Indra, lelaki itu tersedak hingga menyemburkan minuman di mulutnya.
Indra menoleh kearah sumber suara dengan wajah kesalnya. Namun, Karina hanya tersenyum kikuk mengangkat tangannya berbentuk V.
"Maaf," ucap Karina, dia lantas membawa tisu yang berada di meja makan lalu berusaha untuk mengelap mulut Indra.
"Tidak usah," tolak Indra, dia mengambil alih tisu itu.
"Jangan bilang kamu yang membawa Mbak Nita pergi? kenapa harus memperumit keadaan, sih, Tuan Indra. Jika Tuan Krisna tahu bisa menjadi masalah besar. Dan kamu tahu saat dia datang membentakku karena aku tidak bisa menjaga Mbak Nita," terang Karina mengungkapkannya.
Indra merasa bersalah pada Karina, padahal semua itu bukan karena salahnya. Tangan yang semula sibuk untuk mengelap kini terhenti, "apa dia melukaimu?"
"Menurutmu? dia akan memukulku? bahkan ini lebih sakit dari sebuah pukulan," Karina menjeda ucapannya dan menunjuk, "hatiku yang terluka. Ucapannya yang selalu menyakitkan hatiku." Karina tertawa hambar.
"Lakukan sesuka hatimu, apa yang menurutmu bahagia hingga tidak memedulikan keadaan sekitarmu." Karina memutar badan untuk meninggalkan Indra. Namun, Indra menahannya.
"Maafkan aku, aku ...."
"Aku tidak menyalahkanmu, Tuan Indra, akan tetapi ada baiknya kamu menjaga jarak dengan Mbak NIta. Bukankah kamu akan menikah? bersikaplah menjadi lelaki yang bertanggungjawab dan setia. Aku tidak akan tinggal diam saat kamu menyakiti Nona Kia," ancam Karina.
Indra menyugar rambutnya frustrasi, pantas saja Bian sedari tadi menghubunginya terus-menerus. Apakah dia tahu sesuatu?
***
__ADS_1
Indra terus merutuki dirinya sendiri. Membawa Karina dalam lingkup permasalahannya, harusnya dia mendengarkan nasihat Ari yang melarangnya untuk menyusul Nita. Akan tetapi karena keegoisannya dia tidak memikirkan gadis itu.
Jelas-jelas dia tahu jika Krisna sangat membenci Karina, bahkan dia pun tahu alasan mengapa Krisna menculik gadis itu.
Kini kendaraan roda empat Indra sudah berhenti di pelataran rumah Krisna. Dia mengembuskan napas dalam-dalam lalu mengeluakannya secara perlahan. Dia juga melihat jika mobil Krisna masih berada di tempatnya. Dia langsung berlari untuk masuk.
Namun, baru saja dia telah sampai di depan pintu utama, Krisna langsung menghadiahi lelaki itu pukulan. Indra membiarkan Krisna menghajarnya membabi-buta. Dia ingin menebus rasa bersalah pada Karina.
Setelah Krisna merasa puas, dan melihat Indra babak belur dia menghentikkan pukulannya. "Dasar kau! sampai kapan kau akan seperti ini Tuan Indra! adikku calon istrimu dan kau malah pergi bersama wanita lain, bahkan dengan wanita yang kucintai, kurang *jar kau!" maki Krisna.
Tazkia yang berada di atas terus menajamkan pendengarannya. Ah, benar itu suara Krisna. Apakah dia tengah menghajar Indra, Kia langsung buru-buru kebawah untuk melihat mereka. Dan benar saja apa dugaan Kia. Krisna telah mengajar Indra sampai babak belur. Gadis itu histeris dan meminta Krisna untuk menghentikannya.
"Kamu gila, Mas Krisna! Bisakah kamu memikirkan sesuatu dengan pikiran dingin. Tidak usah pakai kekerasan!" Teriak Kia histeris. Saat melihat Indra terkapar di lantai dengan wajah babak belur.
Krisna bersedih, harusnya adiknya itu membelanya. Ini semua demi dirinya bukan? Lalu mengapa Kia tidak pernah menghargai keputusannya? Krisna terllau menyayangi adiknya meski jalan yang dia pilih salah. Karena memaksakan kehendaknya.
Gadis itu memboyong Indra untuk masuk kedalam rumah.
Krisna yang semula membelakangi Indra dengan napas memburu kini mulai berbalik tubuh dan melihat Indra dan juga Kia.
"Lihatlah adikku yang masih merawatmu yang jelas-jelas sudah kau lukai hatinya. Ingat Tuan Indra jika suatu saat setelah menikah anda masih berbuat seperti ini, saya tidak akan main-main untuk membunuhmu!"
Krisna meninggalkan rumah menaiki mobilnya.
***
Kia telah selesai mengobati luka Indra, wajahnya terlihat garang seperti emak-emak kost. Indra tersenyum melihat ekspresi Kia, sedangkan Kia semakin mendelik dan menajamkan tatapannya.
"Masih bisa tertawa setelah kamu membuat semuanya hampir terbongkar. Dan rencana yang tersusun sudah hampir berhasil." Kia yang kesal memukul wajah Indra dengan kasar. Lelaki itu mengaduh saat tangan gadis itu mendarat di lukanya.
__ADS_1
"Tapi ... kamu tahu kalau Tuan Krisna datang kerumah Mbak Nita?"
"Aku tahu, jangan menyalahkan aku karena semua masalah itu bersumber utama darimu," ketus Kia, gadis itu mengibaskan rambutnya di depan wajah Indra.
"Pulang sana, malas sekali aku melihatmu," usir Kia. Namun, Indra masih tetap duduk di sana.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Apakah ada alasan mengapa Tuan Krisna membenci Karina?" Tanya Indra, terdengar helaan napas berat yang dikeluarkan oleh Kia. Lalu dia menatap dalam kearah Indra dengan tatapan sendu.
"Setelah rumah tangga Mas Krisna hancur, dan Mbak Kasih meninggal dia menganggap Karina akan mempunyai sifat yang sama dengan Mbak Kasih. Licik dan juga ... Ah, sepertinya tidak perlu aku bahas. Kamu 'kan tahu, Mbak Nita sampai melayangkan gugatan cerai dan tidak mau rujuk lagi," terang Kia.
"Kata Mas Krisna dia bersikap seperti itu, karena tidak ingin membuat Karina menjadi besar kepala."
"Sudah, pulang sana. Jangan menunggu aku untuk keceplosan mengatakan semuanya. Aku tidak mau berdosa karena telah membicarakan aib orang yang telah meninggal." Kia berdiri dan menyeret Indra untuk keluar dari rumahnya.
***
Padahal tubuhnya lelah karena perjalanan yang cukup panjang. Akan tetapi dia tidak bisa menunggu saat mendengar Karina diperlakukan seperti itu oleh Krisna. Dia merasa bersalah pada gadis itu.
Bian pun menelepon Indra saat dia tengah menuju perjalanan pulang kerumahnya.
["Apa yang terjadi?"] Tanya Bian di seberang sana dengan suara yang cemas.
["Maafkan aku, Yan, nanti saat pernikahan kamu pulang kan?"]
["Tentu saja, aku akan pulang!"]
["Tidak akan habis satu hari, satu malam jika kuceritakan. Sebaiknya kamu tutup teleponnya. Saya ingin istirahat, dan menyiapkan diri."]
__ADS_1
***