Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab65. Pembalasan.


__ADS_3

Bab65. Pembalasan


***


Krisna tampak sumringah ketika dia terbangun. Setelah semalam Nita sudah mulai mau menimang anaknya. Dia berpikir jika Nita sudah memaafkan dan memulai semuanya dari awal.


Lelaki itu bersiul di dalam sembari berdandan. Si usil Tazkia mulai masuk kedalam, Krisna yakin jika gadis itu akan merecokinya.


"Cmwiwww, ada yang kasmaran nih, hati-hati loh cuma di kasih harapan. Nanti sakit hati!" Goda Tazkia. Namun, Krisna tidak mendengarkan lontaran sang adik. Dia meninggalkan adiknya yang masih berada di dalam. Tazkia menggerutu karena tidak ditanggapi.


"Hoy, sudah di kasih tahu. Malah cuek, kejang-kejang kamu Mas pas keluar kamar,"


Krisna terdiam ketika dia melihat Nita dan Ari yang tengah bercanda ria. Mereka begitu dekat bahkan terlihat intim di matanya. Apakah keduanya terlibat main hati?


Dengan langkah berat Krisna mulai mendekati mereka.


"Mbak Krin, tolong panggilkan pemadam kebaran. Kasihan ada hati yang terbakar," celetuk Kia membuat Nita, Ari langsung menoleh kearah gadis itu.


"Apa yang kamu katakan Nona Kia?" tanya Ari, yang belum menyadari jika kedekatan mereka di tonton oleh Krisna. Bukannya menjawab gadis itu malah kejang-kejang seolah tengah menyindir seseorang. Ari sampai mengernyit melihat tingkah konyol Kia.


Nita tersenyum puas ketika melihat Krisna yang tak bergeming di sana. Lelaki itu hanya menatap kosong kearah mereka yang tengah bercanda. Nita sudah mulai berhasil membuat Krisna merasakan apa yang telah dia rasakan.


"Ini baru permulaan, Kris," batin Nita.


Riska datang menghampiri Nita untuk membawa anak itu. Dia belum menyewa baby sitter karena ini cucu pertamanya. Dia ingin merawat dia, sampai kejelasan hubungan anaknya. Apakah berpisah atau Nita dapat memberinya kesempatan.


***


Krisna sedang berpamitan pada anaknya, tentunya Nita yang menggendong anak itu. Sebenarnya dia ingin marah pada Nita yang begitu dekat dengan sekretarisnya. Tetapi dia tidak mempunyai kekuatan sekarang. Dia lebih takut jika Nita pergi lagi, apalagi banyak orang yang mendukung dibelakangnya.


Ketika mencium pipi gembul anak itu, Krisna menatap dalam wajah Nita. Penuh rasa cinta, seolah enggan untuk pergi. Krisna perlahan mendekati Nita untuk mencium pipinya. Namun, wanita itu menghindar dan berkata.


"Jangan melampaui batas, Kris, aku tidak pernah berkata bahwa kita akan rujuk,"

__ADS_1


"Maksudmu kita masih tetap akan berpisah? Tidakkah kamu ingin memberiku kesempatan, Ta. Aku mohon berikan kesempatan itu, aku tidak akan mengulanginya lagi." Mohon Krisna. Namun, Nita tidak memperdulikan.


"Waktumu cuma dua Minggu lagi Kris,"


"Maafkan aku Ta, bisakah kamu memaafkan aku?"


"Cepat berangkat, Kris, sebelum aku lari lagi dari hidupmu," titah Nita, Krisna pun berpamitan untuk masuk kedalam mobilnya.


Lelaki itu melambaikan tangannya ketika mobil akan melesat pergi. Krisna sepanjang jalan mengintrogasi Ari, berani-beraninya dia bermesraan dengan istrinya.


"Ari!"


"Ya, Tuan,"


"Saya harap kamu tidak melakukan hal itu lagi di depan saya. Dia adalah istriku, tidak sepatutnya kamu datang dan dilayani olehnya. Sedangkan saya di abaikan," cerca Krisna. Ari tersenyum dengan sudut bibir terangkat sebelah. Tuannya tengah cemburu. Ari tidak menjawabnya, dia hanya fokus menyetir.


Tidak kunjung mendapat jawaban Krisna melempar lelaki itu dengan ponselnya. Hingga membuat lelaki jomblo itu terperanjat.


"Jika nona Nita mengancam saya akan pergi jika saya menolak bagaimana Tuan?"


***


Nita bergegas ketempat tujuan yang telah Krisna beritahu. Dia tidak ingin diantarkan oleh Krisna. Lebih baik dia datang sendiri. Dia juga membawa seseorang, sama seperti apa yang Krisna lakukan dulu. Mengajaknya makan malam di luar tetapi bersama istri mudanya. Bukankah ini adil?


Akan ada perasaan yang sama ketika melihat orang yang kita cintai dekat dengan orang lain. Menyakitkan, seperti itulah dulu Nita ketika melihati kemesraan mereka. Bian, ya lelaki itu kembali setelah dia bersikeras menolak. Tetapi demi balas budinya yang telah merawat Karina untuknya akhirnya dia tidak bisa menolak.


Mereka datang saling beriringan seperti layaknya kekasih, ketika mereka telah sampai, mereka langsung mendudukan bokongnya di kursi. Krisna tidak bisa berkata-kata selain dia menghela napas kasar. Berharap bisa lebih dekat nyatanya ada lagi penghalang.


"Kenapa kamu membawa dia, Ta." Tunjuk Krisna pada Bian. Nita memegangi bahu Bian seraya berkata.


"Dia hanya temanku, Kris, bukankah kamu mengajakku makan malam. Mari pesan makanannya aku sudah lapar," jawab Nita. Krisna mempersilahkan mereka memesan sedangkan dia berpamitan kekamar kecil.


Di sana dia membasuh wajahnya, dengan frustrasi dia menonjok dinding meluapkan emosinya. Hatinya terbakar saat ini. Rasanya Krisna sudah gatal ingin memukul lelaki yang sudah membawa istrinya itu. Hampir 15 menit Krisna di sana. Dia sudah mulai merasa baikan. Dia pun berjalan untuk menuju meja mereka.

__ADS_1


Ketika dia sampai dia melihat adegan yang membuatnya sudah tidak bisa menahan lagi rasa cemburunya. Mereka sedang bercanda ria dengan saling bersuapan. Dia langsung menyeret Bian untuk keluar dari restoran. Lelaki itu memberikan bogeman untuk Bian. Membuat Nita langsung menarik paksa tubuh Krisna yang terus memukul Bian.


"Hentikan Kris, kontrol emosi kamu! Bagaimana rasanya?!" Teriak Nita, dia langsung pergi meninggalkan Krisna. Dia membawa Bian untuk mengobati lukanya.


***


Krisna mengendarai mobilnya begitu kencang, cemburu sungguh membuatnya tidak bisa berpikir waras, dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Nita. Mengapa wanita itu harus melakukan hal bodoh seperti ini. Bukankah dia sudah berusaha memohon agar dia memberinya kesempatan.


Bukankah setiap manusia mempunyai kesalahan. Apakah kesalahan Krisna tidak pantas dimaafkan? Lalu mengapa wanita itu masih mau menemuinya.


"Jika akhirnya akan melukai hatinya seperti ini lebih baik Nita tidak pernah kembali," gumam Krisna.


Kurangnya fokus dalam mengendarai membuat Krisna tidak melihat jika seseorang tengah menyebrang di depan. Demi menghindari orang itu dia memilih membanting setir menabrak trotoar.


Brukk ...


Orang yang hampir Krisna tabrak bukan membantu malah meninggalkannya.


Krisna tertatih-tatih untuk keluar, dia juga menelepon Ari. Dia mengabari jika dirinya tengah mengalami kecelakaan tunggal. Tidak terlalu parah, tetapi hatinya yang sangat terluka.


***


"Tuan!" Ari langsung membersihkan luka Krisna. Lelaki itu tampak biasa saja meski dahinya berdarah.


"Apakah ini karma Ari, saya bingung harus berbuat apalagi untuk mengungkapkan rasa cinta ini padanya. Aku salah merasa dulu rasaku hilang, nyatanya cinta itu bertumbuh semakin kuat," ucap Krisna.


"Mungkin saja Tuan, memangnya apa yang Nona Nita telah lakukan hingga anda akan bunuh diri!"


Krisna langsung menatap tajam kearah Ari, dia juga menyingkirkan tangan Ari yang tengah membersihkan lukanya.


"Berhentilah mengeluarkan omong kosong mu! Saya ini kecelakaan bukan bunuh diri!" Kelakar Krisna, membuat Ari tertawa mengejeknya.


"Saya rasa Nona Nita ingin membalas dendam atas rasa sakit hatinya dulu."

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2