
Nita termenung di dalam kamar memandangi poto dirinya dan suami. Dia begitu merasa bersalah ketika dia tahu jika Indra memiliki trauma yang membuat dirinya belum siap memiliki anak. Di mata Nita lelaki itu begitu sempurna tidak memiliki kekurangan, akan tetapi saat dirinya tahu jika Indra mempunyai kelemahan dia semakin yakin jika suaminya memang mempunyai hati.
Nita tergelak sendiri mengingat itu, dia menganggap Indra tidak memiliki rasa malu dan hati. Pasalnya dia tetap mengejar Nita saat lelaki itu akan menikah dengan Tazkia.
Tawanya terhenti dan mulai mengingat pada pembicaraan kemarin saat suaminya mulai mencoba untuk jujur meski raut gelisah begitu kentara. Keringat mulai bercucuran di area pelipis Indra, bahkan pegangan tangannya pada Nita semakin kuat mencengkram menandakan jika Indra begitu takut akan masa itu.
Mereka masih jauh untuk menjangkau air laut, tetapi Indra begitu ketakutan. Nita menghadang jalan Indra dan membiarkan mereka untuk tetap di sana tanpa bermain air laut.
"Ada sedikit rasa takut jika ke pantai!" seru Indra mulai bisa mengusai dirinya. Sikapnya sudah kembali normal kala mereka menjauh dari pantai.
"Kenapa? Kalau kamu ketakutan kenapa tidak menolak saat aku ajak kamu ke Bali?" tanya Nita dengan wajah penasaran.
"Aku tidak mau membuat kamu kecewa." Indra mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Waktu itu aku berlibur dengan keluargaku, aku tidak tahu jika ada orang meminta bantuan dan aku tidak bisa membantunya. Padahal aku bisa berenang jika aku menolongnya tepat waktu dia akan selamat, tetapi karena aku terlambat dia tergulung air laut dan tidak terselamatkan," ungkap Indra dengan wajah datarnya.
"Lalu kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri? Apakah dia saudaramu?"
Indra menutup matanya dan mulai menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mulai mengembuskan napas kasar. Nita bisa melihat jika begitu terlukanya saat itu hingga membuat Indra memiliki trauma.
"Dia ibu-ku dan juga adikku," jawab Indra dengan tenang. Meski Nita tahu dia sedang menutupi kegelisahan dan ketakutannya untuk meluruskan kesalahpahaman terhadap istrinya.
Bahu Nita merosot dengan lemah kala sebuah kata yang di ucapkan adalah salah satu dari orang tuanya. Nita bisa mengerti dan memahami betapa hancurnya hati Indra saat kehilangan sosok orang tuanya. Sama hal-nya seperti dirinya, namun berbeda dengan Nita, dia masih bisa mendapatkan kasih sayang dari keluarga Krisna.
"Maafkan aku," gumam Nita merasa bersalah dan menarik kembali dirinya dalam kesadaran saat dia mengingat perbincangan hari kemarin.
__ADS_1
Dia amat menyesal karena tidak terlalu banyak yang dia ketahui tentang suaminya. Notifikasi masuk membuatnya mengalihkan pandangan. Nita perlahan membuka pesan itu dan tekejut dengan apa yang baru saja dia ketahui.
Wanita itu bersungut-sungut saat Karina tidak banyak bercerita tentangnya. Hari itu juga dia langsung bergegas untuk menuju ke toko.
***
"Cie, yang sudah resmi di lamar, witwiw," ucap Rindi menggoda Karina.
"Jomblo karatan, pas ngasih kabar langsung jadi suhu karena langsung di lamar dong," timpal Risma ikut menggoda Karina. Karina hanya tegelak mendengar godaan mereka.
"Imam, kamu tidak ingin mengucapkan kata selamat pada Karina?" tanya Rindi pada Imam. Lelaki itu masih sibuk membalas costumer dan tidak mengindahkan ucapan teman-temannya.
"Jawab imam!" seru Risma mulai menggertak Imam. "Teman seperjuangan sedang bahagia, harusnya ngasih selamat lah,"
Imam menoleh dengan senyuman yang dipaksakan. "Baru lamaran, bukan nikahan. Kalau nikah baru aku kasih selamat," jawab Imam memilih pergi meninggalkan ketiga gadis yang tengah bergosip.
"Wajarlah, emang kita salah. Ghibahin orang, ya, harus di tegur lah," timpal Risma sembari menutup mulut mendengar gerutuan Rindi. Namun, sedetik kemudian mereka mengunci bibir kala Nita datang membuka pintu.
Keduanya menyapa lalu melenggang pergi untuk bekerja kembali. Sedangkan Karina hanya menggaruk lehernya yang tidak merasa gatal. Dia bingung ketika mendapat tatapan yang penuh pertanyaan dari Nita. Dengan wajah seriusnya Nita meminta Karina untuk datang ke ruangannya.
Tanpa menolak Karina pun menurut dan mengekori Nita untuk masuk kedalam ruangannya. Tiba di dalam Nita langsung menarik tangan Karina untuk secepatnya duduk di sofa.
"Kamu serius? Sudah berbaikan kamu dengan dia?" tanya Nita antusias. Wajah yang semula mengintimidasi kini berubah semringah.
"Mmm, i-iya Mbak, doakan, ya, semoga lancar," ucap Karina. Nita mengangguk seraya meng aamiinkan.
__ADS_1
"Kamu tidak tega ya, melihatnya tersiksa?"
"Bukan Mbak, Tuan Krisna yang menyarankan aku untuk memaafkannya. Karena dia bisa menebak saat aku berkata tidak, tetapi perasaanku tidak seperti apa yang aku ucapkan," terang Karina. Nita seketika menegang ketika mendengar nama Krisna. Tidak bisa dipungkiri meski dia teramat sakit akan tetapi dia juga telah menjadi bagian di masa lalunya.
"Apakah dia sudah mempunyai pasangan Karin?" Karina menggeleng mengingat Krisna pernah berkata bahwa duda beranak satu itu memilih untuk sendiri sampai dia menemukan dambatan hati yang bisa menerima dirinya dan juga putra semata wayangnya.
"Apakah dia baik-baik saja. Dan apakah kamu akan membantuku untuk bertemu dengannya, Karin. Entah mengapa selama beberapa hari ini aku selalu mengingatnya," pinta Nita yang kini mulai mengalihkan pembicaraan pada mantan suaminya. Karina menatap sendu kearah Nita lalu menunduk.
Alis Nita menaut merasa heran dengan tingkah Karina. "Cepat jawab, Karin!"
"Terlambat, Mbak. Dia sudah memilih pergi untuk menenangkan diri,"
"Lalu perusahaannya bagaimana?"
"Tuan Krisna mempercayakan pada Tuan Ari, posisi Presdir sekarang Tuan Ari. Dia juga tidak memberitahukan pada Nona Kia, meski Nona Kia merengek pun Tuan Krisna tidak memberitahukan alamatnya. Katanya jika hatinya sudah sembuh dia akan memberitahu, keputusan yang sangat berat untuk Tuan Krisna, tetapi mungkin dia terluka jika tetap di sini ...,"
Nita mengerjap dengan perasaan yang amat begitu bersalah. Dia telah membuat lelaki itu menjadi patah dan memilih mengasingkan diri. Namun, Nita tidak boleh merasa sedih di hadapan Karina dia pun kembali ceria dan mulai bertanya tentang hubungan Karina dan juga Bian.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Nita mengalihkan pembicaraan lagi. Karina tersenyum kikuk dengan pertanyaan itu.
"Tidak usah lama-lama. Kamu juga sama hal-nya seperti aku yang hanya sebatang kara jadinya harus secepatnya dinikahi agar kamu ada yang menjaga," goda Nita pada Karina. Gadis itu bersemu merah ketika ia sadar jika ucapan Nita benar adanya.
"Aku sih, terserah dia aja, Mbak!"
"Dia akan setuju, untuk menikahi kamu secepatnya," kata Nita sembari berbisik di telinga Karina.
__ADS_1
***