
Bab61. Penyesalan Datang Selalu Di Akhir.
***
Gemiricik air hujan kali ini terdengar memilukan. Seperti seseorang yang tengah berdiri di depan jendela melihati rumah istri tersayangnya yang telah lama menghindar darinya. Dunia pun seolah merasakan kesedihan yang sedang dialami Krisna saat ini.
Setelah kemarin mereka bertemu nyatanya belum juga memecahkan sikap dingin istrinya itu. Wanita itu tetap tegar dalam pendiriannya. Tidak ingin memaafkan Krisna yang terlalu melukai batinnya.
Sikap istrinya kemarin semakin membuat suasana hatinya tidak menentu. Alih-alih akan segera pulang nyatanya dia masih ingin tetap di tinggal. Meski pekerjaan yang telah lama dia tinggal menumpuk, dia tidak memperdulikannya lagi. Riska sudah memintanya untuk kembali dan Tazkia lah yang akan mencoba membujuk Nita.
Tetapi Krisna tidak ingin orang lain yang melakukannya. Apalagi Tazkia yang akan membujuknya. Yang ada bukan pulang, dia malah mendukung kakak iparnya. Dia tahu seberapa Tazkia sayang pada wanita itu dibanding dirinya kakak kandungnya sendiri.
Ari yang melihat keadaan tuannya yang tidak memiliki semangat hidup pun hanya bisa memberikannya rasa iba. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya. Hati wanita itu sudah sekeras batu.
"Menyesal memang selalu datang belakangan. Pentingnya mempertimbangkan suatu tindakan dengan matang. Agar tidak terjadi seperti ini. Menyesal pun percuma, karena waktu yang lampau tidak bisa terulang lagi," gumam Ari. Dia memilih pergi meninggalkan Krisna yang betah melihat air hujan jatuh ke bumi.
Dia berusaha menghubungi Karina, untuk menanyakan apakah Nita sudah ingin mendengarkan penjelasan Krisna. Bahwa lelaki itu tidak pernah membuntuti mereka. Dia hanya mengirim Ari untuk mengikuti mereka.
["Nona Nita masih bergeming. Dia tidak mau mendengarkan saya Tuan Ari,"]
["Cobalah lagi, agar dia bisa bertemu dengan Tuan Krisna. Kasihan dia, seharian hingga larut hanya diam mematung."] Terdengar helaan napas berat yang Karina lakukan.
["Apakah anda yakin jika pun Nona Nita ingin bertemu dengan tuan Krisna apakah dia akan memberi kesempatan padanya?"]
["Yang tahu jawabannya hanya Nona Nita, saya tidak bisa mengatakan apapun kecuali hanya sebuah harapan. Dan kamu pun pasti tahu harapan apa."]
["Saya akan mencobanya lagi, Tuan!"]
***
__ADS_1
Karina mencoba mendekati Nita sesuai perintah Ari. Dia akan berusaha meski dia tidak tahu itu akan berhasil ataukah tidak. Yang mempunyai keputusan hanya Nita. Dia hanya bisa memberikan masukan saja.
"Nona Nita," panggil Karina dengan ragu-ragu. Nita berbalik menatap Karina.
"Apakah anda tidak ingin mendengarkan penjelasannya. Dengarkan saja Nona, siapa tahu alasannya untuk kebaikan Nona," saran Karina. Nita tampak berfikir lama. Membuat wanita itu bingung sendiri. Apakah ucapannya telah menyinggung Nita?
"Alasan apa lagi? Aku bisa merasakannya. Dia menguntitku kepasar. Aku yakin dia juga yang telah membuat penjual di sana menggratiskan barang-barang yang kita beli. Aku tidak akan luluh hanya dengan begini. Setelah dia menginjak harga diriku," cerca Nita. Karina tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Daripada kalian begini saling menyakiti, bicaralah padanya. Luapkan semua emosi yang anda telah simpan. Bukankah Anda pernah berbicara jika ingin mengumpati Tuan Krisna, sekarang saatnya Nona,"
"Baiklah, aku akan mencoba untuk menemuinya. Suruh saja dia kemari!"
***
"Tuan Krisna, Nona Nita ingin bertemu dengan Anda saat ini. Anda bisa menemuinya di rumahnya sekarang," ucap Ari, Krisna menoleh kearah Ari dengan tatapan tidak percaya.
Ari bernapas lega, karena Karina bisa membujuk Nita untuk menemuinya. Dia merasa bahagia, semoga saja Nita bisa mengerti akan kesalahan Krisna dan mulai memberikan kesempatan kedua padanya.
Krisna langsung bersiap, dia berdandan layaknya seorang pemuda yang akan mengapeli pacarnya. Wajahnya sekarang tidak berhenti melengkungkan senyuman.
Setelah selesai berdandan mereka langsung menuju rumah Nita. Krisna akan mengangkat tangannya untuk mengetuk. Tetapi dia masih grogi hingga tangannya masih melayang di depan pintu. Bukannya mengetuk Krisna malah menurunkan kembali tangannya dan melihat kearah Ari.
"Ada apa Tuan?" Tanya Ari, Krisna mendesah pelan.
"Anda harus secepatnya bertemu dengan Nona Nita, Tuan, sebelum dia berubah pikiran," ucap Ari. Krisna pun mengetuknya, Karina membuka pintu utama dan mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Krisna menatapnya tanpa berkedip, meski Nita tidak berdandan berlebihan seperti dirinya tetapi wanita itu begitu terlihat cantik.
Karina mengedipkan matanya sebelah, memberi isyarat agar Ari mengikutinya untuk kebelakang. Mereka berdua hanya akan menjadi penonton dari kejauhan. Ari mengerti dia beranjak berdiri dan mulai mengikuti Karina.
__ADS_1
"Ta," panggil Krisna, Nita masih bersikap dingin padanya. Bahkan Nita hanya menjawabnya dengan deheman.
"Aku sungguh tidak mengikutimu kemarin, aku hanya menyuruh Ari saja untuk menjagamu," terang Krisna.
"Kamu kira aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah beberapa bulan di sini dan masih bisa bertahan hidup tanpa kamu!" Kelakar Nita. Dia tidak suka dengan apa yang dilakukan Krisna.
"Iya, hanya saja aku khawatir Ta. Aku tidak bermaksud yang lain,"
"Baru sekarang kamu mengkhawatirkan aku, lalu kemarin kemana saja sebelum istrimu meninggal? Alasan macam apa lagi yang akan aku dengar dari mulut yang tidak berperasaan seperti kamu!" Seru Nita. Emosinya kini mulai tidak stabil. Karina yang melihat tingkah Nita seperti itu mencoba untuk kedepan.
Namun, Ari memintanya untuk tetap diam di tempat. Membiarkan mereka saling meluapkan rasa bersalah masing-masing.
"Entah harus membela yang mana untuk saat ini. Aku ingin membela Tuan Krisna karena kedepannya dialah yang akan merawatku. Sedangkan Nona Nita, juga baik dan mengerti keadaanku, dia tidak mengusirku dari rumah ini setelah Bian pergi. Tetapi aku juga tidak terima dengan perlakuannya di masalalu, jika aku jadi Nona Nita aku sudah lama ingin berpisah dengannya. Tidak akan menunggu hingga 40 hari," cerocos Karina ketika dia mendengar perdebatan mereka.
"Berhentilah untuk menyalahkannya. Dengarkan saja, tidak perlu banyak berbicara," titah Ari, Karina menutup mulutnya. Dia tidak ingat jika sekretaris Ari tengah berada di dekatnya.
"Kemarin aku akan mencarinya Ta, karena sudah lama aku belum menemukan keberadaanmu. Tetapi Kasih selalu mencoba menahanku, dia tidak membiarkan aku untuk pergi. Hingga setelah dia meninggal dia memberitahukan aku seberapa dia tidak menghargaimu. Maafkan aku Ta, karena aku tidak mempercayai kamu. Padahal Tazkia sudah berusaha memberitahuku, mungkin kamu tidak akan sebenci ini padaku." Krisna memberikan buku dairy itu pada Nita.
Nita membacanya dengan tenang. Lalu beberapa menit berlalu akhirnya dia mulai tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Dia harus menjadi ibu sambung untuk anak gund*k suaminya.
Nita melemparkan buku itu di hadapan Krisna, tatapannya begitu menusuk.
"Gila kamu Kris, kamu mati-matian membujukku pulang hanya untuk memberitahu amanat ini, iya! Kamu kira aku tidak punya perasaan? Haruskah aku melakukannya? Apa kamu tidak tahu karena kamu aku juga kehilangan anakku!"
"Pergi, Kris! Dari hadapanku! Aku tidak akan pernah mau bertemu lagi denganmu!"
***
Bersambung...
__ADS_1