
Bab20. Mencari Kesalahannya.
***
Nita tengah menuju restoran dimana mereka pertama kali bertemu. Dia juga menunggu cukup lama. Mengingat Bian sudah memberitahunya Jika dia akan datang terlambat hari ini.
Nita sengaja datang lebih awal, baru saja pukul 10. Sedangkan janji temu pukul 11 siang. Sambil berjalan-jalan dia mengamati pengunjung mall yang sudah berlalu lalang. Seperti biasanya dia akan melihati dengan seksama anak-anak yang tertawa riang. Dan kedekatan seorang ayah yang tengah membawa anaknya bermain.
Hatinya teriris mengingat pernikahan yang ia jalani tidak bisa seperti orang lain. Haruskah dia berhenti berjuang mengingat Krisna belum juga mencintainya. Sudut matanya sudah mulai meneteskan bulir bening. Dia mengusapnya dengan kasar, hatinya sedang dilema. Antara pergi atau bertahan. Namun, cintanya? Cinta, ya Nita terlalu cinta.
Tepukan seseorang mengagetkan Nita dari pikirannya. Dia membalikkan badan dan melihat Bian yang sudah berada dibelakangnya.
"Sepertinya beban hidupmu berat, ya?" tanya Bian tanpa basa-basi. Nita seolah diobrak-abrik isi hatinya. Ingin mengatakan keluhan rumah tangganya tetapi dia tidak bisa mengatakan pada sembarang orang.
"Kamu berpikiran jelek. Tidak baik Yan," timpal Nita. Mereka pun mulai berjalan menuju tempat tujuan.
Setelah memesan dan menunggu makanan datang keduanya terlibat perbincangan yang cukup membuat Nita ingin tahu tentang kehidupan orang di depannya.
"Kak ... Ya, aku akan memanggilmu kakak. Karena panggilanmu kini sudah berubah menjadi aku dan kamu," kata Bian kegirangan. Mengingat lontaran Nita barusan.
Sesenang itu orang dihadapannya. Hidup itu sungguh bahagia. Asal kita menjalaninya dengan hati yang tenang. Dan membuang pikiran negatif. Nita tersenyum simpul dengan semburat rindu yang ia pendam akan mimik wajah Bian yang sudah tidak bisa ia dapatkan.
Dulu sebelum menikah rasa bahagia itu selalu bertengger dalam wajahnya. Namun, sekarang dia harus berperang batin setiap saatnya. Melihat suami dan adik madunya yang seatap.
Luka di hatinya seolah sudah kronis. Di saat raga dan waktunya bisa ia dapatkan. Tetapi hati dan cintanya bukan untuk dirinya. Sesakit inikah mencintai tanpa terbalaskan. Sesakit ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan.
Kau membuat ku tak berdaya, kau menolak ku, acuhkan diriku.
Kau hancurkan aku dengan sikapmu.
__ADS_1
Tak sadarkah kau telah menyakitiku.
Lelah hati ini meyakinkanmu, cinta ini membunuhku...
Lagu itu yang cocok untuk menggambarkan suasana hati Nita. Bian melambaikan tangannya kearah wajah Nita berulang kali. Tatapan wanita itu kosong. Tidak seperti biasanya.
"Kamu melamun?" tanya Bian yang penasaran. Nita menggeleng berulang kali lalu menatap makanan yang sudah terhidang di meja.
"Makanannya sudah ada ya. Aku kok gak tahu kapan datang," ujar Nita dengan membawa hidangan yang tertata rapi di meja.
"Ya, tidak akan tahu karena kamu melamun. Kalau kata orang zaman dulu jangan melamun nanti kesambet," seloroh Bian yang langsung di hadiahi tepukan tangan manja dan kekehen kecil.
Kasih yang menguntit mereka tengah mengabadikan momen mereka dengan memotretnya. Setelah Krisna menolak untuk menceraikan Nita. Dia memilih berjalan-jalan sendiri dan tanpa lelaki itu menemaninya.
Seolah semua yang dia rencanakan berjalan mulus. Padahal dia sama sekali tidak mengetahui kemana mereka akan pergi. Tetapi, dia dapat bertemu juga dengan mereka.
Ponsel pintar itu dia arahkan sedemikian rupa agar terlihat angel yang cocok. Atau memotret di saat mereka tengah bercanda ria. Layaknya pasangan.
***
"Apakah kamu tidak ingin membagi rasa dukamu itu? Tidak bisa kamu tutupi. Tekanan batin yang kamu alami akan sangat fatal jika kamu hanya memendamnya seorang diri. Tapi jika tidak mau kamu membagi denganku, kamu bisa membaginya dengan orangtuamu," ucap Bian. Nita menatap lelaki dihadapannya tidak percaya. Dia tidak menyangka jika Bian akan sepeka itu terhadap hatinya itu. Lalu apakah dia harus mengatakannya.
"Aku tidak memaksamu. Tetapi ada baiknya kamu penuhi jadwal harian mu. Seperti berolahraga, dan lainnya. Contohnya jalan bareng aku." Bian tergelak ketika mengatakan itu pada Nita. Bisa-bisanya dia memberikan contoh sepeti itu akan mereka saling bertemu.
"Aku sudah menikah, loh, Yan." Nita menjawab telak lelaki dihadapannya.
"Tidak masalah, aku bisa bertemu dengan suami kamu. Agar dia tidak salahpaham padamu. Omong-omong kemana bodyguard kamu itu?" tanya Bian. Dia celingak-celinguk mencari bodyguard Nita yang kemarin mengantarnya.
Nita masih santai menanggapi. Harus menjawab apa, sedangkan dia hanya supir dadakan yang diberikan Krisna.
__ADS_1
"Saya di sini!" Sahut seseorang berjalan ke meja mereka. Dia bahkan ikut bergabung. Nita memandang Ari dengan tatapan yang meminta penjelasan. Dia bingung mengapa dia berada di sini.
"Tuan Krisna pun sedang menuju kemari. Anda tidak perlu membuat janji untuk bertemu dengan suami Nona Nita, karena anda akan segera bertemu dengannya," ucap Ari memberitahu Bian. Lelaki itu mengangguk tanda mengerti dan berkata.
"Suatu kehormatan bagiku bisa bertemu dengannya," timpal lelaki itu dengan antusias.
Krisna berjalan untuk menghampiri Nita, Bian dan Ari. Lelaki itu tampak berkarisma dengan gayanya yang cool dan wajah tampan.
"Selamat siang, Tuan." Bian berdiri lalu membungkukkan badannya ketika Krisna telah sampai.
"Saya suami Nita," kata Krisna menekankan seolah dia tidak mau kehilangan istrinya. Bian menjadi bingung rumahtangga mereka tampak baik-baik saja. Lalu apanya yang salah dengan Nita.
Menatap wanita itu tampak tertekan. Bahkan Bian melihat raut wajah Nita yang tidak biasa. Terkejut, bukankah seorang istri yang bertemu di keramaian akan langsung berlari dan memeluknya. Tetapi berbeda dengan Nita dia hanya menunduk tanpa berani menatap suaminya.
"Sepertinya makan siang telah selesai. Saya dan istri saya pamit lebih dulu, Tuan Bian," pamit Krisna, dia menggandeng tangan Nita untuk pergi.
Bian mengangguk dan mengiyakan. Dia hanya bisa melihati punggung itu hingga tidak terlihat lagi olehnya.
Nita dan Krisna sudah berada dalam mobil. Ari tidak ikut masuk saat ini. Krisna sedikit tidak suka melihat kedekatan mereka. Ketika Kasih mengiriminya potret mereka dia langsung meluncur kesana.
Krisna mendesah berat lalu memandang Nita dengan wajah datarnya. Nita yang di tatap merasa terhakimi. Padahal dia sudah meminta izin. Lalu apanya yang salah.
"Hubungan kalian apa?" tanya Krisna mencoba mencari tahu dari Nita.
"Aku, dan dia hanya sebatas teman. Tidak lebih Kris," jawab Nita masih menunduk enggan untuk melihat suaminya.
"Tetapi kamu merasa tidak jika kedekatan kamu itu terlalu berlebihan!" Tandas Krisna dengan memukul udara. Tangannya melayang seolah dia tidak suka melihat kedekatan mereka.
"Tapi, Kris, aku dan dia hanya seperti kakak, adik tidak lebih," jawab Nita. Namun, Krisna memejamkan mata seolah apa yang Nita lakukan sekarang tidak benar. Dia sudah termakan hasutan istri keduanya.
__ADS_1
***
Bersambung...