Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab63. Panggilan Rindu.


__ADS_3

Bab63. Panggilan Rindu.


***


Setelah semuanya terungkap dan Tazkia merengek pada Ari dan Riska ingin membujuk Nita untuk pulang. Seberapa lama pun dia tinggal di sana Tazkia tidak perduli. Di misinya kali ini ingin membawa kakak iparnya untuk pulang. Mengisi rumah itu yang sudah Krisna berikan meski terdapat kenangan buruk untuk Nita.


Tazkia yakin jika dia akan bisa membawa kakaknya pulang. Namun, dia tidak berjanji akan membujuk kakak iparnya itu untuk kembali pada Krisna. Biarlah dia memikirkan ulang, yang terpenting Nita bisa berkumpul lagi dengan mereka, dengan dua orang anggota baru. Si jago dan juga Karina.


"Aku pamit ya Ma, doakan aku, semoga Mbak Nita mau pulang denganku. Aku gak yakin dia akan memberikanmu maaf Mas Kris, tapi aku akan mencoba," ucap Kia, di saat mereka telah selesai menyantap sarapan paginya.


Krisna menjawabnya dengan deheman. Lelaki itu masih tidak bersemangat untuk menjalani hari-harinya.


"Mas Krisna tenang saja, aku akan memberikan semua potretku bersama Mbak Nita, kalau dia bahagia tanpa Mas Krisna juga! Uppss," celetuk Kia, wanita itu menutup mulut seolah dia tidak sengaja. Padahal dia sengaja mengatakannya.


"Kia!" Kelakar Riska, seperti biasa dia hanya berpura-pura tidak melihat mamanya di saat dia memelototi anaknya.


"Aku berangkat kerja, Ma," pamit Krisna. Lelaki itu berjalan, untuk menuju depan. Sedangkan Ari dia berbisik dulu sebelum mengekori tuannya.


"Semoga misi Anda berhasil! Jangan membuat Nona Nita semakin menjauh dengan Tuan Krisna. Saya yakin jika Anda sangat menyayangi Tuan Krisna. Anda tidak mungkin bukan membuatnya semakin hancur seperti ini." Tazkia mendelik dengan penuturan lelaki itu.


Ari pun tersenyum puas dan melambaikan tangannya sebagai perpisahan. Untuk kali ini dia tidak mengantarkan Tazkia.


***


Tazkia menghela napas berat ketika dia menginjakkan kakinya lagi di rumah kakak iparnya. Semoga saja dia bisa membawa pulang kakak iparnya. Dia tidak mengabari Nita kali ini. Dia ingin memberikan kejutan padanya.


Kia mulai mengetuk pintu, Karina terperanjat atas kedatangan tamu spesialnya. Baru saja Karina akan berteriak Tazkia menutup mulut gadis itu.


Nita sedang berada di dalam kamarnya. Dia tengah memikirkan tentang anak Kasih, di saat dia kehilangan, Krisna mendapatkan pengganti anaknya yang telah tiada. Lelaki itu pasti merasa bahagia.


Tazkia memeluk Nita dari belakang. Nita terkejut dan memutar tubuhnya, dia melihat Tazkia adik iparnya.

__ADS_1


"Mbak Tata, pulang yuk?" Rengek Tazkia. Namun, wanita itu hanya memegangi pipi adik iparnya. Nita mengembuskan napas kasar.


"Mbak lebih suka tinggal di sini Kia," jawabnya.


Gadis itu membawa ponselnya dan memberikan potret si jago pada Nita. Wanita itu menatap penuh lara, jika dia tidak keguguran dia juga bisa melahirkan calon bayinya. Dia juga bisa bahagia meski tidak akan bertemu dengan Krisna.


"Beri Mbak waktu," pintanya, Kia mendesah pelan. Dia pun memilih meninggalkan Nita untuk menyendiri.


Kia sudah berkeliling mencari Karina tetapi dia tidak menemukannya. Dia pun kembali untuk menemui Nita.


"Mbak," panggil Kia, gadis itu memeluknya lagi.


"Tidak rindukah kamu dengan Mama, tidak ingin membantunya juga untuk mengurus anak Mas Krisna. Eittss, tapi jangan salah sangka dulu, aku tidak bermaksud memperkerjakan kamu Mbak, aku hanya ingin kamu memberikan kasih sayang pada anak itu. Jika tidak mau juga gak pa-pa gak maksa lagi. Ada Karina, dia saudaranya Mbak Kasih kan." Nita mengangguk membenarkan ucapan Nita.


Ponsel Kia berdering, Riska memanggilnya, video call mereka lakukan. Riska memperlihatkan anak Krisna yang tengah dia gendong.


["Yang sabar ya, Nak. Maaf Mama tidak bisa di sampingmu saat masa-masa sulit dirimu. Semoga kamu bisa tetap berjuang untuk menguatkan hatimu,"] lirih Riska.


["Baiklah lah Ma, aku akan pulang,"] jawab Nita. Tazkia tersenyum dan kembali memeluk kakak iparnya.


***


Karina sedang berada di ruang tamu. Dia menempelkan ponselnya di telinga. Berbicara seolah dia tengah menelepon seseorang. Nyatanya dia hanya menelepon nomor yang sudah tidak aktif lagi. Nomor Bian yang sudah tidak lagi digunakan oleh lelaki itu.


"Bian, kamu dimana? Aku rindu," lirihnya sembari mengusap airmata yang terjatuh. Dia melihati potret dirinya sedang bersama Bian. Di saat kesalahpahaman berujung perpisahan.


Kenapa Bian melakukan hal seperti ini. Meski terasa menyakitkan karena Bian telah memperlakukannya tidak baik, tetapi Karina tidak pernah membencinya. Nita melihati kesedihan Karina tetapi dia tidak bisa membantunya untuk bertemu dengan Bian.


"Arin, besok kita akan kerumahku di kota. Kamu persiapkan barang bawaanmu," titah Nita, Karina mengangguk. Tazkia yang melihat keduanya sedang berbincang pun ikut duduk di antara mereka.


Kia membawa ponsel Karina. Dia juga melihat jika Karina sedang melakukan panggilan telepon. Dia langsung membawanya dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

__ADS_1


["Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ..."]


Kia langsung memberikan ponsel itu dan mengernyit.


"Kamu sampai nangis-nangis karena teleponan dengan operator. Nona Krin, apa kamu sudah begini." Tazkia menempelkan telunjuk tangannya menyamping di kening. Lalu dia beranjak berdiri dan menggelengkan kepalanya.


"Anak TK pasti bersedih melihat kelakuan dia," omel Kia.


Karina memilih berpamitan pada Nita, dia tidak memperdulikan ocehan Tazkia. Setelah dia melakukan panggilan itu hatinya sedikit merasa terobati. Meski dia tidak bisa berbincang dengan Bian.


Setelah Karina masuk kekamarnya. Nita memanggil seseorang, ya, lelaki itu adalah Bian. Dia merasa bersalah karena tidak bisa mempertemukan mereka.


["Kenapa kamu malah menghindar begini sih, Yan?"] tanya Nita. Dia sedikit geram karena membuat dia malu karena menuduh Krisna yang telah menguntitnya. Nyatanya itu adalah Bian. Dia tidak benar-benar pergi, hanya saja dia sedang menghindari Karina. Dia ingin wanita itu tidak lagi mencintainya dan tidak bergantung padanya.


["Hanya takdir yang akan mempertemukan kami Mbak, jika kami di takdir kan bersama mungkin akan bertemu lagi. Jika tidak aku ingin hidup bersamamu,"] ucap Bian membuat Nita tergelak.


["Berhentilah menggodaku brondong!"]


["Kamu akan ke kota Mbak?]


["Iya, sepertinya aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus menghadapi Krisna. Aku tidak mau dia seperti mayat hidup, karena ku. Meski dialah yang salah. Karena dia yang menyalakan api dalam cinta ini,"]


["Aku harap Mbak masih kukuh dengan pendirian Mbak. Dan menungguku hingga aku sukses kelak,"]


["Bian, Karina mencintaimu. Meski aku nyaman bersama denganmu, akankah kita akan bersama,"] celetuk Nita yang diselingi dengan candaan.


["Aku aamiinkan,] mereka pun berbincang dengan saling tertawa.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2