
Suasana kian canggung, Krisna masih berdiri sedangkan Indra masih menatap kedepan, mengabaikan Krisna yang masih berdiri mematung. Nita yang hanya melihati tanpa mampu memberi saran pun bingung sendiri.
Dia harus mengatakan apa agar keadaan tidak seperti ini, haruskah dia tetap berdiri hanya menonton mereka yang hanya saling berdiam. Entah apa maksud kedatangan Krisna ke rumah Nita.
"Kamu tampak bahagia bersamanya, Ta," lirih Krisna dengan sendu. Tatapannya kini beralih pada Nita. Wanita yang telah dia cintai.
Setelah Pernikahan Kia dan Ari, dan Indra datang menjelaskan, Krisna sudah mulai mengakui kesalahannya. Dia telah salah memilih jalan, dan terlalu egois hanya untuk memikirkan diri sendiri. Karena ambisinya dia telah tega membuat hati adik satu-satunya terluka.
"Aku ... Kemari hanya ingin mengatakan," ucapan Krisna terjeda. "Tidak ada wasiat apapun dari orang tuamu agar kita menikah, seperti yang sudah Kia katakan, kamu tidak perlu lagi merasa tidak bisa menjalankan amanat orang tuamu," tandas Krisna dengan beberapa kali embusan napas berat.
Nita memalingkan wajah, tidak mampu menatap Krisna. Meski dia telah tahu segalanya, akan tetapi dia juga tidak bisa membencinya.
"Iya," jawab Nita singkat. Lelaki itu menundukkan bokongnya di kursi berhadapan dengan Indra.
Keduanya saling memandang dengan tatapan datar. Sedangkan Nita hanya berdiri, karena dia bingung harus duduk di mana.
Dari arah depan, terdengar langkah kaki. Perlahan Nita memutar badan untuk melihat siapa tamu yang datang. Nita bernapas lega, mengingat Ari, dan Tazkia datang di waktu yang tepat.
"Apakah kami mengganggu?" tanya Kia saat beberapa langkah lagi menuju meja makan. Nita tidak membuka suara, sekadar untuk menelan ludah saja rasanya sangat sulit. Dia hanya meliuk-liukkan tangannya di udara memberikan isyarat jika Kia harus berada di sana.
"Hening sekali, seperti di kuburan," celetuk Kia sembari mendudukan bokongnya di samping Krisna. Sedangkan Ari mendudukkan bokongnya di kursi samping Indra.
Nita pun memberanikan diri untuk duduk di kursi utama.
"Kenapa hanya saling memandang, kalian berbicara lewat tatapan? Ow, hebat sekali." Kia mulai berdiri, dia membawa piring untuk tiga orang. Setelahnya dia dengan telaten membawa nasi serta lauk pauknya kedalam piring masing-masing.
Akhirnya makan malam bersama pun terlewati. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya dentum sendok dan garpu yang saling bersahutan. Setelah selesai dengan makan malam, mereka semua kembali terdiam.
"Mari kita pulang," titah Kia pada Indra dan Krisna. Keduanya menoleh kearah Kia dengan alis yang menaut.
__ADS_1
"Kami belum ingin pulang," jawab keduanya bersamaan.
"Ok, silakan kalian selesaikan masalah kalian, kami bertiga akan pergi." Kia memberi kode agar Ari pergi, dia juga menggandeng Nita agar pergi dari sana.
Mereka bertiga pergi dan bersembunyi di balik tembok untuk mendengarkan percakapan.
"Apakah anda mencintai Nita?" Tanya Krisna dengan dingin. Indra menatap Krisna dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Cukup lama dia terdiam hingga akhirnya dia menjawab.
"Ya." Singkat, padat dan jelas. Tidak ada kiasan yang Indra ucapkan sebagai pengungkap rasanya pada Nita.
"Anda tidak akan membuatnya kecewa bukan?" Krisna kembali melayangkan pertanyaan.
"Tidak akan." Krisna tertawa ironis. Menyembunyikan luka yang terasa bercokol dalam dada. Sesakit ini menitipkan orang yang telah dia cintai. Namun, sayang perasaan itu datang terlambat.
Wanita yang paling dia cintai telah menyerah dengan cintanya.
"Kamu yakin bisa membahagiakan dia?"
"Jika suatu saat Nita terluka olehmu, saya akan pastikan kamu tidak akan tenang!" Seru Krisna dengan nada serius. Indra tersenyum samar dan menjawab.
"Peganglah janjiku, aku tidak akan pernah bisa menyakiti hati wanita saat saya telah memilihnya menjadi ibu dari anak saya." Sindiran halus dari Indra membuat Krisna terhenyak.
"Ya, bagus. Saya harap anda bisa menjaganya, tidak seperti saya yang telah membuatnya terluka." Krisna lantas menyeret kursinya untuk berdiri dan melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruang makan.
Setelah ketiganya mendengar decitan kursi dengan cepat mereka berhamburan kedepan. Namun, sebelum Krisna melangkah jauh dari Indra, dia berhenti sesaat.
"Cepat nikahi dia, lebih cepat lebih baik."
"Jangan pernah membuatnya terluka! Jika kamu membuatnya terluka, saya tidak akan tinggal diam!" Ancam Krisna.
__ADS_1
Indra menengguk minuman yang sempat Nita hidangkan. Pikirannya mencerna saat mantan suami dari Nita memberikan ancaman padanya. Dia sangat mencintai wanita itu, tidak akan mungkin baginya untuk melukai hati wanita yang akan menjadi calon ibu dari anak-anaknya.
"Terima kasih Tuan Krisna." Indra melirik kearah Krisna yang lama-lama sudah tidak terlihat oleh bola matanya.
***
Krisna melihat Nita, Kia dan Ari yang tengah duduk saling menyibukkan diri. Dia pun mendekat kearah Nita. Lalu berkata.
"Semoga kamu bahagia dengannya, Ta."
"Mas," panggil Kia menyela ucapan Krisna. Kia berdiri dan menghampiri Krisna dengan sendu. Dia memeluk Krisna dengan penuh sayang, menumpahkan segala kesedihannya. Tidak dipungkiri meski dia pernah sakit hati oleh sikap Krisna, akan tetapi dia mencintai kakak satu-satunya itu.
"Maafkan Kia, Mas. Yang tidak mendukungmu sepenuhnya. Namun, aku juga merasakan bagaimana tersiksanya saat dipaksa bersama orang yang tidak kita cintai. Maafkan Kia, Mas. Kia banyak salah padamu." Kia mulai menundukkan kepalanya, lalu perlahan berjongkok untuk meminta pengampunan. Namun, Krisna menahan pundak Kia agar dia tidak bersujud padanya.
"Semua yang kamu lakukan sudah benar, Kia. Jika kamu tidak melakukan hal ini Mas tidak akan menyadari nya. Mas hanya akan menjadi orang yang jahat karena menyakitimu, menyakiti Mbak-mu," ungkap Krisna.
"Ari ... Saya titip Kia padamu. Jaga dia bahagiakan dia dengan seluruh hidupmu. Dia sudah menjadi anggota keluargamu." Krisna memberikan petuah pada Ari. Setelah itu dia berpamitan untuk pulang.
Kia menangisi kepergian Krisna, entah mengapa dia ingin sekali menenangkannya. Ari pun menghampiri Kia dan meminta dia untuk menghiburnya. Dia tahu bagaimana terlukanya Krisna saat dia menitipkan Nita pada orang lain.
Sebagai orang yang telah lama bekerja sama dengannya. Dia tahu betul bagaimana Krisna mencintainya sangat dalam saat kepergian Kasih yang membuatnya tersadar jika wanita itu sungguh berarti dalam hidupnya.
***
Indra berjalan dengan pelan, saat dua mobil terdengar meninggalkan rumah Nita. Dia dapat melihat embusan napas berat yang keluar dari bibir wanitanya. Dia hanya melihati Nita dari ambang pintu, saat kedua bola matanya menatap nanar pintu gerbang.
"Apa yang kamu pikirkan," ucap Indra membuyarkan lamunannya. Meskipun acara makan malam mereka terganggu, Nita memikirkan Karina yang tidak kunjung pulang. Di telepon dia tidak mengangkatnya. Bahkan di kirimi pesan singkat pun Karina tidak membalasnya.
"Ada apa?"
__ADS_1
***