
Bab39. Siapa Dia?
***
Kali ini Nita berusaha mencari waktu yang tepat. Agar dia bisa bernegosiasi dengan Krisna. Dia sudah tidak tahan lagi untuk menjalani pernikahan ini. Biarlah mereka bahagia, asalkan hatinya tidak selalu terluka.
Ketika makan malam tiba, Nita meminta izin pada Krisna untuk keluar. Meski enggan untuk memberikan izin akhirnya Krisna memberikannya. Mengingat dia sudah tidak punya waktu lagi untuk bersama Nita.
Dengan hati yang riang Nita keluar. Kemana lagi jika bukan bertemu dengan Bian. Lelaki itu selalu menemaninya. Tidak pernah lelah membuat dirinya bahagia. Kali ini Nita membawa Mbak Ana untuk pergi.
"Nona, apa tidak apa-apa saya ikut?" tanya Ana merasa tidak enak.
"Tidak pa-pa Mbak. Aku kan hanya jalan saja, bukan untuk berkencan. Apa salahnya," jawab Nita.
Setelah sampai di tempat tujuan, Nita langsung memesankan makanan untuk mereka bertiga. Kali ini Bian datang telat tidak seperti biasanya.
"Nona," panggil Ana. Nita menoleh kearah Ana.
"Saya permisi dulu mau ke kamar kecil," pamit Ana pada Nita. Dia mengangguk.
Baru saja dia akan melahap makanannya. Seseorang menutup mata Nita tanpa bersuara. Nita mencoba menebak siapa pemilik tangan yang julid itu. Hingga membuatnya tidak jadi menyantap makanannya.
"Mmm, Bian itu kamu 'kah?" tanya Nita. Namun, sang pemilik tangan itu masih terdiam.
"Hey lepas! Tidak sopan sekali anda!" Kelakar Nita, dia sudah mulai jengkel. Pasalnya sudah terlalu lama orang itu melakukannya. Setelah Nita memberontak akhirnya tangan yang menutup mata Nita pun terlepas.
Bian, lelaki itu tertawa tanpa dosa. Sejurus kemudian lelaki itu mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Sebuah kalung yang mungkin bagi orang biasa saja. Tetapi bagi Bian kalung itu sangat berharga.
"Apa maksudnya ini Bian? Jangan bilang kamu mau lamar aku? Sadar Bian, aku sudah bersuami," kelakar Nita merasa Bian sudah berlebihan. Lelaki itu menggeleng.
"Jangan GEER, Mbak. Ini adalah kalung almarhum kakakku. Karena kamu mirip dengannya aku ingin kamu memakainya. Kamu pasti tampak cantik, seperti dia," ungkap Bian, tetapi membuat Nita merasa malu. Dia sudah berburuk sangka pada lelaki itu.
__ADS_1
Wajah Nita sudah memerah, malu yang kini dia rasakan. Ingin pergi, tapi bagaimana dengan Ana. Rasanya Nita ingin mengubur dirinya sendiri.
"Oh, iya," ucap Nita, dengan meremas jemarinya sendiri.
"Tidak usah salah tingkah Mbak. Kamu semakin cantik kalau malu-malu kucing sepeti itu," goda Bian. Dengan memakaikan kalung itu.
"Bian kamu jangan menggodaku. Anak tengil." Nita memegangi kalung yang telah Bian pakaikan.
"Terima kasih, aku suka modelnya. Lucu," terang Nita merasa bahagia.
"Iya lucu, kayak kamu." Bian menggoda lagi Nita. Dia memandangi Nita tanpa berkedip. Membuat Nita tidak bisa menahan rasa ingin menjitak lelaki itu.
"Sudah makan, ayok. Jangan membuat orang salah paham lagi." Bian tergelak dengan ucapan Nita. Ternyata wanita itu sedikit baper.
"Apa kamu ingin aku mencintaiku?" pertanyaan Bian sukses membuat Nita terdiam seribu bahasa. Bahkan dia tidak jadi memakan makanannya lagi.
Ucapan Bian kali ini sungguh membuat Nita menjadi orang b*doh. Ungkapan itu menurutnya bukan tanpa sengaja Bian ucapkan.
"Kamu sensitif sekali malam ini, Mbak. Apakah sedang ada sesuatu?" tanya Bian.
"Maaf saya lama ketoiletnya," potong Ana. Dia tampak canggung duduk bertiga dengan Nita dan Bian.
Nita dan Bian tersenyum dan mengangguk. Namun, Ana memilih duduk di meja lain. Rasanya begitu segan untuk semeja dengan mereka. Setelah perdebatan cukup lama, akhirnya Nita mengiyakan keinginan Ana.
Ana tampak bahagia melihat senyum ceria majikannya itu. Mereka tampak begitu serasi, meski lelaki itu terlihat jauh lebih muda dari Nita. Tetapi, tidak salah jika mereka memilih bersama. Toh, banyak juga wanita yang menikah dengan brondong.
"Andai Nona Nita bertemu lebih dulu dengan lelaki ini, mungkin senyuman itu yang selalu saya lihat setiap harinya," gumam Ana.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, Bian memilih lebih dulu pulang. Dia sudah berusaha membujuk Nita agar dia mengantarnya. Namun, Nita menolak, alasannya karena Krisna. Dia tidak mau menyeret Bian dalam masalah.
Baru saja Bian pergi seorang wanita muda cantik dan elegan datang menghampirinya. Dia tersenyum dengan ramah. Meski tatapannya terlihat seperti tidak menyukai Nita.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya Karina Saraswati." Tangan wanita itu terulur untuk menjabat tangan Nita. Nita dengan senang hati menyalaminya.
"Nona, mmm, tapi saya rasa itu tidak cocok. Mengingat, sepertinya usia kita cukup jauh. Benarkah Mbak," tebak Karina. Wanita itu terang-terangan tidak menyukai dirinya. Di lihat dari cara bicaranya. Bahkan Nita dapat merasakannya. Mbak Ana mencoba memegangi tangan Nita, dia juga mengisyaratkan agar tidak meladeninya.
Namun, Nita penasaran, siapa wanita cantik ini. Padahal dia tidak mengenalnya. Tetapi dia seolah mengenali dirinya. Nita meminta Ana untuk menunggunya di parkiran. Membiarkan dia dan wanita muda itu menyelesaikannya. Mau tidak mau Ana pun tidak bisa menolaknya.
"Apakah kita pernah bertemu, Nona?" tanya Nita mengernyit. Wanita muda itu melipat tangan di dada. Gayanya sungguh arogan. Tidak berbeda jauh dengan Kasih. Apakah mereka masih satu saudara, mengapa begitu mirip, pikir Nita.
"Kamu pasti telah berkencan dengan Bian kan? Pantas saja dia membatalkan janjinya denganku," seloroh Karina. Nita kini tahu mengapa dia tidak menyukainya.
'Oh, ini dia orangnya yang telah membuat Bian tergila-gila. Cantik, aku akui, tetapi sifatnya ... Mungkin ada kelebihan dibalik arogannya,' batin Nita.
"Jangan salah paham, mari duduk supaya lebih enak bicaranya," titah Nita. Karina menurut dia mendudukan bokongnya berhadapan dengan Nita. Dia menatap Nita dengan datar, tetapi Nita menatapnya dengan senyuman yang ramah.
'Jadi ini yang kamu anggap kakak, Yan? Dia memang mirip dengan kakakmu. Tetapi aku merasa, rasa kamu terhadapnya bukan sebagai kakak,' batin Karina. Menatap intens kearah Nita.
"Saya pacar Bian, saya harap anda mempunyai batasan untuk bertemu dengan pacar orang. Bukannya saya tidak suka padamu. Tetapi hargailah perasaan saya," ungkap Karina. Nita mengangguk dan mengerti dengan kegundahan wanita muda itu.
"Jadi mau kamu apa, Nona?" tanya Nita.
"Saya mau anda bisa membatasi janji temu kalian. Anda tahu jika malam ini harusnya kami berkencan. Tetapi, karena anda saya harus membatalkannya," ketus Karina. Dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa tidak sukanya pada Nita.
Nita tersenyum, dia dapat memaklumi bagaimana perasaan wanita itu pada Bian. Mungkin ini memang salahnya karena dia terlalu bergantung pada Bian. Padahal dia tahu lelaki itu mempunyai kesibukkan.
"Iya tenang saja, Nona. Maafkan saya, karena telah membuat anda merasa tidak nyaman." Permintaan maaf Nita membuat Karina tidak percaya. Dia kira wanita dihadapannya akan berbuat tidak baik padanya mengingat dia memperlakukannya tidak sopan. Karina merasa tidak enak sendiri dibuatnya.
"Terima kasih Mbak, untuk pengertiannya."
***
Bersambung ...
__ADS_1