Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab136. Malam Pertama Tertunda


__ADS_3

Pukul tujuh pagi Nita masih belum terbangun dari mimpinya. Dia lelah setelah semalaman Indra merajuk karena Bian. Padahal itu semua adalah kenyataannya. Bahkan Krisna pun berpikir demikian.


Kedekatan mereka tidaklah wajar jika dilihat orang yang sepintas. Namun, jika mereka kenal dekat dengan Nita dan Bian mereka tidak akan berpikir Bian dan Nita menjalin hubungan. Apalagi Bian yang mencintai Karina sepenuh hatinya.


Indra mengusap pipi Nita dengan lembut, membelai, dan menusuk-nusuknya. Namun, Nita belum juga terbangun, dia malah semakin nyenyak dalam tidur. Indra sampai bingung harus membangunkannya seperti apalagi.


"Sayang, tidakkah kamu khawatir tentang Bian," bisik Indra di telinga Nita. Malam pertama mereka dia habiskan dengan merajuk sebagai ganti karena dia tidak mungkin melakukannya saat Bian kesusahan.


Nita menggeliat, "kenapa dia?" tanya Nita, wanita itu mengucek matanya pelan.


"Lihatlah." Indra mengarahkan layar ponsel kearah Nita agar dia melihatnya. Nita perlahan beringsut dan mulai meneliti potret itu dengan seksama.


"Ini maksudnya, Karina membiarkan Bian di luar rumah semalaman," ucap Nita. Dia terlihat gelisah saat melihat keadaan Bian. Indra hanya mengangguk sebagai jawaban. Meskipun Bian saudaranya tetap saja rasa cemburu menggelora dalam dadanya.


"Ayok kita kesana!" Seru Nita, dia langsung beranjak berdiri meski masih sempoyongan. Indra dengan cepat menangkap tubuh Nita.


"Kamu lebih mementingkan dia ketimbang aku. Saat aku mencoba membangunkan kamu dengan menusuk pipimu kamu malah semakin nyenyak. Namun, saat aku mengatakan Bian, kamu langsung semangat untuk bangun," cerca Indra dengan wajah datarnya. Sebenarnya cemburunya memang tidak dalam waktu yang tepat. Akan tetapi dia tidak ingin menjadi nomor dua di dalam hidup Nita.


"Apaan sih, semalaman kamu merajuk Tuan Indra, tidak kah kasihan padaku, hmmm." Nita mengedipkan matanya sebelah kearah Indra. Namun, Indra masih dengan wajah datarnya. Meski dia begitu tergoda dan luluh, dia tetap harus mempertahankan sikap protesnya.


Indra melepas pelukannya, lalu melangkah pergi untuk meninggalkan Nita. Namun, dengan cepat Nita mengambil tangan Indra agar lelaki itu tidak pergi.


"Ok, sekarang kita bantu dulu Bian, setelahnya kamu bebas meminta apapun dariku," ucap Nita dengan tatapan memohon agar Indra tidak lagi merajuk.


Dammm ...


Bukannya melunak lelaki itu malah melangkahkan kakinya keluar kamar dan pergi begitu saja meninggalkan Nita yang masih berdiri di tempatnya tanpa berniat untuk mengejar suaminya.

__ADS_1


Nita pun akhirnya menelepon Bian, dia juga tidak bisa tinggal diam saat mendengar Bian kesusahan seperti ini, sebab karenanya dia bisa mendapatkan lelaki yang benar-benar memperjuangkan dirinya.


Bian pun mengangkatnya dan mengatakan jika dia sudah bisa menangani masalahnya. Dan Karina bersama dengan Rindi sedang berada di dalam mobilnya untuk menuju kota. Nita bernapas lega, setidaknya dia bisa membantu mereka untuk meluruskan kesalahpahaman ini, setelah Karina pulang.


***


Nita keluar kamar dengan wajah lelahnya, Mbak Ana tampak tersenyum meledek kearah Nita yang terlihat begitu bekerja keras. Padahal memang benar dia bekerja keras untuk membuat suaminya tidak merajuk. Akan tetapi berbeda dengan pandangan Ana.


"Kelelahan Nona?" tanya Ana dengan cengengesan. Nita menatap Ana dengan tatapan sendu, wanita itu mengangguk dan menekuk kedua lengannya di meja, menjadikan tangannya penopang dagu.


"Dia kemana Mbak?" Tampak raut wajah bersalah begitu tercetak jelas.


"Tuan, sedang di dalam ruang kerja Nona. Katanya jangan mengganggu beliau sedang rapat," jawab Ana, mengatakan apa yang Indra minta sebelum lelaki itu memasuki ruangan kerja. Nita mengembuskan napas berat. Lalu beranjak berdiri dan berdiri di samping Ana.


"Mbak," panggil Nita dengan tatapan frustrasi. Ana yang melihat raut wajah majikannya aneh pun hanya mengernyit heran.


Sedari dia keluar Ana menggodanya, akan tetapi yang digoda benar-benar mempunyai masalah yang serius.


"Ya Tuhan, ku kira dia kelelahan karena malam pertama, ternyata suaminya merajuk," batin Ana dengan menepuk dahinya. Nita yang melihat Ana melakukan hal itu pun menoleh dengan heran.


"Aku tahu, Mbak pasti mikirnya yang lain-lain 'kan? Dianya tidak berinisiatif Mbak, masa wanita yang harus agresif sih, meskipun ini pernikahan kedua bagiku, bukan berarti 'kan a-aku ...."


Mbak Ana perlahan mundur, tetapi Nita tidak menyadarinya. Dia terlalu sibuk dengan pemikirannya, hingga dia tidak sadar jika kini yang berada disampingnya adalah Indra. Perlahan Indra merengkuh pinggang Nita. Wanita itu terkesiap dan langsung menoleh kearah samping.


"K-kamu ... Kemana Mbak Ana?" Nita terbata dan mengalihkan perhatian dengan bertanya kemana Ana. Indra semakin merapatkan tubuhnya dengan Nita hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak.


"Bukankah kamu ingin aku berinisiatif lebih dulu, hmm,"

__ADS_1


Nita menelan ludah dengan susah payah kekerongkongan. Suaranya seolah tercekat, dia malu bukan main untuk saat ini. Niat hati hanya ingin berkeluh kesah tentang sikap suaminya, akan tetapi Indra mengetahui apa yang dibicarakannya.


"Nanti malam, kita lakukan. Kamu bisa membantu Bian saat dia datang nanti," ucap Indra, lelaki itu melepaskan rengkuhannya lalu berjalan menuju ruang kerjanya kembali.


***


Pukul tiga sore, Bian, Karina dan Rindi datang bertamu. Entah apa yang akan dia lakukan terhadap mereka. Ketiganya mengembuskan napas kasar secara bersamaan sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Jika Bian tahu akan apa yang di katakan Nita. Berbeda dengan Karina dan juga Rindi, kedua gadis itu kebingungan apa yang membuat Nita mengundangnya.


"Ini aku kenapa juga harus pulang kerumah Mbak Nita, Karin? Bukankah kamu yang mempunyai masalah dengan lelaki itu," bisik Rindi. Karina memeluk lengan Rindi erat, seolah dia tidak mengizinkan Rindi untuk pulang.


"Please, jangan pulang, ok. Temani aku," rengek Karina berbisik pada Rindi.


"Tapi ... Aku tidak perlu di sini juga Karin, kamu selesaikan saja semuanya." Rindi tetap pada pendiriannya. Dia akan berpamitan untuk pulang ketika telah sampai di dalam.


Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Karina memainkan jari-jarinya dengan gugup. Sedangkan Rindi dia tampak santai mengingat dia tidak mempunyai masalah apapun.


Nita pun datang membawa nampan dengan empat gelas untuk mereka. Dia juga ikut mendudukan bokongnya di sofa.


"Rindi kamu boleh istirahat lebih dulu, Mbak Ana akan mengantar kamu kekamar tamu," titah Nita pada Rindi, gadis itu langsung berdiri dengan semangat mengingat telah lelah tubuhnya karena perjalanan.


Karina mencekal tangan Rindi kuat, wajahnya memelas begitu memohon.


"Lepaskan Karina, aku tidak akan melukaimu. Kamu tidak perlu ketakutan seperti itu!"


***


Maaf terlalu lama tidak Up, di karenakan author sakit, mohon pengertiannya. Dan terima kasih untuk yang selalu setia membaca karyaku🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2