
S2. Rumah Impian, Bab77. Kesedihan Riska.
***
Pagi ini wajah Tazkia begitu ditekuk dengan mulut komat kamit, dia bahkan tidak menyadari kehadiran sang mama yang ikut duduk di hadapannya. Matanya berulang kali memutar, membuat Riska begitu heran dengan tingkah anak gadisnya.
Wanita baya itu terus mengamati tingkah Kia, memandangi wajah kesal Kia membuatnya merasa terobati ketika dia mengingat mendiang suaminya. Sebenarnya dia ingin menyapa. Namun, melihat tingkah Kia yang seperti itu dia yakin jika semalam tidak berjalan dengan lancar.
Kia masih sibuk di dalam dunianya, dia tengah mengkhayalkan jika Krisna sebuah kertas, dia bisa merobeknya, menghancurkannya, bahkan membakarnya. Kia tidak habis pikir mengapa Krisna tetap kukuh ingin mengejar Nita.
Jika pun dia diposisi Nita, dia juga tidak akan memberikannya kesempatan kedua, mengingat begitu dalam luka yang sudah Krisna berikan. Selama beberapa tahun dia tidak menganggap kehadiran Nita, dan dengan mudahnya meminta izin menikah lagi dengan alasan bahwa dia tidak mencintai Nita.
Bahkan dia mempunyai anak dari istri keduanya, dan membuat Nita kehilangan anaknya dulu. Hidung Tazkia sudah kembang-kempis dan dada-nya sudah naik turun. Dia sudah kesal tingkat satu, tidak bisa lagi hanya memendam, dia dengan refleks menggebrak meja. Riska yang tengah minum pun langsung menyemburkan air yang berada di mulut kearah Kia. Kia menganga dan berulang kali melihat bibir Riska.
"Mama!" teriak Tazkia, dia masih syok dan mematung di tempatnya. Sedangkan Riska dia membawa tisu untuk mengelap mulutnya. Wanita baya itu sama sekali tidak terlihat bersalah, toh, yang salah anaknya mengapa menggebrak meja tanpa alasan.
"Kenapa mau protes! bukan salah, mama, Kia, yang salah kamu kenapa menggebrak meja tanpa alasan." Riska langsung membuat Kia tidak berkutik. Gadis itu akhirnya tidak bisa mengoceh, meski sesekali mulutnya komat-kamit ketika Riska menoleh padanya.
"Kamu tuh sedang memikirkan apa, sih, Kia, Komat-kamit tidak jelas seperti orang--"
"Tidak usah dilanjutkan, Ma. Aku tahu apa yang akan mama ucapkan. Tapi kenapa harus disembur, sih, Ma. Aku enggak kerasukan!" gerutu Kia sabil mengelap wajahnya.
"Pasti karena Mas-mu lagi kan? dia tidak datang lagi?" tanya Riska, Kia masih sibuk mengelap wajahnya. Dia tidak menjawab, merasa perutnya keroncongan dia membawa nasi. Namun, belum juga nasi itu masuk kedalam piringnya dia langsung membuang sendok nasi itu, dan menatap tajam kearah Krisna.
__ADS_1
"Mama tanyakan pada anak lelaki mama itu!" Kia langsung berdiri dan meninggalkan meja makan.
Riska menatap Krisna yang tengah menyerat kursi untuk dia duduki. Dia juga terlihat begitu serius kali ini.
"Makan, Kris, setelah kamu menghabiskan sarapan ada sesuatu yang ingin mama sampaikan!"
***
Mereka berdua telah selesai menghabiskan sarapan pagi. Krisna menundukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah sang mama. lelaki itu tahu apa yang akan dibahas.
"Sampai kapan akan seperti ini, Kris? kamu tidak memedulikan anakmu yang masih membutuhkan seorang ibu. Sampai kapan kamu akan terjebak dalam masalalu. Dia saja sudah mempunyai pengganti kamu," ucap Riska, dia menengguk dulu air minumnya lalu melanjutkan omelannya.
"Selalu menolak untuk kencan buta, dan memilih untuk mendatangi rumah mantan istrimu, apakah dia pernah menemuimu selama setahun lebih ini?"
"Mama, tidak mengerti dengan kamu, Kris, mama dulu selalu mengingatkan kamu agar lebih hati-hati memilih keputusan. Dan sekarang kamu menyesalinya bukan! nikmati, dan pergi saja kamu bekerja, sana! sungguh tidak berguna ada di sini pun!" seru Riska, dia , mengusir anaknya itu. Namun bukannya pergi, Krisna malah mendekati mama-nya dan berdiri dibelakang kursi. Dia memeluk Riska dan mengecup kening wanita itu.
Riska tidak bisa mengatakan kata apapun lagi, selain melihati kepergian anaknya yang akan bekerja. Airmatanya jatuh tanpa diminta. Mengapa semua itu terjadi pada anaknya, jika dia bisa memutar waktu dia ingin kembali pada masa Krisna yang berniat menikahi wanita lain, agar dia bisa mengagalkan pernikahan mereka.
Namun, sekarang semua sudah terjadi yang bisa dia lakukan hanyalah menangis. Dia tidak bisa membujuk Nita, dia takut jika wanita itu merasa menyalahkan dirinya mengingat Nita selalu mengabaikannya.
Tazkia keluar kamar ketika dia mendengar suara mobil Krisna menjauh dari pelataran rumahnya. Dia melihat wajah frustrasi sang mama, hatinya pun ikut bersedih. Gadis itu perlahaan mendekat kearah Riska dan memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Mama jangan buat aku merasa menjadi anak yang tidak berguna karena tidak bisa membantumu," ucap Kia, dia menciumi Riska. Dia pun merasa terhibur karena anaknya mencoba menghibur dirinya.
__ADS_1
***.
Kediaman, Nita ...
Hari yang dia lalui cukup menyenangkan ketika satu tahun lebih dia tidak bertemu dengan Krisna. Dia hanya ingin Krisna menyadari jika dirinya sungguh tidak akan memberikan kesempatan kedua. Baginya yang berlalu biarlah menjadi kenangan.
Karina pun datang hari itu untuk mengunjungi Nita, dia merasa sudah lama tidak bertemu dengan wanita itu. Dia juga berniat untuk membantu Krisna agar mereka dekat kembali.
"Mbak," panggil Karina dengan sedikit gugup. Nita menoleh menautkan alisnya karena gadis itu terlihat gelisah.
"Kenapa? ada masalah di toko?" tanya Nita pada Karina. Namun, lagi-lagi gadis itu hanya memandang Nita lalu menunuduk tidak jelas, membuat Nita merasa aneh dengan tingkahnya.
"Apa Mbak, tidak merasa kasihan pada Tuan Krisna yang sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk berkunjung tetapi anda tidak pernah menemuinya," ucap Karina, di bawah meja sana tangannya sudah berkeringat. Dia tahu bagaimana reaksi Nita jika mengungkit tentang Krisna.
Nita masih menikmati tehnya, sedangkan Karina kini sudah tidak bisa duduk dengan tenang. Bahkan bernapaspun seolah dia merasa enggan.
"Aku tahu akan salah bicara, mengapa juga sih, mulutku ini bertanya seperti itu," batin Karina.
Nita menyimpan gelas itu cukup keras hingga membuat suara yang mampu membuat Karina terperanjat. Terdengar begitu berat embusan napas Nita.
"Aku hanya ingin membuat dia menyerah saja. Bukankah jika seperti ini dia sudah tahu sangat kecil kemungkinan kalau aku akan memberikan dia kesempatan. Jika aku masih menemui dia, dia akan merasa kalau aku masih memberinya harapan." Karina memikirkan ucapan Nita barusan, memang benar apa yang dilakukan Nita.
Akan lebih baik jika mereka tidak bertemu sama sekali. Setelah mengatakan itu, ponsel Nita berdering. Karina menoleh sekilas melihat nomor baru yang menghubungi Nita, membuat Karina berpikir keras. Siapa orang itu. Nita pun berpamitan untuk mengangkatnya.
__ADS_1
"Siapa yang menghubungi Mbak Nita."
***