Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab146. Tarik Ulur


__ADS_3

Makanan telah dipesan cukup banyak untuk makan siang hari ini. Pizza dan minumannya telah tersaji di meja. Rindi, Risma, dan Imam memilih memisahkan diri dari dua sejoli itu. Meski Bian tampak perhatian akan tetapi Karina masih bersikap tak acuh padanya.


"Sampai kapan kamu membuat jarak di antara kita? Bukankah sudah aku katakan, kalau aku masih mencintaimu," ungkap Bian, dia sudah tidak tahan lagi. Beginikah rasanya diabaikan oleh orang yang dicintainya, pantas saja Karina selalu mencoba mencari cara agar mereka dekat dulu.


"Sampai kapan? Hmm, tidak akan ada batasnya. Mungkin rasaku telah hilang, bersama luka yang kamu torehkan!" seru Karina, dia mulai beranjak untuk meninggalkan Bian. Namun, Bian mencekal pergelangan tangan Karina agar wanita itu tidak pergi.


"Lepas, Yan!" erang Karina dengan frustrasi. Dia tidak mau terluka lagi.


"Aku susah payah mencarimu, dan ketika aku menemukanmu aku harus meninggalkanmu. Jangan berharap bisa pergi dariku," tandas Bian dengan tegas. Karina menghela napas gusar.


Haruskah dia mencari lelaki untuk dijadikan pacar bohongan agar Bian tidak mengganggu dirinya lagi?


"Lalu kamu pergi dariku, menyakitiku berkali-kali apakah itu hal yang sudah biasa bagimu? Kamu kira aku memaafkan kamu? masalah selesai! Kamu kira aku tidak punya perasaan! Kamu kira aku ini bodoh!" cerca Karina mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Tapi aku salahpaham waktu itu, Karin. Aku mengira kematian kakakku ada hubungannya denganmu, nyatanya aku salah. Tolong maafkan aku," ucap Bian memohon pada Karina.


"Aku sudah memaafkan kamu,"


"Bisakah kita bersama lagi?"


"Bersama? Kamu dulu mencintai Mbak Nita lantas mengapa sekarang jadi mengejarku? Oh, karena dia telah bersuami dan kamu bisa seenaknya mempermainkan perasaanku, Yan." Karina mulai emosi.


"Aku memang sempat menyatakan perasaanku padanya, tetapi Mbak Nita tidak menerimanya. Dia mengatakan padaku jika perasaanku hanya tetap padamu. Dan itu memang benar, aku melakukannya karena ingin kamu menjauh dariku saja," terang Bian. Karina mendelik seolah muak dengan penjelasan Bian. Baginya sekarang bersikap seperti ini sungguh menyenangkan. Dia sudah tersiksa selama itu dan seenaknya saja dia datang meminta maaf tanpa rasa bersalah.


"Lalu aku harus bagaimana? Menangis karena terharu." Karina berpura-pura menangis di hadapan Bian.


Bian mencengkram bahu Karina dengan kuat. Dia juga menatap dengan tegas, membuat Karina ketakutan.


"Lepas, Yan! Kamu menyakitiku!"


"Lebih sakit hatiku,"


"Aku sudah tidak peduli! Saat kamu tidak mencoba memberikan penjelasan padaku sudah dipastikan kamu memang tidak membutuhkan aku!" teriak Karina dengan emosi. Dia memberontak mencoba melepaskan diri.


"Aku kira kamu tidak berpikir jika aku dan Mbak Nita tidak memiliki hubungan Karina. Aku kira kamu tahu jika yang menikah bukanlah diriku melainkan saudaraku, Indra," jawab Bian dengan lemah. Perlahan dia melepaskan cengkraman tangannya.

__ADS_1


Sedangkan karyawan lain tengah menguping mereka berdua yang berdebat. Bahkan Nita meminta Indra untuk kembali ke toko. Tapi bukan Indra namanya jika dia mengizinkan begitu saja. Lelaki itu tetap ingin bersama dengan istrinya. Dan meminta karyawan toko untuk melakukan video call.


"Aku kira hubungan mereka harmonis, loh," ungkap Rindi berbisik.


"Apakah mereka dari tadi hanya berdebat?" tanya Nita berbisik pada Imam.


"Kamu kurang tahu Mbak, soalnya kami makan di ruangan lain. Tadinya sengaja supaya mereka bisa berduaan," Jawab Imam.


"Tuan Indra, tidak bisakah kamu memberikanku izin untuk membantu mereka dari kesalahpahaman itu, aku kira mereka telah berdamai," rengek Nita. Ketiga karyawannya melihat suami bos-nya yang tampak santai dengan memakai kaos oblong.


Indra mendekati Nita dan langsung mematikan video call-nya. Ketiganya saling tatap dan merasa malu sendiri.


"Ah, begitu ya kalau punya suami." Risma tertawa cekikikan melihat kedua majikannya.


"Jangan gibah!" Imam membungkam mulut keduanya.


***


"Tu-tuan apa yang kamu lakukan?" tanya Nita saat Indra menutup sambungan telepon lalu menyimpan ponsel Nita di nakas.


Nita seketika mengatupkan bibirnya, menelan ludah dengan susah patah. Dia memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Terlalu malu karena berpikiran yang tidak-tidak.


Indra langsung menuju wall in closet untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai mengganti pakaian Indra memakai dasinya sendiri dan menatap istrinya yang tengah mematung memperhatikan dirinya. Indra menautkan alisnya merasa heran dengan apa yang dilakukan Nita.


Sedangkan Nita dia tercengang melihat suaminya yang semakin hari bertambah tampan. Nita bahkan tidak berkedip.


"Hey, kenapa malah bengong. Cepat ganti pakaianmu," titah Indra, Nita terkesiap dan langsung merangkak untuk turun dari ranjang dengan berlari.


Setelah menuju kedalam wall in closet mini di kamarnya, Nita memegangi dadanya yang kian berdebar tidak menentu.


"Mengapa aku menjadi bodoh seperti ini," gerutu Nita sambil memukul kepalanya sendiri.


"Benar-benar sudah gila, aku," gumam Nita, sembari tangannya mencari-cari pakaian untuk dia gunakan. Saat tengah bingung memilih pakaian ujung matanya menangkap sesuatu.


Sebuah paper bag, Nita membawanya dan melihat isi di dalamnya.

__ADS_1


"Pakaian untuk kamu kenakan istriku." Hati Nita kembali berbunga-bunga saat kejutan kecil ini Indra lakukan.


Gaun yang tampak seksi dengan belahan dada yang berbentuk V. Nita mengamati gaun itu dengan seksama memang indah tetapi haruskah dia memakai pakaian ini?


Namun, Nita pun mencobanya. Dia menyembulkan kepalanya dan memanggil Indra untuk datang menghampirinya. Indra menurut dia berjalan mendekat penasaran dengan penampilan Nita.


"Kamu tidak salah memilih gaun ini." Nita langsung keluar dan menutup belahan da*anya. Indra melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Begitu sempurna tanpa cacat sedikitpun di matanya, cantik kata hatinya bermonolog.


"Ya," jawab Indra singkat. Dia juga membawa selendang berwarna senada untuk menutupi lengan yang terbuka dan belahan dadanya.


"Pakai ini, jangan merasa tidak nyaman. Karena kamu hanya akan memakai pakaian ini di hadapanku saja. Tentu saja jika keluar harus menutupi tubuhmu itu, aku tidak akan rela. Meski orang lain hanya memandangimu saja," terang Indra setelah memberikan selendang itu.


Nita diarahkan untuk menggandeng lengan suaminya. Nita pun menurut dengan apa yang di suruh suaminya. Mereka keluar kamar membuat Ana seketika menghentikan pekerjaanmya karena terpana dengan penampilan majikannya.


"Mbak tidak usah masak, dan tidak perlu menunggu kami. Kami tidak akan pulang," tutur Indra memberitahukan pada asisten rumahtangganya. Ana mengangguk dan mereka pun melenggang pergi.


"Sungguh pasangan yang sempurna," puji Ana saat majikannya sudah tidak terlihat oleh pupil matanya.


"Kita akan kemana?" tanya Nita saat dia sudah memasuki mobil suaminya.


Indra tidak menjawab dia hanya tersenyum dan mencodongkan tubuhnya kearah Nita. Dengan perlahan tangannya terangkat dan membawa seat belt untuk dipakaikan.


"Kita lihat saja nanti," jawab Indra yang membuat Nita merasa tidak puas dengan jawabannya.


"Kenapa main rahasia-rahasia lagi, sih!"


"Bukan kejutan namanya kalau diberitahu."


***



Ratingnya turun😭😭kalau gak suka kalian skip saja atau tinggalkan, jangan membuat author galau dengan menurunkan Rating.


Yang baik tolong bantu naikkan lagi Ratingku ya🙏

__ADS_1


__ADS_2