
S2. RI, Bab81. Buket Bunga?
***
Ketika Nita sudah menutup pintu mobil, Indra-pun turut serta keluar dari mobilnya dan memegangi tangan Nita. Nita menatap tangan mereka yang bertaut lalu melepaskannya dengan kasar.
"Saya minta maaf jika candaan ini membuat anda tidak nyaman. Namun, sungguh saya hanya bercanda," ucap Indra merasa bersalah. Nita memejamkan mata dan mengembuskan napas kasarnya.
"Mood saya hancur Tuan Indra, lebih baik anda mencari orang yang lebih profesional," jawab Nita, dia langsung menolak kali ini, tidak peduli lagi dengan permintaan Bian yang memintanya untuk membantu Indra.
"Bagaimana kalau saya membantu mempromosikan barang jualanmu, sebagai permintaan maaf saya," pinta Indra.
"Tidak usah repot-repot," tolak Nita, dia membalikkan tubuhnya untuk pergi meninggalkan Indra. Namun, Indra lagi-lagi memegangi tangan Nita.
Setelah itu Indra malah jatuh tersungkur disamping Nita, wanita itu histeris karena Indra ternyata dihajar orang tanpa sebab. Ketika Nita melihat orang itu, dia menatap murka kearah Krisna.
"Kamu ini pemimpin perusahaan bagaimana bisa bersikap brutal seperti ini. Harusnya kamu sedang berada di kantormu bukan malah menguntit kami!" Nita berusaha menolong Indra, dia memapah Indra untuk masuk kedalam mobilnya.
"Kamu sal---"
"Apa! sampai kapan kamu akan hidup terjebak dalam masa lalu? berhenti mengikuti aku!" tegas Nita menunjuk kearah Krisna.
Krisna melayangkan pukulannya keudara, cemburunya sungguh membuat hubungan keduanya semakin menjauh, Ari hanya bisa menonton, dia sudah berusaha untuk menahan Krisna agar dia tidak memukul orang itu.
Namun, hati Krisna sudah tidak tahan melihat adegan itu. Dia sendiri tidak bisa menemuinya dan mengapa orang baru itu bisa dengan mudah untuk mengajak Nita pergi bahkan berani untuk memegangi tangannya.
"Siapa dia, Ari?" tanya Krisna pada sekretarisnya.
"Dia saudara tiri Bian, pemilik dari perusahaan yang di kelola keluarga Bian. Namun, menurut rumor Bian anak dari kekasih Tuan Surya, tetapi belum jelas juga kebenarannya." Ari menjelaskannya secara rinci. Namun, Krisna tidak menyahut lagi.
__ADS_1
***
"Kamu tidak pa-pa Tuan Indra?" tanya Nita, wanita itu sedikit cemas dengan refleks memegangi sudut bibir Indra. Nita berulang kali menghela napas kasar.
"Sudah jangan merasa bersalah, saya tidak pa-pa. Saya benar-benar tidak tahu jika mantan suami anda masih terobsesi pada anda," ucap Indra mengutarakan pendapatnya.
"Anda jangan berspekulasi dulu. Anda tidak tahu bagaimana kami," ketus Nita, dia yang semula peduli kini masa bodo kembali.
"Sepertinya aku mengenal dia, hmm," kata Indra membuat Nita menajamkan telinganya. Indra perlahan mendekat kearah Nita dan berbisik.
"Bukankah dia kakak Tazkia?" Nita langsung berbalik hingga mereka berbenturan dahi. Keduanya mengaduh memegangi dahi mereka masing-masing.
"Kamu mengenal Kia?" tanya Nita pada Indra, lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya.
Nita sebenarnya ingin lebih tahu mengenai mereka. Namun, karena menganggap itu tidak penting dia lebih menyimpan sendiri pertanyaannya. Dia tidak ingin di cap mencampuri urusan orang lain.
Setelah lama bernegosiasi akhirnya Nita dan Indra memilih bekerja sama untuk memberikan kejutan pada kekasih Indra. Mereka kini tiba di sebuah gedung.
"Tidak buruk, ternyata seleramu cukup bagus. Namun, entah mengapa Bian meminta kamu untuk meminta solusi pada orang lain," kata Nita, muka malas dia tampakkan.
"Kita tidak perlu lagi bertemu dengan alasan untuk membantumu dalam lamaran. Tempat ini cukup membuktikan bahwa kamu tidak butuh bantuan orang lain. Kamu hanya di suruh Bian agar aku bisa keluar rumah bukan. Dan kamu sekarang tahu alasan aku tidak ingin keluar rumah?
Aku memang hanya berdiam diri di rumah, sepanjang waktu. Bukan berarti aku tidak punya kesibukkan. Aku hanya keluar rumah ketika berbelanja kebutuhan, tidak ada jalan-jalan yang hanya akan membuat aku stres seperti tadi. Saya pulang, dan permisi!"
"Eh, Nona!" teriak Indra, dia ingin mengejar Nita. Namun, dia mengerti dan memberikan ruang untuk Nita. Agar dia menjernihkan pikirannya.
***
Ketika sampai di rumah dia hanya bisa menggerutu dan marah-marah tidak jelas di kamarnya. Ana yang mendengar teriakkan Nita khawatir. Dia berusaha untuk membujuk Nita keluar tetapi tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
Jalan satu-satunya yang harus dia lakukan adalah memberitahu Bian supaya dia bisa menenangkannya. Ana pun berhasil memberitahu Bian, dan memintanya untuk menelepon Nita.
["Apa, Yan! ini rencana kamu 'kan?"] ketus Nita, kali ini dia sedikit tidak suka dengan cara Bian.
Bian terdengar menghela napas berat di seberang sana, ["ya, aku hanya ingin Mbak, tidak menutup diri terus-menerus. Aku ingin membawamu pergi, tetapi kamu menolaknya,"]
["Kamu salah persepsi selama ini, Yan. Aku tidak keluar rumah bukan berarti aku hanya berdiam diri di atas kasur dan menangis. Aku hanya tidak berjalan-jalan, liburan, dan juga menghabiskan uang untuk shoping,"] kata Nita memberikan penjelasan.
[Ok, maafkan aku Mbak Nita."] Nita langsung mematikan ponselnya dan membanting benda pipih itu di atas kasur.
"Kenapa mereka selalu berpikiran kalau aku hanya akan meratapi hidupku yang dulu menyedihkan. Aku bisa bangkit, dan mungkin seharusnya aku tidak terus-menerus membuat orang selalu khawatir padaku." Nita pun keluar kamar dan memilih pergi untuk kembali ketokonya.
Karena rasa malasnya untuk bertemu Krisna membuat dia enggan untuk keluar rumah jika tidak terlalu darurat. Untung saja pegawainya jujur, dan ulet dalam mengelola toko online-nya. Jika tidak mungkin saja tokonya telah tutup sejak lama. Dia pun bersyukur karena telah bertemu dengan Bian.
Saat lelaki itu pergi, Bian menitipkan Karina dan menjadi orang kepercayaannya. Dia telah sampai di toko, dia pun kedalam ruangannya dan meminta Karina untuk membeli makanan.
Setelah cukup lama menunggu, pesanan pun datang. Nita meminta para karyawannya untuk makan lebih dulu, sebelum melanjutkan membungkus pesanan.
Karina berteriak tidak mengingat jika Nita berada di toko hari ini.
"Hey, siapa yang lagi baru pacaran. buket bunga indah datang!" Namun, Rindi dan Risma hanya saling memandang dan menggendikkan bahu.
"Dari fans Imam kali, dia kan banyak penggemarnya," ledek Risma, Imam menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan pernah menang jika terus berdebat dengan perempuan. Terserahmu saja Ma, aku lebih baik mengirim pesanan," kata Imam, tugas Imam di sana untuk mengangkat barang dan menjadi kurir di toko Nita.
"Admin Rindi, sebaiknya kamu melakukan siaran, jangan sampai karena memikirkan buket bunga kita kehilangan reseller, ayok," ajak Risma, mereka berdua pun meninggalkan Karina yang masih bingung dengan buket bunga itu.
Karena bingung harus bagaimana dia pun membawa bunga itu kedalam ruangan Nita. Nita pun melihatnya, dan melihat sebuah pesan yang terselip di dalam bunga.
__ADS_1
"Memang dia pikir aku pacarnya, dasar lelaki mes*m!"
***