Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab24. Aku Tidak Perduli!


__ADS_3

Bab24. Aku Tidak Perduli!


***


Sinar mentari sudah mulai meninggi dan mulai memaksa masuk dari celah pentilasi. Seorang wanita matang yang sudah bersuami. Namun, berstatus masih peraw@n itu masih bergulung di dalam selimut seolah enggan untuk terbangun.


Dia juga ingat saat Krisna mengetuk pintu kamarnya untuk sarapan bersama. Dia hanya tersenyum ironis dengan ajakannya. Wanita itu berdecak dan mengumpati lelaki itu.


Sepertinya untuk saat ini dia masih merasa terluka. Dan tidak ingin bertemu dulu dengan Krisna. Rasa sayang yang telah bersemayam dalam hatinya ternyata mampu membuat dia memberontak saat ini.


Dia beringsut di saat mendengar ketukan kamarnya berbunyi lagi. Apakah orang sekhawatir itu jika dia tidak keluar. Apa mereka takut jika Nita melakukam hal bodoh. Untuk saat ini Nita masih bisa berpikir logis. Untuk apa mengakhiri hidupnya jika istri keduanya akan mudah menguasai Krisna. Ya, sesakit apapun yang telah lelaki itu perbuat. Nyatanya dia masih ingin memperjuangkan cinta itu.


"Iya Mbak!" Teriak Nita ketika ketukan itu tidak berhenti. Dan Mbak Ana terus memanggilnya.


"Aku baik-baik saja! Nanti aku akan keluar untuk sarapan, Mbak tidak usah khawatir!" Teriak Nita lagi dari dalam.


"Iya, Nona!" Jawab Ana, yang hanya bisa mengalah. Dia sebenarnya tahu apa yang terjadi semalam begitu melukai hati Nita.


Dalam hatinya pun ingin sekali dia menasihati majikannya agar berhenti berjuang. Hatinya yang telah menjadi korban. Jika saja dia merelakan suaminya yang tidak pernah mencintainya mungkin istri pertama tuannya itu akan bahagia dengan lelaki lain.


"Kenapa anda masih bertahan Nona Nita. Jika sudah lelah mengapa tidak menyerah. Jika saya jadi anda, saya akan pergi saja untuk menjauhi lelaki yang tidak mencintai diri kita," gumam Mbak Ana. Tak ayal semua saran yang ia punya tidak pernah ia ucapkan pada majikannya itu.


***


"Nona!" Pekik Ana. Dia menghampiri Nita lalu memutarinya. Dia panik ketika semalam tubuh Nita dibanting kelantai begitu kasar oleh Krisna.

__ADS_1


"Apa anda baik-baik saja?" Tanya Ana. Dia menyeret kursi untuk Nita duduki. Nita tersenyum merasa lega. Karena masih ada orang yang simpati akan dirinya.


"Saya tidak apa-apa Mbak," timpal Nita. Dia membawa nasi dan lauk pauk untuk dia makan.


"Tuan tadi bilang. Untuk beberapa hari Nona Kasih di ungsikan di hotel. Supaya Nona bisa beristirahat dengan baik," kata Ana. Namun, Nita masih mengunyah makanannya.


"Mmmm, Nona Nita," panggil Mbak Ana yang masih ingin mencuri perhatian dari Nita. Nita lalu memutar tubuhnya untuk melihat Ana. Dia pun menyuruhnya untuk duduk. Hanya anggukan kepala yang ia berikan pada Ana.


"Tadi Tuan, dan Nona Kasih bertengkar. Nona Kasih tetap tidak mau pindah dari rumah ini. Makanya dia memilih beberapa hari diusir sama Tuan," ucap Ana. Namun, Nita masih mendengarkan tanpa menyela.


"Nona ... Kenapa masih bertahan?" akhirnya dia mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Nita pun membalikkan badannya lagi dan menatap Ana dengan tatapan sayu. Dia mengembuskan napas kasar dengan apa yang ART nya tanyakan.


"Mbak Ana, pasti menganggap saya ini bodohkan tetap bertahan. Tapi, saya mencintainya Mbak, saya tidak bisa meninggalkannya untuk saat ini. Bantu doakan ya Mbak agar rasa ini musnah, dan lenyap dari hatiku. Aku juga merasa lelah untuk tetap bertahan di sisinya," lirih Nita. Ana hanya memandang sendu kearah majikannya.


Mbak Ana pamit undur diri. Untuk bekerja kembali, ketika Nita tengah memejamkan mata dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Krisna datang menghampirinya.


"Tata," panggil Krisna. Namun, Nita tidak menghiraukannya. Lelaki itu menyeret kursi lalu ikut duduk bersebelahan dengan Nita.


"Aku sudah mengungsikan dia dari rumah. Supaya kamu bisa beristirahat dengan tenang," terang Krisna. Wajahnya sayu, hatinya selalu merasa tidak enak.


"Kenapa kalian tidak pindah saja! Membuat sesak dadaku saja," kelakar Nita. Dia membuka matanya menatap tajam kearah Krisna.


"Tapi dia ingin tinggal di sini, Ta," ucap Krisna.


"Iya lalu kamu harus selalu menurutinya? Kamu kira hatiku tidak sakit melihat kamu dan dia. Kamu kira aku patung hidup yang tidak merasakan sakit kala melihat keromantisan kalian! Ok, jika tetap di sini. Aku tidak pa-pa. Asal kamu jangan menyesal jika suatu saat nanti aku pergi dan takkan pernah aku memberikan kesempatan kedua untuk kamu. Karena kesempatan yang ada selalu kamu sia-siakan!" Nita berdiri dan menggebrak meja.

__ADS_1


"Kamu merasa bersalah padaku Kris? Lalu apakah kamu akan memilih diantara aku dan dia? Siapa yang akan kamu pilih," tanya Nita dengan tangan dia lipat di dada.


Krisna memejamkan mata, bingung dengan pertanyaan Nita. Dia harus menjawab apa? Sedangkan bagi dia Nita dan Kasih dua orang yang berharga dalam hidupnya.


"Kamu tidak bisa memilih diantara kami?" tanya Nita lagi.


"Tinggalkan dia, atau aku!" Pilihan tersulit bagi Krisna saat ini. Meski dia tidak akan pernah melepaskan Nita, tetapi dia juga tidak bisa melepaskan Kasih. Nita tertawa melihat Krisna bungkam tanpa mengatakan pilihannya.


"Kamu hanya butuh waktu sendiri saja, Ta. Aku yakin kamu tidak akan membuat keputusan ketika dalam emosi,"


"Ok, jika itu pilihan sulit. Aku punya pilihan lain, Kris. Biarkan aku tetap berhubungan dengan Bian, atau kita berpisah!" Ancam Nita, membelakangi Krisna. Dia tidak ingin melihat ekspresi bingung suaminya itu.


Krisna terdiam sesaat. Dia mengembuskan napas kasar. Pilihan sulit untuk keduanya. Dia tidak bisa memilih di antara dua istrinya yang harus dia tinggalkan salah satu. Dia juga tidak bisa membiarkan Nita berkencan dengan lelaki lain.


"Bagiku ini tidak sulit, Kris. Kamu tidak mencintaiku, kamu tidak perduli dengan kehidupanku. Jika kamu tidak ingin aku meninggalkanmu, biarkan aku tetap bersama dia. Dan kamu bersama istrimu keduamu itu. Akan imfas bukan," tandas Nita.


"Ya, aku memang tidak mencintaimu. Dan aku juga berat untuk meninggalkan Kasih. Tapi aku selalu berusaha adil untuk kalian!" Pembelaan Krisna, ditertawakan oleh Nita. Adil dalam hal apa. Bahkan dia selalu tidak dianggap ketika mereka tengah dalam dunianya.


"Adil dalam hal apa! Pernahkah kamu berpikir jika aku merasa sakit ketika kamu menuruti keinginan dia, tanpa memperdulikan hati ini." Nita menggantung ucapannya dengan tawa sinis. Lalu dia pun melanjutkan kembali semua uneg-uneg yang selama ini dia simpan.


"Aku tidak perduli! Mau kamu setuju atau tidak. Jika aku masih berhubungan dengan Bian. Yang jelas kamu harus setuju, sama sepertiku yang tidak bisa menolak keinginan kamu untuk membawa madumu itu, tinggal di rumah ini!"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2