Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab150. Istriku Ceria


__ADS_3

"Apa urusannya dengan kehamilan Mbak Nita?" tanya Bian dengan heran. Bingung sekali dengan ucapan lelaki di hadapannya. Indra menatap tajam begitu menusuk kearah Bian. Sepolos itukah Bian? pikiran Indra berkelana.


"Kamu pikir kehamilan istriku bisa berjalan lancar jika dia masih memikirkan masalahmu!" jawab Indra dengan ketus. Seketika Bian mengerti akan arah pembicaraan Indra.


Bian menghela napas kasar lalu menatap Indra dengan tatapan bersalah. "Aku akan berusaha agar dia tidak sampai kepelukan orang lain. Aku tidak ingin Mbak Nita menjadi terbebani karenaku. Dia sudah terlalu banyak merasakan kesakitan saat dulu," terang Bian mengingat kejadian masa dulu.


"Baguslah jika kamu mengerti!"


"Menurutmu aku harus bagaimana?"


"Contoh saja diriku, saat aku menjalankan rencana dengan Kia. Istriku hanya tahu aku yang akan menikah dengan Kia tetapi aku terus mengikutinya kemana pun dia pergi,"


"Maksudmu kamu menjadi penguntit nya meski dia tidak menginginkan kamu? tidak punya malu sekali!" ledek Bian. Kesal dengan ucapan Bian, Indra menongor lagi kepala lelaki itu.


"Memang kamu kira saat kamu tidak melakukan apa-apa orang yang kamu cintai bisa datang padamu!" Ketus Indra. sesaat Bian terdiam. Ada benarnya juga omongan saudaranya itu.


"Baiklah, akupun akan melakukan hal yang sama."


"Tidak kreatif!" Ketus Indra.


***


Hari sudah mulai gelap. Bian menunggu Karina hingga gadis itu keluar dari toko nanti. Lelaki itu sudah bertanya banyak hal pada Nita. Dan kebetulan anak Krisna sudah dijemput pulang.


Bian terus mengamati Karina, setelah dia yakin itu Karina dia langsung turun dan mendekati Karina. Dia sudah berjanji pada Indra akan berusaha agar wanitanya tidak direbut oleh siapapun. Meski dia harus bersaing dengan Krisna.


Karina yang melihat Bian langsung berhenti dan memutar badan agar dia tidak berpapasan dengan Bian. Namun, Karina kalah cepat Bian telah mencekal pergelangan tangannya dengan kuat.


"Berhenti Karina!"


Gadis itu mengembuskan napas kasar, dengan terpaksa dia berbalik dan menatap Indra dengan tatapan malas.


"Apa maumu?" Ketus Karina sambil melipat tangan di dada.


"Aku ingin kamu ikut bersamaku malam ini!"

__ADS_1


"Tidak!" jawab Karina dengan cepat. "Aku sudah ada janji dengan Tuan Krisna,"


"Secepat itu kamu bisa berpaling dariku? Padahal aku masih ingat saat kamu mengadu padaku dengan memanggil nomorku yang telah lama aku tidak pakai!"


Otak Karina langsung terkoneksi dengan ucapan Indra. Iya dia ingat saat dirinya menelepon Indra. Dia tidak tahu jika Indra mengangkatnya. Tetapi mengapa Bian tidak bereaksi apa-apa?


"Tuhan maha tahu, Tuan Bian. Dia dengan mudah bisa membolak-balikan hati seseorang karena selalu diabaikan dan dilukai,"


"Ya, aku tahu aku salah karena telah membuat kamu terluka. Tapi bisakah kamu memberiku kesempatan kedua padaku?" Mohon Bian, Karina mendengkus lalu memalingkan wajah. Senyum licik tercipta di sana. Namun, ketika dia menoleh kearah Bian lagi tatapannya kembali tidak bersahabat.


"Kapan-kapan saja," tolak Karina. Entah mengapa dia belum ingin berbicara serius dengan Bian.


Karina mulai melangkahkan kakinya untuk berlalu dari hadapan Bian. Tetapi Bian mencekal pergelangan tangan Karina lagi.


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Karin?"


Karina menghela napas panjang, lalu memutar badan kembali untuk memandang Bian.


"Di hadapan Mbak Nita saja, kita harus terlihat baik-baik saja. Dia terus memikirkan masalah kita yang belum juga selesai," pinta Bian memelas pada Karina. Gadis itu pun menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


"Tapi aku mohon, aku akan ingin pulang sendiri saja,"


"Terserah kamu saja!"


***


Indra tampak heran dengan tingkah istrinya saat ini. Dia ingat betul saat pagi tadi Nita begitu gelisah memikirkan hubungan antara Bian dan Karina yang tengah tidak baik-baik saja.


Akan tetapi saat ini Nita tampak bahagia dengan melihat ponsel di tangannya. Saat menyadari suaminya sudah pulang, Nita langsung merangkak untuk turun dari ranjang dan menghampiri Indra.


"Kenapa tidak ngasih tahu kalau pulang?" Nita membawa tas yang tengah di tenteng Indra. Lalu membuka jas dan dasinya dengan telaten.


Indra semakin bingung, dia mengernyit dalam. "Kenapa sih," omel Nita yang melihat tingkah Indra begitu aneh.


"Heran saja!"

__ADS_1


Indra langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Nita dia hanya menatap aneh saat pintu kamar telah tertutup.


Setelah selesai membersihkan diri, Indra melihat Nita yang sedang menyiapkan pakaiannya. "Couple denganku tidak apa-apa ya?" tanya Nita saat Indra sudah keluar dari kamar mandi. Indra tidak menjawab, dia hanya semakin mendekat kearah istrinya dengan handuk kecil yang ia tempelkan di kepala untuk mengeringkan rambutnya.


Nita menyuruh suaminya untuk duduk dan membawa handuk itu, lalu dirinyalah yang mengeringkan rambut suaminya.


"Aku punya keinginan," ucap Nita dengan ragu-ragu.


"Hmm," jawab Indra dengan deheman. Dia masih memandangi wajah istrinya yang begitu dekat dengan dirinya. Membuat Nita salah tingkah.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Nita dengan pipi yang sudah merona.


"Tidak apa, hanya lucu saja melihatmu bertingkah seperti ini." Indra merengkuh pinggang istrinya. Sedangkan tangannya sebelah bertumpu di atas kasur.


"Kita tidak honeymoon?" tanya Nita dengan malu-malu, seketika membuat hati Indra berbunga.


"Ingin kemana?" Nita tampak masih berpikir jika keluar negeri rasanya sangat melelahkan di perjalanan. Dia memilih liburan di bali. Mengingat negaranya sendiri masih tidak kalah indah.


"Di Indonesia saja, tidak usah keluar negeri. Aku rasa di sini juga kita masih bisa menikmati honeymoon,"


"Tidak masalah asal kamu bahagia kemanapun akan aku turuti,"


"Tetapi ada satu pertanyaan yang membuatku begitu penasaran, sayang," tutur Indra dengan wajah seriusnya. Dia mulai mendudukkan tubuh istrinya di samping dirinya.


"Kenapa kamu ingin honeymoon? Aku sengaja menunda karena kamu tahu 'kan bagaimana keadaan Bian dan gadis itu." Seketika perubahan wajah Indra begitu kentara.


Nita menangkup wajah suaminya dan menatap pupil mata suaminya dengan senyuman. Hal yang bisa meluluh lantahkan segala kedongkolan yang bersarang dalam dadanya. Apalagi yang bisa Indra lakukan selain tersenyum hangat menatap istrinya.


"Rahasia!" ujar Nita dengan tergelak. Namun, Indra tidak memedulikan, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Nita sekarang.


Indra memakai pakaian couple yang diberikan Nita. Piyama yang berkarakter spongebob berwarna kuning itu tampak semakin membuat Indra bercahaya di mata Nita.


Nita tidak berkedip saat melihat Indra, namun sejurus kemudian dia tertawa lepas karena membuat Indra menjadi turun wibawa dengan memakai pakaian itu.


"hay, kamu yang memberikan kamu juga yang meledek. Yasudah, aku akan melepasnya." Izndra perlahan membuka pakaiannya. Namun, Nita menahannya.

__ADS_1


"Jangan dong. Sudah lucu begini kok." Nita masih terkikik, bagaimana bisa seorang lelaki tampan yang bwrwibawa begitu langsung menjadi imut saat memakai pakaian itu.


***


__ADS_2