
Bab47. Tazkia Nanda.
***
Malam-malam yang kini terlewati seolah hampa ketika kepergian Nita. Sudah satu Minggu berlalu setelah kepergiannya belum juga ada tanda-tanda bahwa dia akan ditemukan. Keadaan Krisna semakin kusut seolah tidak ada yang mengurusnya. Sedangkan Kasih pun merasa bersalah, tetapi sampai kapanpun dia tidak akan memberitahukan mereka.
Dia sudah cukup bahagia sekarang. Meski harus bahagia di atas penderitaan suaminya. Semua salahnya mengapa mau bermain api, dan sekarang Krisna harus menerima konsekuensinya. Berpisah dengan Nita yang sudah mulai dia cintai.
Ini semua terjadi bukanlah kesalahan Kasih sepenuhnya. Tetapi, karena keserakahan Krisna yang menginginkan dua istri. Tanpa dia sadari dia tidak bisa hidup tanpanya. Dan telah melukai perasaannya.
Mereka tengah berkumpul di rumah tengah. Menunggu kabar dari Ari. Lelaki itu sudah mengerjakan orang-orangnya tetapi belum juga membuahkan hasil.
Malam ini pun dia memberikan kabar seperti malam-malam sebelumnya.
"Maafkan saya Tuan, dan Nyonya. Saya masih belum bisa menentukan Nona Nita," ucap Ari, Krisna mengibaskan tangannya keatas. Memberi isyarat agar dia pergi. Karena Krisna sudah tahu sebelum dia mengatakannya.
Sedangkan Riska dia menggebrak meja, dan menatap nyalang kearah Krisna.
"Puas kamu Kris! Puas sudah membuat Mama terluka karena kepergian Nita, hah! Mama sudah memintamu untuk dia tinggal di rumah Mama, tapi apa kamu tetap menginginkan dia untuk satu rumah dengan wanita lain. Ini akibatnya. Meski Mama sudah tahu akhirnya begini, Mama tetap tidak bisa menerimanya. Kamu harus secepatnya menemukan dia," terang Riska. Krisna menunduk tanpa bisa menjawab lontaran mamanya.
Ponsel Riska berdering, seseorang meneleponnya. Tetapi dia tidak bisa menjawabnya sekarang. Apalagi dengan keadaannya yang tengah rapuh seperti ini. Kasih yang melihat mertuanya seperti itu pun langsung memapah Riska untuk beristirahat di kamarnya.
Ini kesempatan dirinya supaya bisa mendekatkan diri dengan mertuanya.
"Aku juga nggak nyangka Ma, kalau Mbak Nita akan senekad ini. Dia memilih pergi, tanpa berpamitan dahulu padamu, Ma. Bukankah ini tidak sopan," ucap Kasih mencoba mencuci otak Riska supaya wanita itu membencinya.
"Jika aku berada di posisi Nita, aku juga akan melakukan hal yang sama. Wanita mana yang bisa kuat tinggal satu rumah dengan madunya!" Seru Riska. Membuat Kasih bungkam.
Setelah mengatakan itu, ponsel Riska kembali berdering. Kasih mencoba melihat siapa penelepon itu Tazkia, namanya berasa asing bagi Kasih. Siapa orang itu. Mengapa dia terus menghubungi Riska.
Akhirnya Riska mengangkatnya.
["Kenapa Kia?"] tanya Riska pada pada orang itu. Kasih terus berusaha mencuri dengar tentang perbincangan mereka.
__ADS_1
["Kak Tata, sudah di temukan, Ma? Aku khawatir setiap detik, mas Kris tidak menjawab teleponku. Dan Sekretaris Ari tidak menjawab teleponku. Menyebalkan,"] rengek Tazkia.
["Kakak iparmu belum juga di temukan sayang, pulanglah dulu, bantu Mama mencarinya,"] pinta Riska.
["Mama tidak bisa melakukan apapun selain menangis di tempat tidur,"] ucap Riska.
["Iya, Ma. Baik Kia akan pulang,"]
"Mama makan dulu yah, dari pagi Mama belum makan,"
["Mama siapa dia?"] Tidak ingin menjawab, Riska lebih memilih memberikan ponselnya pada Kasih. Wanita itu dengan senang hati berbincang dengan Tazkia, adik iparnya.
["Kamu siapa? Kenapa kamu memanggil Mama pada Mamaku?"]
["Aku Kasih, istri kedua Mas-mu,"]
["Apa! Istri kedua? Oh, jadi kamu!"] Sambungan telepon pun terputus. Kasih menggerutu dalam hatinya. Tidak sopan sekali anak itu. Harusnya dia juga mengkhawatirkan dirinya, dia sedang mengandung anak Krisna yang nantinya akan menjadi keponakannya.
***
Pagi-pagi Tazkia sudah dijemput oleh sekertaris Ari. Si nona kepo level akut itu terus menanyakan seorang wanita yang bernama Kasih pada Ari.
"Sekretaris Ari, menurutmu bagaimana sikap istri kedua Mas Krisna?" tanya Tazkia. Namun, Ari tetap focus kearah depan tanpa berniat untuk menjawabnya.
"Heran aku sama Mas Krisna. Kan Mbak Nita sudah cantik, semok, body goals begitu kok masih mendua sih. Aku heran sama lelaki mengapa mereka tidak cukup satu wanita." Tazkia bergidik sendiri dengan lontaran yang dia ucapkan. Sekretaris Ari menyentil dahi Tazkia yang selalu tidak pernah berubah. Tetap ceplas-ceplos, dan juga kepo.
"Jawab kenapa sih, Mas Ari. Kamu tuh selama dengan Kia gak pernah mengeluarkan suara. Apa kamu bisu?" Ari masih tidak menjawabnya.
Kini mode jengkel sudah tersemat di dalam diri Tazkia. Dia menyandarkan punggungnya di kursi mobil dengan tangan dia lipat di dada. Bibirnya mengerucut dan merutuki lelaki yang berada di sampingnya.
"Tapi kemana Mbak Nita pergi, aku yakin ada orang yang membantunya. Secara kan dia gak punya teman dekat. Terus dia mencukupi kebutuhannya bagaimana. Apa mungkin istri kedua Mas-ku itu yang telah menyembunyikan Mbak Tata," gumam Tazkia.
"Bisa jadi seperti itu," timpal Ari. Membaut Kia kembali memutarnya badannya kearah Ari.
__ADS_1
"Oy, Mas Ari menimpali ucapanku. Hemmm, jangan-jangan kamu yang memberikan bantuannya," tebak Tazkia, dan sukses di hadiahi sentilan di dahi lagi oleh Ari.
"Kamu mau dipecat Mas-ku? Dari dulu menganiaya terus,"
"Kamu masih bercanda di saat seperti ini? Saya kira kamu tidak mencintai Nona Nita, Nona Kia!" Seru Ari.
"Hey bagaimana bisa begitu, aku menyayanginya, aku mencintainya. Namun, jika aku hanya nangis-nangis meratapi kepergian Mbak Nita, itu tidak akan membuahkan hasil. Mbak Nita juga tidak akan pulang hanya karena air mataku," jawaban Tazkia membuat Ari tersenyum sekilas. Lalu dia mengusap puncak kepala Tazkia sembari mengacak-acak nya.
***
"Sudah sampai, ingat apa kataku tadi. Awasi dia, ini misi kita. Semoga kita bisa secepatnya menemukan Nona Nita." Tazkia memberi hormat seolah dia siap dengan apa yang direncanakan Ari.
"Jangan lupa ya, Mas Ari bonus makan malam besok malam," rengek Tazkia dengan kedua tangan ditempelkan, memohon.
"Istirahatlah, masuk kedalam!" Tegas Ari, membuat nyali Tazkia menciut. Dia memilih masuk kedalam tanpa berani menoleh lagi kebelakang.
"Pelit sekali sih, dia. Cuma makan malam doang, bukan minta rumah," gerutu Tazkia.
"Selamat datang," sambutan dari Kasih membuat Tazkia mematung. Dia lebih memperhatikan penampilan wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kini tatapannya menatap kearah perut yang tengah membuncit. Tazkia memandang Kasih seolah meminta penjelasan. Kasih tersenyum dia tahu apa yang tengah ada di dalam pikirannya.
"Iya ini anak Mas Krisna, calon keponakan kamu," ucap Kasih memberitahu.
"Maksudmu kamu hamil? Anak Mas Krisna begitu," timpal Tazkia, menggelengkan kepala.
'Bagaimana bisa begitu, pantas saja Mbak Nita pergi. Ini mas Krisna kok gak mikirin perasaan Mbak Nita,' batin Tazkia menggerutu.
"Kia! Kopernya ketinggalan, saya tidak bisa membawanya!"
***
Bersambung ...
__ADS_1